Fate Breaker

Fate Breaker
Harpy


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah. Riel dan Seira sudah mulai melanjutkan perjalanan mereka. Mereka sudah semakin akrab sekarang, Riel bahkan sudah tidak pernah terbayang wajah Aira saat iya melihat Seira. Bagi Riel sekarang mereka benar-benar dua orang yang berbeda.


"Hey, Riel. Sepertinya kau harus beli peralatan baru ya?" Tanya Seira dalam wujud manusianya.


"Huh? Memangnya kenapa?" Jawab Riel sambil membersihkan kotoran di lubang hidungnya.


"Setidaknya cobalah untuk berbicara dengan sopan, Riel!" Seira memalingkan wajahnya saat ia melihat apa yang dilakukan oleh Riel.


"Huh? Kau ini kenapa sih?" Jawab Riel tidak peka.


"Terserah lah!" Seira mengembungkan pipinya tanda ia sedang kesal dengan Riel.


Riel hanya menggaruk kepalanya. Ia tidak mengerti apa yang telah membuat Seira kesal kemudian ia kembali menatap jalan di depannya sambil membersihkan lubang hidungnya yang lain.


"Tenang saja, Seira. Di depan sana seharusnya ada sebuah kota yang cukup besar. Kita bisa istirahat disana selama beberapa hari sambil mencari pekerjaan." Ucap Riel.


Seira sama sekali tidak merespon. Dia hanya diam dan terus berjalan tanpa melirik sedikit pun ke arah Riel.


"Cih, dari ras manapun wanita tetaplah wanita." Keluh Riel.


"Kenapa? Kalau kau sudah tidak mau berjalan bersamaku lagi ya sudahlah." Seira menggunakan sihir transformasinya dan terbang meninggalkan Riel tanpa basa basi.


"Eh? Woy! Ah, sial! Kenapa wanita selalu sulit dimengerti?!" Riel berlari mengejar Seira yang semakin menjauh.


--


30 menit sudah berlalu sejak Riel berlari mengejar seekor elang emas yang terbang dengan santai di atasnya. Tanpa ia sadari kini ia berada di ujung tebing yang sangat tinggi. Langkahnya terhenti, matanya menatap dasar jurang yang gelap tersebut. Gelap, lembab, seperti tak berujung. Riel ingin mengambil jalan memutar tapi ia takut kehilangan jejak Seira yang dengan mudahnya melewati jurang itu dengan wujud elangnya.


"SEIRA!!!" Riel berteriak sekuat tenaga.


Seira yang berhenti dan menoleh ke arah Riel. Tapi yang mata elangnya lihat bukanlah Riel, melainkan sekawanan Harpy yang sedang melesat ke arah Riel.


"Riel!!! Awas!" Seira pun ikut melesat ke arah Riel agar para Harpy itu tidak dapat melukai Riel.


Riel yang baru menyadari bahwa dirinya sedang diincar oleh sekawanan wanita setengah burung itu reflek menghindar saat salah satu kaki Harpy mencoba meraih pundaknya. Namun nasib baik belum berpihak pada Riel. Seekor Harpy yang lain berhasil mencengkram erat kedua tangan Riel dan membawanya terbang menjauhi pinggiran tebing tempat ia berpijak beberapa detik yang lalu. Kalau saja Harpy ini melepaskan cengkramannya, Riel bisa langsung mati karena jatuh dari ketinggian 45 meter.


Seira kembali ke wujud Elf nya tapi kali ini ia memiliki sepasang sayap emas di punggungnya. Ia menggengam sebilah pedang pendek di tangan kanannya dan perisai di tangan kiri. Ia telah siap bertempur. 3 Harpy berterbangan dengan bebas dan 1 Harpy membawa Riel dalam cengkramannya.


"Kemarilah, Merpati!" Ejek Seira.


"Hanya seorang Elf muda tapi berani-beraninya menantang kami." Jawab seekor Harpy yang berada di tengah barisan. Sepertinya dia ketua dari kawanan Harpy tersebut.


"Hey! Asal kalian tahu, ya. Aku ini akan menikah, jadi jangan perkosa aku dengan tubuh unggasmu itu." Oceh Riel yang sudah mulai lelah berada dalam cengkraman Harpy.


"Bocah manusia ini tidak kalah berisiknya." Jawab Harpy yang terus mencengkram lengan Riel dari tadi.


Para Harpy ini memang memiliki paras wajah yang cantik. Dilengkapi dengan lekukan tubuh yang ideal yang bisa membuat siapapun tergoda melihatnya jika saja sebagian badannya tidak tertutup oleh bulu berwarna coklat itu.


"Riel! Meledaklah, aku akan menangkapmu!" Seru Seira.


