Fate Breaker

Fate Breaker
Krisis


__ADS_3

Hari baru telah tiba. Riel dan Seira segera melanjutkan perjalanannya pada pagi buta. Udara dingin yang menusuk menembus pakaian mereka menemani sepanjang jalan sampai matahari telah menunjukkan dirinya seutuhnya.


"Sekitar 1 km lagi kita akan sampai di Desa Vandkilder. Disana merupakan sebuah desa yang terkenal dengan sumber airnya. Sebaiknya kau mandi disana, baumu sudah seperti ketiak Orc." Ucap Seira.


"Memangnya kau sendiri sudah berapa hari tidak mandi, huh?" Jawab Riel kesal.


"Mandi? Elf punya aroma khas tersendiri yang membuat kita tidak akan bau sepertimu walaupun tidak pernah mandi seumur hidup." Jawab Seira bangga.


"Benarkah?" Riel mengangkat sebelah alisnya.


"Coba saja."


Riel berhenti di depan Seira dan menggenggam tangan gadis Elf di hadapannya.


"Eh?!" Wajah Seira memerah.


Riel menarik tangan Seira dan mengendusnya.


Plakk!


Seira yang terkejut dengan apa yang dilakukan Riel reflek menarik tangannya lalu menampar wajah Riel.


"Mesum!" Ketus Seira.


"Loh?! Kau yang menyuruhku untuk membuktikannya sendiri, bodoh!" Jawab Riel sambil mengelus pipinya yang mulai memerah akibat tamparan Seira barusan.


"Benarkah?"


"Kau bilang 'coba saja' tapi kau juga yang tidak terima. Lagipula apa salahnya mencium bau dari tanganmu?"


"Hmmm... Itu..." Wajah Seira kembali memerah.


"Kita baru kenal beberapa hari yang lalu. I-itu tidak sopan tau!" Lanjut Seira sambil memalingkan wajahnya.


"Ohh begitu rupanya. Tapi, kau memang harum ya." Jawab Riel sambil memutar badannya dan kembali berjalan.


"Su-sudah kubilang kalau Elf punya aroma sendiri." Seira semakin malu dan menutup wajahnya dengan tudung cokelat yang ia kenakan.


"Tapi kau tetap harus mandi. Walaupun tubuhmu tidak akan bau sepertiku, kebersihan tetaplah penting untuk dijaga. Lihat saja wajahmu sendiri, kau terlihat seperti Minotaurus yang aku lawan saat itu."


"Iya baiklah."


"Siapa tau aku akan berpaling padamu kalau kau rajin mandi?" Riel menatap Seira dengan tatapan jailnya.


"Aku lebih baik mandi lumpur bersama **** daripada harus disukai olehmu, bodoh!" Jawab Seira.


"Sayang sekali, padahal kau lebih cantik dibandingkan Aira." Wajah Riel terlihat sangat kecewa setelah mendengar jawaban Seira.


"Berhentilah menggodaku, bodoh!" Wajah Seira sudah seperti jambu air saking malunya.


Tidak pernah ada yang menyebutnya cantik seumur hidupnya. Bahkan petualang yang mencintainya dulu pun tidak pernah menyebutnya seperti itu. Hatinya bergejolak saat ini, perasaannya tidak karuan, jantungnya berdetak dengan kencang, ia sangat bingung sekarang.


 


Mereka akhirnya sampai di desa Vandkilder. Apa yang diucapkan Seira tentang desa yang terkenal dengan sumber airnya ternyata berbeda dengan apa yang mereka lihat saat ini. Desa itu terlihat sangat kumuh. Para penduduknya dimulai dari yang berpakaian sederhana sampai yang berpakaian mewah semuanya terlihat kotor seperti tidak pernah bertemu dengan air selama beberapa hari. Meskipun rumah-rumah mereka jauh lebih bagus dibanding di desa Pemë, keadaan masyarakatnya justru jauh tertinggal dibelakang.


"Seira." Ucap Riel bingung.


"Aku juga tidak tau kenapa bisa begini." Jawab Seira sambil memandang sekelilingnya.


"Lebih baik kita mencari penginapan terlebih dahulu, lalu mencari informasi tentang apa yang terjadi disini sebenarnya." Ucap Riel.


Selama mereka mengelilingi desa tersebut, hampir semua penduduk menatap mereka penuh harap sepeti berkata 'Akhirnya ada seseorang yang akan membantu kita' dan itu membuat Riel dan Seira semakin bingung.


