Fate Breaker

Fate Breaker
Elf


__ADS_3

Perjalanan Riel berjalan tanpa ada perubahan kecuali busur panahnya yang kini semakin kuat karena efek sihir yang diberikan Lularia.


"Aaaah, mengapa sulit sekali mencari pekerjaan yang bisa mendapatkan imbalan berupa emas dan semacamnya." Gerutu Riel sambil memakan daging buruannya di pinggir sungai.


BOOM!


Suara ledakan besar terdengar tak jauh dari tempat Riel berada.


"Sihir?" Riel segera menghabiskan makanannya dan berlari menghampiri sumber suara tersebut.


Logikanya benar-benar tak bisa digunakan sekarang setelah melihat berbagai hal di luar nalar.


Akhirnya Riel sampai di sebuah hamparan padang rumput yang luas terlihat sebuah gumpalan asap hitam pekat yang menjulang tinggi. Di sekelilingnya terlihat sekelompok orang dengan topi runcing berwarna merah dan jubah panjang menutupi sekujur tubuh.


Riel mencoba menghampiri mereka. Namun kakinya berhenti bergerak saat ia melihat sosok gadis dengan rambut pendek sebahu dan wajah yang begitu familiar keluar dari gumpalan asap.


"AIRA!" Teriakan Riel membuat para penyihir melemparkan pandangan marah padanya. Salah satu dari mereka mengangkat tangannya kedepan lalu sebuah lingkaran sihir berputar dan bersinar terang sampai akhirnya mengeluarkan sebuah bola api yang melesat kencang ke arah Riel.


Reflek Riel sangat bagus. Ia berhasil menghindari bola api tersebut dengan berguling ke samping dan langsung berlari lagi ke arah para penyihir.


Penyihir lainnya ikut mengangkat tangannya dan melontarkan bola api ke arah Riel. Kali ini ia tak menghindar tapi mengambil busur panahnya dan balas menembak. Sayangnya anak panah Riel melebur dengan bola api dan menjadi abu begitu saja. Riel tak sempat menghindar kali ini.


BOOM!


Riel terjatuh saat terkena serangan bola api tersebut. Tapi tak ada luka bakar yang ditimbulkan oleh serangan tersebut. Tanpa sadar Riel diselimuti sebuah perisai transparan yang entah datang darimana. Ternyata perisai tersebut yang melindungi Riel dari bola api.


Para penyihir terlihat lebih marah. Tapi mereka tidak menyerang Riel melainkan Gadis berambut sebahu yang ada di hadapan mereka.


Percikan api disusul cahaya listrik merah membuat gadis itu berteriak keras.


"Shpejtësi!" Riel merapalkan mantra kecepatan dan meluncur secepat angin seperti saat ia melawan Minotaurus.


Bugh!


Satu pukulan telak mendarat di wajah salah satu penyihir. Penyihir itu terkapar tak berdaya. Kini tersisa 5 penyihir yang siap menyerang Riel kapanpun.


"SPHËRTYES!" Riel meneriakan mantra ledakan di hadapan 5 penyihir tersebut dan...


BOOM!


Ledakan yang sama terjadi persis seperti di hutan Giganus. Riel tak memikirkan bagaimana bisa ia ahli menggunakan sihir meski tak pernah mempelajarinya.


5 penyihir tersebut menghilang dari hadapan Riel. Begitupun penyihir yang telah terkapar tak berdaya karena pukulan Riel.


Riel menghampiri gadis di belakangnya. Ia diselimuti perisai transparan yang sama seperti perisai yang tadi melindungi Riel.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa Aira? Aku-" Riel berhenti berbicara saat melihat telinga gadis itu. Bentuknya yang panjang dan runcing. Benar-benar tak seperti manusia.


"Te- terimakasih." Gadis itu menyembunyikan telinganya dengan tudung coklatnya.


"Kau? Ah maaf. Kau begitu mirip dengan seseorang yang ku kenal."


"Kau melihat telingaku. Kumohon... jangan bunuh aku." Gadis itu nampak sangat ketakutan.


"Apa alasanku untuk membunuhmu?" Riel justru terlihat kebingungan mendengar ucapan gadis itu.


"Aku seorang Elf. Kalian bangsa manusia pasti sangat membenci kami karena kejadian 500 tahun yang lalu."


"Kejadian 500 tahun lalu? Maksudmu dongeng tentang bencana yang disebabkan oleh ledakan dari pohon Valinor yang membuat setengah ras manusia punah?" Riel mencoba mengingat dongeng yang pernah ibunya ceritakan.


"Dongeng? Itu benar-benar terjadi. Ah sepertinya para orang tua bangsa manusia menceritakan ini kepada anak cucunya sebagai dongeng. Tapi para organisasi penyihir yang tadi kau hadapi pasti benar-benar tau segalanya tentang tragedi di dunia ini."


