
Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di Padang Rumput itu sambil menunggu Miki sadarkan diri.
"Aku kenal seorang Saint yang mungkin bisa membantu kita menyelamatkan Miki." Ucap Seira memecah keheningan.
"Lalu?" Balas Riel singkat.
"Aku akan pergi menemuinya. Bisakah kau menjaga Miki untuk sementara?"
"Hmm aku tidak terlalu akrab dengan anak kecil. Tapi akan kuusahakan." Jawab Riel.
"Kalau begitu aku berangkat sekarang. Mohon bantuannya ya!" Seira berubah menjadi seekor Elang Emas dan terbang meninggalkan mereka berdua.
Seira sudah terbang selama 20 menit. Ia sudah melewati banyak desa kecil, hutan dan rawa. Kini ia dapat melihat sebuah Kastil yang berdiri kokoh di kejauhan. Disanalah tempat seorang Saint yang Seira maksud.
"Roh yang terjebak di dunia fana, apakah ia termasuk seorang Undead? Tapi dia tidak memiliki jasad. Ahh, aku benar-benar tidak mengerti dengan hal seperti itu." Gumam Seira.
Seira mendarat di Kastil yang terletak diatas sebuah bukit yang cukup tinggi. Dinding Kastil tersebut sudah berlumut, namun masih terlihat sangat kokoh. Seira berjalan masuk kedalam dengan wujud manusianya, ia nampaknya sudah sangat hafal dengan seluk beluk Kastil tersebut sampai akhirnya ia sampai di depan sebuah pintu besar yang dipenuhi dengan ukiran huruf kuno.
"Zobute! Ini aku, Seira." Seira meneriakkan nama Saint yang ia sebutkan kepada Riel beberapa waktu lalu.
"Ucapkan kata sandinya." Balas seseorang dengan suaranya yang cukup serak dari balik pintu.
"Kesucian adalah anugerah" Jawab Seira.
Orang itu tidak menjawab.
"Dëlirësia është një dhuratë" Lanjut Seira.
Masih tidak ada jawaban. Tapi, pintu besar yang ada di hadapan Seira mulai bergetar dan perlahan terbuka. Terlihat seorang pria tua dengan rambut panjangnya yang sudah memutih menyambut Seira dengan senyuman hangat dari seorang kawan lama.
"Seira!" Zobute merentangkan tangannya, menawarkan sebuah pelukan kepada Seira.
"Halo, Pak Tua." Seira menghampiri Shen dan memeluknya.
"Ada apa? Sudah lama sekali kau tidak kesini sejak kejadian itu." Zobute melepaskan pelukannya dan menatap Seira heran.
"Roh gentayangan, aku bertemu dengan seorang roh anak kecil yang berasal dari Aramas. Dia tidak sadar bahwa dirinya sudah mati, bahkan dia mengira tragedi Aramas itu baru saja terjadi malam ini. Apa kau bisa membantuku mengembalikan jiwanya ke alam baka?" Tanya Seira dengan tatapan penuh harap.
"Ini akan sangat panjang. Kau masih punya waktu untuk sedikit mengobrol denganku, bukan?" Zobute berbalik dan bersiap untuk pergi dari tempat itu.
"Ya" Jawab Seira singkat.
"Kalau begitu, ikuti aku" Zobute melangkahkan kakinya dan masuk ke sebuah ruangan disusul oleh Seira di belakangnya.
Ruangan itu sangat luas dan dipenuhi dengan buku yang berserakan dimana-mana. Zobute menarik sebuah buku yang ada di rak besar di hadapannya. Kemudian, rak buku besar itu bergetar dan mulai berputar, membukakan sebuah jalan yang belum pernah Seira lihat selama ia mengenal Zobute.
"Aku belum pernah melihat tempat ini." Ucap Seira sambil menuruni tangga di lorong rahasia tersebut.
"Tentu saja. Tempat ini hanya kugunakan untuk mencari pengetahuan yang belum kuketahui." Jawab Zobute sambil menyalakan lilin yang berjajar sepanjang lorong dengan sihirnya.
"Seorang penyihir nomor 2 di dunia bahkan masih punya sesuatu yang tidak diketahui?" Tanya Seira.
"Aku tidak akan menjadi nomor dua kalau aku tau semua pengetahuan, dan tolong bedakan Penyihir dengan Saint." Protes Zobute.
