
Setelah menyelesaikan urusan mereka dengan Kepala Desa, Riel dan Seira pulang ke penginapan mereka di Vandkilder Inn. Sil menyambut mereka dengan hati yang berbunga-bunga karena ia akhirnya bisa kembali menjalani pekerjaannya dengan normal.
"Kalian kembali." Sil berlari keluar menyambut kedua pahlawan yang mengembalikan kejayaan tanah kelahirannya itu.
"Aku pesan 3 gelas air dingin lengkap dengan makanan yang paling mahal yang kau jual." Walau sebenarnya aku masih ingin memakan daging Harpy sialan itu." Ucap Riel sambil merangkul Sil dan Seira.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalian menyelamatkan desa kami." Ucap Sil terharu sambil melepaskan tangan Riel yang merangkulnya, kemudian memeluk kedua teman barunya itu bersamaan.
"Ah, itu bukan apa-apa Sil. Yang terpenting mari kita rayakan kemenangan kita malam ini." Jawab Seira sambil membalas pelukan Sil.
"Pesanan akan segera siap. Silahkan memilih tempat duduk yang kalian suka." Sil tersenyum hangat sambil membungkukkan badannya, berpose ala pelayan di kerajaan.
Mereka tertawa bersama kemudian berjalan menuju tujuan masing-masing. Seira dan Riel menuju tempat duduk mereka dan Sil menuju dapur untuk membuat makanan.
"Ngomong-ngomong, Riel. Identitas kita sudah tersebar sebagai buronan kerajaan Sapphire. Bagaimana selanjutnya?" Tanya Seira sedikit berbisik.
"Hah?! Tau darimana kau?" Tanya Riel sedikit tidak percaya.
"Saat kau pingsan, hampir seluruh warga datang ke bukit itu. Kemudian aku mendengar seorang warga yang bilang kalau kita adalah buronan Sapphire. Aku kehabisan tenaga dan ikut pingsan waktu itu. Aku kira aku akan membuka mata di penjara, tapi ternyata mereka menghargai pekerjaan kita." Seira menjelaskannya pada Riel.
"Lalu bagaimana?" Tanya Riel.
"Syal hitam milikmu itu, itu yang menjadi ciri khasmu. Petualang bersyal hitam." Jawab Seira sambil menunjuk ke arah syal yang melingkar di leher Riel.
"Aku tidak akan membuang syal ini. Ini membuatku selalu mengingat apa yang mereka lakukan padaku malam itu. Syal ini juga yang membuatku teringat akan dosa terbesarku." Ucap Riel sambil mengusap syal nya.
"Dosa?" Tanya Seira penasaran.
"Membunuh orang." Jawab Riel datar.
Seira terdiam mendengar jawaban Riel. Ia tidak percaya orang yang menyelamatkan nyawanya justru pernah merenggut nyawa seseorang.
"Orang?" Tanya Seira memecah keheningan.
"Ya, manusia." Jawab Riel singkat.
"Bercandamu tidak lucu, Riel." Seira memukul pelan lengan Riel.
"Lagipula aku tidak bercanda. Aku membunuhnya bukan tanpa alasan. Apakah harus aku ceritakan detailnya?" Riel menatap Seira dengan tatapan dingin.
"Pesanan segera datang!" Seru Sil dari pintu dapur dengan tangan dipenuhi makanan dan minuman yang menempel diatas nampan besinya.
"Akhirnya! Aku sudah sangat lapar!" Ekspresi Riel berubah seketika.
Seira memandangi Riel yang sedang asyik menyantap makanannya. Ia masih tidak percaya lelaki di sampingnya ini merupakan seorang pembunuh. Tapi, ia tidak langsung menganggap Riel orang yang jahat. Ia percaya kalau Riel pasti punya alasan akan perbuatannya.
"Hey, Seira! Cepatlah makan atau kau tidak akan bisa tidur dengan nyenyak." Ucap Riel dengan mulut dipenuhi makanan.
"Ah, iya." Seira tersadar dari lamunannya dan melihat Sil yang sedang tersenyum jail di depannya.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Sil." Wajah Seira memerah.
"Indahnya masa muda." Sil tersenyum menggoda Seira.
"Masa muda? Memangnya berapa umurmu?" Tanya Seira penasaran.
"36." Jawab wanita bertubuh mungil dengan rambut merah panjangnya itu.
"PFFTTTT!" Riel menyemburkan sedikit makanannya saking kagetnya.
"Kau? Yang benar saja?!" Ucap Riel setelah menelan makanan yang tersisa di mulutnya.
"Yah, keluargaku memang memiliki postur tubuh seperti ini. Jadi tidak heran kalau aku juga sama seperti mereka." Jawab Sil.
