
Setelah menerima lokasi Kaki Tangan Leviathan dari Lux, Riel dan Seira segera keluar dari dalam Gua tersebut dan pergi ke tempat yang sudah disebutkan. Mereka bertemu lagi dengan Keinn yang sedang asyik menyiram koleksi tanaman di teras Bar nya.
"Bukannya kalian ingin pergi ke Erë?" tanya Keinn.
"Benar, tapi sebelum itu ada sesuatu yang harus kami urus terlebih dahulu, kami akan membantu Lux mengobati adiknya." jawab Riel.
Keinn terdiam mendengar jawaban Riel, mulutnya ternganga, tidak bisa berkata-kata. Keinn tau Monster apa yang akan mereka lawan, Ia meragukan kemampuan Riel dan Seira karena beberapa petualang dari Guild di Kerajaan Erë pun belum ada yang berhasil melawan Monster itu, dan Quest melawan Monster itu bahkan merupakan Quest tingkatan paling tinggi yang memiliki hadiah yang tak terhitung jumlahnya.
Keinn tersadar dari lamunannya kemudian berkata, "Bukannya aku meragukan kalian, tapi datang menantang Monster itu berdua sama saja seperti bunuh diri."
Riel memiringkan kepalanya. "Memangnya sekuat apa Monster itu?" tanya Riel.
"Behemoth, Iblis yang menguasai daratan. Behemoth adalah makhluk menakutkan yang sering disebut dalam beberapa kisah mitologi. Namanya sendiri memiliki arti makna ‘sesuatu yang sangat kuat’. Dia tinggal di sebuah gurun yang tak terlihat di sebelah timur Taman Eden. Dikatakan bahwa ketika hari kiamat tiba, sosok Behemoth akan muncul dan berperang melawan Dewa beserta umatnya." ucap Keinn dengan tubuh sedikit gemetar karena takut.
"Wow! Jadi lawan kita kali ini adalah seorang Iblis?" ucap Riel yang justru terlihat lebih semangat setelah mendengar penjelasan dari Keinn.
"Sebenarnya aku sendiri tidak yakin, Riel." ucap Seria yang akhirnya angkat suara.
"Lho?" Riel mengerutkan dahinya, terheran.
"Iblis bukanlah makhluk yang sama seperti Monster-monster yang pernah kita lawan sebelumnya, mereka merupakan makhluk ketiga terkuat setelah Dewa dan Malaikat. Apa kau tau Manusia berada di tingkat ke berapa?" tanya Seira.
"Ibuku bilang kalau manusia itu ada di tingkat paling rendah diantara semua makhluk" jawab Riel. "Namun, ada satu Manusia yang memiliki kekuatan setara dengan Iblis."
"Kalau yang kau maksud adalah Vida Si Penyihir Neraka, dia tidak bisa disebut setara dengan Iblis setingkat Behemoth." saut Keinn.
Riel menggaruk kepalanya, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Keinn.
Keinn melanjutkan penjelasannya, "Kalau kau bilang Iblis ada di tingkat ketiga setelah Tuhan dan Malaikat, kau salah. Iblis adalah Makhluk terkuat di Dunia ini, Dewa Dewi yang kalian kenal saat ini adalah sisa dari kesadaran Tuhan yang Ia pisahkan dari tubuhnya sebelum Ia dikalahkan oleh Lucifer. Dia tidak ingin membuat Dunia ini jatuh ke tangan Iblis. Maka dari itu, Dia menciptakan Dewa dan Dewi baru untuk menjaga keseimbangan Dunia ini dan membuat sebuah penghalang yang membatasi keberadaan tiga Dunia di Alam Semesta. Celestial Realm, Dunia yang diisi oleh Tuhan dan para Malaikat, sekarang diisi oleh para Dewa, Human Realm, Dunia tempat kita tinggal saat ini, dan juga Devildoom, atau biasa kalian sebut sebagai Neraka, tempat tinggal para Iblis."
"Itu cerita yang sebenarnya?" tanya Seira yang mulai sama takutnya dengan Keinn.
"Ya, itulah cerita yang sebenarnya." jawab Keinn, menganggukkan kepalanya. "Tunggu disini, aku ingin menyiapkan perlengkapanku terlebih dahulu."
"Perlengkapan?" tanya Riel.
