
Pagi hari disebuah rumah yang tidak cukup besar namun tidak cukup kecil juga, kelurga Riel sedang asyik menyantap sarapan mereka. Meja makan bundar itu dipenuhi dengan canda dan tawa dari keluarga yang berisikan empat orang. Makanan yang mereka makan pun tidak mewah. Meskipun Ayah Riel merupakan seorang Panglima Perang, gaya hidupnya tidak jauh berbeda dengan masyarakat lainnya.
Dari kejauhan terdengar seseorang yang meneriakan nama Ayah Riel.
"TUAN CURZE! GAWAT! CEPATLAH KE ISTANA, RAJA MENCARI ANDA. BELIAU SEDANG SEKARAT!" Seorang prajurit kerajaan dengan gelisah menghampiri kediaman Riel yang sedang asyik sarapan itu.
"Baiklah aku akan segera kesana" wajah penuh kebijaksanaan ayah Riel tiba-tiba berubah diselimuti kegelisahan yang sama dengan wajah si Prajurit kerajaan. Ia bergegas bersiap dan langsung pergi ke istana tanpa basa-basi.
"Yang mulia raja kenapa bu?" Tanya Riel sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Yang mulia sakit." Jawab ibu Riel yang tak ingin menjelaskan kata 'sekarat' pada Riel.
"Oh, apa Ayah mau mengobati Raja?"
"Sudahlah habiskan dulu makananmu." Ibu Riel mulai tampak gelisah karena Raja tak memiliki seorang putra pewaris dan Putrinya pun masih belum cukup umur untuk diangkat menjadi ratu. Ia memikirkan bagaimana nasib kerajaan kedepannya jika Raja sampai meninggal hari ini.
Meja makan tak lagi diisi obrolan sampai semua makanan telah habis dimakan. Riel yang biasanya langsung bermain bersama Aira kini hanya pergi ke halaman rumahnya sambil melamun memandangi rumah lama Aira.
--
Di istana kerajaan.
"Curze, kemarilah." Sang Raja tak berdaya di atas tempat tidurnya.
Curze berjalan perlahan mendekati Sang Raja dengan penuh kekhawatiran.
Kelambu dari ranjang Sang Raja terus bergoyang terhempas angin kecil yang masuk melalui jendela kamar Raja. Membuat Curze dapat melihat dengan jelas wajah pucat Raja dari kejauhan.
"Semua akan baik-baik saja yang mulia" Curze duduk di kursi yang di sediakan disebelah tempat tidur Raja.
"Aku tak punya seorang putera untuk mewariskan kerajaan ini. Puteriku bahkan masih terlalu kecil untuk menjadi seorang ratu. Bagaimana nasib kerajaan kedepannya setelah aku tiada?" Kata-kata Raja sama seperti apa yang di khawatirkan Ibu Riel.
"Anda pasti bisa melewati ini yang mulia. Anda akan sembuh dan kembali memimpin negeri ini. Dan saya akan tetap menjadi tangan kanan anda." Curze mencoba menenangkan hati Raja.
"Tidak Curze, masa kepemimpinanku akan berakhir hari ini." Sang Raja tersenyum tipis dengan wajah pucatnya.
"Tidak yang mulia. Anda pasti bisa melewati semua ini." Suara Curze mulai bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Hey hey, Curze Eraxoth. Panglima perang dari kerajaan Sapphire sekaligus tangan kananku. Kau takkan menangis dihadapan Raja yang tak berdaya ini kan?" Sang Raja menepuk pundak Curze.
"Tidak yang mulia. Karena saya percaya anda akan kembali memimpin negeri ini."
"Dan aku percaya bahwa kau mampu memimpin negeri ini." Sang Raja menghela nafas. Dia memandang langit-langit ruangan dengan tenang.
"Curze, jika kau bertemu ajalmu nanti. Temui aku di alam baka dan bawakan berita bahagia tentang negeri yang kau pimpin ini ya? Negeri ini butuh seorang raja baru."
__ADS_1
Curze tak mampu menjawabnya. Perasaannya terlalu campur aduk dan membuatnya bahkan tak sanggup memandang Sang Raja. Sang Raja pun tak lagi berbicara. Pandangannya kosong dan terukir senyuman tipis di bibirnya.
