Fate Breaker

Fate Breaker
Kutukan


__ADS_3

Di sebuah Gua yang terletak di perbatasan Kerajaan Erë, seorang Pemuda terlihat sedang kewalahan menangani penyakit yang diderita seorang Gadis Kecil yang ada di hadapannya.


"Bertahanlah!" kata Si Pemuda yang sedang merapalkan sebuah sihir penyembuhan kepada Gadis Kecil itu.


Gadis kecil itu terus meringis kesakitan, rambut panjangnya memutih sebagian seiring berjalannya waktu. Pemuda itu berhasil meredakan rasa sakit yang diderita oleh Si Gadis Kecil, namun karena kehabisan tenaga saking lelahnya menahan sakit di seluruh tubuhnya, Gadis itu pun jatuh pingsan di hadapan Si Pemuda.


"Bagaimanapun caranya, Kakak akan menyembuhkan kutukanmu, Liz." kata Si Pemuda yang ternyata adalah kakak dari Gadis itu.


Sementara itu, Riel dan Seira sedang menyantap makan siangnya di sebuah Bar yang terletak di tengah hutan.


"Memangnya apa tujuanmu membangun sebuah Bar di tengah hutan seperti ini?" tanya Riel kepada Pemilik Bar dengan mulut yang masih dipenuhi makanan.


"Setidaknya telan dulu makananmu, Bodoh!" tegur Seira.


"Ada sebuah cerita yang cukup panjang sebelum dibangunnya Bar ini, apa kalian mau mendengarnya?" jawab Si Pemilik Bar.


Kali ini Riel menelan makanan yang ada di mulutnya sebelum menjawab pertanyaan Pemilik Bar, Dia menjawab "Aku ingin mendengarnya, aku sangat suka cerita."


Pemilik toko menganggukkan kepalanya, puas dengan jawaban yang diberikan Riel dan mulai bercerita. "Baiklah, sebelumnya izinkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu, namaku Keinn, aku dulunya seorang petualang seperti kalian. Tujuanku bertualang adalah untuk menemukan obat dari Kutukan Sourozenec, kutukan yang menyerang Kakak beradik yang lahir di tanggal yang sama."


"Kutukan yang menyerang anak kembar?" tanya Seira.


"Tidak, tidak, bukan cuma anak kembar. Misal, ada seorang ibu melahirkan anak pada tanggal 16 di tahun ini, lalu ia melahirkan seorang anak lagi di tanggal 16 pada tahun-tahun berikutnya, itu berarti mereka lahir di tanggal yang sama, bukan? Ketika kejadian itu terjadi, maka Si Adik akan terkena Kutukan Sourozenec, kutukan yang melahap umur Sang Adik dalam waktu sekitar 15 tahun. Dengan kata lain, Si Adik ini tidak akan hidup lebih dari 15 tahun jika kutukan itu belum disembuhkan." jawab Keinn.


Riel dan Seira yang sudah menghabiskan makanannya terlihat sangat serius menyimak cerita dari Keinn. Pria tua itu pun semakin semangat menceritakan kisahnya kepada dua pelanggan pertamanya hari ini, ia mengusap keringat di dahinya dengan celemek hitam yang menutupi kemeja hijaunya sebelum melanjutkan ceritanya.


"Adikku meninggal karena kutukan itu" ucap Keinn, murung. "Ini semua diawali ketika Anak Kedua dari Raja Tanderia ke 4 membunuh Kakaknya, karena di ulang tahun mereka, Kakaknya mendapatkan hadiah berupa tahta kerajaan yang akan diberikan padanya ketika Ayahnya meninggal kelak. Dia tidak terima karena Kakaknya yang mendapatkan gelar Pewaris Tahta sedangkan dia hanya mendapatkan sebuah Desa Kecil yang terletak di ujung perbatasan Kerajaan Erë. Sejak saat itu, Yang Mulia mengutuk semua Anak Bersaudara yang dilahirkan di tanggal yang sama, agar Anak itu tidak dapat melakukan penghianatan kepada Saudaranya kelak."


"Aku turut berduka, Keinn." ucap Seira.


"Terima kasih, Seira." jawabnya. "Kemudian, aku bertualang setelah tau bahwa adikku menderita kutukan sialan itu. Sulit sekali mendapatkan obat dari kutukan itu karena kejadian ini memang sangat langka, aku bahkan sudah menemui Tabib dari segala macam ras, tapi mereka sama sekali tidak tau apa-apa tentang kutukan Sourozenec. Aku menyerah, aku pasrah, aku memutuskan untuk kembali ke rumah dan berniat untuk menemani adikku sampai waktu dimana ia harus pergi meninggalkan dunia."