"Aku ikut dengan kalian, aku sudah pernah gagal melawan Behemoth saat ingin menyembuhkan Adikku, karena kegagalan itulah Adikku kehilangan nyawanya. Setidaknya, aku ingin mencoba melawannya lagi, agar aku bisa terbebas dari rasa bersalah yang terus menghantui hidupku selama ini." jawab Keinn yang kemudian masuk ke dalam Bar nya.
Riel dan Seira sudah menunggu Keinn selama 5 menit di depan Teras Irina's Bar, orang yang mereka tunggu akhirnya muncul dari balik pintu dengan Zirah tua yang sudah sedikit berkarat dan sebuah Katana yang menempel di pinggulnya, Keinn sudah benar-benar siap untuk membalaskan dendamnya.
"Ikut aku!" kata Keinn sambil berjalan ke halaman belakang Bar nya.
__ADS_1
Riel dan Seira mengikuti Keinn dari belakang, mereka tidak tau akan dibawa kemana oleh Pria bertubuh besar yang dilapisi Zirah di depan mereka. Rupanya, Keinn membawa mereka ke sebuah Kandang Kuda dengan dua ekor Kuda berwarna hitam dan putih di dalamnya, Keinn segera menunggangi Kuda Hitamnya dan memerintahkan Riel dan Seira untuk menggunakan Kuda yang berwarna putih.
"Kalian pakai yang itu." kata Keinn sambil menunjuk Kuda Putihnya.
Riel hanya berdiri terdiam di tempatnya, selama ini Ia hanya belajar bela diri dan tidak pernah menunggangi Kuda sama sekali, hal itu membuatnya tidak tau harus melakukan apa. Untungnya Seira memiliki pengalaman bertualang yang lebih banyak dibanding Riel, Dia segera menaiki Kuda itu saat Ia sadar bahwa Riel ternyata tidak bisa mengendarai Kuda.
"Lain kali akan kuajarkan kau caranya berkuda." kata Seira sambil mengulurkan tangannya kepada Riel dari atas Kudanya.
Riel memalingkan wajahnya, Ia malu mengakui bahwa Seira lebih handal dibandingkannya dalam beberapa hal, sebenarnya itu wajar saja karena Seira sudah lebih dulu berpetualang dibanding Riel. Akhirnya, Riel menggapai uluran tangan Seira dan duduk di belakangnya, Keinn segera memerintahkan Kuda Hitamnya untuk berjalan meninggalkan Irina's Bar dan pergi menuju tempat tinggal Behemoth. Tidak mau ketinggalan, Seira pun memacu Kudanya secepat mungkin, mengejar Keinn yang sudah pergi duluan.
Mereka berjalan lurus ke arah Timur, menuju Gurun yang tak terlihat, tempat dimana Behemoth mendirikan Istananya. Tidak ada perbincangan yang berlangsung selama mereka memacu kudanya, mereka dihantui kengerian yang menanti mereka di ujung Cakrawala. Suara tapal kuda mereka saling bersautan diiringi dengan kicauan-kicauan burung yang berterbangan diatas langit biru, membuat Riel tidak mampu menahan diri lagi untuk berbicara.
"Seira, bisakah kau memacu kudanya lebih kencang? Ada hal yang ingin kutanyakan pada Keinn." ucap Riel dari balik punggung Seira.
"Sesuai permintaanmu, Tuan." Seira memacu kudanya lebih kencang sehingga mereka berjalan sejajar dengan Keinn.
"Ada apa?" tanya Keinn, menoleh ke arah Riel dan Seira.
"Kau sempat bicara soal Guild, apa itu?" balas Riel.
"Hmm" Keinn mengerutkan dahinya, mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Riel. "Guild itu sebuah Organisasi yang berisikan berbagai macam Petualang dari seluruh penjuru Kerajaan Erë. Mereka menjalankan berbagai macam Quest yang diberikan oleh Guild untuk mendapatkan imbalan berupa emas dan barang berharga yang lainnya, sebenarnya bukan cuma Petualang dari Erë yang bisa bergabung kedalam Guild, kalian juga bisa bergabung jika kalian mau. Guild itu berada di Ibu Kota, jadi kalian harus pergi kesana terlebih dahulu jika ingin bergabung."
