
Seira meninggalkan Riel sendirian di kamarnya dan pergi menemui Sil dibawah.
"Hey, Seira. Ada apa?" Tanya Sil dari balik meja kerjanya.
Seira yang berjalan perlahan menuruni tangga mulai menghampiri Sil dan duduk di bangku yang di sediakan di depan meja bartender itu.
"Apa kau punya kamar yang lain? Aku muak bersama Si Mesum itu." Keluh Seira.
"Me-mesum?!" Mata Sil membulat sempurna disusul dengan pipinya yang mulai memerah.
"Yeah, dia meremas dadaku dengan sihirnya." Jawab Seira.
"Ummm..." Wajah Sil semakin memerah.
"Jadi apa kau punya kamar yang lain?" Lanjut Seira.
"Ah, maaf sekali. Tapi itu satu-satunya kamar yang tersisa. Itu pun kamar terbaik yang kami punya disini." Jawab Sil.
"Ya sudahlah." Seira tampak kecewa.
Seira pun kembali ke kamarnya dan melihat Riel yang sedang manatap ke jendela dengan tenang.
"Kau kembali." Ucap Riel tanpa memalingkan pandangannya.
Seira hanya diam dan langsung berbaring di tempat tidurnya. Ia masih kesal dengan Riel karena sudah melakukan hal yang tidak pantas kepada dirinya.
"Maaf." Ucap Riel masih dalam posisi yang sama, hanya saja wajahnya kini menoleh kearah Seira yang berbaring menghadap tembok.
Hening. Tidak ada yang bicara satu pun. Riel pun menutup gorden jendela kamarnya dan berjalan kembali ke kasurnya.
"Kenapa ditutup?" Ucap Seira yang akhirnya berbicara.
"Eh? Mau kubukakan lagi?" Jawab Riel yang hendak merebahkan diri di tempat tidurnya.
"Tidak. Tidak usah." Jawab Seira singkat.
"Hmm baiklah." Riel akhirnya merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur.
Seira bangkit dari posisinya, ia duduk menghadap Riel yang tengah berbaring menatap langit-langit ruangan. Seira merasakan hal yang aneh dalam dirinya. Suhu tubuhnya naik secara perlahan, jantungnya berdetak semakin kencang. Ia ingin sekali menghampiri Riel. Tapi, ia masih kesal dengan apa yang sudah Riel perbuat.
Beberapa menit menahan gejolak yang ada pada tubuhnya, Seira akhirnya bangun dari kasurnya dan melangkahkan kaki menuju seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam di hadapannya. Langkahnya begitu hati-hati seolah ia tak ingin didengar oleh Riel walau ia tau Riel pasti bisa melihatnya dari posisi itu.
"Hmm?" Riel menoleh ke arah Seira yang sedang menghampirinya.
Riel pun bangkit dari posisinya dan memberikan ruang di kasurnya agar Seira bisa duduk disana.
"Maaf, Seira." Ucap Riel saat Seira sudah duduk di hadapannya.
Seira hanya menggelengkan kepalanya yang bermaksud 'Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkanmu.'
Riel pun kembali terdiam dan hanya memandangi Seira dengan tenang. Ia tidak tau apa yang sudah terjadi dibawah sana. Apa mungkin Sil memarahinya? Atau dia teringat sesuatu yang membuatnya sedih? Riel sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada Seira.
"Riel." Ucap Seira sambil menundukkan wajahnya.
"Ya?" Jawab Riel singkat.
"Jangan memandangiku seperti itu, Bodoh!" Ucap Seira sambil menunjuk dinding yang ada di belakang Riel.
"Kau mau aku menghadap kesana?" Tanya Riel.
Seira hanya mengangguk perlahan tanda ia mengiyakan pertanyaan Riel barusan.
Riel segera memutar tubuhnya membelakangi Seira. Ia semakin tidak mengerti dengan Gadis Elf di belakangnya ini. Tapi, karena ia masih merasa bersalah ia hanya bisa menuruti apa yang diminta Gadis itu agar kesalahannya bisa dimaafkan.
Kini Seira memandangi punggung Riel yang beberapa kali ia lihat tanpa terhalang benang sedikit pun. Ia terus memandanginya hingga tangannya reflek menyentuh punggung laki-laki di hadapannya itu.