"Ah sial, mengapa semua yang diceritakan ibu itu benar-benar nyata." Riel menggerutu sendiri.


"Tapi kau benar-benar takkan membunuhku kan?" Gadis itu sepertinya belum mempercayai Riel.


"Tidak. Aku tidak punya dendam apapun pada bangsa Elf. Aku hanya berpetualang untuk menemui orang yang kucintai." Jawab Riel sedikit malu-malu.


"Tapi kau bisa menggunakan sihir. Ku kira kau salah satu anggota organisasi sihir."


"Hmm seperti itu. Siapa namamu petualang?" Gadis itu sepertinya mulai percaya dengan Riel.


"Riel Erax- tidak. Riel. Hanya Riel."


Gadis tersebut sedikit bingung. Tapi akhirnya ia tak memedulikannya.


"Aku Seira. Maaf sudah mencurigaimu."


Riel tak sanggup menatap wajah Seira. Wajahnya benar-benar mirip dengan Aira yang ia cintai. Hanya saja ia memiliki kuping tajam yang menjulang menembus rambut hitamnya.


"Kemana tujuanmu Riel? Barangkali aku bisa membantumu karena sudah menyelamatkanku."


"Datraoch." Jawab Riel singkat.


"Kebetulan sekali. Aku ingin pulang ke desaku. Dan itu searah dengan Datraoch. Bagaimana jika aku pergi bersamamu dan serahkan semua keperluanmu padaku?"


Riel ingin menolaknya karena Seira benar-benar membuatnya merindukan Aira. Tapi apa yang terjadi jika ia meninggalkannya disini?


"Emm baiklah. Tapi, apakah kau bisa menggunakan sihir kamuflase atau semacamnya? Maaf tapi kau sangat mirip dengan seseorang yang ku kenal. Dan itu membuatku-"


"Baiklah." Seira memotong ucapan Riel.

__ADS_1


Semilir angin berputar di sekeliling tubuh Seira. Tubuhnya perlahan mengecil dan berubah menjadi seekor burung elang dengan bulu keemasan.


"Wah, sihir apa ini?" Riel terkejut melihat Seira yang kini terbang mengelilinginya.


"Sihir transformasi. Kami bangsa elf bisa menggunakan berbagai macam sihir berkat kekuatan dan berkah dari bintang."


"Tapi ini kan siang hari?" Riel kebingungan.


"Haha. Kau lucu sekali. Bintang akan tetap ada di atas sana. Ia hanya tak terlihat saat siang karena cahayanya tak cukup terang untuk melawan cahaya matahari."


Riel hanya menggaruk rambut kelabunya tanda ia tak mengerti apa yang Seira ucapkan.


"Baiklah. Apa kita sudah bisa melanjutkan perjalanan kita?" Tanya Seira yang tak sabar untuk segera pulang.


"Ah ya, baiklah. Ayo jalan."


Akhirnya Riel tak sendirian dalam perjalanannya. Ia kini ditemani burung elang emas yang bisa berbicara.


--


"Hey Riel. Kau bilang kau ingin menemui seseorang yang kau cintai kan?" Tanya Seira dalam perjalanan mereka yang tak banyak diisi perbincangan.


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Seperti apa rasanya mencintai seseorang?"


Riel tak pernah mendapatkan pertanyaan semacam itu dari siapapun. Ia sedikit bingung menjawabnya.


"Aku- rasanya seperti aku tak ingin kehilangan dia. Aku ingin berada disisinya seperti dulu."


"Jadi kalian terpisah? Semoga dewa menakdirkan kalian agar bisa bertemu kembali."


"Seira. Aku tak peduli meski kau menganggapku bodoh. Tapi, aku takkan membiarkan dewa mengatur hidupku. Aku yang akan mengaturnya sendiri."


"Enak sekali ya punya tekad sekuat itu. Aku terlalu lemah untuk mengatur hidupku sendiri."


"Tidak Seira. Kita semua lemah. Tapi lemah bukan berarti tak bisa menjadi kuat. Teruslah berjuang dan capai tujuanmu. Jika tujuanmu sudah tercapai, jangan berhenti sampai disitu. Bantulah orang-orang mencapai tujuannya. Itu yang selalu aku dengar dari ibuku saat aku kecil."


"Sepertinya ibumu orang yang hebat ya."


Mereka tertawa dan terus berbincang setelahnya. Riel tak lagi menganggap Seira mirip dengan Aira. Seira lebih sering memujinya sedangkan Aira justru lebih sering meledeknya. Tapi ia justru jadi merindukan ledekan Aira yang biasanya mengisi hari-harinya saat kecil dulu.


"Aira. Jangan meledekku saat aku menemuimu nanti." Gumam Riel di dalam hatinya.


 

__ADS_1


__ADS_2