Fate Breaker

Fate Breaker
Sihir Itu Nyata


__ADS_3

Setelah menerima tugas dari Lularia, Riel menuju hutan Giganus yang dibicarakan oleh Lularia.


Hutan tersebut ada di depan desa Pemë. Mungkin Riel akan kembali melewati hutan ini saat ia sudah mendapat imbalan dari Lularia.


Hutan Giganus ini lebih berkabut dari hutan yang Riel lewati sebelum singgah di desa Pemë. Pepohonannya lebih lebat dan besar. Riel pun tak merasakan adanya tanda hewan yang bisa diburu untuk bahan pangan.


"Jadi apa yang harus aku berikan kepada Lularia? Disini bahkan tidak ada hewan yang bisa diburu." Gumam Riel bingung.


Krsssskkk krrssskk


Semak-semak di belakang Riel mengeluarkan suara khas nya. Riel langsung membidikkan busurnya ke arah semak tadi.


"Pemburuan dimulai!" Riel menarik busur panahnya dan melepaskan anak panah ke arah semak tadi.


Shoot!


Sepertinya anak panah Riel tidak mengenai apapun dibalik semak. Riel menghampiri tempat jatuhnya anak panah.


Tak ada apapun disana. Hanya sebuah anak panah yang menancap di tanah.


"Kemana perginya? Hmm memangnya tadi ada hewan apa di balik semak? Haha bodoh, aku bahkan tak melihatnya. Hanya mendengar suara dari semak ini." Riel memungut kembali anak panahnya dan...


Bugh!


Riel terlempar jauh dari tempatnya berdiri dan terbentur pohon besar di belakangnya.


Pandangannya buram. Hanya terlihat sosok tinggi dengan badan besar penuh bulu di hadapan Riel sekarang. Riel mengusap matanya. Lalu nampak jelas kini makhluk yang ada di hadapannya adalah seekor Minotaurus.


Dengan tinggi sekitar 3 meter, tubuh berotot penuh bulu dan sebuah palu raksasa di tangannya. Minotaurus itu menyemburkan uap panas dari hidungnya yang kembang kempis.


Riel terdiam menatap makhluk itu. Kini dalam benaknya diisi banyak pertanyaan. Mengapa dongeng yang selalu di ceritakan ibu menjadi kenyataan sekarang? Atau memang semua dongeng yang ibu ceritakan adalah kenyataan?


Minotaurus mengangkat palu raksasa di tangannya dan bersiap untuk melancarkan serangan kedua.


Riel tersadar dari lamunannya dan langsung berguling untuk menghindari serangan Minotaurus.


BRAAKK!


Satu pohon besar tumbang dalam sekali pukul.


Riel menyiapkan busur panahnya dan berlari mencari posisi yang tepat untuk menyerang.


Shoot!


Panah-panah Riel melesat dan bersarang di tubuh Monster itu. Namun monster itu tetap bergerak mengejar Riel seolah ia tak merasakan apapun dari serangan Riel.


"Tidak mempan? Yang benar saja!" Riel panik.


Pukulan demi pukulan telah dilancarkan. Pertarungan ini berat sebelah. Riel yang hanya bisa menghindar harus melawan seekor Minotaurus yang kebal akan segala serangannya.


"Lalu bagaimana aku mengalahkannya. Sial! Andai saja aku punya sebuah pedang. Aku akan melawannya dari dekat."


Riel terus menghindar sambil menyusun sebuah strategi agar bisa mengalahkan monster itu.


BRUGGH!


Kali ini Riel gagal menghindari serangan sang monster dan membuatnya lagi-lagi terpental sangat jauh.


"AAAH SAKIT! DASAR BANTENG SIALAN!" Riel mengeluarkan belatinya dan berlari ke arah Minotaurus.

__ADS_1


"Hap!" Riel melompat kearah minotaurus sambil menghunuskan belatinya.


BRUGH!


Sia-sia. Riel malah mendapat satu serangan fatal pada tangan kanannya.


Monster tersebut mendekati Riel. Palunya terangkat tepat di atas kepala Riel dan siap untuk menghancurkannya dalam sekali serang.