"Yang mulia?" Curze semakin gelisah ketika sadar Raja tak lagi berbicara.
"YANG MULIA!"
Kata-kata Curze kepada Sang Raja diingkari oleh dirinya sendiri. Air mata jatuh diatas tempat tidur Sang Raja. Mencoba untuk menahan isakannya. Curze memejamkan mata Sang Raja yang tak lagi bernyawa lalu memanggil seluruh anggota kerajaan untuk menyelenggarakan upacara pemakaman.
--
Sang Ratu tak kuasa menahan tangisnya sambil mencoba menjelaskan kepada puterinya bahwa tak terjadi apa-apa. Kerajaan Sapphire di hujani tangisan rakyat yang ditinggalkan oleh Raja yang mereka banggakan. Keluarga Curze ditempatkan di tempat khusus saat pemakaman Raja karena Ia yang akan menggantikan posisi Raja nantinya.
Upacara pemakaman berlangsung lancar, bahkan hari pun nampak cerah seakan memberi tanda bahwa kematian Raja bukanlah akhir dari kerajaan Sapphire. Anggota kerajaan langsung menyiapkan acara selanjutnya yaitu Pelantikan Curze menjadi Raja baru Sapphire. Riel tampak bingung melihat Ayahnya yang tampak memikirkan sesuatu. Ia pun menghampiri ayahnya.
"Yah, ada apa?"
"Tidak apa-apa nak. Ayah hanya sedikit ragu bagaimana ayah akan memimpin negeri ini."
"Memimpin negeri?" Riel tak paham apa maksud ayahnya.
"Iya nak. Ayah akan menggantikan Raja dan kamu akan menjadi seorang pangeran." Curze menjawab sesederhana mungkin sambil mengacak-acak rambut anaknya.
"Wah, ayah akan jadi raja? Dan aku jadi pangeran? Asyik. Aku akan memamerkannya saat Aira pulang nanti." Riel tampak semangat saat tahu ia akan jadi seorang pangeran.
"Apa Aira akan kembali kesini?" Wajah gembira Riel perlahan memudar.
"Ayah tak tahu soal itu nak. Tapi semoga saja Aira akan pulang dan bisa melihatmu menjadi pangeran ya."
"Baiklah, Ayah."
--
Upacara pelantikan raja baru dimulai.
Sang Ratu berjalan naik keatas podium.
"Hari ini. Kita kehilangan seseorang yang sangat kita cintai. Seseorang yang sangat kita banggakan. Seseorang yang memimpin negeri kita menjadi semakmur ini. Beliau meninggalkan banyak jasa pada negeri ini, meninggalkan banyak kenangan pada seluruh rakyatnya. Hari ini beliau pergi mendahului kita menuju alam baka-" Sang Ratu mencoba menahan tangisannya dan tetap melanjutkan pidatonya.
"Tapi ini bukan kematiannya. Beliau tetap hidup bersama kita. Jiwanya akan selalu membara di hati kita. Dan jiwanya pun direnkarnasikan kepada tangan kanannya sekaligus panglima perang kita yang terhormat. Hari ini sesuai perintah terakhirnya, saya sebagai Ratu dari Kerajaan Sapphire menyatakan bahwa kepemimpinan kerajaan akan di wariskan kepada tangan kanan Sang Raja. Curze Eraxoth." Seluruh rakyat yang hadir di upacara tersebut bersorak menaruh harapan kepada calon raja baru yang akan memimpin mereka.
Curze berjalan mendekati podium tempat Sang Ratu berpidato lalu berlutut dihadapannya. Curze menoleh kebawah, tempat semua rakyat Sapphire berkumpul untuk melihat lahirnya Raja baru mereka. Semua nampak kecil dari atas balkon istana. Namun, Curze lah yang merasa paling kecil disana karena merasa tak pantas untuk mewariskan takhta kerajaan.
"Curze Eraxoth, atas perintah Sang Raja. Saya menyerahkan seluruh kepemimpinan kerajaan dalam kepalan tangan anda. Bawalah Sapphire menuju kemakmuran." Sorakan rakyat mulai bergemuruh saat seorang pembantu kerajaan membawakan sebuah mahkota ke hadapan Sang Ratu.
