
Riel dan Seira bermalam di perpustakaan rahasia yang ada di reruntuhan Aramas. Seira terus menutup mulutnya sejak kepergian Miki, hatinya masih sakit menerima kenyataan bahwa ia harus kehilangan seseorang yang ia kenal lagi di depan matanya. Meski baru bertemu beberapa jam saja dengan Miki, Seira sudah menganggap Miki seperti adiknya sendiri. Sangat sulit baginya untuk merima kenyataan bahwa Miki sebenarnya merupakan sebuah Roh yang harus diselamatkan dan tidak bisa selamanya tinggal di dunia fana.
"Seira?" tanya Riel yang sedang berbaring di tumpukan buku yang sudah usang.
Tidak ada jawaban dari Seira, bibirnya benar-benar terkunci rapat, tak mengeluarkan suara sedikitpun. Riel menghela nafas kemudian bangkit dari tempatnya berbaring dan berjalan menghampiri Seira.
"Miki anak yang baik." ucap Riel.
"Hmm." gumam Seira.
"Dia pasti sangat bahagia karena sudah bertemu dengan keluarganya saat ini. Menurutmu, apa dia akan menceritakan tentang kita kepada keluarganya?" tanya Riel yang mencoba menghibur Seira.
"Entah." jawab Seira dingin.
"Yah, aku jadi rindu pada Theresa." Riel duduk bersandar disamping Seira.
"Adikmu?" tanya Seira.
"Ya, benar. Aku anak pertama di keluargaku, adikku sangat imut, lho." ucap Riel dengan bangga.
"Kalau adikmu benar-benar imut, mengapa wajahmu buruk rupa seperti itu?" Seira tersenyum tipis.
"Setidaknya aku bukan makhluk setengah unggas." Riel menjulurkan lidahnya balas meledek Seira.
"Beraninya ka-"
Riel mencubit pipi Seira sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
"Sepertinya mood mu sudah membaik, aku kembali kesana, ya?" ucap Riel sambil bersiap untuk berdiri, namun Seira menarik lengan bajunya.
"Eh?" Riel menatap Seira tidak mengerti.
"Jangan jauh-jauh." ucap Seira sambil menundukkan wajahnya.
"Baiklah, aku akan tidur disini." Riel kembali duduk di samping Seira.
Suasana menjadi hening selama beberapa menit. Tidak ada dari mereka yang berbicara satu pun.
Malam semakin larut, tanpa sadar Riel sudah terlelap dalam tidurnya dan meninggalkan Seira yang masih terjaga sendirian. Seira menatap wajah polos Riel dengan seksama, jarinya dengan lembut membelai rambut kelabu milik pemuda yang tertidur pulas di sampingnya.
"Kau begitu dekat, namun begitu jauh." ucap Seira lirih.
Seira menggenggam tangan Riel, kehangatannya membuat mata Seira perlahan kehilangan tenaganya untuk tetap terjaga. Seira akhirnya tertidur dan mengistirahatkan hati dan tubuhnya yang benar-benar kelelahan.
Pagi telah tiba, tidak ada cahaya matahari yang masuk ke dalam perpustakaan karena tempat itu berada di bawah tanah, membuat Riel dan Seira bangun lebih telat dari biasanya.
Riel perlahan membuka matanya, mimpi indahnya terganggu suara nyanyian merdu yang entah berasal dari mana. Seira yang masih tertidur pulas di samping Riel sepertinya tidak mendengar nyanyian yang bergema di telinga Riel, ia akhirnya memutuskan untuk pergi mencari sumber nyanyian tersebut seorang diri tanpa membangunkan Seira dari tidurnya.
Riel sudah keluar dari perpustakaan, nyanyian itu semakin jelas terdengar di telinga Riel. Pemuda itu terus mengikuti arah datangnya nyanyian itu lurus ke arah barat dari reruntuhan Aramas.
"Hey, apa ada orang disana?!" seru Riel sambil terus berjalan lurus.
Riel sudah berjalan sekitar 10 menit dan kini di depannya ada sedikit pepohonan yang berjajar rapih dibalut dengan semak-semak yang membuatnya terlihat seperti perbatasan sebuah daerah. Samar-samar Riel mendengar suara arus sungai di balik semak-semak di depannya, suara nyanyian itu pun sepertinya terdengar dari balik semak tersebut.