Riel menghampiri sebuah toko senjata.


"Permisi, aku ingin mencari penginapan." Tanya Riel pada seorang pemuda dengan rambut gondrongnya yang terlihat sangat kaku.


"Penginapan? Itu ada di ujung jalan ini, kau hanya perlu jalan lurus ke depan." Jawab pemuda itu. Mulutnya sedikit terbuka lalu kembali menutup seolah masih ada yang ingin ia ucapkan tapi ia urungkan niatnya itu begitu saja.


"Terima kasih." Jawab Riel sambil melontarkan senyuman ramah kepada pemuda penjaga toko senjata tersebut.


"Hey, Riel. Kau tau? Dia mencoba mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi." Ucap Seira saat mereka sudah berjalan lumayan jauh dari toko senjata barusan.


"Ya, aku tau." Jawab Riel.


"Sepertinya ada yang salah dengan sumber air disini." Tebak Seira.


"Yah, sekarang kita harus memesan kamar dulu lalu mencari informasi lebih lanjut seperti yang kubilang." Jawab Riel saat ia sudah berada di depan pintu kayu penginapan yang mereka tuju.


Riel membuka pintu tersebut. Kini ia dapat melihat sebuah bar yang cukup luas di hadapannya. Meja-meja bundar dengan 4 kursi yang mengelilinginya mengisi kekosongan ruangan di sebelah kanan. Sedangkan di sebelah kirinya adalah meja kasir, bartender dan lemari kayu besar dengan berbagai macam bir yang terpajang di dalamnya. Tempat yang sangat nyaman untuk menginap dan sedikit bersantai di bar.


"Ah! Selamat datang di Vandkilder Inn. Silahkan duduk dimanapun kalian suka." Ucap seorang wanita dengan rambut merah panjangnya yang kusut tidak terawat.


Dengan tubuh mungilnya, wanita tersebut menghampiri Riel dan Seira yang sudah memilih tempat duduk mereka sambil membawa papan daftar menu yang ada di tokonya tersebut.

__ADS_1


"Ini daftar menunya, Tuan." Ucap wanita itu sambil menyerahkan daftar menu kepada Riel.


"Hmm, kenapa semua menunya hanya makanan? dan juga semuanya makanan kering." Riel memandang wanita itu heran.


"Mohon maaf atas kekurangannya, Tuan. Tapi Vandkilder sudah mengalami krisis air selama beberapa minggu ini. Jangankan untuk mandi, minum pun kami kesusahan." Jawab wanita sambil menundukkan kepalanya.


"Padahal Vandkilder terkenal dengan sumber mata airnya, tapi kenapa bisa begini?" Tanya Seira.


"Apakah saya diizinkan untuk bercerita sedikit?" Tanya Wanita itu.


"Boleh saja. Tapi sebaiknya perkenalkan dirimu dan duduklah bersama kami disini, tidak perlu terlalu formal seperti itu." Jawab Riel sambil menawarkan tempat duduk yang kosong disampingnya.


"Namaku Sil. Hmm sebelum itu apa kalian benar-benar ingin minum sekarang? Air putih memang sudah tidak ada disini tapi kalian bisa minum bir jika kalian mau." Jawab Sil.


"Baiklah kalau begitu. Tolong ambilkan 3 gelas bir ya, Sil." Riel tersenyum penuh semangat ketika mendengar kata bir.


"Tiga?" Tanya Sil.


"Memangnya kau tidak mau minum? Aku akan membayar bagianmu bila perlu." Jawab Riel.


"Ah, tidak perlu. Baiklah akan kubawakan. Mohon tunggu sebentar." Sil meninggalkan mereka berdua dan berjalan menuju lemari yang dipenuhi dengan botol bir itu.


"Menurutmu apa yang terjadi?" Tanya Seira.


"Yah, sebaiknya kita mendengarkan cerita Sil terlebih dahulu." Jawab Riel.


Sil kembali pada mereka sambil membawa 1 botol bir berukuran besar dan 3 gelas kosong yang tersusun rapih diatas nampan.


"Silahkan." Sil meletakan bawannya diatas meja bundar yang berada di tengah-tengah mereka saat ini.


"Kau juga silahkan duduk, Sil." Ucap Seira.


"Terima kasih." Sil mengangkat sedikit rok hitam panjangnya lalu duduk di bangku yang masih kosong.


"Aku Riel. Hey, kau ingin perkenalkan dirimu sendiri atau aku yang wakilkan?" Riel menatap Seira dengan tatapan yang menjengkelkan.


