
Langit semakin gelap tanda hari itu akan segera berganti malam yang sangat panjang. Riel dan Seira sudah berjalan mengitari reruntuhan Aramas selama setengah jam, namun mereka masih belum menemukan kalung milik Miki.
"Sial! Desa ini benar-benar hancur." Keluh Riel.
"Yah, tapi kalung itu sangat penting untuk membebaskan jiwa Miki ke alam baka." Balas Seira.
Riel tidak mengerti mengapa Seira membutuhkan benda favorit Miki untuk membebaskannya dari dunia fana. Mereka terus menelusuri reruntuhan itu, mengangkat puing-puing bangunan yang bisa diangkat demi mencari sebuah kalung bertaring Lycan.
"Sial!" Seira menatap langit senja yang mulai meredup.
"Ada apa?" Tanya Riel.
"Bersiaplah untuk bertarung!" Seira memasang posisi siaga.
"Eh?!"
Puing-puing disekitar mereka mulai bergerak. Sedikit demi sedikit tulang belulang yang tergeletak diatas tanah saling menyatu dan membentuk sebuah tubuh, Undead.
"Eh?! Bagaimana bisa tulang belulang itu bersatu kembali lalu membentuk gumpalan daging busuk yang melapisinya? Apakah mereka Undead yang diceritakan Miki?" Tanya Riel yang masih kebingungan namun sudah dalam posisi bertarungnya.
"Benar, mereka adalah Undead yang diceritakan Miki. Sialnya, hanya sihir atau benda suci yang dapat mengalahkan mereka." Balas Seira.
"Tapi, kenapa mereka baru muncul sekarang?" Tanya Riel.
"Mereka hanya aktif di waktu malam. Baiklah, sesi tanya jawab ditutup." Seira melompat dan menebas leher Undead yang baru saja bangkit di hadapannya.
Riel meraih pedang besarnya dan mulai bertarung bersama Seira. Tebasan demi tebasan mampu menumbangkan beberapa Undead yang mereka hadapi tapi serangan mereka tidak dapat membunuh makhluk tersebut.
"Sial, mereka tidak ada habis-habisnya!" Keluh Riel.
5 Undead berlari ke arah Seira, mereka mencoba menyerang Seira dari titik butanya. Riel yang sedang menahan segerombolan Undead di depannya melihat para Undead yang mencoba menyerang Seira.
"Shpejtësi!"
Secepat angin, Riel meninggalkan musuhnya dan melesat menuju 5 Undead yang bersiap menghantam punggung Seira.
"HYAAAAHHH!!!"
Satu tebasan Riel membelah 5 Undead itu sekaligus. Seira yang menyadari bahwa ia lengah selama ini langsung mengarahkan tendangannya ke rahang salah satu Undead di depannya.
"Terima kasih." Ucap Seira.
Riel hanya mengangguk dan kembali melesat ke arah musuh yang ia tinggalkan beberapa saat lalu. Tiba-tiba sebuah tangan muncul dari dalam tanah dan berhasil menggenggam pergelangan kaki Riel sehingga membuatnya tersungkur di hadapan para Undead.
Riel yang tergeletak di depan para Undead itu kini sudah tidak bisa kabur, karena di sekelilingnya kini sudah berkumpul para Undead yang siap menyerangnya kapanpun. Beruntungnya Riel karena mereka semua tidak bersenjata, namun pukulan mereka benar-benar sangat kencang hingga mampu membuat Riel babak belur dalam sekejap. Seira yang sedang kewalahan menghadapi musuhnya tidak bisa lari begitu saja untuk menolong Riel.
"RIEL!"
"Tidak apa-apa, Seira! Aku bisa menghadapi mereka sendirian. Lebih baik kau pergi mencari kalung itu, kita hanya akan membuang-buang waktu jika hanya menghadapi mereka seperti ini." Balas Riel sambil mengerang kesakitan.
"Ta-tapi..." Seira tidak sanggup meninggalkan Riel begitu saja.
"Aku berjanji tidak akan merepotkanmu lagi, Seira. Pergilah!" Riel mulai berdiri sambil menahan pukulan bertubi-tubi dari segerombolan Undead di sekelilingnya.