"Apakah itu bidadari yang sedang mandi?" gumam Riel.
Riel akhirnya memberanikan diri untuk terus berjalan hingga akhirnya ia dibuat terdiam oleh pemandangan di depannya saat ini.
Sebuah sungai yang memiliki lebar sekitar 8 meter dipenuhi dengan air yang bening, dan sedikit bebatuan itu kini memanjakan mata Riel, ia benar-benar kagum akan keindahan alam yang baru pertama kali dia lihat seumur hidupnya ini.
Saat matanya sedang asyik melirik kesana kemari sembari berjalan mengikuti arus sungai, pandangannya terpaku pada punggung seorang gadis yang sedang duduk manis diatas sebuah batu besar yang ada di pinggiran sungai.
"Eh?!" Riel reflek bersembunyi dibalik semak-semak.
Gadis itu menyadari keberadaan Riel dan langsung menoleh ke belakang, tempat dimana Riel berdiri sebelum akhirnya bersembunyi dibalik semak.
__ADS_1
"Sepertinya tadi ada orang." Gumam gadis itu yang kemudian kembali menatap aliran air sembari bersenandung merdu.
Gadis itu memiliki rambut hitam panjang yang diurai menutupi sebagian punggungnya, wajah cantiknya pun terpahat jelas dalam ingatan Riel. Seperti tanpa beban di hidupnya, gadis itu dengan santainya duduk manis diatas batu seolah dunia ini hanya miliknya seorang.
"Suaranya benar-benar merdu sekali, tidak kalah dengan parasnya yang cantik." ucap Riel yang perlahan melangkahkan kakinya mendekati gadis itu tanpa sadar.
"Kemarilah, Petualang." ucap Gadis itu seolah tau bahwa Riel sedang mendekatinya.
Wajah Riel memerah seketika, ia merasa tidak enak karena sudah mengganggu waktu menyendiri Gadis tersebut.
"Tidak apa-apa, kemarilah!" ucap Gadis itu lagi.
Riel terhipnotis dalam nyanyian gadis itu, kakinya melangkah dengan sendirinya menghampiri batu besar tempat gadis itu duduk sendirian.
"Kau cukup tampan, ya." puji Gadis itu setelah Riel duduk di sampingnya.
"Kau juga sangat cantik." balas Riel.
"Ah, jangan memujiku seperti itu." Gadis itu tersipu malu mendengar jawaban Riel.
"Aku Jane, kamu?" tanya Jane sambil memiringkan kepalanya.
"Riel." jawab Riel singkat.
"Sepertinya kamu kurang istirahat, ya? Apa kamu begadang semalaman?" tanya Jane sambil memegang dahi Riel.
"Emm... tidak..."jawab Riel canggung.
"Ssshhh." Jane meletakan telunjuknya di ujung bibir Riel, menyuruhnya untuk berhenti berbicara.
"Tidurlah di pangkuanku." ucap Jane sambil menepuk pahanya.
Lagi-lagi Riel menuruti perintah Jane tanpa sadar, kini kepalanya sudah berada diatas pangkuan Jane dan perlahan Jane mulai menyanyikan lagunya lagi, membuat Riel perlahan terlarut dalam alam bawah sadarnya.
Lihatlah, burung-burung terbang dengan bebasnya.
Domba-domba berlarian gembira
Manusia pun berburu dengan egoismenya.
Apakah ada tempat baginya mendapatkan balasan?
Apakah ada seseorang yang dapat menghakiminya?
Ia perlahan membunuh Sang Dunia.
Dengan kekejaman yang merajalela.
Dengarlah nyanyian ini.
Larutlah kedalam mimpi.
Nikmati kepingan nikmat surgawi.
Sampai ajalmu datang menghampiri.
Riel sudah tertidur pulas saat Jane menyelesaikan nyanyiannya, tubuhnya benar-benar merasakan kenyamanan yang luar biasa dalam pangkuan Jane. Dengan lembut jemari Jane menyisir helai demi helai rambut kelabu Riel yang membuat Petualang Muda itu semakin jauh berada di alam bawah sadarnya.
Sementara itu Seira yang sudah terbangun dari tidurnya itu terus mencari Riel ke sekeliling makam sampai reruntuhan Aramas. Namun ia sama sekali tidak dapat menemukan Riel dimana pun.
"Kau tidak akan meninggalkanku kan, Riel?" ucap Seira murung.
