
Tak terasa 8 tahun sudah berlalu semenjak ayah Riel diangkat menjadi raja. Riel yang sudah berjanji pada dirinya untuk tak diatur oleh siapapun mulai berlatih untuk menjadi seorang prajurit. Dia melakukan hal itu karena keinginannya sendiri. Meski ayahnya terkadang mebatasi waktu latihannya, Riel tetap berlatih dengan keras secara sembunyi-sembunyi agar ayahnya tak mengganggunya lagi.
Malam itu di sebuah hutan pinus yang jauh dari istana, Riel berlatih seorang diri.
"Persetan dengan pangeran. Aku tak peduli. Mengapa harus seperti ini jadinya? Aaargh!"
Riel terus mengeluh sambil menembakkan anak panahnya ke arah pohon di depannya.
"Kau harusnya bersyukur tuan muda. Jarang sekali orang yang tak memiliki darah bangsawan bisa memimpin negeri ini." Terdengar suara lelaki tua dari dalam hutan.
"Tunjukkan wujudmu." Riel memasang wajah sinis.
Perlahan siluet lelaki bungkuk muncul dari dalam hutan dan berjalan mendekati Riel.
Sosok pria tua itu mulai terlihat jelas. Rambut putihnya yang terurai dan garis di wajahnya membuatnya terlihat familiar bagi Riel.
"Kau, Simon." Riel pun mengenali lelaki tua itu.
"Ahaha, kau sudah besar ya Riel." Simon mendekati Riel yang tampak curiga.
"Mau apa kau?"
"Aku? Ah, sepertinya akan lebih cocok jika aku mengatakan kata 'kami' untuk mewakili semuanya." Tiba-tiba saja hutan di penuhi dengan orang-orang yang berpakaian seperti Assassin. Dengan tudung hitam yang menutupi kepala dan wajah mereka. Semuanya berdiri melingkari Riel.
"Jangan bilang kalian diperintahkan ayah untuk menangkapku dan membawaku pulang ke istana." Riel mulai bersiaga dengan busur panahnya.
"Hah? Memangnya siapa yang mau menuruti raja haram seperti ayahmu itu?" Hanya simon yang berbicara. Yang lainnya hanya terdiam. Bungkam.
"Raja haram? Ah, aku paham sekarang. Dan aku sudah menduga bahwa akan ada aksi seperti ini." Riel menyimpan kembali busur panahya.
"Terserah kalian. Aku sendiri bahkan tak suka dengan keadaan ini. Keadaan dimana aku diharuskan menjadi seorang pangeran. Cih, menjijikan. Jika kalian ingin melakukan kudeta, lakukan saja. Aku tak peduli." Riel menatap Simon dengan tenang kali ini. Tak ada lagi tatapan sinis dan penuh kecurigaan di matanya.
"Haha, pangeran haram ini sepertinya pasrah dengan takdirnya. Sebelum kami melancarkan kudeta, akan lebih baik jika pangeran haram sepertimu dilenyapkan dari muka bumi. Karena akan ada kemungkinan kau akan mewarisi takhta haram ayahmu setelah ia mati." Simon memberi isyarat kepada kelompoknya dengan mengangkat tangan kanannya.
"Atas nama Raja Legnasio. Kuperintahkan kau menemuinya di alam baka!" Tangan Simon kini menunjuk ke arah Riel.
Sebelum sempat bersiap, sebuah tobak melayang di depan wajah Riel.
"Hey hey, sepertinya kalian serius akan membunuhku ya. Tapi asal kalian tau. Tak ada yang boleh memerintahku. BAHKAN DEWA SEKALIPUN!" Riel mengambil belati di sakunya dan melemparkan ke arah prajurit bertudung hitam yang membidikan anak panahnya ke arah Riel.
Satu prajurit tumbang karena belati Riel menancap tepat di kepalanya.
"Berhenti! Lihatlah apa yang dilakukan oleh pangeran kita. Dia membunuh rakyatnya sendiri. Apakah seorang pangeran akan membunuh rakyatnya sekeji ini?" Simon mengangkat tangannya keatas dan para prajurit bertudung hitam itu menghentikan serangannya.
"Cih, jadi ini rencananya. Sebenarnya dia tak ingin membunuhku." Gumam Riel.
