
Gerbang dibelakang mereka tertutup dan kembali memisahkan Human Realm dengan Devildoom. Dengan tekad yang kuat Riel dan Tim nya kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Istana Behemoth, tempat dimana Iblis itu tinggal.
"Ngomong-ngomong, bagaimana bentuk Behemoth?" tanya Riel.
"Ah, benar juga, aku belum menjelaskannya pada kalian" Keinn menepuk pundak Riel. "Bentuk aslinya menyerupai seekor Gajah, hmm lebih tepatnya Mamoth. Tapi, saat bertarung dia akan menampilkan wujud berupa Golem Raksasa dengan lahar yang mengalir di dalam tubuh kerasnya. Bisa dibilang dia itu kebal terhadap serangan fisik, jadi senjata kalian tidak akan mempan terhadapnya." jawab Keinn, selesai menjelaskan.
"Eh?! Kalau begitu bagaimana kita bisa mengalahkannya?" kali ini Seira yang bertanya.
"Entahlah? Mungkin dengan tekad yang kuat? Karena itulah kekuatan kita yang terbesar sebagai umat manusia, bukan?" jawab Keinn, tersenyum canggung.
Hening.
Semuanya diselimuti rasa takut yang luar biasa akan sosok tak terkalahkan yang akan mereka hadapi setelah ini.
"Aku akan mengalahkannya!" kata Riel, memecah keheningan.
Semangatnya mengalir kepada Keinn dan Seira, rasa takut mereka perlahan memudar digantikan kobaran api semangat yang membara di dalam tubuh Riel. Mereka kembali memantapkan niatnya, menegakkan badan yang mulai lelah di tengah perjalanan, membulatkan tekad yang perlahan sirna di dalam dada mereka.
"Kau benar, Keinn. Kita hanya punya tekad yang kuat, maka dari itu kita harus tetap optimis demi menjalankan misi kita saat ini." kata Riel yang kemudian merangkul kedua temannya itu.
Setelah berjalan sekitar 10 menit, mereka dapat melihat sebuah Istana yang sangat besar dengan tembok yang terbuat dari batuan magma yang menyala-nyala dari kejauhan. Mereka juga dapat mendengar suara pertarungan yang diduga berasal dari para Petualang Guild yang sedang menantang Behemoth di Istananya.
Mereka segera berlari menghampiri sumber suara. Dan kini di depan mereka sedang berdiri sesosok Golem setinggi 4 meter dengan tubuh dipenuhi lahar panas yang terlihat mengalir dari sela-sela tubuh batunya, dan juga 5 orang Petualang yang sudah kehabisan tenaga setelah bertarung cukup lama dengan Golem itu.
"Hey, kalian tidak apa?!" ucap Riel kepada salah satu petualang yang membawa sebuah perisai besar di tangan kanannya.
"Siapa kalian?" tanya Si Petualang.
"Kami juga petualang seperti kalian, hanya saja kami belum mendaftar ke Guild di Ibu Kota, jadi kami hanya sebatas Petualang Liar yang menjalankan misi sesuka hati." jawab Riel.
"Tunggu, kau Keinn kan?" ucap salah satu Petualang yang menggunakan tongkat sihir sebagai senjatanya.
Keinn terkejut mendengar pertanyaan orang tersebut, Ia menggaruk kepalanya kemudian menjawab, "Bagaimana kau bisa mengenalku?"
"Bagaimana bisa aku tidak mengenal seorang yang pernah hampir mengalahkan Behemoth." jawaban orang itu membuat semua orang yang ada disana terkejut, kecuali Keinn dan juga Behemoth.
"Yah, sepertinya aku bertemu lagi dengannya, dan kali ini akan kupastikan aku akan mengalahkan-"
"Kita." kata Riel, memotong ucapan Keinn.
"Kita akan mengalahkannya." lanjut Keinn sambil mengacungkan kepalan tangannya ke arah Behemoth.
"Kalian makhluk rendahan sebaiknya mati saja!" Behemoth mengangkat tangan kanannya dan menghantamkannya ke tanah.
Padang pasir tempat mereka berpijak mulai bergetar. Tiba-tiba saja sebuah lubang yang sangat besar muncul dibawah kaki mereka dan membuat para Petualang itu hampir saja terjatuh kalau Riel dan kawan-kawannya tidak menarik mereka keluar dari lubang itu.
"Ah, terima kasih." kata seorang Petualang.
"Tidak masalah," jawab Riel. "Ayo mulai pestanya!"