"Apa urusannya denganmu, hah?" Jawab Seira cuek.


Sil hanya menutup mulutnya, menahan tawa karena melihat dua remaja ini begitu akrab.


"Ah! Maaf Sil. Aku Seira, jujur saja aku terpaksa mengikuti orang bodoh ini karena sekalipun dia bodoh tapi dia pernah menyelamatkan hidupku. Tapi fakta bahwa dia bodoh ini memang sudah tidak bisa dibantah lagi, jadi berhati-hatilah dengannya." Seira sedikit berbisik pada kalimat terakhir agar Riel tidak dapat mendengarnya.


"Ahaha baiklah, baiklah." Sil akhirnya tak dapat menahan tawanya.


"Hey, aku mendengarmu, bodoh." Ketus Riel.


"MANA ADA!"


"TIDAK MUNGKIN!"


Riel dan Seira menjawab pernyataan Sil bersamaan lalu saling memalingkan wajah setelahnya.


"Hahaha. Bisakah aku mulai ceritanya?" Tanya Sil.


"Ah! Kau benar. Maaf, Sil. Silahkan mulai." Jawab Seira.


"Sekitar 2 minggu yang lalu, penjaga pemakaman melaporkan sebuah kejadian yang sangat aneh kepada Kepala Desa. Semua makam yang masih baru rusak, mayatnya pun tidak ada di dalam makam tersebut. Awalnya Kepala Desa mengira ada yang sengaja membongkar makam tersebut dan mencuri mayatnya untuk dijual organ tubuhnya. Tapi, sejak kejadian itu pula sumber air disini semakin berkurang. Semua orang yang memiliki ilmu bela diri dikerahkan untuk berjaga setiap malam. Tapi, tidak ada pergerakan aneh selama beberapa minggu kedepan. Sampai suatu hari ada seorang anak yang bilang bahwa ia melihat 4 ekor burung yang sangat besar dan memiliki tubuh menyerupai seorang manusia. Tapi, semua warga mengira kalau itu hanya fantasi anak kecil saja."


"Harpy?" Riel memotong cerita Sil.


"Har- apa?" Tanya Sil yang masih bingung karena ia tidak pernah mendengar nama tersebut sebelumnya.


"Itu Harpy. Dia adalah manusia setengah burung yang suka mencuri mayat dan menyebarkan wabah penyakit." Lanjut Riel.


"Itu... Dongeng?" Tanya Sil tidak percaya.


"Tidak. Mereka itu nyata. Awalnya aku juga mengira makhluk seperti itu hanya ada di dongeng ibuku. Tapi, aku sudah beberapa kali bertemu makhluk selain manusia dan hewan di dunia ini. Sebelum aku datang kesini bahkan aku sempat bertarung melawan mereka. Para Harpy itu." Jawab Riel.


"Tidak ada bukti yang jelas. Maaf, tapi kami tidak diajarkan untuk mempercayai cerita diluar nalar seperti itu. Apalagi aku mendengarnya dari orang luar sepertimu." Jawab Sil tegas.


"Huhh..." Riel membuka bajunya dan memperlihatkan bekas luka di kedua tangannya tersebut.


Sil terdiam melihat bekas luka yang berbentuk seperti cakaran burung yang begitu besar di tangan Riel. Sedangkan Seira memalingkan wajahnya yang memerah karena melihat tubuh Riel yang membuatnya sedikit tergoda.


"Aku percaya padamu. Pakai bajumu! Maaf sudah membuatmu melakukannya." Sil pun akhirnya memalingkan wajahnya seperti Seira.


"Yah, aku tidak ingin repot-repot menceritakan kejadiannya jika kau sendiri tidak akan percaya." Riel kembali memakai baju hitamnya dan meneguk segelas bir di hadapannya.


"Dasar tukang pamer!" Ketus Seira.


"Hah?" Jawab Riel bingung.


"Lupakan." Seira meneguk segelas bir yang ada di depannya.


"Jadi, menurutmu apa yang dilakukan para Harpy itu?" Tanya Sil.

__ADS_1


"Apa sumber mata airnya jauh dari sini?" Riel bertanya balik.


"Sumber mata air itu ada di bukit yang ada di belakang desa ini. Tapi tidak ada yang dibolehkan kesana karena takut ada yang mencemari sumber mata air itu. Ada beberapa penjaga juga yang ditempatkan di kaki bukitnya." Jawab Sil.


