
Langit cerah mengiringi perjalanan Riel dan Seira. Singgah di Vandkilder ternyata memberikan keuntungan sekaligus kerugian bagi mereka. Keuntungannya adalah kebutuhan pakan dan beberapa perlengkapan yang penting untuk pertarungan mereka. Kerugiannya adalah perjalanan mereka menjadi sedikit terhambat karena masing-masing dari mereka menggendong sebuah tas punggung yang lumayan berat sehingga memperlambat pergerakan mereka.
"Hey, Seira. Apa Kerajaan Erë masih jauh? Jujur saja aku lelah terus singgah di desa-desa kecil yang ada diluar kerajaan. Kita hanya melihat hutan, sungai, jurang dan sekarang padang rumput seluas ini." Riel menghela nafas sambil berbaring diatas rumput yang bergoyang tertiup angin.
"Sudah kubilang kita harus melewati beberapa desa lagi untuk sampai di Erë. Lagipula, apa kau yakin bisa semudah itu masuk ke Erë? Apa Shappire tidak mengirim tentaranya kesana?" Balas Seira.
"Shappire dan Erë itu bermusuhan tau." Jawab Riel yang mulai memejamkan matanya.
"Aku jadi teringat sesuatu." Ucap Seira sambil menopang dagu.
Riel hanya diam mendengarkan.
"Kau belum menceritakan alasan mengapa kau bisa membunuh seseorang. Apa itu ada hubungannya dengan Kerajaan Shappire yang mengejar kita?" Tanya Seira yang kini duduk di samping Riel.
"Aku pangeran dari Kerajaan Shappire." Jawab Riel singkat.
Seira tertawa kecil tidak percaya.
"Saat Yang Mulia Legnasio meninggal dunia, beliau mewariskan takhtanya kepada ayahku. Kami bukan dari keluarga kerajaan. Tapi, karena ayahku merupakan seorang panglima perang sekaligus tangan kanan raja, ia ditunjuk langsung oleh Sang Raja untuk melanjutkan kepemimpinannya. Ia menduduki takhta yang tidak sah." Lanjut Riel.
Seira terdiam mendengar penjelasan Riel. Ia mulai menyimak dengan seksama sekarang.
"Kau tau kan apa yang akan terjadi selanjutnya? Ya, perbedaan pendapat. Ada sebuah fraksi yang tidak setuju dengan diangkatnya ayahku menjadi raja. Mereka terus mengatakan bahwa ayahku harus segera meninggalkan takhta haramnya. Sampai suatu malam, saat aku sedang berlatih sendirian. Sekelompok orang berjubah hitam menyerangku dan mereka benar-benar mencoba membunuhku. Aku mencoba melindungi diriku. Dan saat itu aku melemparkan belatiku dan tepat mengenai kepala salah satu orang dari kelompok itu." Riel membuka matanya dan melihat Seira yang begitu serius mendengarkan ceritanya.
"Kemudian mereka berhenti menyerangku. Mereka mengadu domba aku dengan Sang Ratu. Apalagi mereka menukar belati milikku dengan belati milik kerajaan yang membuatku semakin tidak bisa mengelak. Mereka ingin membiarkanku mati di tangan kerajaan, agar mereka tidak terkena hukuman karena membunuhku." Lanjut Riel.
"Licik sekali." Seira akhirnya berkomentar.
"Sangat." Jawab Riel geram.
"Aku mengerti kondisinya sekarang. Kau benar, kita harus segera sampai di Erë. Setidaknya setelah sampai di Erë, kita tidak perlu terlalu waspada akan prajurit Shappire yang mengejar kita." Ucap Seira.
"Prajurit yang mengejar kita ya. Hmm, sepertinya aku mendengar suara kereta kuda dari kejauhan." Riel menempelkan telinganya di rumput.
"Dan aku melihat mereka dengan 3 kereta kuda mengarah kesini." Balas Seira.
"Usahakan jangan membunuh mereka, Riel." Seira menatap Riel dengan tatapan tajamnya.
"Memangnya kenapa? Mereka saja datang untuk membunuhku." Protes Riel.
Seira tidak menjawab pertanyaan Riel dan hanya menatapnya sinis.
"Baiklah, baiklah." Lanjut Riel pasrah.
Seira tersenyum puas setelah mendengar jawaban Riel.
"ITU MEREKA!" Ucap seorang prajurit Shappire yang melihat Riel dan Seira dengan teropongnya.
