
Riel berhasil melarikan diri dari kejaran para prajurit kerajaan. Ia kini memutuskan untuk memulai perjalanannya menuju kerajaan Datraoch untuk menemui Airayle.
Di kerajaan Sapphire.
"Yang mulia, maafkan perlakuan anakku yang sangat tidak mulia itu. Jika ia berhasil di tangkap, aku takkan segan untuk memberinya hukuman sesuai dengan undang-undang yang ada." Curze tampak benar-benar menyesali perbuatan anaknya tersebut.
"Sudahlah Curze. Asalkan berita ini tak sampai menyebar di masyarakat itu sudah cukup. Kita hanya perlu memikirkan jawaban apa yang akan kita berikan jika rakyat menanyakan lokasi aib kerajaan tersebut. Apa kita cukup bilang bahwa ia sedang di beri misi keluar kerajaan?" Ratu Liveda terlihat kewalahan sekarang.
Berita kejadian tersebut memang tidak sampai ke telinga rakyat. Namun, cepat atau lambat rakyat akan menyadari bahwa Riel tak lagi terlihat di Sapphire.
Organisasi yang dipimpin Simon pun belum bergerak lagi setelah Riel berhasil kabur dari istana. Apa rencana kudeta mereka masih akan berlanjut atau mereka sedang menyusun rencana baru untuk langkah selanjutnya?
Sementara itu, Riel yang tak membawa persiapan untuk berpetualang hanya bisa mengandalkan alam sekitar untuk bertahan hidup. Ia berburu hewan untuk makan dan mencari sungai untuk minum.
"Sial, kalau seperti ini terus aku bisa mati dalam perjalanan. Aku harus menemukan sebuah kota ataupun desa dan mencari penghasilan disana untuk sementara." Gumam Riel.
"Kalau cerita ibu benar, di depan sana seharusnya ada sebuah desa yang sangat kekurangan bahan pangan. Apakah aku bisa mendapatkan upah jika membantu mereka mendapatkan bahan pangan? Cukup kuberikan saja daging hewan hasil buruan di hutan ini." Riel melanjutkan perjalanannya setelah beristirahat di tepian sungai.
--
Riel berhasil keluar dari hutan. Ia terkejut karena cerita ibunya ternyata benar. Di depannya kini ada sebuah desa kumuh dengan arsitektur bangunan yang tidak normal. Temboknya yang terbuat dari batang pohon yang bahkan tidak di bentuk sedemikian rupa. Begitupun atapnya yang hanya terbuat dari ranting-ranting yang masih memiliki daun yang lebat. Benar-benar sebuah pemukiman yang takkan Riel temui di Sapphire.
"Jadi inikah desa Pemë yang diceritakan ibu? Kuharap aku bisa mendapatkan penghasilan disini." Riel melangkah mantap menuju desa tersebut. Berharap ia bisa mendapat sebuah pekerjaan dengan imbalan yang cukup untuk melanjutkan perjalanannya.
Desa itu benar-benar seperti desa mati. Riel hampir tidak melihat satu penduduk dimana pun.
"Hey hey, kemana perginya penduduk desa ini? Padahal aku ingin menolong mereka. Meski aku akan minta imbalan nantinya hehe." Riel berkeliling di desa yang di penuhi rumah pohon itu.
"Psstt, hei siapa kau?" Ada suara terdengar dari salah satu rumah di sekitar Riel.
__ADS_1
"Ah, aku hanya seorang petualang. Aku dengar desa ini mengalami krisis bahan pangan. Bisakah aku membantu kalian dan mendapatkan sedikit imbalan? Aku butuh dana untuk melanjutkan perjalananku." Riel menjawab suara yang entah datangnya darimana.
"Desa ini sudah berakhir. Tak ada yang bisa diselamatkan. Lebih baik kau lanjutkan perjalananmu sedikit lebih jauh kearah timur. Kau akan menemukan sebuah kota yang cukup besar. Dan kau pasti bisa menemukan sebuah pekerjaan disana." Suara tersebut kembali menjawab. Terdengar seperti suara wanita yang tak berdaya.
"Setidaknya tunjukkan dirimu. Sungguh tak sopan menyambut seorang tamu hanya dengan suara." Riel terlanjur penasaran dengan kondisi penduduk disini.
"Aku dan keluargaku ada di dalam rumah tepat di sebelah kananmu." Riel menoleh ke sebuah rumah di sebelah kanannya.
"Baiklah aku akan masuk." Riel melangkahkan kaki ke rumah tersebut.
"Sebaiknya kau menyiapkan mentalmu wahai petualang."
Riel berdiri di depan rumah yang dikatakan suara tadi. Ia hanya terdiam. Rumah tersebut tidak memiliki pintu maupun jendela. Lalu bagaimana cara mereka masuk kedalam?