"Sudahlah, jangan pedulikan bentuk tubuhku ini. Kalian nikmatilah makanan kalian dan jangan lupa beristirahat." Lanjut Sil yang kemudian meninggalkan Riel dan Seira di mejanya.
Setelah memanjakkan perut mereka, kedua remaja itu tidak langsung beranjak pergi ke kamarnya. Mereka sedikit berbincang-bincang tentang kemana mereka akan melanjutkan perjalanan mereka esok hari.
"Kemana tujuan kita selanjutnya, Seira?" Ucap Riel sambil mengelus perutnya yang sudah terisi penuh.
"Hmm... Kalau tidak salah ada sekitar 3 desa yang harus kita lewati sebelum mencapai Kerajaan Erë. Dan untuk keluar dari perbatasan Kerajaan Erë, kita masih harus melewati banyak kota maupun desa lagi. Apa kau sudah lelah?" Tanya Seira setelah menjelaskan detail perjalanan mereka.
"Tidak. Hanya memastikan." Jawab Riel.
"Apa kau mau tidur sekarang? Aku ingin pergi ke kamar." Seira bangkit dari tempat duduknya.
"Yah, mungkin lebih cepat lebih baik." Jawab Riel yang kini sudah berdiri di samping Seira.
"Terima kasih makananannya, Sil. Selamat malam." Ucap Riel sambil melambaikan tangannya ke arah Sil.
"Selamat bersenang-senang." Balas Sil.
Seira yang mendengar ucapan Sil langsung tersedak air liurnya sendiri saking terkejutnya. Namun, Riel tidak menghiraukannya dan tetap berjalan menaiki anak tangga satu persatu.
"Selamat malam, Seira." Ucap Riel yang sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Selamat Malam, Riel." Jawab Seira.
Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar di kamar Riel membangunkan lelaki itu dari tidurnya. Perlahan Riel membuka matanya dan melihat siluet seorang gadis yang begitu cantik sedang memandanginya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Riel." Pandangan Riel semakin membaik hingga akhirnya siluet itu berubah menjadi sosok yang membuat Riel menelan ludah.
"Si-Siapa kau?" Riel menatap seorang pria dengan jenggot yang panjang dan tebal di hadapannya itu.
"Kemana dia?!" Riel mulai memasang posisi siaga.
Pria berjenggot itu tersenyum licik dan berjalan mendekati Riel secara perlahan. Riel tidak ingin merusak fasilitas penginapan Sil. Namun, sepertinya ini harus dilakukan. Karena Seira yang menjadi bayarannya.
"Kembalikan dia!" Seru Riel.
Pria itu hanya mengangkat alisnya dan mengabaikan ucapan Riel.
"Jangan ambil Seira!"
"Aku kemba-"
Riel menerjang pria berjenggot itu bersamaan dengan datangnya Seira dari balik pintu. Riel yang mendengar suara Seira berheti tepat ketika kepalan tangannya tepat di hadapan pria itu.
"Seira?" Riel menoleh ke belakang dan melihat gadis elfnya sedang berdiri dengan wajah memerah dan tangan dipenuhi keranjang berisi makanan.
"Kukira pria itu sudah memakanmu." Riel mengabaikan pria itu dan berlari menuju Seira.
Riel memeluk Seira dengan erat sampai buah-buahan yang ia bawa berjatuhan ke lantai. Tentu saja wajahnya benar-benar memerah saat ini.
"Ri-riel?" Ucap Seira yang benar-benar tidak tau harus berbuat apa.
"Pria itu!" Riel membalikkan badannya dan kembali menghadapi pria berjenggot itu.
"Emm... Riel. Dia itu pedangang di desa ini." Bisik Seira saat Riel sudah memasang kuda kudanya.
"Eh?!" Jawab Riel terkejut.
"Hahaha. Anak muda memang selalu siap siaga ya." Ucap Pria itu sambil mengelus jenggot panjangnya yang sudah memutih.
"Maaf." Riel membungkukkan badannya.
"Tidak perlu seperti itu. Nona Seira, apa anda puas?" Tanya Pria itu yang membuat Riel kebingungan.
"Ya, sangat." Jawab Seira dengan senyuman manisnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN SEIRA, BAARD?!" Sil yang baru sampai ke lantai dua mendengar ucapan mereka dan mulai berfikir kemana-mana.
"Simpan dulu otak mesummu itu, Cebol. Nona Seira memintaku untuk berpura-pura sudah mencelakainya agar ia bisa melihat reaksi Tuan Riel saat tau Nona Seira sudah tidak ada." Jawab Baard membela diri.
"Ke-kenapa kau mengatakannya, Bodoh!" Seira menjatuhkan keranjang buahnya dan berlari meninggalkan mereka semua.
"Seira!" Riel langsung melompat keluar lewat jendela dan mengejar Seira.