Keinn menghela nafasnya, nampaknya ia jadi sangat merindukan Mendiang Adiknya yang telah lama mendahuluinya untuk pergi ke Alam Baka.


"Aku kehabisan makananku di tengah perjalanan, aku sangat kelaparan, tergeletak di bawah Pohon Ek yang sangat besar, terus berpikir bahwa aku akan mati kelaparan disana sebelum aku sempat melihat adikku untuk yang terakhir kalinya. Namun, Dewi Evimería masih berpihak padaku, aku bertemu dengan seorang Petualang Cantik yang memberikanku makanan miliknya, aku benar-benar bersyukur bisa bertemu dengannya disaat aku sudah tidak peduli meskipun aku harus mati hari itu juga. Dia berkata padaku tentang mendirikan sebuah tempat makan untuk para Petualang di tengah hutan, maka untuk menghargai kebaikannya kepadaku, aku mendirikan Bar ini dan menamainya dengan nama Gadis itu, Irina's Bar."


Seira melirik ke arah Riel, memikirkan sesuatu.


"Apa kau akan membuka Bar juga, Riel?" tanya Seira.


"Memangnya kenapa? Kau ingin aku mendirikan Bar yang dinamai dengan namamu?" balas Riel.


Seira tersenyum malu-malu, ia tidak menyangka Riel bisa sepeka itu padahal sebelumnya ia sama sekali tidak pernah bisa memikirkan apa yang Seira pikirkan.


"Hahaha, kalau memang kalian ingin mendirikan Bar sepertiku, dirikanlah di Kota-kota besar supaya penghasilan kalian bisa menjamin kehidupan kalian kedepannya." saran Keinn.


Setelah cukup berbincang dan sudah selesai memulihkan tenaga mereka, Riel dan Seira memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Kerajaan Erë. Keinn memberikan beberapa makanan dan minuman untuk bekal mereka di perjalanan berupa Roti dan beberapa botol air mineral.


Tidak terasa Riel sudah pergi dari rumahnya selama satu bulan, Ia merindukkan Ibunya dan juga Adiknya, Theresa. Terkadang di waktu malam Riel memimpikan mereka berdua, ingin rasanya ia bertemu lagi, namun Riel sudah membulatkan tekadnya untuk terus berjalan dan berjalan demi mencapai impiannya bertemu dengan Aira. Lagipula, Riel sudah menjadi buronan yang akan segera dihukum mati jika tertangkap, jadi apa gunanya kembali ke Shappire jika nantinya ia akan mati.


Setengah jam berlalu, samar-samar Seira mendengar suara tangisan anak kecil dari kejauhan, ia tidak segera memberitahukannya pada Riel karena ingin memastikannya terlebih dahulu apakah ia tidak salah dengar. Setelah Seira yakin dengan apa yang didengarnya, ia segera memberitahukan Riel yang sedang asyik bersiul di sampingnya.


"Ssshhh" Seira menghentikan siulan Riel dengan menutup mulut Riel dengan telapak tangannya. "Aku mendengar suara tangisan anak kecil, sepertinya suara itu berasal dari Gua itu." lanjut Seira sambil menunjuk ke arah Gua yang berada sekitar 50 meter dari tempat mereka berdiri.

__ADS_1


"Ternyata telingamu bukan cuma variasi, ya?" kata Riel, meledek.


Seira memukul kepala Riel dengan keras, tidak terima dengan apa yang ia ucapkan barusan.


"Ayo, cepat!" Seira berlari lebih dulu meninggalkan Riel yang masih mengusap kepalanya yang sakit.


Riel segera menyusul Seira, semakin ia mendekati Gua tersebut suara tangisan yang Seira maksud mulai dapat terdengar di telinganya, Riel pun mempercepat langkah kakinya agar segera sampai ke Gua yang Ia tuju.


Mereka sampai di Mulut Gua, suara tangisan itu terdengar menggema dari dalam. Seira dan Riel saling melirik satu sama lain kemudian mengangguk berbarengan, mereka pun melangkahkan kakinya dan mulai memasuki Gua itu lebih dalam.


"Ini bukan jebakan seperti nyanyian Siren, kan?" tanya Riel, sedikit khawatir.