"Kemarilah." Bisik Riel sambil menggenggam pedang barunya yang ia dapatkan dari Vandkilder.
"TANGKAP MEREKA!" Seru Sang Pemimpin para prajurit.
"Forcë!" Riel menghantamkan pedang hitam besarnya ke tanah. Dengan dibantu dengan sihir penambah kekuatan, tanah yang dihantam Riel terbelah dan membuat roda salah satu kereta kuda para prajurit itu terjerumus kedalamnya.
Para prajurit itu berhasil melompat keluar dari kereta kudanya sebelum mereka terguling bersama keretanya.
"Wow! Ternyata menggunakan pedang dua tangan seperti ini asyik juga." Riel tersenyum lebar sambil mengayun-ayunkan pedang besarnya.
"Sekarang bukan waktunya untuk sombong, Kawan." Balas Seira yang sudah menyiapkan sihirnya.
"Shakullinë, shtesë!" Seira mengeluarkan angin puyuh yang ia gunakan untuk menghilangkan asap beracun saat melawan para Harpy. Hanya saja kali ini angin puyuh miliknya lebih besar sehingga mampu mengacak-acak sepasang kereta kuda di depannya.
"Baiklah! Sekarang kita bisa bertarung dengan tenang tanpa kereta kuda." Riel meregangkan tubuhnya. Kemudian dengan cepat ia melesat ke arah barisan prajurit yang sudah bersiap menyerangnya.
Trang!
__ADS_1
Riel menghantam 5 Prajurit sekaligus dengan bagian tumpul pedangnya. Kelima Prajurit itu terpental cukup jauh akibat satu serangan Riel.
"Itu tidak akan membunuh mereka kan, Seira?" Tanya Riel yang tak menyangka serangannya akan sekuat itu.
"Entahlah." Balas Seira sambil menyiapkan serangan sihir berikutnya.
"Berpencar!" Titah Pemimpin Prajurit.
10 orang prajurit yang tersisa itu membagi kelompoknya menjadi dua bagian. Lima melawan Riel, dan lima lagi melawan Seira.
"Aku bisa mengurus mereka dalam 5 detik." Ucap Seira menyombongkan diri.
"Kalau begitu, aku akan menyelesaikan ini dalam 3 detik." Balas Riel tidak mau kalah.
"HIYAAAAAAHH!!" Seru para Prajurit dengan serempak.
"Mur Guri!" Seira merapalkan sebuah mantra. Kemudian sebuah dinding batu muncul di hadapan para Prajurit itu.
"1." Ucap Seira.
"2." Muncul sebuah dinding lagi di belakang para Prajurit itu.
"3...4...5." Setiap hitungan Seira memunculkan sebuah dinding yang kini sudah mengurung lima orang Prajurit Shappire di dalamnya.
"Aku sudah selesai." Ucap Seira dengan bangga.
Namun, rasa bangganya itu lenyap seketika saat ia melihat Riel yang sudah bertarung dengan Pemimpin Prajurit itu.
"Cih, dia benar-benar cepat sekali." Keluh Seira.
Sementara itu, Riel sedang asyik mengasah kemampuan berpedangnya dengan Pemimpin Prajurit yang sedang dia lawan. Percikan api terus keluar diiringi dengan suara dentingan dari kedua pedang yang saling beradu.
"Padahal kau cukup kuat, tapi mengapa kau menggunakan anak buahmu untuk menyerang terlebih dahulu? Dasar pengecut!" Ejek Riel.
"Kalau aku turun tangan dari awal, kau pasti tidak akan menikmati pertarungan ini. Karena aku akan segera mengalahkanmu!" Pemimpin Prajurit itu menebaskan pedangnya vertikal. Ia hampir saja membelah Riel menjadi dua.
Tak disangka, goresan kecil dari pedang Riel mampu membelah helm besi yang menutup wajah lawannya tersebut.
Riel terkejut saat helm tersebut jatuh ke tanah dan memperlihatkan sosok gadis cantik yang ada di dalamnya. Rambutnya yang berwarna pirang keemasan itu terlihat anggun saat diterpa angin.
"Ka-kau seorang wanita?!" Ucap Riel sambil sedikit melangkah mundur.
Gadis itu kembali memasang posisi bertempurnya tanpa menghiraukan Riel yang sedang kebingungan.
