Fate Breaker

Fate Breaker
Racun


__ADS_3

"Kumohon... Riel..." Air mata mulai mengalir di pipi Seira. Ia teringat seseorang di masa lalunya.


"A-aku ingin makan daging bu-burung." Ucap Riel terbata-bata.


"Bodoh." Riel bisa saja menghibur Seira yang sedang khawatir sekaligus ketakutan itu.


Seira segera memindahkan Riel ke tempat yang lebih aman lalu kembali ke medan pertempuran.


Dua lawan satu. Para Harpy itu terkekeh melihat Seira yang kini seorang diri.


"Apa?! Kalian kira aku takut?" Tantang Seira sambil mengusap air matanya.


"Stralen!" Seira merapalkan sebuah mantra yang menciptakan sebuah cahaya yang sangat terang di hadapan kedua Harpy yang sedang ia hadapi.


Makhluk itu terbang tidak karuan, saling menabrak satu sama lain karena pandangannya dibutakan oleh cahaya buatan Seira.


"Ik ben de ruïne. Ik ben de leegte. O zondig schepsel. ga terug naar de bodem van de hel." Lagi-lagi Seira merapalkan sebuah mantra dengan tenaganya yang tersisa.


Sebuah lingkaran sihir muncul diatas para Harpy yang masih belum bisa melihat apapun. Lingkaran sihir itu semakin membesar disusul dengan tulisan-tulisan dari bahasa Elf yang hanya bisa dibaca oleh para Elf sendiri.


"PLAHVATUS!"


Dari lingkaran sihir tersebut keluarlah kobaran api yang menerjang kebawah. Membakar para Harpy tiada ampun. Perlahan kobaran api itu mulai diiringi ledakan beruntun yang terus menyiksa para Harpy di dalamnya.


"HIYAAAAAAAAHHHHH!!!" Seira mengerahkan seluruh tenaganya.


Boom!


Lingkaran sihir tersebut menghilang dibarengi dengan sebuah ledakan yang sangat dahsyat melebihi sihir ledakan milik Riel.


"Semuanya, ayo serang!" Terdengar suara teriakan di belakang dua remaja itu.


"HOOOOO!!!" Serempak para warga berlarian menuju kepulan asap sisa sihir ledakan Seira.


"Ah, akhirnya bantuan datang." Ucap Seira yang kemudian jatuh pingsan di tempatnya berdiri.


"Kemana perginya monster itu?!" Ucap pemimpin rombongan warga itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Penjaga gerbang mata air.


"Sepertinya gadis itu sudah memusnahkannya dengan sihirnya barusan." Saut salah seorang warga.


"Jadi?" Ucap si Penjaga gerbang.


"Kita sudah menang?" Lanjutnya.


"Bukan kita, tapi mereka." Jawab salah seorang warga sambil menunjuk ke arah Riel dan Seira yang tergeletak diatas tanah.


"Bawa mereka ke Tabib desa. Yang lain bereskan masalah disini. Lihatlah, kita punya banyak hal yang harus diurus." Ucap si Penjaga gerbang sambil menunjuk ke arah bendungan mayat yang menutup sumber mata air mereka.


"HOOOOO!!!" Seru para warga penuh semangat.


 


Riel dan Seira dirawat oleh seorang Tabib yang ada di Desa. Mereka berdua tidak terluka parah, hanya saja racun yang tertanam pada tubuh Riel ini sulit sekali dikeluarkan karena baru kali ini Tabib tersebut melihat racun yang dimiliki oleh Harpy.


"Uh..." Gumam Seira sambil mencoba membuka matanya.


Hal yang pertama ia lihat adalah langit-langit ruangan yang terbuat dari kayu jati dihiasi dengan lampu gantung yang kelihatan cukup mewah. Kesadarannya belum kembali seutuhnya, ia melihat sekelilingnya dan merasakan ada hal aneh yang terjadi.


"RIEL?!" Mata gadis itu membulat sempurna. Kesadarannya mendadak pulih sepenuhnya.


Seira mencoba bangkit dari posisinya tapi tubuhnya belum cukup kuat untuk bergerak. Seira mencoba menggerakan tubuhnya dengan susah payah namun Sang Tabib datang tepat waktu saat Seira hampir saja terjatuh dari tempat tidurnya.


"Hey! Kau belum boleh bangun." Seru Sang Tabib sambil menopang tubuh Seira yang kehilangan keseimbangannya.