"Aku bisa menjamin kalau ini suara tangisan manusia." jawab Seira.


Mereka berjalan semakin jauh di dalam Gua itu, banyak jalan bercabang di dalamnya. Namun, karena suara tangisan itu terdengar jelas dari sana, Riel dan Seira bisa dengan mudah memilih jalan yang benar.


Mereka akhirnya sampai di sebuah tempat yang lebih luas dibanding terowongan-terowongan yang mereka lalui sebelumnya. Langit-langitnya dipenuhi dengan stalaktit yang terlihat seperti tetesan-tetesan air yang terbuat dari batu. Beberapa genangan air memantulkan bayangan dari stalaktit itu, membuat tempat itu terlihat lebih indah kalau saja tidak ada suara tangisa dari seorang Anak Kecil yang terus menggema disana.


"Disana!" ucap Riel setelah ia melihat sebuah lingkaran sihir berwarna merah yang melingkari seorang Anak Kecil di dalamnya.


Langkah kaki mereka menggema ke setiap penjuru Gua, membuat Gadis Kecil di dalam lingkaran sihir itu menoleh ke arah mereka.


"Jangan sakiti aku!" kata Gadis itu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tidak akan, kami tidak akan menyakitimu, justru kami ingin menolongmu." balas Riel setelah ia dan Seira sudah berdiri di hadapan Gadis itu.


"Tidak ada yang bisa menolongku, aku sudah ditakdirkan untuk mati setelah semua ini berakhir." jawab Gadis itu, pasrah.


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja!" kata Riel sambil mencoba memegang pundak gadis itu, namun lingkaran sihir yang mengitarinya membuatnya tidak bisa disentuh, seperti ada sebuah dinding tak terlihat yang melindungi Gadis itu.


Seorang Pemuda yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu langsung menyerang Riel dan Seira dengan bola apinya. Meleset, mereka berdua berhasil menghindari serangan Pemuda tersebut.


Dengan nafas yang terengah-engah, pemuda itu berkata, "Jauhi Adikku!"


Sebuah bola api kembali dilemparkan oleh Pemuda itu ke arah Riel, namun kali ini Riel tidak menghindar, ia membiarkan bola api itu mengenai tubuhnya dan membuatnya mengalami luka bakar ringan di bagian dada.


"Bodoh!" ucap Seira sambil berlari menghampiri Riel.


Pemuda ini belum menyerah, ia melemparkan satu lagi bola apinya ke arah Seira. Dengan cepat Seira merapalkan sebuah mantra dan membuat sebuah pelindung yang melindungi bola api tersebut dari tubuhnya.


"Shakullinë!" Seira membuat sebuah angin puyuh yang melingkar dibawah kaki Si Pemuda. Pemuda itu pun melayang ke udara, terbawa angin yang tidak henti-hentinya berputar mengelilingi tubuhnya.


"Hentikan, Seira!" sentak Riel.


"Tapi-"


"Kubilang hentikan!" Riel terlihat sangat kesal dengan perbuatan Seira.


Seira pun menuruti perintah Riel, Ia membatalkan sihirnya dan membuat Pemuda itu terjatuh begitu saja. Pemuda itu tidak mengeluarkan bola apinya lagi, Ia menatap Riel dan Seira dengan tatapan yang penuh kewaspadaan, nampaknya Ia mengira bahwa ini semua adalah taktik untuk menyerangnya balik.


"Aku sama sekali tidak ada niat buruk kepadamu atau adikmu, aku ingin membantu kalian." kata Riel sambil berjalan mendekati Pemuda itu.


Tidak ada jawaban yang Riel dapatkan dari Pemuda itu, Ia hanya diam di tempatnya, menunggu Riel yang terus melangkahkan kakinya menuju ke arahnya.

__ADS_1


"Siapa kalian? Sebenarnya mau apa kalian datang kemari?" tanya Pemuda itu.


"Aku Riel, dan temanku yang disana namanya Seira." kata Riel sambil melirik ke arah Seira yang masih diam di tempatnya. "Kami mendengar suara tangisan adikmu itu dari luar, kemudian kami datang kemari untuk memastikan keadaannya."


Pemuda itu melihat luka bakar yang Ia buat di dada Riel, hatinya sedikit tergerak untuk mempercayai apa yang Riel katakan barusan.


"Aku Lux." jawabnya.