"Sepertinya aku harus kesana nanti untuk mengecek keadaan disana." Ucap Riel.


"Kau bilang 'aku' kan? Berarti aku tidak perlu ikut bersamamu." Ucap Seira sambil menghembuskan nafas lega.


"Iya. Aku yang mengecek kondisinya, kau yang mengalahkan para Harpy nya. Bagaimana?" Riel tersenyum licik.


"Aku ikut bersamamu." Seira menggembungkan pipinya kesal.


"Sepertinya sudah tidak ada yang bisa aku ceritakan lagi. Aku akan kembali ke meja kasir. Apa ada yang mau dipesan lagi?" Ucap Sil.


"Ayam goreng 2 porsi." Jawab Riel sambil mengacungkan dua jarinya.


"Terima kasih, Sil." Lanjut Seira.


"Akan segera kubawakan." Sil kembali meninggalkan mereka berdua dan berjalan menuju dapur.


 


Setelah selesai makan, Riel dan Seira memesan 1 kamar untuk mereka beristirahat. Sil mengantar mereka ke sebuah kamar di lantai dua. Kamar itu cukup besar dengan dua kasur di dalamnya dan sebuah jendela yang mengarah langsung ke bukit belakang desa.


"Ah, sial! Aku harus menahan bau busukmu sampai masalah ini selesai." Keluh Seira sambil berbaring diatas kasurnya.


"Memangnya aku sebau itu?" Tanya Riel tanpa merasa bersalah.


"Sangat! Bahkan lebih dari yang kau bisa bayangkan."


"Tapi kau terlihat begitu nyaman saat merangkulku waktu itu." Riel tersenyum meledek.


"I-itu... aku... Aku hanya tidak ingin kau jatuh karena akan sangat merepotkan jika aku harus terbang dan menangkapmu." Seira memalingkan wajahnya yang mulai memerah.


"Kukira kau senang karena bisa memelukku." Riel terus menggoda Seira dibalik selimutnya.


"Tidak mungkin aku senang! Aku malah sangat ingin melepaskanmu waktu itu." Protes Seira.


"Hahaha."


Riel sangat senang menggoda Seira karena setiap kali ia menggodanya, wajah gadis itu akan memerah lalu ia memalingkan wajahnya begitu saja.


"Ngomong-ngomong, aku penasaran akan satu hal." Nada Riel berubah menjadi serius sekarang.


"Apa itu?" Tanya Seira.


"Sihir telekinesis." Balas Riel sambil mengerutkan dahinya.


"Sihir yang bisa membuatmu mengendalikan benda dari jarak jauh?" Tebak Seira.


"Ya, kurang lebih seperti itu."


"Hmm... sebelumnya biarkan aku bertanya padamu, Riel." Ucap Seira yang mulai serius.


"Hmm?" Riel mengangkat sebelah alisnya.


"Darimana kau belajar sihir?" Tanya Seira dengan tatapan tajamnya.


"Aku hanya merapalkan mantra yang kuingat dari cerita ibu. Lalu, tanpa sadar ternyata aku benar-benar mengeluarkan sihir." Jawab Riel.


"Lalu apa kau tau mantra untuk sihir telekinesis tersebut?" Seira melanjutkan pertanyaannya yang lain.


"Hmm... kalau tidak salah-" Riel mencoba mengingat mantra itu.


"-Actie." Lanjut Riel yang akhirnya mengingat mantra tersebut.


"Aku tidak tau apa yang akan kau lakukan dengan mantra itu. Tapi, tidak ada salahnya jika kau mencobanya terlebih dahulu disini." Ucap Seira.


"Baiklah, aku akan mencobanya."


Riel membuka telapak tangannya. Memfokuskan pikirannya ke seluruh permukaan tangannya lalu merapalkan sebuah mantra.


"Actie!"


Cahaya kekuningan menyala terang dari tangan Riel. Namun, ia merasakan sebuah sensasi yang aneh dari tangannya.


"Empuk?" Riel terdiam memikirkan apa ia membuat kesalahan dengan sihirnya.


"Me-mesu- ah~" Seira menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


"Eh?" Riel segera membatalkan sihirnya.


Kini Seira menatap Riel dengan tatapan sinis penuh kebencian. Dia bangun dari tempat tidurnya tanpa mengatakan apa-apa lalu keluar dari kamar mereka.


"Se-seira! Tunggu!"

__ADS_1


 


__ADS_2