Dalam lamunannya, samar-samar Seira mendengar nyanyian Jane. Seira pun mengikuti sumber suara tersebut seperti yang Riel lakukan sebelumnya.
"Ini nyanyian dari seorang Siren, semoga Riel tidak terjebak dalam hipnotisnya." gumam Seira.
__ADS_1
Baru saja ia selesai berharap, kini matanya terpaku pada seorang gadis yang sedang menyeret Riel ke dalam sungai yang mengalir tenang di hadapannya.
"RIEL!" Seira berlari mendekati Jane namun sayang sekali dengan cepat Jane masuk ke dalam air dan mebawa Riel bersamanya.
Belum habis kesedihan yang Seira dapatkan saat ia kehilangan Miki, kali ini ia harus menerima luka yang begitu mendalam karena untuk kesekian kalinya ia harus kehilangan orang yang dia sayangi langsung di depan matanya.
Hidupnya benar-benar kacau sekarang, tak ada lagi yang bisa ia lakukan kecuali menatap dasar sungai yang dalam dan gelap itu. Sambil memanggil nama Riel, tak henti-hentinya air mata menetes dan mengalir di pipi Seira. Berharap suaranya akan terdengar oleh Riel dan membuatnya kembali padanya.
"Suaramu tidak akan sampai ke bawah sana, Elf." Tiba-tiba seorang wanita yang entah datang darimana sudah berdiri disamping Seira yang sedang terpukul mentalnya.
"Manusia, ya? Kalau kau ingin membunuhku, bunuhlah! Aku tidak punya alasan lain untuk hidup." ucap Seira pasrah.
"Siren adalah makhluk yang menggoda para lelaki dengan nyanyian dan petikan harpanya yang sangat merdu. Di beberapa kisah diceritakan bahwa para Siren pernah menggagalkan peperangan antar kerajaan yang terjadi di Lautan Adoleshente karena kedua kubu itu tergoda dengan kecantikan para Siren dan malah menjadi pesta makan besar-besaran untuk para Siren." ucap Wanita itu.
Seira tidak menanggapi penjelasan Wanita itu dan terus terdiam menatap dasar sungai. Hatinya hancur, matanya lebam karena terus mengeluarkan air mata yang tak henti-hentinya mengalir deras menyusuri pipi tirusnya, Seira hanya bisa berharap semoga keberuntungan menyertai Riel di bawah sana.
"Apa kau tau?" tanya Wanita di samping Seira. "Bukan cuma Siren yang bisa memancing manusia dengan nyanyiannya, manusia pun bisa melakukan hal yang sama kepada para Siren."
Tidak ada jawaban dari Seira, ia benar-benar mengabaikan Wanita yang dibalut pakaian berwarna merah darah di sampingnya. Wanita itu hanya menghela nafasnya, mencoba memaklumi reaksi Seira yang bisa dibilang sangat tidak sopan jika saja situasinya tidak seperti ini.
Wanita itu memejamkan matanya dan mulai bersenandung, suaranya tidak semerdu nyanyian para Siren, namun saat Wanita itu mulai menyanyikan bait pertamanya, arus sungai di hadapan mereka mulai berantakan, Wanita itu berhasil memancing para Siren keluar dari persembunyiannya.
Satu, dua, disusul para gadis setengah ikan yang lain pun bermunculan dari dasar sungai menuju permukaan. Mereka terkesima mendengar nyanyian dari seorang Wanita Misterius yang sedang bernyanyi dengan anggunnya di samping Seira. Rasanya kepingan hati Seira mulai menyatu kembali setelah mendengar nyanyian indah Wanita itu, ia pun akhirnya menolehkan wajahnya. Betapa terkejutnya Seira melihat Wanita disampingnya yang ternyata adalah seorang Penyihir nomor satu di Dunia.
"Sang Penyihir Neraka?!" kata Seira dengan mata lebamnya yang membulat sempurna, terpaku melihat kecantikkan dari seorang Penyihir yang baru saja menyelesaikan nyanyiannya.
"Lihatlah!" kata Si Penyihir. "Mereka sudah menunjukkan dirinya, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Membunuh mereka semua lalu menyelamatkan temanmu, atau bernegosiasi dengan mereka agar temanmu bisa dibebaskan tanpa pertumpahan darah?"