"Mari kita bawa mayat rekan kita yang mati di tangan pangeran kita ini. Dan kita bawa kehadapan Sang Ratu. Agar beliau tau betapa busuknya putra dari Raja haram yang dia banggakan." Simon dan pasukannya meninggalkan Riel dan membawa mayat rekannya tersebut.
Mereka meninggalkan syal hitam milik si mayat. Ternyata tudung hitam pasukam tersebut terbuat dari syal yang di pakai dari leher mereka sampai menutupi kepalanya. Riel memungut syal tersebut dan memakainya.
__ADS_1
"Di Sapphire, nyawa di bayar nyawa. Kalau Ratu tahu aku membunuh orang tadi, ia pasti menjatuhkan hukuman mati kepadaku meski Ayah tak setuju. Sial! Simon terlalu licik untuk seorang pandai besi kerajaan."
Di istana kerajaan Shappire, Sang Ratu sedang menikmati cemilannya dengan damai. Ruangan luas yang dipenuhi perhiasan terpajang di seluruh tembok ruangan itu hanya diisi oleh Ratu seorang karena anaknya Putri Nevaehen memiliki kamar sendiri.
Seorang penjaga datang ke hadapan Ratu Liveda dengan nafas terengah-engah.
"Yang mulia. Simon si pandai besi ingin bertemu dengan anda. Dia membawa mayat penduduk yang kondisinya-" penjaga itu belum selesai bicara. Namun Ratu Liveda sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Suruh ia menunggu di ruang tengah."
"Baiklah yang mulia." Penjaga tersebut bergegas meninggalkan ruangan.
"Mayat penduduk? Konflik masyarakat? Atau perampokan? Tidak biasanya ada penduduk yang mati secara tak wajar." Gumam Sang Ratu.
--
Di ruang tengah istana.
Ruangan luas yang hanya memiliki meja sepanjang 3 meter dan 10 kursi yang melingkarinya itu diisi dengan sosok Simon yang tampak mengalami depresi berat.
Simon berdiri dari tempatnya duduk dan langsung berlutut saat Ratu masuk kedalam ruangan itu.
"Bangunlah dan jelaskan apa yang terjadi." Ratu Liveda duduk di bangku khusus yang disediakan untuk Raja melaksanakan rapat dengan para menterinya.
"Yang mulia. Maafkan kelancangan saya yang ingin menemui anda. Tapi kasus kali ini sungguh tak bisa dibiarkan." Simon mencoba menjelaskan dengan detail kejadian yang telah direncanakannya itu.
"Riel? Yang benar saja! Bagaimana bisa dia membunuh penduduk tak bersalah ini?" Sang Ratu berdiri dari tempat duduknya.
"Dimana dia sekarang? Bawa dia ke istana bersama nyawanya. Curze harus mempertanggung jawabkan kelakuan anaknya ini."
"Perintahmu akan hamba laksanakan yang mulia." Simon keluar dari ruangan sambil membawa mayat itu.
Hening. Sang Ratu pun hanya terdiam memikirkan apa yang membuat Riel membunuh penduduk itu.
--
Dihutan tempat Riel berlatih.
"Aku harus meninggalkan kerajaan sekarang juga. Aku harus bertemu dengan Aira. Aku harus menepati janjiku." Riel berlari menyusuri hutan itu menuju jalan keluar rahasia istana.
"Riel! Berhenti!" Tak disangka pasukan kerajaan bisa dengan cepat mengejar Riel.
"Ah, kalian menemukanku. Padahal aku belum ingin mati." Riel berhenti berlari dan tetap tenang di tempatnya berdiri.
"Memangnya apa kalian punya bukti jika aku yang membunuh orang itu?"
"Bagaimana mungkin seorang perampok memiliki belati kerajaan. Sudah jelas belati itu hanya akan dimiliki oleh keluarga kerajaan." Prajurit istana menodongkan tombaknya ke pundak Riel.
__ADS_1
"Belati kerajaan? Bagaimana bisa? Aku menggunakan belati yang ku dapatkan dari-"
Riel sadar bahwa Simon yang mengganti Belati tersebut. Karena Simon adalah salah satu anggota keluarga kerajaan sepertinya. Apalagi dia seorang pandai besi, pastinya bukan hal yang sulit untuk membuat belati seperti itu.