"Hahaha memang apa bedanya penyihir dengan saint?" Seira menepuk pundak Zobute.
"Penyihir itu mempelajari sihir dengan segala cara, sedangkan Saint hanya mempelajari sihir suci yang diperbolehkan oleh dewa." Zobute menjelaskan kepada Seira sambil membuka sebuah pintu menuju ruangan rahasianya.
"Baiklah, kita sampai." Zobute mempersilahkan Seira masuk terlebih dahulu.
Ruangan itu justru terlihat sangat sederhana dibanding ruangan sebelumnya. Hanya ada sebuah rak buku yang sudah berdebu, dua buah kursi dan satu meja kecil di depannya.
"Eh?" Seira terlihat bingung melihat ruangan sempit itu.
"Ada apa?" Tanya Zobute sambil mengacak-acak barisan buku di rak.
"Ruangan sebelumnya memiliki banyak buku dari seluruh penjuru dunia, lho" Ucap Seira sambil menunjuk ke arah lorong yang menuju ruangan utama.
"Aku sudah membaca dan mengingat semua buku yang ada disana." Jawab Zobute yang masih asyik dengan rak bukunya.
Seira reflek menelan ludah saat mendengar jawaban kawan lamanya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa ada seseorang yang bisa menghafal ribuan buku yang tersusun dalam rak besar itu.
"Aku jadi penasaran. Kalau kau mengetahui banyak hal, mengapa kau tidak menggunakan sihir yang membuatmu tetap awet muda? Itu yang kebanyakan manusia inginkan, bukan? Sebuah keabadian." Seira mengangkat sebelah alisnya.
"Aku lebih tua darimu, Seira." Jawab Zobute yang akhirnya menemukan buku yang ia cari.
"Dalam perhitungan umur manusia?" Tanya Seira.
"Tidak, dalam perhitungan umur Elf. Kau kira aku hanya seorang kakek tua berumur 70 tahunan?" Jawab Zobute.
"Emm... seperti itulah." Balas Seira sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
__ADS_1
"Umurku sekarang 218 tahun. Apa ini sudah cukup tua untuk seorang manusia, huh?" Zobute tersenyum menyombongkan diri.
Lagi-lagi Seira terdiam mendengar jawaban Zobute yang tidak ia sangka-sangka. Zobute tertawa puas melihat ekspresi Seira, kemudian ia duduk dan mulai membaca bukunya.
"Duduklah, aku butuh sekitar lima menit untuk menyelesaikannya." Ucap Zobute tanpa memalingkan pandangannya dari lembaran kertas di pangkuannya.
"Li-lima menit? Untuk buku setebal itu? Kau benar-benar membuatku ingin pingsan, Zobute." Seira menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Hahaha kalau begitu kuperbolehkan kau membaca salah satu buku yang ada di ruangan ini. Tapi, aku tidak bertanggung jawab akan resikonya." Zobute benar-benar fokus dengan bukunya.
"Baiklah baiklah." Balas Seira sambil mulai menelusuri isi rak buku di ruangan rahasia tersebut.
Hampir semua buku yang ada di rak tersebut memiliki ketebalan yang sama, sekitar 5 cm. Kebanyakan buku di rak itu pun tidak berjudul, hanya lembaran-lembaran yang dibungkus sampul yang memiliki simbol-simbol aneh.
Seira melirik sebuah buku yang lebih tipis dibanding buku lainnya, ia meraih buku tersebut dan terdiam sejenak ketika ia melihat gambar wanita berpakaian minim dengan pose yang tidak senonoh di sampulnya.
"Zobute, apa ini?" Tanya Seira tanpa memalingkan pandangannya dari buku itu.
"Itu buku dari masa depan. Tepatnya dari abad ke-21, mereka menyebutnya Majalah Dewasa. Apa kau menyukainya?" Balas Zobute yang sudah hampir selesai membaca buku di pangkuannya.
"Masa depan? Mengapa orang-orang di masa depan melakukan hal seperti ini?" Tanya Seira sambil membolak balik halaman majalah dewasanya.
"Mereka dibayar. Dengan menunjukkan bentuk tubuhnya yang ideal, itu akan menarik perhatian dari lawan jenis dan semakin banyak lawan jenis yang menyukainya maka ia akan semakin banyak mendapatkan bayaran." Jawab Zobute sambil menutup bukunya.