"Ah, meledak membutuhkan banyak tenaga, Seira. Aku sedang malas melakukan itu." Jawab Riel lemas.


"Hey Hey! Bisa bisanya kau bermalas malasan dalam cengkraman Harpy jelek itu." Ketus Seira.


"Kau cemburu?" Riel tersenyum meledek.


"Kumohon, Riel. Kita tidak sedang bercanda!"


Para Harpy terlihat kebingungan dengan obrolan dua remaja tersebut.


"BERISIK!" Harpy yang membawa Riel mengencangkan cengkramannya hingga membuat tangan Riel terluka.


"Agh! Hey, aku bahkan tidak menyerangmu. Dasar burung bodoh!" Riel mulai serius sekarang.


"Habisi mereka!" Perintah ketua Harpy sambil mengibarkan sayapnya.


"Sphërtyes." Riel melafalkan mantra ledakan sambil berbisik.


BOOM!


Kaki Harpy yang mencengkram tangan Riel terkena luka bakar yang sangat parah. Riel terlepas dari cengkramannya dan mulai meluncur ke dasar jurang.


"Kau akan menangkapku, bukan?" Seru Riel.

__ADS_1


Seira bersiap menyusul Riel yang sudah berada di pertengahan tebing bersiap menghantam tanah. Namun, para Harpy tidak semudah itu melepaskan Seira. Mereka melesat bersamaan dan bertubrukan dengan Seira hingga membuatnya terpental dan kehilangan keseimbangan.


"Shpejtësi." Riel melafalkan mantra kecepatan tepat sebelum tubuhnya membentur pohon dibawahnya. Tangannya dengan cepat meraih tangkai pohon tersebut dan tubuhnya berputar kemudian dengan cepat kakinya berpijak pada tangkai tersebut lalu kembali melesat keatas menuju para Harpy.


"Hai." Riel sudah berada di hadapan salah satu Harpy dengan busur yang sudah siap untuk melepaskan anak panahnya.


Shoot!


Riel sengaja membelokan busurnya dan memilih menembak sayap makhluk tersebut dibandingkan menembak kepalanya.


Makhluk itu merengek kesakitan dan terbang kesana kemari karena kehilangan keseimbangan akibat luka yang diberikan Riel pada sayap kirinya.


Seira langsung mengambil kesempatan itu untuk menangkap Riel dan kabur dari pertarungan itu.


"Hey!" Keluh Riel.


"Kita kalah jumlah, Riel." Jawab Seira singkat.


"Cihh..." Riel memonyongkan bibirnya tanda kekecewaannya karena tidak bisa menyelesaikan pertarungannya dengan para Harpy.


Setelah merasa cukup jauh, Seira menurukan Riel di sebuah reruntuhan kuil di tengah hutan. Mereka beristirahat di altar kuil tersebut. Terdapat sebuah patung setinggi 3 meter yang masih terlihat sangat kokoh dan tidak rusak sedikitpun. Mereka memandangi altar tersebut dari sudut ke sudut hingga akhirnya mereka bisa memastikan bahwa para Harpy tidak mengejar mereka.


"Buka bajumu, Riel." Ucap Seira tiba-tiba.


"Ehh?! Ka-kau... ini bukan waktunya..." Wajah Riel memerah seketika.


"Apanya? Aku ingin mengobati lukamu bodoh!" Jawab Seira kesal.


"Ohh maaf." Jawab Riel sambil menahan rasa malu.


Riel membuka bajunya. Kini Seira dapat melihat otot-otot di tubuh Riel yang terbentuk berkat latihan selama bertahun-tahun yang selama ini tertutup oleh pakaian. Meski umurnya sudah ratusan tahun, Seira baru pertama kali melihat tubuh laki-laki secara langsung bahkan sampai menyentuhnya seperti saat ini. Seira mencoba menahan gejolak yang ada di hatinya saat ini dan berusaha untuk tetap fokus mengobati luka di tangan Riel dengan sihir pemulihannya.


"Maafkan aku." Ucap Seira sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa kau meminta maaf?" Jawab Riel bingung.


"Aku malah marah dan meninggalkanmu hanya karena kau mengupil."


"Tu-tunggu. Jadi kau marah hanya karena itu?" Riel tak percaya dengan ucapan Seira barusan.


"Ehehe apanya?! Aku khawatir, bodoh! Kukira aku mengatakan sesuatu yang tidak kau suka sampai kau marah seperti itu!" Protes Riel sambil memegang kepala Seira dan menolehkannya ke wajah Riel.


"A-" Wajah Seira memerah.


Mata mereka saling bertatapan, wajah keduanya pun begitu dekat sampai-sampai Seira bisa merasakan hembusan nafas Riel.


"Riel." Seira memalingkan matanya ke arah lain.