"Riel!" Seira tidak mendengarkan apa yang diucapkan seorang laki-laki dengan pakaian serba putih dihadapannya.


"Pacarmu itu? Dia ada di ruang sebelah." Jawab Sang Tabib.


"Pa-pacar? Dia hanya partnerku." Protes Seira.


"Haha. Yah, lagipula mana mungkin seorang manusia bisa menjalin sebuah hubungan dengan seorang elf." Jawab Sang Tabib yang membuat Seira reflek menarik tudung coklatnya dan menutup telinga runcingnya.


"Jangan khawatir. Kalian sudah menyelamatkan kami dari krisis air. Meskipun kau seorang elf, kami pasti menghargaimu atas jasa yang sudah kau lakukan untuk desa ini." Ucap Sang Tabib sambil tersenyum ramah.


"Oh iya, namaku Ezam. Salam kenal." Ezam mengulurkan tangannya.


"Umm... Seira." Seira memberanikan diri untuk menjabat tangan Ezam.


"Jujur saja, aku kesulitan menangani temanmu itu. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" Tanya Ezam.


"Dia terkena racun Harpy." Jawab Seira.


"Harpy? Makhluk mitologi itu benar-benar ada?" Ezam nampak tidak percaya.


"Ya. Racun itulah buktinya." Jawab Seira murung.

__ADS_1


"Apa kau tau cara menetralisirnya?" Ezam terlihat penasaran dengan penjelasan Seira.


"Umm... Akulah penawar racunnya." Jawab Seira dengan wajahnya yang agak memerah.


"Eh? Maksudmu?" Tanya Ezam tidak mengerti.


"Tubuh Elf memiliki kemampuan kebal akan racun apapun. Jadi, aku harus menampung seluruh racun yang ada di tubuh Riel." Jawab Seira.


"Caranya?" Ezam terus bertanya tanpa jeda.


"Ada dua cara untuk memindahkan racun dari tubuh seseorang. Yang pertama, aku harus meminum darah orang yang terkontaminasi racun tersebut. Tapi, cara ini cukup berbahaya. Apalagi Riel terkena racun dengan jenis yang sangat langka."


"Lalu, yang kedua?" Sekali lagi, Ezam masih saja melontarkan pertanyaan pada Seira.


"Umm..." Wajah Seira semakin memerah.


Dapat terlihat rasa penasaran yang sangat besar di mata Ezam.


"Intinya yang kedua lebih aman." Seira mengalihkan pandangannya ke arah vas bunga yang terletak disamping tempat tidurnya.


"Hmm... Kalau begitu, kuserahkan dia padamu ya? Aku sudah memberinya beberapa penawar racun, mungkin itu bisa sedikit menghambat penyebarannya." Jawab Ezam yang kemudian meninggalkan Seira di ruangannya.


Kini gadis elf itu sendirian di ruangannya. Seira membuka tudung coklatnya lalu merapihkan rambut hitam sebahu miliknya yang begitu halus ketika disentuh. Setelah memiliki cukup tenaga untuk berjalan, Seira segera menghampiri Riel yang masih tidak sadarkan diri di ruangannya.


"Riel, aku masuk." Ucap Seira sambil membuka pintu kamar Riel.


Kini Seira melihat partnernya yang terbaring tak berdaya. Seira duduk di kursi yang sudah disediakan di samping tempat tidur Riel. Ia terus memandangi wajah polos Riel yang jarang sekali ia lihat selama mereka bertualang bersama. Tangannya menyusuri setiap inci dari rambut kelabu partnernya tersebut.


"Ternyata kau benar-benar bodoh ya, Riel." Ucap Seira sambil mengusap kepala Riel dengan lembut.


"Kau tau? Jika kau terus-terusan menyelamatkanku seperti ini, aku bisa suka padamu nantinya." Seira mengoceh sendiri.


"Memangnya kau mau bertanggung jawab kalau aku jatuh cinta padamu? Kau hanya mencintai Aira-mu itu, bukan? Yahh... Lagipula apa yang dikatakan Ezam itu memang benar." Seira terdiam sejenak.


"Kalau manusia dan elf tidak akan bisa bersatu." Lanjutnya setelah menarik nafas panjang.


Seira menatap bibir Riel yang sedikit terbuka itu. Cara kedua untuk menetralisir racun dari tubuh seseorang adalah ciuman. Itu mengapa Seira tidak berani mengatakannya di depan Ezam.