Sementara itu, Riel masih terus mengejar Seira yang berlari menuju pusat perdagangan. Keadaan desa itu sudah mulai membaik. Meski pakaian yang para penduduk ini kenakan masih sangat kotor, Riel dapat melihat cucian warga yang menggantung dimana-mana. Terlihat jelas kebahagiaan yang ada dibalik wajah mereka. Tidak ada lagi tatapan penuh harap, senyuman palsu dibalik derita yang mereka hadapi, atau wajah murung yang berfikir kapan semua itu akan berakhir.
"Actie." Riel merapalkan sihirnya dan berhasil menggenggam tangan Seira dari kejauhan.
Riel pun menghampiri Seira yang tidak bisa bergerak di tempatnya berdiri. Gadis Elf itu memalingkan wajahnya dari Riel.
"Kenapa kau langsung lari begitu saja?" Tanya Riel yang kini menggenggam Seira dengan tangannya sendiri.
"Bu-bukan berarti aku ingin dianggap penting olehmu. Itu... itu..." Jawab Seira terbata-bata.
"Kau partnerku yang paling berharga, Bodoh." Balas Riel sambil mencubit pipi Seira.
"Ah, kau benar. Partner." Seira mencoba tersenyum sebisa mungkin.
"Hmm?" Riel mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak apa-apa. Aku ingin melihat-lihat pasar." Balas Seira sambil melangkahkan kakinya. Namun, ia tidak sadar kalau Riel masih menggenggam tangannya.
Mereka berjalan bergandengan tangan sepanjang jalan. Di pasar yang begitu ramai, semua pedagang memanggil nama mereka dan memberikan beberapa barang dagangan mereka dari mulai makanan, minuman, senjata, zirah dan sebagainya. Apa yang dikatakan Kepala Desa ternyata benar. Semua pedagang di desa itu memberikan dagangannya secara gratis kepada Riel dan Seira. Dan juga barang yang mereka berikan merupakan barang paling bagus yang mereka jual di tokonya.
Setelah mendapatkan semua yang mereka butuhkan di perjalanan mereka selanjutnya, Riel dan Seira segera pulang ke penginapan.
"Oh iya! Baard itu penjual pakaian di toko yang ada di ujung sana. Aku sudah memesan beberapa pakaian untuk kita. Sepertinya dia sudah meletakannya di dalam lemari penginapan." Ucap Seira sambil memakan kembang gula ia dapatkan di pasar tadi.
"Pakaian? Aku tidak kepikiran untuk beli pakaian sebelumnya. Aku selalu mencuci pakaian ini lalu menunggunya sampai kering agar bisa kupakai lagi." Balas Riel sambil meminum air perasan tebu dengan porsi besar yang ia dapatkan secara gratis dari pedagangnya.
Seira yang tidak menyukai minuman tebu itu terheran-heran melihat Riel. Bisa-bisanya ia menyukai minuman dengan rasa manis yang aneh seperti itu.
"Kau menyukainya?" Tanya Seira sambil melihat cairan keruh yang ada di gelas besar yang digenggam Riel.
"Menyukai apa?" Riel balik bertanya.
"Minuman itu, kau menyukainya?" Tanya Seira lagi.
"Yahh... Rasanya lumayan enak. Tapi kurasa akan lebih enak jika diminum dalam kondisi dingin. Tapi mereka tidak punya es batu di tokonya." Jawab Riel murung.
"Kau butuh es batu?" Tanya Seira.
Riel menganggukkan kepalanya kemudian meneguk kembali minumannya.
"Kemarikan." Seira merebut gelas Riel.
__ADS_1
"Beredo." Seira merapalkan sebuah mantra dan beberapa potongan es batu keluar dari tangannya.
Seira menyerahkan gelas besar itu kepada pemiliknya yang sedang terdiam melihat sihir digunakan untuk hal seperti itu.
"Aku baru tau ada sihir seperti itu." Ucap Riel kagum.
"Serius? Itu sihir dasar tau." Jawab Seira kecewa.
"Serius. Karena aku sama sekali tidak belajar tentang sihir." Balas Riel yang kini sudah meneguk habis minumannya.
"Aku ingin tau siapa dirimu sebenarnya." Ucap Seira saat mereka sudah sampai di depan pintu Vandkilder Inn.
"Ehemm..." Sil yang melihat mereka berdua bergandengan tangan langsung saja menggoda Seira dengan senyuman jailnya.
Seira menatap Sil kebingungan lalu ia tersadar kalau Riel selalu menggenggam tangannya selama mereka berkeliling di pasar tadi.
"Lepaskan!" Seira menarik tangannya, melepaskannya dari genggaman Riel.
"Diam. Kau tidak boleh kabur lagi." Riel menarik kembali tangan Seira dan menggenggamnya lebih erat.