"Eh? Seira?" Tanya Riel yang merasakan sentuhan Seira di punggungnya.
"Maukah kau menceritakan tentang Aira?" Tanya Seira yang masih mengelus punggung Riel.
"Boleh saja. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Seira?" Riel mulai merasakan perasaan aneh akibat belaian Seira di punggungnya.
"Aku hanya ingin mendengarnya." Jawab Seira sambil menempelkan keningnya di punggung Riel. Ia dapat mencium aroma tubuh Riel yang sebenarnya tidak bau sama sekali. Meskipun Riel tidak pernah kelihatan mandi oleh Seira, tapi ia selalu mencuci baju dan tubuhnya ketika ia menemukan sebuah sungai di tengah perjalanan.
"Eh?! Baiklah akan aku ceritakan tentangnya." Jawab Riel mencoba tidak memperdulikan apa yang Seira lakukan.
"Dia itu teman kecilku. Rumah kami sangat dekat jadi setiap hari kami selalu bermain bersama. Gadis itu, dia selalu bilang padaku kalau semua yang kita alami dalam kehidupan kita itu sudah ditakdirkan. Sedangkan aku sendiri tidak percaya dengan apa itu takdir. Itulah kenapa saat aku tau bahwa dia tidak akan kembali lagi, aku langsung memutuskan untuk menyusulnya ke Datraoch." Ucap Riel sambil menahan perasaan aneh yang menyerangnya saat ini.
"Kenapa? Kenapa sampai sebegitunya? Apa kau tidak punya teman lain selain dia?" Tanya Seira yang kini mulai merayap menuju pundak Riel.
__ADS_1
"Bukan begitu. Hanya saja... a-aku sudah berjanji padanya untuk menikahinya saat kami besar nanti." Lanjut Riel.
"Jadi, kau sangat mencintainya?" Tanya Seira sedikit murung.
"Ya." Jawab Riel sambil menahan perasaan aneh di tubuhnya.
"Apa kau sudah melakukan 'itu' dengannya?" Lanjut Seira.
"A-apa maksud-mu~" Tanya Riel yang mulai kehilangan kendalinya.
"Mau melakukannya denganku?" Seira memutar tubuh Riel.
Mata mereka saling bertatapan. Seira sedikit mendorong Riel ke tembok lalu duduk di pangkuan Riel. Tangannya terus memegangi pundak Riel sedangkan Riel hanya terdiam kebingungan dengan tingkah Seira saat ini.
"Bu-bukannya aku ingin melakukan 'itu' denganmu. Ha-hanya saja, kurasa aku juga harus melakukan sedikit hal seperti itu agar aku bisa memaafkanmu." Lanjut Seira.
Wajahnya semakin mendekati wajah Riel. Riel yang belum pernah melihat Seira sedekat itu, ditambah ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya hanya bisa terdiam dan wajah cantik Elf itu semakin mendekat.
BRUKK!
Terdengar suara benturan dari luar pintu kamar mereka. Seira yang sedang duduk diatas paha Riel langsung melompat turun dari kasur dan berjalan mendekati sumber suara.
"Sil?!" Seira melihat wanita penjaga penginapan itu sedang terduduk sambil mengelus kepalanya di depan pintu kamar.
"Eh... Seira hehe." Sil memalingkan wajahnya mencoba mengalihkan pandangannya dari Seira.
"Anu... Aku ingin memberitahumu kalau ada kamar lain yang kosong. Orang yang memesan kamar itu baru saja pergi jadi aku ingin menawarkannya padamu. Tapi..." Sil mencoba menyembunyikan wajahnya yang terlihat sangat bergairah.
"Tidak perlu. Terimakasih, Sil." Jawab Seira tanpa menunggu Sil menyelesaikan kalimatnya.
"Sudah kuduga." Jawab Sil dengan senyum yang mencurigakan.
"Eh... anu... itu tidak seperti yang kau pikirkan... aku... aku..." Seira mencoba memberi alasan.
"Silahkan nikmati waktumu. Maaf sudah mengganggu. Saya permisi." Sil berlari turun ke lantai satu dan segera kembali ke mejanya.
