Fate Breaker

Fate Breaker
Prolog


__ADS_3

Dibawah langit senja yang mulai meredup cahaya nya. Sepasang anak kecil sedang mengobrol sambil menatap matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat.


"Hey Riel, kau ingin jadi apa ketika besar nanti?" Seorang anak perempuan cantik tampak tenang ketika menanyakan hal itu kepada anak laki-laki di sebelahnya.


"Jadi apa yah, ah aku akan jadi apapun yang aku mau." Riel menjawab.


"Meskipun takdir tak menyetujuinya?"


"Takdir? Hmm kalau bisa aku akan melawannya haha." Jawaban polos keluar dari mulut mungil anak laki-laki itu.


"Memangnya takdir bisa dilawan? Bukannya kehidupan kita ini sudah ditentukan sejak kita lahir? Ibuku bilang seperti itu."


"Aira, aku tak terlalu paham apa itu takdir. Tapi jika memang hidup kita sudah di tentukan sejak kita lahir, rasanya pasti tak menarik"


Hening.


Tak ada percakapan lagi di antara dua anak itu.


"Aira, masuk kerumah nak. Sudah mulai gelap." Suara ibu Aira memecah keheningan.


"Riel, aku masuk dulu yah. Ibu sudah memanggil. Sampai ketemu besok." Aira berdiri lalu berlari masuk kerumahnya.


"Sampai ketemu besok Aira."


Riel pun pulang kerumahnya yang hanya berjarak 50 meter dari rumah Aira.


Riel Eraxoth, anak seorang panglima perang di kerajaan Sapphire yang dipercaya juga sebagai tangan kanan raja. Ayahnya jarang pulang kerumah karena dia lebih sering menginap di istana. Dia tinggal bersama ibu dan adik perempuannya.


Sedangkan Airayle, anak seorang pedagang yang kaya raya. Ia selalu bermain bersama Riel karena rumahnya yang sangat dekat.


--

__ADS_1


Keesokan harinya mereka kembali bertemu di lapangan tempat mereka biasa bermain bersama. Kali ini mereka tidak hanya berdua, ada 10 anak yang berlarian kesana kemari penuh canda tawa. Mereka bermain perampok dan penjaga.


"Riel, kemarilah atau kau akan tertangkap!" seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua dari Riel berteriak dari kejauhan.


"Aku tidak akan tertangkap semudah itu, Tobi!" Jawab Riel dengan penuh rasa bangga akan kelincahannya.


"Jangan salahkan aku jika pacarmu berhasil merayumu dan akhirnya memenjarakanmu ya!" Tobi berlari menjauh menghindari kejaran penjaga yang lain.


"Pacar?!" Langkah Riel terhenti sejenak karena kepalanya mencoba mencari apa arti dari kata yang diucapkan Tobi kepadanya.


"Hey, Riel." Anak perempuan yang tidak lain adalah Aira menyapa Riel dengan lembut.


"Hai ai-"


"Kau tertangkap." Aira tertawa sambil memegang bahu Riel yang sedang bingung.


"Eh? Kau penjaga?"


"Kalau bukan, aku akan mengajakmu lari dari sini." Aira masih mencoba untuk berhenti tertawa.


Setelah mereka puas bermain, teman-temannya yang lain pulang ke rumah mereka masing-masing hingga akhirnya tersisa Riel dan Aira seperti biasanya. Mereka berjanji dibawah langit biru dengan pikiran polos mereka.


"Hey Riel, kalau sudah dewasa nanti. Kamu akan menikah dengan siapa?"


"Menikah? Pastinya aku akan menikahimu."


"Kamu akan menikahiku saat dewasa nanti?"


"Iya. Karena kita selalu bermain bersama. Jadi kita akan menikah juga saat dewasa nanti."


"Hmm, janji ya Riel. Kamu takkan menikahi siapapun selain aku."

__ADS_1


"Iya aku janji."


Sebuah janji tercipta dari dua anak polos yang bahkan tak mengerti apa itu cinta.


Namun, setelah janji itu dibuat, Riel tak dapat bermain lagi bersama Aira karena orang tuanya yang diperintahkan untuk berdagang di kerajaan sekutu dan itu menyebabkan keluarganya harus pindah rumah ke kerajaan tersebut.


5 Kereta kuda telah tiba di kediaman Aira pada pagi buta. Ayahnya sibuk memindahkan barang-barang ke dalam kereta kuda sementara Aira terus meminta izin untuk pamitan dengan Riel pada ibunya.


"Kenapa mendadak seperti ini, Bu?" Tanya Aira sambil mencoba melepaskan pelukan ibunya.


"Yang Mulia Legnasio yang memerintahkan kita untuk mengembangkan perdagangan kita ke Kerajaan Datraoch. Ini juga demi kepentingan keluarga kita, Aira." Jawab ibunya sambil mengelus kepala Aira.


"Kita akan pulang kesini lagi kan?"


"Jika kau sudah dewasa nanti, kau bisa mengunjungi Sapphire kapan pun kau mau."


"Itu artinya kita tidak akan pulang kesini lagi?"


Ibunya hanya diam sambil tersenyum.


"Kalau begitu izinkan aku bertemu dengan Riel, Bu!" Aira semakin memberontak.


"Riel pasti belum bangun, kau hanya akan mengganggu tidurnya, Nak."


"Ibu jahat!" Aira akhirnya menyerah dan menangis sejadi-jadinya.


Semua barang sudah selesai dikemas. Rumah Aira kini tidak jauh berbeda dengan menara penjaga tempatnya biasa bermain dengan Riel dan teman-temannya. Kosong, sepi dan meninggalkan banyak kenangan.


Sekelompok kereta kuda itu mulai berjalan meninggalkan kediaman Aira. Sementara Aira tidak dapat menahan air matanya yang terus mengalir deras disaat matanya terpaku melihat kediaman Riel yang perlahan menjauh.


"Riel, maafkan aku."

__ADS_1


Tanpa tahu apa-apa, Riel kehilangan seseorang yang ia janjikan akan dinikahi saat dewasa nanti. Ia bertanya pada ibunya kemana Aira pergi, namun ibunya hanya tersenyum dan bilang bahwa Aira akan kembali tak lama lagi. Riel hanya mengangguk dan terus menanti Aira pulang.


~~


__ADS_2