"Tu-tu-tunggu! Seira, aku tidak ingin memukul seorang gadis." Ucap Riel sambil mengabaikan gadis cantik yang siap menyerangnya kapan pun. Ia menancapkan pedang besarnya di tanah.
"Ah, merepotkan." Keluh Seira sambil menghampiri Gadis Prajurit itu.
Seira memandangi gadis itu dengan ekspresi datarnya. Sedangkan gadis itu gemetar melihat dua orang yang bisa mengalahkan 15 orang prajurit dalam waktu singkat itu.
Seira menunjukkan telinga runcing yang tertutup tudung merah maron itu kepada Si Gadis Prajurit.
"Elf?!" Mata gadis itu membulat sempurna sebelum akhirnya dia jatuh pingsan saking terkejutnya.
"Oke sekarang mari kita ikat mereka." Ucap Seira santai sambil mengeluarkan sebuah tali dari tas punggungnya. Kemudian mengikat semua prajurit itu di sebuah batu besar.
"Kau benar-benar sedang bersemangat ya, Seira." Riel terkekeh geli melihat Seira yang asyik mengikat para Prajurit yang pingsan itu.
"Yap! Huhh, akhirnya selesai." Seira memandangi hasil dari pekerjaannya dengan bangga.
"Kalian berdua sangat hebat!" Terdengar suara anak kecil dari arah bebatuan yang lain.
"Siapa disana?!" Tanya Riel sambil memegang pedang besarnya yang menancap di tanah.
"Eh... Aku bukan... aku bukan musuh kalian. Aku hanya ingin minta tolong." Sesosok anak kecil berumur 8 tahunan muncul dari balik persembunyiannya.
__ADS_1
"Roh?!" Ucap Seira terkejut.
"Eh?! Mana?!" Anak perempuan itu segera berlari mendekati Seira.
"Kau-"
Seira menutup mulut Riel, berusaha membuatnya tidak melanjutkan perkataannya. Riel yang tidak mengerti maksud Seira hanya mengangguk menurut dan mengurungkan ucapannya.
"Sebaiknya kau perkenalkan dirimu terlebih dahulu sebelum meminta pertolongan orang lain." Ucap Seira.
"Maafkan aku. Namaku Miki." Anak perempuan dengan tubuh transparannya itu menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Aku Seira. Pria bodoh disampingku ini Riel." Balas Seira dengan senyuman hangatnya.
Riel menatap Seira sinis. Tapi rasa penasarannya membuatnya tidak jadi kesal kepada Seira.
"Jadi apa yang bisa kakak bantu?" Tanya Seira.
"Semalam desaku diserang oleh Pasukan Undead. Mereka sangat menyeramkan. Mereka menyerang para penduduk, membakar rumah, menculik anak-anak lalu membunuh orang-orang. Mereka semua sangat jahat. Kumohon selamatkan desaku." Miki menangis dalam pelukan Seira.
"Apa nama desamu itu, Miki?" Tanya Seira lagi.
"Aramas." Jawab Miki singkat namun membuat Riel sedikit terkejut.
Riel pernah mendengar cerita tentang Desa itu sebelumnya. Sebuah Desa kecil yang berada diluar kerajaan yang dibantai oleh Pasukan Undead. Dalam cerita yang ia dengar, tidak ada satu pun orang yang selamat dari pembantaian tersebut.
"Apa kau tau mengapa para Undead itu menyerang Desamu?" Kali ini Riel yang bertanya.
"Itu salahku, seharusnya aku tidak membaca buku di ruang bawah tanah yang ada di pemakaman. Kemarin sore, aku dan teman-temanku bermain petak umpet. Aku bersembunyi di daerah pemakaman karena hanya aku yang berani pergi kesana." Miki mengusap air matanya.
"Ruangan itu ada di bawah sebuah makam yang sudah terlihat sangat tua. Aku masuk ke dalamnya dan menemukan sebuah perpustakaan rahasia dibawah sana. Rak bukunya tersusun rapi seolah ada seseorang yang tinggal disana. Aku melihat sekeliling perpustakaan itu dan melihat satu buku yang sangat mencolok. Buku itu berwarna ungu dan mengeluarkan semacam aura aneh."
Seira dan Riel benar-benar menyimak cerita Miki. Mereka tidak memotongnya sedikitpun.