Seira menguatkan hatinya dan mengabaikan para Undead yang mengejarnya.
"SHPËRTYES!" Riel mengeluarkan sihir ledakannya dan membuat tubuh segerombolan Undead di sekelilingnya hancur begitu saja.
"Baiklah, kalian harus bertanggung jawab karena sudah mengotori baju baruku!" Ucap Riel sambil mengacungkan pedang besarnya ke arah para Undead yang masih tersisa.
Sementara itu, Seira yang berhasil meloloskan diri dari kejaran Undead sudah sampai di sebuah makam yang diceritakan oleh Miki. Semua kuburan yang ada di makam itu kosong, tidak ada satupun mayat ataupun tulang belulang di dalamnya karena semua mayat itu menjadi Undead yang kini sedang melawan Riel.
"Kemana aku harus pergi mencari kalung Miki?" Gumam Seira dengan nafasnya yang terengah-engah.
__ADS_1
Seira melirik sebuah makam yang ukurannya lebih besar dari makam yang lain, ia pun berjalan menghampiri makam tersebut dan tersandung sebuah gundukkan tanah disamping makam tersebut. Seketika ia teringat cerita Miki tentang sebuah perpustakaan yang ada di bawah tanah dan mulai menggali gundukkan di bawah kakinya hingga akhirnya ia menemukan sebuah pintu yang merupakan jalan menuju perpustakaan tersebut.
"Apa mungkin ada di dalam sana?" Gumam Seira.
Seira melangkahkan kakinya dan mulai menuruni satu persatu anak tangga yang menuju ke perpustakaan rahasia di bawah sana. Berbeda dengan cerita Miki, kondisi perpustakaan tersebut kini sudah sangat tidak terawat, banyak sekali sarang laba-laba yang menempel di langit-langit ruangan, bahkan rak bukunya pun sudah rusak dimakan rayap.
"Sesak sekali disini." Keluh Seira yang mulai mencari kalung Miki di perpustakaan tersebut.
Matanya membulat sempurna ketika ia melihat sebuah buku dengan sampul putih yang saling tumpang tindih dengan buku lainnya.
"Beruntungnya aku!" Ucap Seira.
Tinggal satu rak buku lagi yang belum Seira periksa, namun sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya. Ia menemukan kalung milik Miki tergeletak berdampingan dengan buku yang Miki ceritakan diatas sebuah meja yang sudah rusak.
"Bingo!"
Di reruntuhan Aramas, Riel sedang berbaring kehabisan tenaga setelah mengalahkan semua Undead yang menyerangnya. Mereka berhenti memulihkan diri dan potongan tubuh mereka tergeletak begitu saja diatas tanah.
"Akhirnya." Ucap Riel lega.
Namun, rasa leganya hilang begitu saja karena tumpukan di sekitarnya kembali bergerak. Mereka menyatu kembali namun bukan menjadi puluhan Undead seperti beberapa waktu lalu, tapi mereka bersatu menjadi sebuah monster yang lebih besar dari Minotaurus yang Riel hadapi di awal petualangannya.
Tubuhnya sangat besar dan terlihat sudah sangat membusuk, matanya merah menyala dan jangan tanya soal baunya. Monster itu benar-benar gabungan dari puluhan Undead yang sudah hidup selama puluhan tahun.
"Kalian pasti bercanda." Riel menelan ludah, syok melihat musuh yang ada di depannya. Ia tidak yakin bisa mengalahkan musuh sekuat itu dengan sisa tenaganya sekarang.
"Bersatulah dengan kami!" Ucap Monster itu dengan suaranya yang tumpang tindih seperti diucapkan oleh puluhan orang bersamaan.
"Ah, jadi kalian sekarang bisa bicara? Maaf sekali aku tidak ada niatan untuk bergabung dengan tumpukan bangkai seperti kalian. Karena aku tidak akan mati disini!" Riel menancapkan pedangnya di tanah lalu mengeluarkan busur panahnya.
"Cih, aku tidak punya cukup tenaga untuk bertarung jarak dekat dengan Monster itu." Gumam Riel dalam hati.