Sang Ratu mengambil mahkota tersebut dan meletakannya di atas kepala Curze.
__ADS_1
"Dengan ini saya menyatakan. Curze Eraxoth resmi menjadi raja baru Sapphire."
Sorakan rakyat semakin meriah.
"Semoga nasib Sapphire kedepannya akan lebih baik dari sebelumnya. Sekian dan terimakasih." Sang Ratu mundur dari podium dan membiarkan Curze sebagai raja baru menyampaikan pidatonya.
Wajah Curze terlihat sangat tegang saat berdiri di podium.
"Rakyat Sapphire yang saya hormati. Yang mulia raja memberikan sebuah tugas yang amat sangat berat sebelum kepergiannya. Beliau mempercayakan negerinya ini kepada saya yang hanya seorang prajurit biasa yang bahkan tidak memiliki darah bangsawan sama sekali. Ini benar-benar suatu kehormatan." Suara Curze terdengar lebih bijaksana sekarang.
"Oleh karena itu, saya Curze Eraxoth sebagai raja baru kerajaan Sapphire mengajak kalian semua untuk bersama-sama memajukan negeri tercinta ini. Bersama kita berjuang dan mempertahankan apa yang telah raja lama berikan kepada kita. Seperti apa yang Ratu katakan, hari ini bukanlah hari kematian raja. Jiwa raja lama akan tetap membara didalam hati kita semua. HIDUP SAPPHIRE!" Teriakan lantang Curze memicu semangat rakyat yang mulai padam.
"HIDUP SAPPHIRE!" Curze kembali berteriak di depan rakyatnya.
"HIDUP SAPPHIRE!" Rakyat Sapphire pun mulai membangun kepercayaan kepada mantan Panglima perangnya untuk memimpin negeri mereka.
Mereka membalas teriakan Raja baru mereka dengan semangat baru. Semangat untuk membangun negeri ini dibawah pimpinan Raja baru mereka. Curze Eraxoth.
--
"Ayah, kalau ayah jadi raja lalu bagaimana dengan ibu? Apa ibu jadi ratu?" Tanya Riel polos saat Curze membereskan berkas-berkas yang berantakan di tempat kerja Raja lama.
"Tidak Riel, posisi Ratu akan tetap di pegang Ratu kita. Tapi walau ibu tidak menjadi ratu, kalian tetap dianggap sebagai keluarga kerajaan." Jawab Curze sambil tetap sibuk dengan berkas-berkasnya.
"Kalau aku jadi raja, apa aku bisa bertemu Aira lagi?"
Curze yang sedang sibuk itu tiba-tiba berhenti saat anaknya menanyakan tentang teman kecilnya.
"Riel, kau seorang pangeran sekarang. Dan kau tak boleh terus memikirkan ambisimu sendiri. Kau haru belajar memikirkan rakyat. Mungkin belum saatnya, tapi aku akan mengajarimu bagaimana menjadi raja yang diimpikan oleh masyarakat."
"Baiklah." Riel kehilangan semangatnya setelah mendapat jawaban tersebut.
Riel akhirnya pergi dari ruangan ayahnya menuju balkon istana yang di depannya terhampar taman luas nan indah.
"Kenapa jadi seperti ini?" Gumam Riel.
Tiba-tiba ia teringat apa yang pernah Aira katakan tentang takdir.
"Apakah ini yang dinamakan takdir? Aku ditakdirkan menjadi raja baru setelah ayah? Aku ditakdirkan tidak bisa bertemu Aira lagi?" Kepala kecilnya dipenuhi dengan pertanyaan yang tak ia pahami.
"Takdir itu tidak nyata. Aku akan buktikan kalau aku bisa melawan takdir. Sekalipun para dewa akan membenciku karena ini."
Sebuah tekad baru terbangun dalam hati Riel. Matanya yang coklat terang memancarkan aura kebencian akan takdir. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tak ada yang bisa mengaturnya bahkan dewa sekalipun.
***
__ADS_1