"Umm, maaf." Riel mundur beberapa langkah dan bersandar ke dinding kuil.


"Dulu aku pernah bertualang dengan manusia sebelum dirimu." Ekspresi Seira mendadak berubah.


Riel tak menjawab. Hanya fokus mendengarkan dengan tenang.


"Dia orang yang baik. Aku banyak belajar darinya. Cara bertahan hidup di alam liar, cara menilai seseorang itu baik atau tidak. Aku belajar darinya. Saat itu aku diculik oleh organisasi penyihir. Mereka mencoba untuk membunuhku hari itu. Tapi ia datang menyelamatkanku. Lalu mengajakku untuk pulang ke desa. Tapi aku tak mau, karena mungkin ia yang akan di bunuh oleh para elf di desaku. Jadi aku minta ia untuk mengajakku berpetualang bersamanya. Akhirnya ia menyetujuinya setelah saling beradu argumen denganku."


"Lalu kemana orang itu sekarang?" Tanya Riel saat Seira berhenti bercerita.


"Mati."


Hening seketika. Riel nampaknya menyesal sudah menanyakan hal tersebut pada Seira.


"Umur elf dan manusia sangat berbeda. Saat itu aku baru berumur 25 tahun dan dia seumuran denganku. Tapi pertumbuhan kami sangat berbeda. Dia mati di umur 60 tahun karena sakit. Aku menemaninya saat ia menghembuskan nafas terakhirnya. Dia mengatakan sebuah hal yang tak kumengerti saat itu. Dia bilang kalau dia mencintaiku. Tapi kini aku sudah mengerti maksud kata-katanya. Andai saja-" Air mata Seira mulai mengalir di pipi tirusnya.


"Andai saja ia mengatakannya dari awal. Aku pasti bisa membuatnya agar tetap hidup bersamaku sampai sekarang. Aku bisa membawanya ke ketua elf desaku agar merubahnya menjadi bangsa elf seperti kami. Mengapa takdir sekejam itu." Pipi Seira sudah di penuhi air mata sekarang. Suaranya sedikit tercekat.


"Mempertemukanku dengan cinta namun tak membiarkanku merasakannya. Aku mengerti apa itu cinta saat ia sudah tiada. Mengapa aku terlalu bodoh untuk menyadarinya saat itu?"


"Seira, tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan. Kepergiannya juga memberimu sesuatu yang berharga dan bisa kau pakai sampai saat ini bukan? Aku mungkin tak sehebat dirinya. Tak sebaik dirinya juga. Tapi sebisa mungkin aku akan menjadi partner yang hebat untukmu. Jadi berhentilah menangis jika kau masih mau berpetualang denganku." Riel menunjukkan senyuman yang hangat.


"Tapi jangan coba-coba untuk jatuh cinta padaku ya Seira." Senyuman Riel berubah menjadi wajah yang menyebalkan.


"Bodoh. Kau ingin menjadi orang kedua yang mati dihadapanku sebelum kita menikah?" Jawab Seira sambil mengucap air matanya.

__ADS_1


"Hahaha aku takkan mati semudah itu. Jadi kau yang harus bertahan hidup agar bisa sampai di desamu dan menemukan pria elf yang bisa kau nikahi."


"Jika aku mengundangmu di pernikahanku nanti, berjanjilah untuk tak menggunakan sihir ledakanmu di tengah resepsi ya?"


"Jika aku mengundangmu juga di pernikahanku nanti, berjanjilah agar tidak membawa pasukan burung elang yang menjatuhkan kotoran dari langit di tengah resepsi ya?"


Suasana kembali ceria. Isak tangis Seira sudah berubah menjadi tawa geli karena ucapan-ucapan bodoh yang keluar dari mulut Riel. Riel memang pandai membuat lawakan-lawakan yang bisa membuat Seira tak bisa berhenti tertawa. Tapi sebenarnya itu hanya ucapan Riel yang ia katakan tanpa pikir panjang.


Tanpa mereka sadari, matahari sudah mulai tenggelam diluar sana. Mereka memutuskan untuk bermalam di kuil tersebut. Riel segera berlari menuju hutan untuk berburu saat tangannya sudah pulih. Begitupun Seira yang bergegas mengumpulkan kayu bakar.


---


Di kerajaan Sapphire.


Meja di ruang tengah istana saat ini di penuhi oleh menteri-menteri kerajaan. Mereka merapatkan pengejaran Riel yang belum berhasil hingga sekarang.