"Ah kau pasti tidak bisa masuk. Sebenarnya rumah-rumah di desa ini hanya sebuah penyamaran. Kami tinggal dibawah tanah desa buatan ini. Pergilah kebelakang rumah ini, disana ada sebuah lubang galian yang mengarah kebawah sini."
Riel menuruti apa yang dikatakan suara tadi. Ia pergi kebelakang rumah dan benar saja, ia menemukan sebuah lubang yang tertutup ranting dan daun lebat. Riel memindahkan ranting tersebut lalu masuk kedalam lubang.
Pemandangannya sangat berbeda dengan apa yang baru Riel lihat di atas permukaan. Di bawah sini terbangun sebuah desa yang cukup makmur. Struktur bangunan memang tak jauh berbeda dengan yang di atas. Namun, bangunan disini lebih rapih karena pohon-pohon di potong membentuk sedemikian rupa. Ratusan lampion tergantung di langit-langit bak bintang buatan yang menyinari desa.
Ibu Riel tak pernah memberitahukan soal ini. Kali ini Riel melihatnya langsung dengan mata kepalanya sendiri bagaimana desa pemë itu.
"Hey kau, petualang dengan syal hitam." Seseorang nampaknya memanggil Riel.
"Ah, ayolah. Mengapa di desa ini selalu ada suara yang entah datang darimana? Apa susahnya menunjukkan wajah saat berbicara dengan orang?" Keluh Riel.
"Kami selalu kedatangan petualang dengan jiwa yang gelap. Mereka berpetualang untuk merampas desa-desa kecil seperti pemë ini. Jadi kami mempelajari sihir kamuflase ini agar para petualang berjiwa gelap menganggap desa kami telah habis di rampas." Suara itu masih belum menunjukkan wujudnya.
"Sihir kamuflase? Memangnya sihir itu nyata? Lalu mengapa kau berbicara dengan petualang sepertiku jika takut desamu di rampas?" Riel menganggap sihir itu hanya sebuah dongeng belaka. Meski kini ia sedang melihat suatu kejanggalan, tapi Riel berfikir ini pasti masih bisa dijelaskan dengan logika.
__ADS_1
"Aku melihat jiwamu. Jiwamu hanya memiliki satu tekad. Tak ada niat jahat sedikit pun. Jiwa mu masih terlalu lemah untuk berpetualang."
"Yah, aku hanya ingin pergi ke Datraoch untuk menemui seseorang. Ngomong-ngomong siapa namamu? Setidaknya aku bisa memanggilmu walau tak dapat melihatmu."
"Aku Lularia."
"Aku Riel. Jadi Lularia, sebenarnya aku kesini untuk-"
"Aku sudah tau tujuanmu kemari. Mungkin aku tidak bisa memberikan imbalan yang kau mau, tapi aku bisa memberimu sesuatu yang mungkin bisa berguna untuk petualanganmu." Lularia memotong ucapan Riel.
"Haha sial, sepertinya kau benar-benar bisa membaca jiwa seseorang."
"Kau sudah mengatakan tujuanmu diatas sana. Masuklah."
Riel dibawa ke sebuah rumah paling besar di desa itu. Mungkin itu rumah Lularia. Arsitekturnya sama dengan rumah-rumah lain. Diisi dengan beberapa perabot rumah tangga yang bentuknya tak berbeda jauh dengan apa yang Riel miliki di rumah. Hanya saja semuanya terbuat dari kayu.
"Duduklah. Langsung saja kepada intinya ya. Jika kau mencari sebuah pekerjaan di desa ini, mungkin kau bisa membantu kami mengalahkan makhluk yang mengambil alih sumber pangan kami. Itupun jika kau bisa bertarung." Suara lularia terdengar resah.
"Apa yang harus kuhadapi?" Riel hanya memikirkan imbalannya.
"Desa ini dibangun dengan memanfaatkan sumber daya dari hutan Giganus. Kayu dan bahan pakan biasanya kami ambil dari sana. Tapi 50 tahun yang lalu, seorang Summoner memanggil seekor monster disana. Monster itu memang tak menyerang desa. Namun, kami jadi takut pergi ke hutan untuk mengambil sumber daya alam. Kami hanya bisa meminta bantuan kepada para petualang yang hatinya bersih sepertimu. Jadi kumohon, ambilkan kami bahan pangan dan kami akan memberimu imbalan."
"Aku hanya perlu mengambil bahan pangan lalu membawanya kesini kan? Tak perlu susah payah mengalahkan monster itu? Baiklah akan ku laksanan. Siapkan saja imbalanku untuk pekerjaan ini."
Riel bangkit dari tempat duduknya dan langsung bergegas keluar dari desa bawah tanah tersebut.
Sebenarnya Riel tak percaya dengan cerita Lularia tadi. Dia hanya menganggap bahwa monster yang di ceritakan itu tak lebih dari hewan buas biasa. Sehingga ia bisa dengan gagah melangkah maju tanpa tau apa yang akan dihadapinya sebenarnya.
***
__ADS_1