Riel tersenyum puas setelah melihat Lux yang mulai percaya kepadanya, Ia bertanya, "Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Kami diasingkan dari Kota karena Adikku terkena Kutukan Sourozenec. Mereka menganggap kami akan membawa malapetaka kepada mereka jika kami terus tinggal disana." jawab Lux.


"Tunggu, kau bilang Sourozenec? Kutukan yang menyerang saudara dengan tanggal lahir yang sama itu?" tanya Lux, sedikit tercengang.


"Kau tau tentang kutukan itu?" Lux mengerutkan dahinya.


"Ya, seorang Pemilik Bar baru saja menceritakannya kepada kami." jawab Riel.


"Keinn?" tanya Lux, memastikan dugaannya.


"Kau kenal dengannya?" kali ini Seira yang bertanya, ia sudah berdiri di samping Riel saat ini.


"Dia selalu memberikanku makanan untuk diberikan kepada Liz, sebenarnya dia juga memberitahuku cara untuk menyembuhkan kutukan itu, tapi aku tidak bisa melakukannya." ucap Lux, murung.


"Dia tau cara menyembuhkan kutukannya?!" tanya Riel, tidak percaya dengan perkataan Lux barusan.


Lux menghela nafasnya, Ia pun mulai menjelaskan cara menyembuhkan kutukan itu kepada Riel, "Ya, dia bilang aku harus mengalahkan Monster yang merupakan bawahan Leviathan Sang Iri Hati. Karena Yang Mulia Tanderia ke 4 membuat sebuah perjanjian dengan Leviathan untuk menghukum Anak Bungsunya atas perbuatan kejinya yang didasari oleh sifat iri hatinya kepada saudaranya. Yang namanya kontrak dengan Iblis pasti tidak akan berjalan semulus apa yang ditentukan, Yang Mulia sebenarnya hanya meminta Leviathan untuk menghukum anak bungsunya, namun Leviathan melanggar perjanjian mereka, Ia mengutuk semua anak yang lahir di tanggal yang sama dengan saudaranya. Menurutnya hal tersebut tidak akan berpengaruh besar bagi kelangsungan hidup manusia, karena kemungkinan seseorang lahir di tanggal yang sama itu sangat kecil."


Riel terlihat tidak sabar untuk segera menghabisi Monster yang diceritakan Lux, semangatnya benar-benar membara setiap kali ia mendengar kata Monster yang meresahkan orang lain. Baginya kini memburu Monster adalah sebuah hobi yang tidak bisa Ia tinggalkan begitu saja.


"Aku terlalu lemah untuk menghadapi Monster itu seorang diri, jadi yang bisa kulakukan saat ini hanyalah merawat Liz dan menghilangkan rasa sakit di tubuhnya dengan sihirku." kata Lux, murung.


Riel menepuk pundak Lux sambil menunjukkan senyuman penuh percaya dirinya. "Serahkan Monster itu pada kami, Kau jagalah Adikmu dengan baik disini. Ketika kutukannya sudah hilang, berjanjilah kalau kau akan mentraktirku makan di tempat Keinn, bagaimana?"


Lux sedikit tidak percaya dengan ucapan Riel, namun ia dapat melihat sebuah harapan yang ada pada ucapan Riel barusan, Ia pun akhirnya menyetujui kesepakatan yang Riel tawarkan kepadanya.


"Kau ikut denganku kan, Partner?" tanya Riel pada Seira yang lebih banyak menutup mulutnya dari tadi.


"Tentu saja, kemana pun kau pergi." jawab Seira sambil memukul pelan lengan Riel.


"Emm... aku minta maaf soal lukanya," Lux menundukkan kepalanya. "Aku tidak bermaksud me-"


"Ah, jangan dipikirkan! ini hanya luka kecil" kata Riel, memotong ucapan Lux sembari merangkulnya.


"Ya, itu hanya luka kecil bagimu, namun itu cukup merepotkan untukku yang selalu saja mengobati luka yang kau dapatkan akibat kecerobohanmu itu." protes Seira.


"Hahaha, maafkan aku." jawab Riel tanpa merasa bersalah.


Lux memberitahu Riel dan Seira tempat dimana Monster itu berada. Tanpa basa-basi lagi, Riel dan Seira pun segera berangkat ke tempat yang sudah ditentukan dengan semangat yang menggebu-gebu.


...****************...


Spesial 1K Popularitas :

__ADS_1



__ADS_2