"Sial! Apa yang sudah kulakukan. Seira bodoh! Kau sangat bodoh!" Keluh Seira dalam hati.
Sudah dua menit Seira berdiri di depan pintu. Walau Sil sudah kembali ke mejanya dari tadi. Matanya belum siap untuk kembali melihat Riel yang ada di belakangnya saat ini. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan dipikirkan oleh Riel tentangnya sekarang.
"Seira." Suara yang sangat ia kenal memanggilnya dari dalam kamar.
"Jadi, kau sudah memaafkanku sekarang?" Tanya Riel sambil merapihkan bajunya.
"Anggap saja kita impas." Jawab Seira cuek lalu berjalan kembali ke tempat tidurnya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau lakukan padaku tadi. Tapi..." Riel ingin mengatakan bahwa ia suka dengan hal yang baru saja ia rasakan tadi. Tapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat Seira yang memandangnya menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.
"Tapi, syukurlah jika kau sudah memaafkanku." Lanjut Riel.
"Yah, tidak perlu dipikirkan lagi. Lebih baik kau pikirkan kapan kita akan pergi mengecek sumber air itu." Jawab Seira.
"Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Toh, ini masih siang. Akan lebih baik jika masalah ini cepat selesai, bukan?" Riel mengambil busurnya yang ia letakkan di pinggir lemari kecil di samping tempat tidurnya.
"Kalau begitu aku pergi duluan." Seira membuka jendela besar yang terletak di tengah dinding itu dan segera pergi dengan wujud elang emasnya.
"Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan tadi?" Gumam Riel sambil berjalan keluar dari kamarnya.
Seira akhirnya menemukan bukit yang dimaksud oleh Sil. Ia pun dapat melihat sumber mata air diatas bukit tersebut hanya saja ia melihat ada gundukan aneh yang menutupi aliran air tersebut.
"Zmadh." Seira melafalkan sebuah mantra yang membuat penglihatannya menjadi lebih jauh.
"Mayat?!" Gundukan yang menghalangi aliran air tersebut rupanya mayat penduduk yang hilang beberapa minggu yang lalu. Seira ingin segera menghampiri sumber mata air itu namun ia melihat Riel yang tengah berlari menuju kaki bukit. Ia pun mengurungkan niatnya dan meluncur menghampiri Riel.
"Kau sudah menemukannya, Seira?" Tanya Riel saat Seira sudah bertengger di bahunya.
"Itu benar-benar ulah para Harpy. Yang membuat mata air itu tidak mengalir sampai ke desa adalah mayat-mayat penduduk yang diletakan menumpuk sehingga membuat sebuah bendungan yang menghalangi aliran air ke desa." Seira menjelaskan apa yang ia lihat dari atas sana.
"Berhenti!" Kata salah satu penjaga gerbang ketika Riel dan Seira sudah sampai di kaki bukit yang mereka tuju.
"Tidak ada yang boleh masuk kedalam sana." Lanjut Penjaga itu.
"Aku seorang petualang. Aku bahkan sudah mendapatkan izin dari Kepala Desa." Jawab Riel.
"Dia benar. Aku sudah mengizinkannya." Ucap seorang lelaki berumur 50 tahunan dengan rambutnya yang sudah beruban.
Kedua penjaga di hadapan Riel dengan cepat membungkukkan tubuh mereka. Memberi hormat pada Kepala Desa.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kau siap?" Tanya Sang Kepala Desa sambil menepuk bahu Riel.
"100%" Riel tersenyum penuh percaya diri.
"Buka gerbangnya." Titah Pria tua itu.
Tanpa berkomentar lagi kedua penjaga itu membuka gerbang yang ada di belakang mereka.
"Kuserahkan masa depan desa ini padamu, Petualang bersyal hitam." Kepala desa tersenyum penuh harap.
"Saya tidak akan mengecewakan anda." Riel membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat, kemudian bergegas mendaki bukit dihadapannya.
Butuh sekitar 10 menit untuk sampai ke sumber mata air. Namun, bau busuk dari bangkai manusia yang terkumpul disana dapat tercium oleh Riel dan Seira dari kejauhan.
"Aku sudah menyuruhmu untuk mandi." Ucap Seira yang sudah kembali ke wujud Elf nya.