"Jika semua cerita ibu benar. Seharusnya mantra ini juga bisa di gunakan." Riel merapalkan sebuah mantra dengan suara tercekat.


"Spë-rthy-es..."


BOOM!


Tubuh Riel diselimuti cahaya merah. Sebuah ledakan hebat terjadi begitu saja.


Burung-burung beterbangan dan memenuhi langit di atas hutan Giganus. Gumpalan debu menghalangi pandangan Riel.


Dia bingung apa yang terjadi barusan.


Riel mencoba berdiri dengan sisa tenaganya. Ia terkejut melihat keadaan di sekelilingnya. Semuanya hangus terbakar. Kini Riel bediri di sebuah kawah kecil bekas ledakan.


"Apa yang terjadi barusan? Apa aku mengeluarkan sihir? Apa sihir ledakan yang ibu ceritakan juga nyata?" Kepalanya benar-benar dibingungkan dengan semua yang ia alami.


Riel terlalu sibuk dengan pikirannya hingga ia tak sadar kalau Minotaurus yang ia lawan belum kalah.


"Oh sial, ternyata dia kuat juga. Hmph, sepertinya tidak ada salahnya jika aku mencoba mantra-mantra yang ku ingar dari beberapa dongeng ibu." Riel kembali pada posisi bertarungnya. Kali ini ia tak menggunakan busur panahnya melainkan belati.


"shpejtësi, forcë, vdekje." Riel kembali merapal mantra yang ia ingat dari cerita ibunya.


Kekuatan mengalir dalam diri Riel. Ia merasa lebih cepat dan kuat. Ia pun merasakan hasrat membunuh yang sangat membara.


Riel meluncur ke arah minotaurus secepat angin. Tubuhnya bertubrukan dengan sang monster bersamaan dengan menacapnya belati di jantung minotaurus.


Tak cukup menghunuskan belati ke jantung si monster, Riel mencabik-cabik perut Minotaurus yang sedang sekarat itu. Hasrat membunuhnya benar-benar membara.


Satu... dua... tiga.. belati Riel tak henti-hentinya terhunus ke tubuh monster yang sudah tak bernyawa itu.


"Kenapa? Kenapa aku tak bisa berhenti? Ini... ini terlalu menyenangkan."


DEG!


Tiba-tiba jantung Riel serasa berhenti sesaat. Riel langsung terkulai lemas dan pingsan di atas tubuh Minotaurus.


Lularia yang ternyata sedari tadi melihat pertarungan Riel membawa Riel kembali ke rumahnya. Riel tak menyadari kehadiran Lularia karena sihir kamuflasenya.


--


Riel terbangun di rumah Lularia. Ia mencoba duduk dengan badannya yang masih lemas dan melihat pemandangan familiar di sekelilingnya.


"Hey Lularia, bagaimana aku bisa disini?" Riel menebak bahwa Lularia ada di dekatnya.


"Aku melihatmu bertarung. Lalu aku membawamu saat kau pingsan di atas tubuh monster itu."


Gumpalan kabut berwarna pink tiba-tiba muncul di hadapan Riel. Lalu dari dalam kabut tersebut terlihat rambut panjang indah berwarna kecoklatan. Gaun coklat gelap menyusul keluar dari dalam kabut. Lalu wajah seorang wanita seumuran ibu Riel terlihat tersenyum dengan penuh penghargaan. Akhirnya Lularia menunjukkan sosoknya di hadapan Riel.


"Petualang, aku benar-benar berterimakasih padamu karena sudah mengalahkan monster itu. Meski kau melakukan suatu hal bodoh seperti menggunakan sihir pembunuh jiwa. Untungnya aku ada disana dan segera menyelamatkanmu. Lularia menghampiri Riel dan duduk di sebelahnya.


"Sihir pembunuh jiwa? Apa itu?" Riel mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Kau tidak tau? Kau merapalkan 3 mantra sekaligus di akhir pertempuran. Dan salah satunya adalah vdekje. Itu mantra untuk sihir pembunuh jiwa. Berjanjilah untuk tidak menggunakannya lagi."