"Aku mendekati rak buku yang terletak di ujung perpustakaan itu dan mengambil buku yang sangat menarik perhatianku itu. Judulnya Conjure. Aku membaca satu persatu halamannya sampai aku menemukan sebuah halaman yang sobek. Karena penasaran, aku mencari halaman yang hilang itu ke seluruh perpustakaan. Aku berhasil menemukan halaman yang hilang itu. Namun, kejadjan aneh mulai terjadi di perpustakaan itu." Miki berhenti sejenak memastikan Riel dan Seira mendengarkan.
"Sesaat setelah aku menyambung halaman yang sobek itu, sebuah lingkaran bercahaya berwarna ungu muncul dari buku tersebut. Aku kagum melihatnya, bagaimana bisa sebuah buku menghasilkan cahaya terang hanya dengan menyambungkan satu lembaran yang hilang? Pikirku. Kemudian aku lanjut membaca halaman yang hilang itu. Entah apa yang sudah kubaca, tapi tepat setelah aku selesai membaca halaman yang hilang itu, lingkaran bercahaya tadi membesar dan terus membesar. Kali ini aku panik melihatnya. Aku segera keluar dari perpustakaan itu dan ternyata hari sudah sangat gelap." Miki menghela nafas sebelum ia menlanjutkan ceritanya.
"Lingkaran cahaya itu meluas sampai menyinari seluruh pemakaman. Aku langsung berlari ke desa dan melihat warga yang sedang mencariku dari kejauhan. Aku langsung memeluk ibuku sesampainya di desa. Kemudian menceritakan apa yang terjadi di pemakaman kepadanya. Seorang yang dikenal sebagai Penyihir Neraka mendengar ceritaku dan meminta agar seluruh penduduk segera meninggalkan desa tersebut."
"Tunggu. Penyihir Neraka yang kau maksud itu, siapa namanya?" Kali ini Riel memotong cerita Miki.
"Vida. Namanya Vida. Dia datang ke desa kami beberapa hari sebelumnya. Dia membawa barang-barang ajaib yang tidak pernah aku lihat sebelumnya." Jawab Miki.
"Ternyata benar." Riel nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Lalu apa yang penduduk Aramas lakukan setelah itu?" Kali ini Seira yang bertanya.
"Mereka tidak ingin mempercayai ucapan penyihir. Mereka kira Vida ingin menjarah rumah-rumah mereka ketika mereka sudah pergi meninggalkan desa. Jadi semua penduduk desa itu kembali ke rumahnya masing-masing dan meninggalkan Vida sendirian. 'Aku sudah memperingatkan kalian. Terserah saja kalian mau apa. Jika terjadi sesuatu, sebaiknya kalian segera tangani itu sendiri.' Ucap Vida yang kemudian menghilang setelah tubuhnya mengeluarkan sebuah cahaya kuning."
"Tak lama setelah Vida pergi, terdengar raungan yang sangat kencang dari arah pemakaman. Kemudian, segerombolan Undead itu muncul begitu saja dari balik kabut tebal dan langsung menyerang rumah-rumah penduduk. Aku pun terpisah dari orang tuaku dan aku tidak ingat apapun lagia setelahnya. Aku terbangun ketika mendengar suara pertarungan kalian tadi dan berharap kalian mau membantuku." Miki menatap Riel dan Seira penuh harap.
"Kami pasti akan membantumu." Balas Riel sambil tersenyum lebar.
"Sudah kuduga kalian memang orang yang bai-" Miki pingsan di pangkuan Seira. Kini Riel mendapatkan kesempatan untuk bertanya apa maksudya tentang Roh itu.
"Sebenarnya anak ini sudah mati. Hanya saja rohnya masih terjebak di dunia fana. Mungkin dia tercatat sebagai Necromancer sehingga alam baka tidak mau menerima jiwanya. Yang harus kita lakukan pertama membiarkan dia tau bahwa dia sudah meninggal kemudian mensucikan roh nya agar ia bisa diterima di alam sana." Seira menjelaskan situasinya kepada Riel.
"Meskipun dia tidak sengaja membangkitkan mayat-mayat itu dia sudah dianggap sebagai seorang Necromancer?" Tanya Riel tidak percaya.
"Yeah, apa kau mau membantunya?" Balas Seira.
"Melihatnya membuatku teringat adik perempuanku di rumah. Jadi akan aku bantu dia sampai roh nya bisa tenang di alam baka." Jawab Riel.
"Begitulah seharusnya, Partnerku." Seira tersenyum puas mendengar jawaban Riel.
__ADS_1
---