"Justru kau yang membuatku ingin kabur karena terus menggenggam tanganku saat Sil sedang tersenyum sambil memikirkan hal aneh tentang kita." Protes Seira.
"Sil, apa yang kau pikirkan?" Tanya Riel yang masih menggenggam tangan Seira.
"Aku berpikir tentang kau yang terus menggenggam tangan Seira agar dia tidak kabur." Jawab Sil berbohong.
"Kau dengar? Dia memikirkan apa yang kupikirkan." Ucap Riel pada Seira yang sudah pasrah.
"Dasar, Tante Genit!" Ledek Seira kesal.
Riel membawa Seira naik ke kamarnya. Diatas kasur mereka sudah ada 4 pakaian baru yang ditumpuk dengan rapi. Riel mendapatkan 4 pakaian berwarna Hitam, Maron, Abu-abu dan Putih. Seira mendapatkan warna Coklat, Navy, Army dan Hitam.
Semua pakaian baru mereka memiliki model yang sama seperti yang mereka gunakan saat ini. Hanya saja baju baru Riel memiliki tudung yang menempel langsung di bajunya. Jadi ia bisa menyembunyikan syal hitam yang menjadi ciri khasnya itu demi melindungi identitasnya.
Setelah selesai merapikan barang-barang mereka, Riel dan Seira bergantian pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaian mereka dengan pakaian baru yang mereka dapatkan dari Baard.
"Kau cocok sekali dengan itu, Seira." Ucap Riel setelah diperbolehkan masuk ke kamar oleh Seira yang sedang mengganti pakaiannya.
"Eh? Kau juga." Balas Seira sambil memalingkan wajahnya.
"Kenapa kau selalu memalingkan wajahmu saat aku berbicara padamu?" Riel mencubit pipi Seira dan membuat wajah gadis itu berhadapan dengannya.
"Ka-ka-karena..." Wajah Seira benar-benar memerah sekarang. Ia sangat malu melihat wajah Riel dari jarak yang sedekat itu.
"Hmm?" Riel mendesak Seira agar segera menyelesaikan ucapannya.
"Aku menyukaimu."
Belum sempat Riel mendengar dengan jelas jawaban Seira, kepalan tangan Seira yang dilapisi sihir menghantam rahang bawah Riel yang membuatnya langsung jatuh pingsan.
"Kuharap kau tidak mendengarnya. Shërimi." Seira menggunakan sihir penyembuhannya.
Riel perlahan membuka matanya dan melihat Seira yang sedang memangku kepalanya diatas paha.
"Apa yang terjadi?" Tanya Riel sambil mencoba untuk bangun.
"Kau terpeleset lalu kepalamu terbentur tembok dan pingsan." Jawab Seira berbohong.
"Sepertinya aku terlalu bersemangat untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya." Balas Riel yang sudah berdiri tegak di samping Seira.
"Aku ingin memastikan sesuatu. Riel, hal terakhir yang kau ingat sebelum pingsan itu apa?" Tanya Seira dengan tatapan seriusnya.
"Kau menyuruhku keluar karena kau ingin mengganti pakaianmu?" Jawab Riel sambil mengingat semampunya.
"Benar! Sepertinya tidak ada gangguan di otakmu. Ayo pergi!" Seira lebih dulu menuruni tangga dan menemui Sil untuk berpamitan.
Seira dapat melihat Sil dengan wajah murungnya yang sedang terdiam menatap pintu depan bar nya.
"Hey, Tante Genit. Terima kasih atas semuanya ya." Ucap Seira sambil memeluk Sil.
"Ah, kalian sudah ingin pergi?" Tanya Sil dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Tujuan kami masih sangat jauh, Sil. Jadi kami tidak boleh banyak membuang waktu kami untuk singgah di suatu tempat." Jawab Seira sambil melontarkan senyuman hangatnya.
"Lain kali mampir lagi, ya. Vandkilder Inn akan selalu terbuka untuk kalian berdua." Sil tak kuasa menahan tangisannya dan kembali memeluk Seira dengan erat.
Sil mengantar mereka sampai di depan penginapan. Wanita itu masih saja terisak meski air matanya sudah berhenti mengalir dari matanya.
"Kalau begitu kami pamit ya, Sil." Ucap Seira.
"Aku akan selalu merindukan kalian." Sil balas tersenyum kepada mereka berdua.
Riel dan Seira kembali berjalan melanjutkan perjalanan mereka dengan semangat baru yang membara. Terdengar dari kejauhan suara Sil yang meneriakan nama Seira.
"SEIRA! SEMOGA TERSAMPAIKAN, YA!!!"
Seira hanya menahan rasa malunya sedangkan Riel sama sekali tidak mengerti apa maksud dari ucapan Sil itu.
"Dasar." Ucap Seira yang kembali menatap ke depan.
__ADS_1