"Jadi kemana kah rute pengejaran selanjutnya? Berdasarkan kabar yang sedang hangat, saat ini ada seorang petualang muda bersyal hitam yang menggunakan busur panah sebagai senjatanya. Kalau kita lihat dari ciri-cirinya, itu mungkin saja Riel si aib kerajaan. Menurut kabar juga petualang itu sedang menuju ke kerajaan Datraoch. Ini pertanyaannya. Misalkan benar petualang itu adalah Riel, untuk apa dia pergi ke Datraoch? Ia sedang menjadi buronan disini dan dia kabur menuju tempat sekutu musuhnya? Bodoh sekali." Ucap salah satu menteri yang bertugas mengumpulkan informasi dari wilayah-wilayah lain di luar kerajaan.


"Itu benar-benar Riel." Curze mengacungkan tangannya.


"Yang mulia Liveda, ingatkah anda tugas yang diberikan Raja Legnasio pada keluarga pedagang kaya raya di Sapphire?" Curze lanjut bertanya kepada Ratu.


"Tentang perluasan perdagangan Sapphire? Yang memerintahkan keluarga tersebut pindah ke Datraoch?" Tebak Ratu.


"Ya, keluarga itu adalah tetanggaku dulu. Dan anak dari keluarga itu adalah sahabat Riel dari kecil. Ia sempat menanyakan kapan sahabatnya itu akan kembali ke Sapphire. Lalu aku memberitahunya yang sebenarnya."


"Jadi ia ingin memulai kisahnya sebagai petualang yang ingin menemui kembali sahabatnya?" Sang ratu terkikik geli.


"Namun ceritanya takkan berakhir indah yang mulia. Karena ajal akan lebih dulu menemuinya sebelum ia menemui sahabatnya." Ucap simon yang juga hadir dalam rapat hari itu.


"Baiklah, segera kirim pasukan untuk melakukan pengejaran. Berhentilah di desa maupun kota sepanjang jalan menuju Datraoch. Dia selalu singgah di suatu tempat. Gunakan kereta kuda terbaik kalian. Sekarang pergilah dan bawa pulang aib itu hidup-hidup." Titah sang Ratu.


Pasukan dengan skala besar berangkat dari Sapphire menuju tempat-tempat yang telah di tentukan dengan kereta kuda mereka. Pasukan tersebut diberangkatkan saat malam hari agar penduduk tidak tau apa yang sudah terjadi di keluarga kerajaan.


Sementara itu, seorang gadis kecil dengan rambut panjangnya yang berwarna kelabu itu sedang memeluk ibunya dengan erat.


"Bu, kapan kakak pulang? Kemana kakak pergi sebenarnya?" Tanya Theresa adik Riel kepada ibunya yang sedang melamun menatap langit malam.


"Kakak sudah menentukan jalannya sendiri, ibu yakin dia akan baik-baik saja. Sudahlah. Lebih baik  kau doakan semoga kakak selamat dan segera pulang lalu pergi tidur." Wajah ibu Riel tampak tenang setelah semua hal yang terjadi.


"Baiklah bu." Jawab Theresa tak banyak membantah.


"Ayo ibu antar kau ke kamarmu dan akan ibu ceritakan sebuah dongeng sebelum kau tidur."


Wanita berumur 30 tahunan dengan rambut hitam panjang terurai itu mengantar anak perempuannya ke kamar tanpa menunggu lama.


---


"HAAACHOOO!" Riel bersin sangat kencang saat ia sedang merapikan kayu bakar untuk ia dan Seira memasak makan malam.


"Kau tidak enak badan Riel?" Tanya Seira yang sedang menyiapkan tempat untuk mereka beristirahat.


"Ah, tidak. Aku tiba-tiba saja bersin."


"Sepertinya ada yang sedang membicarakanmu. Hmmm, mungkin saja itu Aira yang sedang merindukanmu hehe." Seira menunjukan senyuman meledek ke arah Riel.


"Cih, akhir-akhir ini kau berani meledekku ya." Riel melempar salah satu ranting di tangannya.


"Haha. Jangan anggap aku hanya gadis elf yang bisa memujimu ya." Seira melempar ranting itu kembali.


"Tapi jangan harap kau bisa menggantikan posisi Aira. Dia tetap nomor satu bagiku."


"Haha siapa juga yang mau hidup bersama petualang lemah yang selalu mengandalkan seekor elang emas untuk meningkatkan akurasi tembakannya." Jawab Seira tanpa merasa bersalah.


"Sesekali aku ingin tau rasa burung bakar." Celetuk Riel sambil menyerahkan daging hasil buruannya.


"Sebelum kau merasakannya, aku akan lebih dulu merasakan daging manusia bakar."


"Dasar kanibal."


"Maaf ya, Petualang. Aku bukan manusia haha."


"Sial. Aku lupa hahaha"

__ADS_1


Makan malam mereka penuh dengan obrolan seperti biasanya. Suara serangga meramaikan malam mereka. Percikan api unggun pun terus melayang ke udara menghangatkan suasana.


---


__ADS_2