Pertanyaan dari Sang Penyihir membuat mulut Seira terkunci, Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Pikirnya, mana mungkin ia bisa bernegosiasi dengan damai untuk membebaskan Riel, namun Seira juga ragu untuk melawan belasan Siren yang masih terhipnotis oleh nyanyian Si Penyihir.
Sang Penyihir tersenyum tipis melihat Seira yang tak mampu menjawab pertanyaannya, dia pun akhirnya memutuskan untuk berjalan menghampiri salah satu Siren yang berada paling dekat dengan Tepian Sungai.
"Kalian para Siren memang sangat cantik, lelaki manapun pasti tergoda dengan paras kalian yang rupawan, tapi apa kalian tau? membunuh orang-orang dengan nyanyian kalian itu adalah suatu tindakan yang jahat, lho." ucap Si Penyihir.
Siren itu menjawab "Tapi, ini sudah menjadi takdir kami untuk melakukan hal tersebut, kami dianugerahi kemampuan ini oleh Sang Dewa bukan tanpa sebab, kan?"
"Tapi, kalian harus melihat mana orang yang pantas kalian bunuh dan mana yang tidak pantas. Membunuh orang yang tidak bersalah akan membuatmu terlihat seperti Monster dibanding Penjaga Perairan, apakah kalian sadar jika makhluk hidup lain menganggap kalian Monster selama ini?" tanya Si Penyihir.
Siren itu terdiam, begitupun Seira yang tidak menyangka bahwa Penyihir itu benar-benar sedang bernegosiasi dengan Gadis Setengah Ikan di depannya.
"Siapa namamu, Siren? Kalian semua mempunyai nama, bukan?" tanya Si Penyihir.
"Karen." Jawabnya.
"Baiklah, Karen, kali ini aku ingin memintamu melepaskan seseorang yang baru saja temanmu bawa ke dasar sungai, dia bukan orang jahat, jadi kalian tidak berhak untuk membunuhnya." kata Si Penyihir, tersenyum ramah.
Karen mengangguk, kemudian menghilang ke dasar sungai untuk menjemput Riel yang baru saja ditangkap oleh temannya itu. Tak lama kemudian, Karen kembali muncul ke permukaan bersama Riel yang masih terlelap dalam mimpinya.
"Mohon maaf atas kelancangan temanku, manusia ini belum mati, ia hanya terpengaruh oleh nyanyian Jane dan terjebak dalam mimpi indah yang mencegahnya untuk bangun dari tidurnya." kata Karen seraya meletakkan tubuh Riel di hadapan Si Penyihir.
"Lantas, bagaimana cara membangunkannya, Karen?" tanya Si Penyihir, mengerutkan dahi.
"Mimpi buruk, hanya mimpi buruk yang mampu membangunkan seseorang yang terpengaruh oleh nyanyian Siren. Tapi, maafkan aku, aku tidak dapat memberikannya sebuah mimpi buruk, manusia ini harus mendapatkan sendiri mimpinya. Namun, kalian bisa memberinya beberapa sugesti ke alam bawah sadarnya, sugesti itu akan membangun sebuah mimpi baru dalam alam bawah sadarnya dan membuatnya ingin cepat-cepat bangun dari tidurnya." Siren itu menjelaskan cara membangunkan Riel kepada Si Penyihir.
"Baiklah, aku paham. Terima kasih sudah berbaik hati mengembalikan teman kami ini." ucap Si Penyihir diiringi senyumannya yang menghangatkan hati.
"Tidak, tidak, kami lah yang seharusnya berterimakasih karena sudah diperkenankan untuk mendengar sebuah lagu yang sangat indah yang pernah kami dengar seumur hidup kami." balas Karen, menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat.
Sang Penyihir membalasnya dengan senyuman, para Siren itu kembali ke sarang mereka di Dasar Sungai dan meninggalkan mereka bertiga di Daratan.
"Tidak semua hal harus diselesaikan dengan pertumpahan darah, Elf" ucap Si Penyihir. "Sisanya kuserahkan kepadamu."
Cahaya kuning keemasan muncul disekitar tubuh Si Penyihir, disusul dengan kilatan cahaya yang membuat Seira tidak dapat melihat sejenak kemudian Penyihir itu pun menghilang tanpa jejak, meninggalkan Seira dengan Riel berdua di Tepian Sungai tersebut.
"Bangunlah, Riel!"
__ADS_1