Riel melompati lubang besar di hadapannya dan langsung berlari ke arah Behemoth, kali ini ia tidak menggunakan pedang besarnya, melainkan menggunakan busur panah yang sudah diperkuat oleh Lularia saat ia singgah di Desa Pemë.
"Forcë!" Riel melepaskan anak panahnya. Bersamaan dengan dilepaskan anak panah itu dari busurnya, tubuh Riel mengeluarkan sebuah aura gelap yang menghempaskan pasir dibawah kakinya.
Anak panahnya melesat dengan sangat cepat menuju kepala Behemoth, namun dengan mudahnya Behemoth menangkis serangan Riel hanya dengan meniupkan uap panas dari mulutnya. Behemoth tertawa lepas melihat serangan Riel yang sangat lemah barusan, dia menarik nafas panjang dan menghembuskan uap panasnya lebih kuat sehingga mampu memberikan sebuah luka bakar di kulit Riel.
Meski sudah menerima luka yang cukup fatal, Riel masih saja berdiri tegak menantang di hadapan Behemoth, hal itu membuat Sang Iblis geram, dia mengangkat tangan kanannya, bersiap meluncurkan serangan berikutnya. Keinn yang melihat Riel masih diam di tempatnya segera berlari menghampiri Riel, dan berhasil menariknya mundur dari pukulan Behemoth yang sangat mematikan.
"Kau bodoh atau apa, hah?!" ucap Keinn, memarahi Riel.
Riel hanya diam dan tersenyum kecut melihat Behemoth yang tampak sangat marah terhadapnya.
__ADS_1
"JAWAB AKU!" sentak Keinn.
"Keinn!" tegur Seira, melihat Keinn yang mulai kehilangan kesabarannya terhadap Riel.
"Aku tau kau akan menolongku, Keinn. Sudah kubilang kan, yang akan mengalahkannya adalah kita, bukan aku atau pun kau." kata Riel yang kembali menembakkan anak panahnya ke arah Behemoth.
Behemoth melakukan hal yang sama terhadap anak panah Riel, namun hal tersebut memberikan Riel sebuah petunjuk untuk mengalahkan Golem itu.
"Seira, apa mantra yang kau gunakan untuk meningkatkan kekuatan dari sebuah sihir?" tanya Riel.
"Shtesë?" jawab Seira, bingung dengan apa yang Riel rencanakan.
"Baiklah, aku punya rencana." ucap Riel yang kemudian menjelaskan rencananya kepada Timnya.
"Aku mengerti." ucap Petualang yang membawa pedang.
"Tapi ini cukup beresiko, Riel." protes Seira.
Riel tidak memperdulikan keluhan teman Elf nya itu, ia membalasnya dengan senyuman penuh percaya diri yang membuat Seira yakin bahwa Riel bisa melakukannya dengan baik.
"Baiklah, ayo serang!" seru Riel, memimpin pasukan.
"HOOOOOOO!!!" sahut para Petualang di belakang Riel.
"Dasar tidak tau diri!" Behemoth mengangkat tangannya, bersiap untuk menyerang segerombolan petualang yang maju menghadangnya tanpa rasa takut.
"ROAAARRRR!!!"
Behemoth mengayunkan tangannya ke arah Riel dan kawan-kawan. Namun, seorang Petualang yang membawa perisai besar dengan percaya dirinya mengangkat Perisainya, mencoba menahan serangan Behemoth secara langsung.
"Shtesë!" Riel memfokuskan energi sihirnya ke perisai milik Petualang yang sebentar lagi akan saling berbenturan dengan tangan batu Behemoth.
Tanpa disangka-sangka, Riel berhasil menyalurkan energi sihirnya ke perisai besar milik Sang Petualang itu, sehingga ia dapat menahan serangan Behemoth dan membuat mereka aman untuk saat ini.
Seira dan yang lainnya terkejut melihat aksi Riel barusan, mereka tidak menyangka ada orang yang bisa menahan serangan Behemoth secara langsung meskipun dibantu dengan sihir.
"Baiklah, sekarang giliranku! Shpejtësi." Secepat kilat, Riel berlari menuju kaki Behemoth yang ukurannya berkali-kali lipat dibandingkan tubuhnya.
Riel mengeluarkan pedang besarnya dan mengayunkannya ke arah tumit Sang Iblis. Sayang sekali, pedangnya hancur berkeping-keping, ia bahkan tidak meninggalkan goresan sedikitpun di tubuh Behemoth. Iblis itu berubah wujud menjadi seekor Mamoth yang sangat besar dan langsung mengangkat kaki depannya tepat diatas kepala Riel, bersiap untuk membuat pemuda itu menyatu dengan tanah.