Riel tersenyum lebar saat mendengar penjelasan Keinn, terlebih saat ia mendengar imbalan berupa emas dan lain lain. Seira yang sudah tau apa yang sedang dipikirkan oleh Riel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak bisa menolak keputusan Riel.
"Sangat!" jawab Riel sambil mengacungkan kepalan tangannya ke udara.
"Kalau boleh tau, darimana kalian berasal?" tanya Keinn sambil memperlambat laju Kudanya.
Riel terdiam seketika, Ia takut Keinn akan berpaling darinya kalau saja Dia tau bahwa Riel berasal dari Kerajaan Shappire, yang bahkan saat ini ia menyandang gelar sebagai anak dari Raja baru di Kerajaan tersebut. Keinn yang melihat wajah kaku Riel menjadi bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang salah dengan pertanyaannya barusan?
"Aku tidak bisa menyebutkannya, Keinn." jawab Riel, seperti kehilangan semangatnya.
Keinn menghela nafas, Ia berkata, "Aku tidak peduli walaupun kau berasal dari Shappire, konflik itu hanya berlaku bagi para Bangsawan, Pemilik Bar sepertiku ini tidak ada hubungannya dengan itu."
Riel tersentak mendengar ucapan Keinn yang dilanjutkan dengan tawanya yang terdengar sangat keras, Ia mengira bahwa Keinn bisa membaca pikirannya, walaupun sebenarnya Keinn sama sekali tidak tau bahwa Riel benar-benar berasal dari Shappire.
"Benarkah?" tanya Riel dengan suara pelan.
"Hah?" Keinn menempelkan telapak tangannya dibelakang daun telinganya, bermaksud agar ia dapat mendengar jawaban Riel lebih jelas.
"Benarkah kau tidak peduli jika aku berasal dari Shappire?" tanya Riel lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih keras.
__ADS_1
"Wah! Padahal aku tidak berniat untuk menebaknya" Keinn tertawa kecil. "Yah, seperti yang aku bilang tadi, aku tidak peduli sekalipun kau berasal dari Shappire. Tapi, Guild tidak akan menerimamu jika kau jujur soal tempat asalmu itu, Kalian justru akan menjadi 'Menu Utama' bagi para Petualang. Lagipula, saat ini kita adalah sebuah Tim yang akan mengalahkan Behemoth Sang Penguasa Daratan."
Riel merasa lega setelah mendengar jawaban dari Keinn. Namun, tiba-tiba saja Keinn menghentikan laju Kudanya, Ia berhenti di depan sebuah Pohon Ek yang sangat besar dengan rantai besi yang melilit setiap dahan dari pohon tersebut. Keinn kemudian turun dari Kuda Hitamnya dan mengikat leher hewan tersebut di sebuah dahan besar yang merambat sampai hampir menyentuh tanah.
"Kita sudah sampai." ucap Keinn.
"Sampai?" tanya Seira yang baru saja turun dari kudanya.
"Ya, dari sini aku akan membuka Portal menuju Gurun tak terlihat dan setelah itu kita hanya perlu berjalan kaki sebentar untuk sampai ke Istana Behemoth." jawab Keinn sambil mengusap batang Pohon Ek di depannya.
"Apa kalian tau sebutan lain untuk Kerajaan Erë selain Negeri Angin?" Keinn membalikkan tubuhnya dan menatap kedua Remaja yang sedang berdiri di belakangnya.
Riel dan Seira hanya menggelengkan kepalanya, tidak tau jawaban dari pertanyaan yang Keinn berikan kepada mereka.
"Selain dikenal dengan sebutan Negeri Angin, Erë juga dikenal dengan Negeri yang dikutuk. Karena selain Sourozenec, masih ada kutukan lain yang bahkan sampai saat ini masih berlaku di Kerajaan Erë, Pohon Ek ini menjadi saksi dari kutukan pertama yang ada di Kerajaan Erë." Keinn mulai bercerita.
"Pada zaman dahulu, di masa kepemimpinan Raja Tanderia pertama, daerah ini masih berada dalam kekuasaan Kerajaan Erë. Saat itu Yang Mulia sedang melakukan kunjungan ke sebuah Desa yang ada di dekat sini, walaupun sekarang Desa tersebut sudah ditinggalkan karena semua penduduknya pindah ke Kota di dekat perbatasan. Yang Mulia datang ke Desa itu dengan sekelompok keluarga Bangsawan menaiki Kereta Kuda, saat mereka sampai di depan Pohon ini, ada seorang Pengemis yang menghentikkan Kereta Kuda mereka untuk meminta sejumlah koin untuknya membeli makan. Lalu, dengan kasarnya seorang Kusir mengusir Pengemis tersebut dengan cara menendangnya hingga Ia terjatuh dan kepalanya membentur batang Pohon Ek ini..."