"Kembalilah ke istana. Ratu menginginkanmu hidup-hidup." Riel tak sempat memikirkan rencana melarikan diri karena para prajurit istana sudah memegangi tangannya.
Riel dibawa kehadapan Ayahnya dan juga Ratu Liveda.
Ayahnya menatapnya seakan tak percaya dengan apa yang di lakukan anaknya. Sedangkan Ratu menatapnya sebagai aib terbesar bagi kerjaaan Sapphire.
"Mana ibu?" Tanya Riel kepada Ayahnya.
"LANCANG SEKALI AIB KERAJAAN INI BERBICARA SEENAKNYA DI DEPAN PEMIMPIN." Emosi Ratu Liveda pecah seketika.
Curze memerintahkan Ratu menahan amarahnya sementara.
"Riel. Apa-apaan perlakuanmu ini? Jika rakyat Sapphire tau kau melakukan ini, ini bisa mengakibatkan kehancuran besar bagi kita semua. Kau adalah seorang pangeran. Kau punya tanggung jawab untuk-"
"MEMANGNYA SIAPA YANG INGIN JADI RAJA?" Riel memotong ucapan ayahnya.
"Siapa yang mengharapkan posisi ini? Aku bahkan lebih bangga ketika kau hanya menjadi seorang panglima perang. Aku mengagumi dirimu yang dulu ayah. Meski kita jarang bisa berkomunikasi, tapi aku lebih suka saat kita masih menjadi rakyat biasa. Kenapa? Kenapa kau malah memilih jalan ini? Kenapa aku diharuskan melanjutkan jalanmu? Kenapa aku tak bisa menentukan jalanku sendiri? Kenapa ayah?!" Gumpalan emosi yang mengganjal hati Riel tercurahkan seketika. Curze terdiam dan tak menyangka bahwa anaknya menolak hasil dari apa yang telah ia bangun selama ini. Anaknya yang ia bimbing untuk menjadi penerusnya kelak menolak dengan lantang dihadapannya.
"Riel, kau memalukan nama Eraxoth di depan Ratu." Curze tak mampu berbicara banyak.
"Aku bahkan tak butuh nama itu lagi. Aku tak butuh nama yang sudah ternodai oleh takhta haram!"
"Hukuman mati untukmu akan di laksanakan esok hari, Riel." Ratu Liveda nampak muak dengan percakapan mereka berdua.
"Tidak yang mulia. Takkan ada yang bisa menghukumku. BAHKAN DEWA SEKALIPUN!"
Riel mengelak ketika akan di tahan lagi oleh para prajurit kerajaan.
"Jangan biarkan Aib kerajaan itu hidup, dan jangan sampai berita ini turun ke masyarakat." Ratu tak lagi memedulikan Riel yang terus mencoba melarikan diri.
Lorong demi lorong berhasil dilewati Riel tanpa tertangkap oleh puluhan prajurit yang mengejarnya. Riel berlari menuju balkon istana. Ia tau busur dan anak panahnya diletakan disana oleh prajurit yang membawanya pulang ke istana.
Lalu tanpa ragu-ragu, Riel melompat dari balkon istana setelah mengambil busurnya. Ia membidik para prajurit sambil melayang di udara.
Shoot!
Tiga anak panah melesat bersamaan dari busur Riel dan mengenai 3 orang prajurit yang mengejarnya.
Riel jatuh tepat diatas rumput taman yang empuk. Ia langsung bangkit dan berlari keluar dari istana. Para prajurit yang mengejarnya mundur dan mengambil jalan utama dari pintu depan istana.
--
Riel telah sampai di hutan tempat ia tadi akan pergi melarikan diri.
"Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada gunannya lagi aku berdiam diri di Sapphire. Aku dengar butuh waktu sekitar 8 bulan jika berjalan kaki menuju Kerajaan Datraoch. Baiklah, aku menuliskan takdirku sendiri. Aku akan menemui Aira di Datraoch. Tunggu aku Aira, aku akan menepati janji kita 8 tahun yang lalu. Tunggu aku."
__ADS_1
Riel akhirnya berhasil keluar dari Sapphire melewati jalan rahasia kerajaan. Dengan bermodalkan busur dan beberapa anak panah, Riel memulai petualangannya untuk menemui teman masa kecilnya agar ia bisa menepati janjinya.
...***...