Riel yang berhasil membuka celah langsung memberikan tanda kepada Tim-nya, ia berteriak, "SEIRA!"
Sudah mengerti dengan apa yang harus dia lakukan, Seira dan juga seorang Petualang yang menggunakan tongkat sihir membuat sebuah angin topan yang membabi buta dibawah telapak kaki Behemot yang hampir saja menghantam Riel. Hampir saja Iblis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh di hadapan mereka, namun sayang sekali Behemoth masih bisa mendaratkan kakinya dengan aman di atas gurun tandus itu. Tapi, berkat rencana Riel yang berjalan mulus sampai saat ini, Keinn berhasil menghantam kepala Behemoth dengan tangan kosong sebelum Iblis itu sempat menyombongkan diri di hadapan mereka.
Sekali lagi, mereka semua dibuat terdiam, kali ini Keinn yang menunjukkan kekuatannya yang luar biasa, pukulan tangan kosongnya mampu membuat Behemot terpental hingga membentur dinding Istananya, pantas saja Keinn disebut pernah hampir mengalahkan Behemoth.
"Kali ini aku pasti membunuhmu." kata Keinn yang tangannya mulai mengeluarkan cahaya yang sangat terang.
"Tuhan, dengan nama-Mu aku datang, kepada-Mu lah aku kembali. Izinkan hamba sebagai manusia yang hina ini mengantarkan sebuah persembahan kepada jiwa-Mu yang sudah membebaskan semesta dari kegelapan. Kembalilah menuju kehampaan!" sebuah pedang yang bersinar terang keluar muncul begitu saja dalam genggaman Keinn. "SHPATAZOR!"
Cahaya dari pedang di tangan Keinn membentuk sebuah pilar raksasa yang menembus langit gelap di Gurun tak terlihat, para Petualang di sekitarnya termasuk Seira tidak dapat melihat apa-apa saking silaunya, mereka reflek menutup mata mereka. Tanpa basa-basi lagi, Keinn mengayunkan pedangnya ke arah Behemoth, cahaya dari pedang itu membelah semua yang melewatinya sampai-sampai Istana Behemoth pun terbelah menjadi dua.
"HIYAAAAHH!!!"
Suara dentuman yang sangat keras diiringi dengan erangan Behemoth yang kesakitan terdengar setelah pedang Keinn menghantam tanah, ia berhasil memberikan luka yang sangat fatal di tubuh Behemoth yang tidak lagi kebal akan serangan itu. Tubuh Iblis itu pun meleleh menjadi lahar panas yang mengalir perlahan dan membakar apapun yang ada di sekitarnya. Riel yang berada paling dekat dengan bangkai Behemoth segera berlari menjauh dan menghampiri teman-temannya.
"Keinn!" Riel segera menangkap Keinn yang sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berdiri.
"Apa kita menang?" tanya Keinn yang sudah tergeletak lemas di atas pangkuan Riel.
"Ya, kita menang Keinn, kau sungguh luar biasa." jawab Riel, tersenyum bangga.
__ADS_1
"Liz seharusnya sudah sembuh sekarang" ucap Keinn lirih. "Ah, kalau saja aku berhasil mengalahkannya dari dulu, aku pasti bisa menyelamatkannya. Tapi, aku tidak menyesal sama sekali, karena sebentar lagi aku bisa bertemu dengannya."
Tidak ada yang membalas ucapan Keinn, semuanya terdiam melihat tubuh Keinn yang perlahan berubah menjadi butiran-butiran cahaya yang melayang-layang di udara.
"Kalian pasti ingin tau pedang apa yang kugunakan barusan, bukan? Itu adalah pecahan pedang milik Tuhan yang hancur saat bertarung melawan Lucifer. Hebat, kan? Padahal itu hanya kepingan kecil dari pedang milik-Nya, tapi itu benar-benar memiliki kekuatan yang sangat dahsyat sehingga mampu membunuh Iblis dalam sekali serang." Keinn berbicara dengan sedikit tenaganya yang masih tersisa. "Petualang, aku ingin mengingat nama kalian di sisa hidupku. Perkenalkan diri kalian satu persatu"
7 orang yang ada di sekitarnya Reflek menegakkan tubuh mereka dan mulai memperkenalkan diri masing-masing.
"Aku Riel, aku bertualang demi bisa bertemu kembali dengan orang yang aku cinta."