"Hey, aku bahkan tidak tau kalau rapalan mantra itu ternyata berguna." Jawab Riel seolah tak melakukan apapun.


"Pokoknya jangan gunakan mantra itu lagi. Oh iya, aku sudah menjanjikan sebuah imbalan untukmu. Bolehkah aku meminjam busur panahmu?"


"Ah, silahkan." Riel menyerahkan busur panahnya.


Lularia meraih busur panah tersebut lalu memejamkan matanya dan mulai merapalkan mantra yang tak bisa di dengar jelas oleh Riel.


Tangan Lularia memancarkan cahaya keemasan. Lalu perlahan sebuah ukiran terbentuk di atas busur panah Riel. Itu sebuah tulisan yang tak bisa ia baca.


"Selesai. Ini mungkin tak seberapa. Tapi aku jamin, kali ini panahmu akan selalu bisa menyakiti monster seperti minotaurus tadi." Lularia mengembalikan busur panah Riel.


"Ah terimakasih Lularia. Ini sangat membantu."


"Syukurlah."


"Oh iya, bolehkah aku bertanya suatu hal?" Tanya Riel dengan mimik wajah penuh tanda tanya.


"Apa itu?"


"Bagaimana cara mengirim surat ke Datraoch? Aku ingin menghubungi teman masa kecilku. Aku ingin tau kabarnya, dan aku juga ingin dia tau kalau aku akan segera menemuinya." Tanya Riel penuh harap.


"Ah, kawanku Leteria bisa menggunakan sihir pengantar pesan. Ia mengirimkan pesannya lewat mimpi. Apa yang ingin kau sampaikan? Biar aku yang bilang pada Leteria nanti."


Jawaban Lularia membuat petualang bersyal hitam itu kegirangan.


"Tolong sampaikan pada Aira kalau aku baik-baik saja dan aku akan segera menemuinya. Lalu bilang juga padanya-" Riel tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Kalau kau mencintainya?" Tebak Lularia asal dan membuat wajah Riel mendadak memerah.


"Ah, terserah lah." Riel memalingkan wajahnya yang memerah.


"Haha kau begitu polos ya, Petualang." Lularia mencoba menggoda Riel.


"Akan kusampaikan pada Leteria pesanmu itu." Lanjut Lularia


"Baiklah kalau begitu. Aku akan kembali melanjutkan perjalananku." Riel berdiri dari tempat tidurnya.


"Aku akan mengantarmu ke atas."


Mereka berdua meninggalkan rumah Lularia dan menuju permukaan.


"Sekali lagi terimakasih atas bantuanmu wahai petualang. Semoga dewa selalu memberkahimu."


"Terimakasih kembali Lularia." Riel menjabat tangan Lularia dan memberikan salam perpisahan.


Akhirnya Riel kembali melangkahkan kaki menuju Datraoch setelah pertarungan perdananya tercatat di Desa Pemë. Ia terkejut saat menoleh kebelakang. Seluruh penduduk Desa Pemë menampakkan wujudnya sambil melambaikan tangan ke arah Riel. Semua orang menggunakan jubah berwarna coklat seperti yang digunakan oleh Lularia. Mungkin saja itu baju adat mereka. Riel tersenyum dan membalas lambaian tangan mereka sambil terus melangkah.


--


Di kerajaan Datraoch


Seorang gadis cantik dengan rambut pendek sebahu terlihat nyenyak dalam tidurnya.


"Aira, apa kau masih mengingatku? Aku Riel. Seseorang yang berjanji akan menikahimu waktu kecil. Apa kabarmu sekarang? Aku selalu menunggumu untuk pulang ke Sapphire. Tapi ternyata kau tidak akan kembali ya. Jadi aku yang akan menemuimu. Tunggulah disana. Aku- aku mencintaimu." Sosok pria yang ia kenali itu mendadak hilang dari pandangannya dan berubah menjadi langit-langit rumahnya yang gelap. Gadis itu tersadar dari mimpinya.


"Riel, sebaiknya kau tidak kesini."

__ADS_1


***


__ADS_2