"Menjijikan." Seira meletakan kembali majalah itu di tempatnya kemudian duduk di samping Zobute.
"Roh itu harus mewujudkan impiannya saat ia masih hidup. Misal, ia ingin pindah rumah ke kota lain, maka ia harus pindah ke kota tersebut agar jiwanya bisa tenang." Zobute mengusap jenggot putihnya.
"Tapi dia tidak punya raga lagi, rumahnya bahkan sudah habis terbakar. Kau tau kan bagaimana Aramas berakhir?" Protes Seira.
"Aku tau, tapi semua orang pasti punya benda favoritnya sendiri, bukan?" Balas Zobute dengan tenang.
"Benda favorit?" Seira mengernyitkan dahi.
"Ya. Benda itu punya kenangan dari pemiliknya, dan kenangan itulah yang bisa mengantarkan Roh itu ke alam baka." Jawab Zobute.
"Jadi aku harus menemukan benda favoritnya kemudian mewujudkan impiannya?" Tanya Seira memastikan.
"Tepat." Jawab Zobute.
"Hmm, aku mengerti." Seira menganggukkan kepalanya lalu berdiri dari kursinya.
"Kau mau langsung pergi?" Tanya Zobute murung.
"Akhirnya kau jatuh cinta lagi setelah sekian lama, ya?" Zobute tersenyum meledek.
"Ti-tidak! Bu-bukan begitu, Bodoh!" Wajah Seira memerah.
"Hahaha kau memang tidak berbakat jika berbohong tentang perasaanmu." Zobute menepuk pundak Seira.
"Untung saja dia tidak peka." Balas Seira.
"Suatu saat pasti tersampaikan, asal kau membuang gengsimu itu." Zobute tertawa lepas.
Seira mengembungkan pipinya kesal. Dia pun berpamitan kepada Zobute dan bergegas kembali ke tempat Riel.
Sementara itu, Riel dan Miki justru asyik mengobrol dengan para Prajurit Shappire yang diikat oleh Seira di sebuah batu besar.
"Asal kalian tau ya, aku sendiri tidak suka dengan posisiku saat ini. Anak dari seorang Raja Haram, huh?" Ucap Riel.
"Lalu, mengapa kau membunuh penduduk yang tidak bersalah?" Tanya Si Gadis Pirang.
"Tunggu sebentar. Apa kalian tau ada sebuah pergerakan yang mencoba untuk menggulingkan takhta ayahku?" Balas Riel.
"Alasan! Mana mungkin ada pergerakan seperti itu, semua orang pasti menerima keputusan Yang Mulia Legnasio." Jawab Gadis Pirang itu.
Riel menghela nafasnya dan mengeluarkan sebuah syal hitam milik salah satu bawahan Simon.
"Kau tau syal ini? Mereka menggunakan ini saat mengepungku di hutan. Mereka mencoba membunuhku, apa salahnya jika aku mencoba melindungi diri? Lagipula, aku membunuhnya dengan belatiku sendiri, mereka menggunakan belati kerajaan hanya agar aku mati di tangan hukum." Riel menjelaskan pada gadis itu.
Gadis itu terdiam, ia merasa pernah melihat syal yang sama di rumahnya.
"Aku sama sekali tidak berbohong, lho. Jika kalian mau percaya silahkan percaya, kalian tidak percaya pun aku tidak peduli. Aku hanya ingin menemui seseorang di Datraoch, tidak lebih." Lanjut Riel.
"Airayle?" Tanya Gadis itu yang membuat Riel terdiam.
"Kau mengenalnya?" Tanya Riel terheran-heran.
"Harusnya aku yang bertanya mengapa kau tidak mengenalku." Balas Gadis itu kesal.
"Eh?" Riel memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Eri?" Tebak Riel.
"Dasar!" Eri memalingkan wajahnya.
"Hey hey tunggu dulu. Kau benar-benar Eri?" Tanya Riel memastikan.
"Bisa-bisanya kau hanya mengingat Aira. Kau menyukainya, hah?" Ketus Eri.
"Aku mencintainya." Jawab Riel.
Seira yang baru saja sampai mendengar ucapan Riel yang sangat menyakiti hatinya, ia mencoba untuk menahannya dan berjalan mendekati Riel.