Keinn tersenyum tipis, ia berkata, "Dasar, Anak muda."
"Aku Seira, aku bertualang dengan Riel untuk mendapatkan pengalaman baru yang belum pernah ku dapatkan sebelumnya, dan juga sebagai balas budi karena ia sudah pernah menyelamatkan nyawaku."
"Hmm... hmm..." Keinn mengangguk pelan.
"Aku Yuna," kata seorang Petualang yang menggunakan tongkat sihir. "Aku menjadi seorang Petualang agar bisa bergabung dengan Guild dan menjalankan berbagai macam Quest bersama Petualang lainnya."
"Namaku Xeno," kata Petualang yang membawa perisai. "Cita-citaku menjadi seorang Petualang yang bisa melindungi Kerajaan dari bahaya apapun, itulah mengapa senjataku adalah sebuah perisai."
"Perkenalkan, namaku Zephyz, kau boleh memanggilku Zeph kalau kau mau." ucap Petualang yang membawa sebuah Katana di pinggangnya. "Sebagai sesama pengguna Katana, sebuah kehormatan bagiku bisa berkenalan dengan anda."
"Kau tidak mungkin tidak mengenalku, kan?" tanya seorang Petualang yang terlihat lebih tua daripada yang lainnya, ia menggunakan sebuah pedang besar sebagai senjatanya.
"Suara ini..." Keinn mencoba mengingat sesuatu. "Ah! Kawan lamaku, Todo."
"Senang rasanya bisa bertemu denganmu lagi, Keinn." balas Todo.
"Giliranku?" tanya seorang Petualang yang menggunakan busur.
Semua orang menoleh kepadanya, kemudian mengangguk.
"Ah, namaku Laa, aku menjadi seorang Petualang karena... Emm... Menurutku itu keren." ucap Laa, tersenyum canggung.
"Riel, Seira, Yuna, Xeno, Zephyz, Todo, Laa, kalian benar-benar luar biasa!" ucap Keinn dengan suaranya yang semakin melemah, kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dengan damai.
"Semoga kau tenang di Alam sana." ucap Riel sambil membaringkan tubuh Keinn diatas pasir.
Kemenangan mereka terasa hampa karena harus ada sebuah duka yang terselip diantaranya, Keinn mengorbankan segalanya untuk membunuh Behemoth yang selama ini meresahkan Kerajaan Erë, tanah kelahirannya. Para Petualang pun mengadakan sebuah ritual pemakaman kecil-kecilan untuk menghormati kematian Keinn yang sangat berjasa dalam pertarungan mereka kali ini.
Setelah selesai memanjatkan doa-doa, Todo segera mengangkat tubuh Keinn dan membawanya ke lahar yang mengalir dari tubuh Behemoth, ia meletakkan tubuh kawan lamanya itu diatas lahar tersebut, kemudian membiarkannya habis terbakar tanpa tersisa.
"Misi selesai, kita berhasil mengalahkan Behemoth berkat pengorbanan Keinn. Ayo kita kembali ke Guild." Xeno memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu.
"Kalian ikut." ucap Todo sambil menunjuk ke arah Riel dan Seira.
Kedua Remaja itu hanya diam di tempat, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Todo, jelas-jelas mereka juga akan keluar disana tanpa disuruh.
"Kalian bagian dari kami sekarang, maka dari itu, kalian harus ikut kami pulang ke Guild di Ibu Kota." kata Todo, memperjelas kalimatnya.
"Apa? Kami bagian dari kalian?" tanya Riel masih tidak mengerti.
"Yah, pokonya ikut sajalah." balas Todo sambil memutar tubuhnya, membelakangi Riel dan Seira.
"Tapi, maukah anda menunggu kami sebentar? Ada hal yang harus kami urus sebelumnya." ucap Seira.
"Yah, yah, kami akan menunggu di Gerbang perbatasan. Sampai ketemu nanti." Todo mengejar teman-temannya yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan mereka bertiga.
"Sebaiknya kita harus segera temui Lux dan Liz untuk memastikan apakah kutukan Liz sudah sepenuhnya hilang atau belum." ajak Seira sambil menarik lengan baju Riel.
"Iya, iya, sabar dong!" protes Riel
__ADS_1
Mereka semua meninggalkan Gurun Tak Terlihat dan berjalan menuju arah tujuannya masing-masing. Kelompok Petualang yang langsung menuju ke Gerbang Perbatasan, kemudian Riel dan Seira yang menuju Gua dimana Liz dan Lux tinggal.
...****************...