"Maaf." Seira memejamkan matanya sambil perlahan mendekati wajah Riel.


Jarak antara bibir Seira dan Riel sudah sangat dekat. Tapi, Seira tiba-tiba berhenti dan malah mencium pipi Riel. Seira tersenyum puas kemudian ia meraih belati yang ada di tas nya.


"Tidak, Seira. Mungkin saja itu ciuman pertamanya. Kau tidak boleh mengambilnya begitu saja." Seira mengoceh sendiri.


"Neutralizoj." Seira merapalkan sebuah mantra dan mulai menghisap racun yang ada di tubuh Riel.


Baru satu tetes racun Harpy itu menyentuh lidah Seira, tubuh gadis itu merasakan sakit yang luar biasa. Racun ini benar-benar sangat kuat sampai bisa membuat seorang elf yang dikenal kebal racun itu kesakitan.


Tinggal sedikit lagi. Seira hampir saja kehilangan kesadarannya akibat menahan rasa sakit yang disebabkan oleh racun itu. Tapi, jika begitu ia bisa saja gagal menyelamatkan Riel.


"Argh!" Seira akhirnya selesai memindahkan racun dari tubuh Riel ke mulutnya.


Gadis itu mengambil sebuah wadah untuk mengeluarkan cairan mematikan yang kini terkumpul di mulutnya. Racun itu berwarna hitam pekat dengan tekstur agak kental dan bau yang hampir mirip seperti mayat.


Seira tersenyum lega. Sesaat setelah ia memindahkan wadah penuh racun itu, Riel mulai menggerakan kelopak matanya. Rasa sakit yang dirasakan Seira mendadak hilang dan tergantikan oleh perasaan bahagia yang amat sangat. Ia mengusap pipi Riel yang mulai membuka matanya perlahan.


"Selamat pagi, Putri tidur." Ucap Seira ketika mata mereka saling beradu pandang.


"A-ira?" Hal yang pertama Riel lihat ketika ia membuka matanya adalah wajah cantik milik partnernya yang sedang mengusap pipinya dengan lembut.


Kebahagiaan di hati Seira remuk seketika ia mendengar nama itu. Namun, ia mencoba untuk menahannya sambil melontarkan senyuman hangat kepada Riel.


"Aku Seira, bukan Aira." Jawab Seira yang masih mengusap pipi Riel.


"Se-seira?" Riel mengusap matanya agar ia bisa melihat dengan jelas.


Riel melihat sebuah kesedihan yang terpendam dibalik mata Seira. Namun, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi. Riel mencoba bangun dari posisinya dibantu oleh Seira.


"Apa yang terjadi?" Tanya Riel.


"Aku memasak para Harpy itu." Jawab Seira.


"Benarkah? Aku sangat lapar sekarang." Jawab Riel penuh semangat.


"Tapi, api yang ku gunakan terlalu besar hingga membuat burung itu terbakar tanpa sisa." Jawab Seira murung.


"Bodoh! Aku sudah bilang kalau aku ingin makan daging burung." Jawab Riel yang sudah pulih seutuhnya.


"Lagipula hanya sayap mereka saja yang burung. Sisanya hanya tubuh seksi dari wanita jadi-jadian itu." Seira memalingkan wajahnya cemberut.


"Atau jangan-jangan... Kau punya fetish yang seperti itu?" Lanjutnya dengan mata yang membulat sempurna.


"Bodoh!" Riel mencubit pipi Seira gemas.


"Aaaaa lepaskan, bodoh!" Seira mencoba melepaskan tangan Riel yang mencubit pipinya itu.

__ADS_1


"Kau yang bodoh, bodoh!" Riel tidak mau kalah.


"Apa-apaan itu?! Kau bahkan pingsan lebih dulu saat melawan Harpy itu." Keluh Seira.


"Karena aku tidak tau kalau asap itu beracun."


"Itu tandanya kau bodoh!"


"Kau yang bodoh karena telat memberitahuku, bodoh!"


"Maaf." Ekspresi Seira berubah seketika.


"Loh?" Riel tidak tau apa yang terjadi kepada Seira saat ia tidak sadarkan diri.


"Maaf aku tidak memberitahumu lebih awal." Ucap Seira murung.


"Kau ini ya!" Riel kembali mencubit pipi Seira. Kali ini lebih kencang.


"Aduh-duh-duh-duh! Riel!" Seira tidak mengerti mengapa Riel tidak marah padanya. Padahal karena kecerobohan Seira, Riel hampir saja mati.