"Kau sudah menemukan caranya?" Tanya Riel saat Seira sudah berdiri di sampingnya.
"Yeah." Jawab Seira dingin.
"Mengapa kau berteman dengan Elf? Apa kau mau mengkhianati umatmu sendiri?" Tanya Eri.
"Memangnya apa salahnya berteman dengan seorang Elf? Lagipula, Seira tidak jahat sedikitpun. Dia sangat baik, dia bahkan menyelamatkanku beberapa kali, aku banyak berhutang budi kepadanya, jika saja aku tidak bertemu dengannya, aku tidak tau apa aku bisa menginjakkan kaki disini sekarang." Protes Riel.
"Tetap saja, Elf sudah memusnahkan separuh bangsa kita dulu. Seharusnya kita sebagai manusia tidak boleh membiarkan seorang Elf hidup dengan tenang!" Eri tidak mau kalah.
"Terserah! Aku akan terus bersamanya, jika kalian berani melukainya, aku tidak akan segan untuk melawan seluruh umat manusia seorang diri." Jawab Riel geram.
Rasa sakit di hati Seira hilang begitu saja, ia merasa bahagia mendengar ucapan Riel yang menganggapnya sangat berharga.
"Ayo pergi dari sini." Riel bangun dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Erii dan para Prajurit lainnya di batu itu.
Eri menatap Seira dengan tatapan sinis. Seira membalasnya dengan senyuman lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kita mau kemana, kak?" Tanya Miki yang hanya menyimak percakapan Riel dari tadi.
"Desamu." Jawab Seira.
"Eh? Tapi disana banyak Undead yang berkeliaran." Miki terlihat khawatir.
"Kakak itu sangat kuat, kok. Dia pasti bisa mengalahkan mereka semua." Jawab Seira sambil mengacungkan kepalan tangannya.
"Jika aku besar nanti, aku ingin mengalahkan para Undead itu." Balas Miki penuh semangat.
"Apakah itu impianmu?" Seira menatap Miki penasaran.
"Ya! Aku ingin sekali memburu para Undead." Jawab Miki penuh semangat.
"Kalau begitu, kami akan membantumu." Ucap Riel sambil menunjukkan senyuman lebarnya.
"Terima kasih, Kak Riel, Kak Seira." Miki membalas senyuman Riel.
Sudah 10 menit mereka berjalan di padang rumput itu. Kini mereka dapat melihat sebuah reruntuhan dari sisa bangunan Desa Aramas yang sudah berlumut.
Miki bersembunyi dibelakang Seira, yang ia lihat saat ini adalah desanya diselimuti api yang membara.
"Aku takut." Ucap Miki gemetaran.
"Kalau begitu, kau tunggu di tempat aman dan biarkan kami yang akan membunuh para Undead itu, bagaimana?" Ucap Riel mencoba menenangkan Miki.
"Bolehkah?" Tanya Miki dengan berat hati.
"Boleh, keselamatanmu itu sangat penting. Tapi tolong beri tahu aku apa benda favoritmu." Jawab Seira.
"Benda?" Mikir mengerutkan dahinya.
"Ya, benda yang paling kau sukai, yang menurutmu paling berharga." Jawab Seira.
"Hmm, kalung pemberian ayah. Kalung itu sangat berharga bagiku, tapi aku menghilangkannya saat kabur dari serangan Undead." Balas Miki murung.
"Bagaimana ciri-cirinya?" Kali ini Riel yang bertanya.
"Hmm, entah kenapa aku agak lupa bentuknya, yang aku ingat hanya ada taring Lycan-"
"Lycan? Maksudmu manusia serigala?" Riel memotong penjelasan Miki.
"Iya semacam itu." Jawab Miki.
"Baiklah, aku sudah paham garis besarnya." Ucap Seira.
Reruntuhan Aramas sudah terlihat sangat jelas di hadapan mereka. Miki sama sekali tidak berani melihatnya karena di matanya terlihat kobaran api yang membara diatas rumah-rumah penduduk desa. Ingatannya masih terjebak dalam kejadian malam itu, malam dimana ia kehilangan nyawanya.
"Kau tunggu disini saja, kami akan segera kembali, oke?" Ucap Seira dengan senyum percaya diri.
"Baiklah. Jaga diri kalian baik-baik!"
__ADS_1
---