"...Tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Kusir tadi, Si Pengemis ini mengutuk mereka semua atas perlakuan mereka kepadanya, Ia berkata bahwa setiap kali dahan Pohon Ek ini jatuh ke tanah, maka akan ada seseorang dari keluarga mereka yang meninggal dunia. Namun, rombongan Kerajaan itu tidak mempedulikan Pengemis tadi, mereka melanjutkan perjalanan mereka begitu saja. Sampai saat malam tiba, sebuah hujan badai melanda Desa tersebut, gemuruh petir di atas awan membuat suasana semakin mencekam. Sang Raja yang sedang beristirahat di Kamarnya dikagetkan dengan sebuah cahaya petir yang menyambar Pohon Ek ini, petir tersebut menyambar salah satu dahan dari Pohon Ek ini dan membuatnya patah kemudian terjatuh ke tanah..."
"...Teringat dengan ucapan Si Pengemis, Sang Raja langsung keluar dari kamarnya dan pergi mengecek keadaan para keluarga Bangsawan. Ia benar-benar dibuat terkejut sesampainya di Ruangan para Bangsawan, salah satu Bangsawan di Ruangan itu mati dengan cara yang tidak lazim, tubuhnya tiba-tiba saja terpotong menjadi beberapa bagian, matanya terus melotot dan tidak bisa ditutup lagi dengan cara apapun. Akhirnya, Sang Raja memerintahkan para Prajuritnya untuk mengikat dahan Pohon Ek ini dengan rantai besar ini agar tidak ada lagi dahan yang jatuh dan membuat Bangsawan lain mati dengan cara yang tidak lazim seperti tadi. Dan alasan mengapa perkataan Pengemis tadi menjadi sebuah kutukan adalah karena Behemoth mendengar ucapannya dari balik Gerbang Rahasia yang ada pada Pohon Ek ini."
"Dan setelah kejadian itu, banyak kutukan lain yang muncul di Kerajaan Erë?" tanya Riel dengan ekspresi wajahnya yang begitu tegang.
"Benar, itu semua karena Behemoth, Iblis yang ada dibalik gerbang ini." jawab Keinn.
Keinn mengusap batang Pohon Ek itu dari atas kebawah, dan kemudian muncul sebuah gerbang yang perlahan terlihat semakin jelas di mata Riel dan Seira. Keinn menarik nafas panjang, kemudian merapalkan sebuah mantra yang belum pernah Riel dan Seira dengar sama sekali.
"Hapur de poorten!" Keinn menekan batang pohon tersebut dan berhasil membuka sebuah gerbang yang menjadi jalan satu-satunya menuju Gurun tak terlihat.
Dari balik Gerbang tersebut, mereka dapat melihat sebuah Gurun yang begitu luas membentang, dengan langit yang sangat gelap bagaikan malam tanpa bulan. Keinn melirik ke arah Riel dan Seira, wajah mereka berdua terlihat sangat ketakutan dengan tatapan yang terpaku pada wilayah kekuasaan seorang Iblis penguasa daratan.
"Kalian tidak akan mengurungkan niat kalian datang kemari, kan?" tanya Keinn, meragukan mereka berdua.
Riel menelan ludah, mencoba mengumpulkan semangat dan keberanian yang yang sempat hancur berantakan ketika ia melihat apa yang ada dibalik gerbang di depan matanya.
"Aku siap." jawab Riel.
Keinn melirik ke arah Seira, bermaksud menanyakan hal yang sama seperti yang ia tanyakan pada Riel barusan.
"Aku juga." jawab Seira, sedikit ragu.
__ADS_1
Keinn tersenyum puas mendengar jawaban dari dua orang Petualang Muda yang menjadi Pelanggan pertamanya hari ini. Mereka pun akhirnya berjalan melewati Gerbang tersebut dan berhasil menginjakkan kaki di Gurun tak terlihat.
...****************...