Ezam sudah berada di kamar itu ketika dua remaja ini sedang asyik bercanda. Dia tersenyum tipis melihat kejadian yang sangat langka ini. Elf dan manusia yang begitu akrab satu sama lain.


"Ehem!" Ezam mencoba mencari perhatian mereka berdua yang sedari tadi mengabaikannya.


Mereka berdua menoleh ke arah pria berumur 30 tahunan yang menggunakan pakaian serba putih itu.


"Eh, Eham?" Ucap Seira dengan pipi yang masih dicubit oleh Riel.


"Siapa dia?" Tanya Riel pada Seira.


"Aku Ezam. Tabib yang merawat kalian berdua pasca pertarungan kalian melawan dua monster yang meresahkan warga tersebut." Jawab Ezam sambil berjalan mendekati mereka berdua.


"Apa kau sudah mengeluarkan racunnya?" Tanya Ezam pada Seira.


"Hudah. Hei, Hiel. Hisakah hau helepashan hanganhu hini? (Sudah. Hei, Riel. Bisakah kau melepaskan tanganmu ini?)" Ucap Seira yang kesulitan untuk berbicara.


"Ah, iya. Maaf." Riel melepaskan cubitannya.


"Apa kau menelan racunnya?" Tanya Ezam lagi.


"Aku ini Elf. Bukan Vampire." Jawab Seira.


"Benar juga. Lalu dimana kau meletakan racun itu?" Tanya Ezam dengan senyuman yang mencurigakan.


"Memangnya mau kau apakan racun tersebut?" Tanya Riel curiga.


"Aku hanya ingin sedikit mempelajarinya." Ezam memandang Riel dengan tatapan tajam.


"Racun itu sangat berbahaya. Aku bahkan sangat kesakitan saat mengeluarkannya." Ucap Seira.


"Kau? Mengeluarkan racun itu?" Riel memandang Seira tidak percaya.


"Ya." Jawab Seira singkat.


"Bagaimana caramu mengeluarkan racun itu? Apa maksudnya kau bukan Vampire?" Riel mengecek lehernya mencoba mencari bekas gigitan.


Wajah Seira memerah. Kemudian ia menggenggam lengan Riel dan menunjukkan bekas luka yang Seira buat dengan belatinya.


"Luar biasa." Ucap Ezam yang berhasil menemukan wadah racun selagi Riel dan Seira mengobrol.


"Ezam!" Seru Seira.


"Aku hanya menelitinya. Aku janji." Ucap Ezam sambil menyeringai.


"Tidak, Ezam. Racun itu harus diamankan." Ucap Kepala Desa yang datang dikawal dua penjaga pribadinya.


Ezam tersentak melihat sosok yang sangat ia hormati berdiri di depannya. Tangannya reflek memberikan wadah berisi racun yang sangat berbahaya kepada Pengawal pribadi Sang Kepala Desa.


"Riel dan Seira, kalian adalah pahlawan kami, kalian adalah pahlawan Vandkilder! Dengan segala hormat, aku mewakili seluruh warga desa ini untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya." Ucap Sang Kepala Desa sambil membungkukkan tubuhnya.


Seira yang sedang berdiri disamping Riel langsung menggenggam bahu Sang Kepala Desa, menyuruhnya agar tidak perlu sampai membungkukkan tubuh segala.


"Apakah ada yang bisa kami bantu sebagai tanda terima kasih kami?" Lanjut Sang Kepala Desa. Kali ini ia berdiri tegak di hadapan dua remaja itu.


"Ummm..." Riel dan Seira kebingungan untuk menjawab. Baru kali ini ada seseorang yang menawarkan hal seperti itu kepada mereka.


"Kalau begitu cukup terima saja hadiah dariku, ya?" Ucap Kepala Desa sambil mengeluarkan sebuah kantung yang penuh dengan koin emas.


"EH?!" Riel sangat terkejut melihat kantung emas di tangan Sang Kepala Desa.


"Jangan khawatir. Jika kalian langsung pergi esok hari, mampirlah di setiap toko yang kalian suka. Aku sudah memerintahkan mereka untuk memberikan barang dagangan mereka secara gratis kepada kalian." Lanjut Kepala Desa dengan senyuman ramahnya.


"YANG BENAR SAJA?!" Ucap dua remaja itu berbarengan.


---

__ADS_1


__ADS_2