Monster itu melepaskan pukulan pertamanya, Riel berhasil mengelak dari sebuah serangan yang menghancurkan permukaan tanah dalam sekali serang tersebut. Satu, dua, berkali-kali anak panah Riel mengenai Monster tersebut tapi serangannya hampir tidak berpengaruh apa-apa pada Moster yang sedang mengamuk itu.
Moster itu berlari ke arah Riel, melancarkan serangan bertubi-tubi yang masih bisa Riel hindari. Belum sempat Riel memasang posisi bertarungnya, sebuah batu besar meluncur dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Kali ini ia tidak bisa mengelak, Riel mencoba menahan batu itu dan terpental jauh dari tempatnya berdiri.
"Mati! Mati! Mati! Mati!" Ucap Monster itu sambil berlari ke arah Riel.
"Shakullinë!"
Sebelum Monster itu mengeluarkan serangan terakhirnya, sebuah angin puyuh muncul di sekitar Monster itu dan membuatnya melayang di udara. Seira datang di waktu yang tepat, ia segera menghampiri Riel yang sudah tergeletak kehabisan tenaga dan segera membawanya ke tempat aman.
"Kau tidak apa-apa, Riel? Makhluk apa itu? Kemana para Undead yang kau lawan? Apa mereka berubah menjadi Monster itu?" Seira menyerang Riel dengan pertanyaan yang bertubi-tubi saking cemasnya.
"Jangan khawatir, aku akan mengalahkannya setelah ini." Jawab Riel.
"Sebenarnya aku ingin meminta kau melakukan sesuatu." Ucap Seira sambil memulihkan Riel dengan sihirnya.
"Apa itu?" Riel mengangkat sebelah alisnya.
Seira menjelaskan rencananya kepada Riel sesingkat mungkin agar tidak banyak memakan waktu. Riel langsung paham dan segera berdiri setelah tenaganya sudah selesai dipulihkan oleh Seira.
"Baiklah, aku berangkat." Ucap Seira yang segera meninggalkan Riel dan berlari menuju Monster yang masih melayang di udara akibat angin puyuh milik Seira.
"Kau benar-benar bau!" Ejek Seira sambil menutup lubang hidungnya, tak tahan dengan bau busuk Monster di hadapannya.
"Hiyahh!" Seira melompati Monster yang sedang melayang-layang itu dan memasangkan kalung milik Miki di leher Monster tersebut. Sayangnya, sebelum Seira berhasil mendarat tangan besar Monster itu meghantam Seira dan membuatnya terpental ke reruntuhan di samping mereka.
"RIEL!"
Riel yang mendengar teriakan Seira segera keluar dari persembunyiannya dan mulai membuka buku bersampul putih yang Seira bawa dari perpustakaan rahasia.
Beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Zobute bilang kita harus mewujudkan impian terakhir dari roh yang ingin kita selamatkan, dan bersamaan dengan itu kita harus membawa benda favoritnya saat mewujudkan impiannya itu." Ucap Seira.
"Jadi apa yang akan kau lakukan?" Tanya Riel.
"Aku sudah menemukan kalung milik Miki, bagusnya lagi aku menemukan sebuah buku yang berisi sihir suci. Hanya sihir suci yang bisa membunuh Undead, jadi kuharap kau bisa menggunakannya. Bacalah baris ke 9 di halaman 275, aku akan memberimu kode dan saat itu kau harus segera membaca mantra itu, oke?" Seira tersenyum percaya diri.
"Ta-tapi kan-" Belum selesai Riel berbicara, Seira sudah berlari ke arah Monster itu.
Saat ini, Riel akhirnya menemukan mantra yang dimaksud Seira. Ia sedikit ragu apakah ia dapat menggunakan sihir suci yang bahkan belum pernah Riel dengar dari cerita ibunya sebelumnya.
"Sekarang, Riel!" Teriak Seira dari balik puing-puing rumah yang berserakan.
"Jiwa ini akan kembali pada kehampaan, raga ini akan bersatu dalam ketidakabadian, penuhilah panggilan dari Sang Pemilik Kematian, tenggelamlah bersama dosamu menuju penyesalan tanpa akhir!" Sebuah lingkaran sihir yang sangat menyilaukan mulai berputar di sekitar tubuh Monster itu tepat setelah Riel membaca apa yang diperintahkan oleh Seira.