"Kalau aku memang sebau itu, kenapa kau bisa sangat menikmati saat menjilat leherku di penginapan tadi?" Jawab Riel sambil menutup hidungnya.
"Bi-bisakah kau berhenti membahas itu?" Seira memalingkan wajahnya.
"Awas!" Riel mendorong Seira cukup kencang. Hingga gadis itu terjatuh di sampingnya.
Belum sempat Seira memarahi Riel, seekor Harpy yang mereka lawan kemarin menukik tajam ke tempat Seira berdiri tadi.
"Mereka benar-benar menyambut kita." Ucap Riel sambil menyiapkan busur panahnya.
"Terima kasih." Seira sudah kembali berdiri disamping Riel.
"Aku duluan. Sphejtësi!"
Riel melesat dari satu pohon ke pohon lain dan melompat ke arah Harpy yang sedang melayang di udara.
Tangannya berhasil menggenggam kaki makhluk tersebut dan dengan cepat ia mengayunkan tangannya kebawah. Membuat Harpy itu tergeletak di tanah.
Riel mengambil anak panah dari sarung panah punggungnya dan mulai membidik monster yang terkapar dibawahnya. Masih melayang di udara, Riel melepaskan satu tembakan yang melesat tepat mengenai jantung dari Harpy tersebut.
1 tumbang. Kini masih ada 3 Harpy yang pastinya sudah menunggu Riel dan Seira di atas sana. Mereka bergegas menuju puncak bukit dan menemukan sebuah bendungan yang terbuat dari tumpukan mayat yang sudah mulai membusuk.
"Benar-benar tidak bisa diterima!" Amarah Riel mulai membara ketika ia melihat tumpukan mayat dihadapannya.
"Vuurbal!"
Seira melontarkan sebuah bola api ke arah Harpy yang mencoba menyerang Riel. Namun, makhluk itu berhasil menghindar sehingga serangan Seira membentur sebuah pohon dan hampir menumbangkannya.
"Actie!" Riel merapalkan sebuah mantra yang baru saja ia pelajari di penginapan.
Seira reflek menutup dadanya dengan kedua tangannya. Teringat apa yang sudah Riel lakukan saat pertama kali merapalkan mantra tersebut.
Namun, kali ini sihirnya bekerja dengan baik. Seekor Harpy yang sukses menghindari serangan Seira itu tersungkur ke tanah. Tubuhnya tidak dapat digerakan seolah ada tangan raksasa yang menggenggamnya begitu erat.
"Jangan buat aku pusing hanya untuk membidik kalian yang terus terbang kesana kemari, dasar Ayam Kampung!" Riel menarik Harpy itu dengan sihirnya.
SLASSHH!
Belati Riel sukses menebas leher Wanita Setengah Burung tersebut. Dua Harpy yang tersisa terlihat sangat marah ketika mereka menyaksikan kematian teman mereka dihadapan mata mereka.
Kedua Harpy itu membentangkan sayap mereka. Kepulan asap hitam dari kibasan sayap kedua Harpy itu. Riel yang ingin segera membunuh kedua makhluk itu berlari kedalam asap hitam di depannya.
"RIEL, MUNDUR! ASAP ITU BERACUN!"
"Eh?!" Terlambat. Riel berhenti ditengah-tengah kepulan asap beracun itu.
"Shakullinë!" Seira merapalkan sebuah mantra dan membuat sebuah angin puyuh kecil yang melingkari Riel. Asap tersebut tersebar kemana-mana kemudian menghilang. Meninggalkan Riel yang sudah terbaring lemas diatas tanah.
"Riel!" Seira berlari menghampiri Riel.
Para Harpy di depan mereka bersiap melancarkan serangan selanjutnya.
"RIEL!!!" Seira mengeluarkan medan sihir yang melingkari tubuhnya dan Riel sehingga ia berhasil menangkis serangan dari dua Harpy tersebut secara bersamaan.
"Shërimi." Seira mulai mengobati Riel dengan sihir penyembuhannya.
"Kumohon... Riel..." Air mata mulai mengalir di pipi Seira. Ia teringat seseorang di masa lalunya.
"A-aku ingin makan daging bu-burung." Ucap Riel terbata-bata.
---
__ADS_1