"Drita e shenjtë!" Riel merapalkan mantra terakhir yang membuat lingkaran sihir itu membakar habis Monster besar yang mereka hadapi sampai tak tersisa.
Riel dan Seira terdiam di tempatnya masing-masing, mereka tidak menyangka akan berhasil memusnahkan Monster itu dengan sebuah sihir suci. Terlebih lagi, Riel yang baru pertama kali membaca mantra itu langsung bisa menggunakan sihirnya tanpa kesalahan sedikit pun.
"Kita berhasil, Seira." Riel tersenyum puas.
"Kau sangat hebat, Riel." Seira membalas senyuman Riel.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Riel dan Seira segera kembali ke tempat Miki menunggu mereka. Anak perempuan itu melambaikan tangan dari kejauhan dan terlihat sangat mencemaskan kedua teman barunya itu.
"Kami kembali, Miki. Sesuai janji, kan?" Ucap Riel menyombongkan diri.
"Kalian-" Miki tak mampu menahan tangisannya dan segera memeluk Riel dan Seira bersamaan.
"Sudah, sudah... kau tidak boleh terus menangis seperti ini. Kami sudah membereskan semua Undead yang menyerang desamu itu." Ucap Seira sambil mengusap rambut Miki.
"Se-semua?" Balas Miki terisak.
Seira mengangguk kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Dan tebak apa yang kutemukan" Seira mengeluarkan sebuah kalung dengan taring Lycan milik Miki.
"Kalung pemberian Ayah!" Tangisan Miki semakin menjadi-jadi, ia teringat semua kenangan bersama Ayahnya semasa hidupnya.
Seira mengenakan kalung itu di leher Miki. Miki yang tadinya sedang menangis sangat keras tiba-tiba terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Eh? Ada apa?" Tanya Seira cemas.
"Aku ini sudah mati, kan?" Miki balik bertanya.
Riel dan Seira tidak mampu menjawab pertanyaan itu, mereka terdiam begitu saja.
"Aku sudah ingat semuanya, kak. Malam itu ternyata aku juga mati bersama keluargaku, tetapi jiwaku tertinggal di dunia fana ini karena ambisiku untuk memusnahkan para Undead yang menyerang desaku. Setiap hari aku terus berharap ada seseorang yang akan datang membantu, namun aku hanya bisa berharap sampai akhirnya aku bertemu dengan kalian."
"Kalian benar-benar orang yang sangat baik. Terima kasih, Kak Riel. Terima kasih, Kak Seira. Terima kasih, aku- aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan kalian walau hanya untuk sementara. Walau aku sudah mati, aku bisa bertemu dengan orang sebaik kalian benar-benar sebuah anugerah yang luar biasa. Aku-"
Tubuh Miki mulai memudar dari ujung kakinya, impiannya sudah terwujud, kenangannya sudah ia dapatkan kembali, jiwanya sudah tenang dan bersiap pergi ke alam baka.
"Tidak! Aku belum mau pergi! Kumohon!" Miki memeluk Riel dan Seira semakin erat.
Seira yang tak mampu berkata-kata mulai meneteskan air matanya, Riel hanya terdiam mencoba untuk tetap tegar melihat ini semua.
"Sepertinya waktuku tidak banyak ya? Kalau begitu, sekali lagi aku berterimakasih kepada kalian. Aku sangat senang bisa mengenal Kak Riel dan Kak Seira dalam waktu singkat ini, aku tidak akan melupakan kalian, sampai jumpa."
Tubuh Miki sepenuhnya hilang dari pelukan mereka berdua, tangisan Seira semakin keras setelah tangannya tak lagi dapat mengusap rambut Miki yang ada di pelukannya. Riel memeluk Seira, mencoba menenangkannya dari kesedihan yang sangat mendalam itu.
"Sampai kapan? Sampai kapan aku harus terus kehilangan orang-orang yang aku kenal?" Tanya Seira.
"Aku tidak akan meninggalkanmu." Balas Riel sambil mengusap rambut Seira.
"Berjanjilah!" Ucap Seira.
__ADS_1
"Aku janji tidak akan mati begitu saja dan meninggalkanmu sendirian." Jawab Riel.