
Dalam kegelapan yang hampir tidak berujung itu Riel terus berlari, mengejar secercah cahaya yang terlihat semakin terang saat Riel terus melangkahkan kakinya tanpa henti. Nafasnya terengah-engah, namun tekadnya sama sekali belum pudar demi mendapatkan satu-satunya cahaya yang ada di tempat itu.
Usahanya terbayar, kegelapan disekitarnya seketika menghilang dan membuatnya seolah berpindah tempat dalam sekejap, Riel sudah berada di depan rumah lama Aira, disambut dengan senyuman hangat gadis cantik yang sangat ia cintai. Rambutnya yang kecoklatan sudah lebih panjang dibanding saat mereka terakhir kali bertemu, tingginya pun sudah hampir setara dengan Riel. Aira merentangkan tangannya, memberi tanda bahwa ia menginginkan sebuah pelukan.
"Aira." ucap Riel yang masih terdiam di tempatnya berdiri.
"Kemarilah," balas Aira. "Peluk aku dan buktikan betapa kau merindukanku, Riel."
Riel memeluk Aira dengan erat, begitu pun sebaliknya. Mereka saling melepaskan rindu yang selama ini membelenggu hati mereka dalam kehampaan, membuat Riel meneteskan air mata yang selama ini ia bendung dibalik kelopak matanya, menunjukkan sisi lemahnya di depan gadis yang sangat ia rindukan.
Aira menyeka air mata yang mengalir di pipi Riel seraya berkata, "Aku ada disini, Riel, jangan menangis lagi!"
"Jangan pergi lagi!" kata Riel. "Aku ingin selalu bersamamu."
Aira menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak akan meninggalkan Riel lagi seperti apa yang Riel ucapkan.
"Hari sudah semakin gelap, kau tidak mau pulang ke istana dan tinggal bersama keluargamu disana, bukan?" tanya Aira.
"Tidak! Aku hanya ingin bersamamu, Aira, aku tidak ingin yang lain lagi." jawab Riel.
Aira benar-benar senang medengar jawaban Riel, gadis itu kembali memeluk Riel, memberikan semua kehangatan dan kenyamanan ke seluruh tubuh Riel yang membuatnya ingin memberhentikan waktu agar Aira tidak segera melepaskan pelukannya.
"Tinggal lah bersamaku." kata Aira.
Riel mengangguk tanda ia setuju dengan permintaan Aira, baginya tidak ada lagi yang lebih penting dibandingkan menghabiskan sisa waktunya bersama Aira, gadis yang benar-benar ia cintai.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah, langkah demi langkah mereka lalui tanpa melepaskan genggaman tangan mereka sama sekali, sampai mereka berdiri di depan pintu rumah Aira. Sang Tuan Rumah membuka pintu rumahnya, membuat seisi ruang tamu dapat dilihat oleh Riel dengan mata kepalanya sendiri. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kakinya di rumah itu, namun tidak ada yang berubah sama sekali kecuali orang tua Aira yang tidak ada disana.
"Kau sekarang tinggal seorang diri di rumah ini?" tanya Riel setelah ia mengistirahatkan tubuhnya diatas sofa biru yang terletak di ruang tamu tersebut.
"Ya, orang tuaku tetap tinggal di Datraoch, hanya aku yang pulang kesini." jawab Aira sambil menyandarkan kepalanya di pundak Riel.
Riel terdiam sejenak, perasaannya mulai kacau ketika ia mendengar jawaban Aira, khawatir suatu hari nanti Aira akan pulang ke kediaman orang tuanya dan kembali meninggalkan Riel sendirian. Aira yang tidak segera mendapatkan jawaban melirik dan menemukan Riel sedang terlarut dalam lamunannya.
"Aku akan tetap disini bersamamu, Riel." ucap Aira yang berhasil memecahkan lamunan Riel.
"Kau tidak akan kembali ke Datraoch?" tanya Riel penuh harap.
"Aku sudah menunggu bertahun-tahun agar diizinkan untuk kembali ke Shappire, mana mungkin aku ingin meninggalkanmu lagi setelah aku berhasil menemuimu." jawab Aira, sedikit kesal.
Riel tersenyum lega, jawaban Aira kali ini benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." kata Aira sambil merubah posisi duduknya menghadap Riel.
"Apa itu?" balas Riel.
"Kau menganggapku sebagai apa sekarang? Teman? Sahabat? atau..." Aira tidak menyelesaikan pertanyaannya, membiarkan Riel menebak sendiri apa yang akan ia tanyakan sambil tersenyum jahil.
Riel tau apa yang akan Aira katakan selanjutnya dan itu membuatnya malu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Spontan kepalanya menunduk, membuatnya memalingkan wajahnya dari Aira yang mulai menahan tawanya.
"Jangan menggodaku!" kata Riel.
Aira mengangkat dagu Riel sehingga ia dapat melihat wajah Riel yang mulai memerah dan membuat mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Memangnya kenapa, Sayang?" balas Aira yang mencoba membuat Riel semakin malu untuk menatap wajahnya.
"Sa- sa- anu, emm... bu- bukan apa-apa." jawab Riel, tergagap-gagap.
"Ahahaha, bagaimana kau akan menikahiku kalau kau bahkan tidak bisa membalas itu." Aira terlihat puas melihat ekspresi Riel yang benar-benar diluar dugaan.
Riel jengkel melihat Aira menertawainya, kedua tangannya kini memegang kedua sisi kepala Aira, membuatnya kebingungan dan berhenti tertawa dalam sekejap. Dengan cepat Riel mencium Aira dan membalikkan keadaan, kini wajah Aira yang memerah bahkan ia tak sanggup mengutakan sepatah kata pun dari mulutnya.
"Siapa bilang aku tidak bisa membalasnya." ucap Riel, menyombongkan diri.
Masih terdiam menatap Riel, air mata Aira mulai menetes dari matanya, membuat Riel kebingungan sekaligus khawatir perbuatannya membuat Aira marah kepadanya.
"Maaf." ucap Riel, segera melepaskan tangannya dari pipi Aira.
Tanpa menjawab permintaan maaf dari Riel, Aira langsung memeluk Riel dengan erat, tangisnya pecah dalam pelukan hangat itu dan membuat Riel semakin kebingungan tentang apa yang sebenarnya sudah ia lakukan kepada Aira.
"Aku mencintaimu, Riel." kata Aira.
Riel segera membalas pelukan Aira, sebuah kalimat yang sangat ingin ia dengar dari dulu akhirnya dapat ia dengar dengan jelas saat ini, dunia benar-benar terasa milik berdua ketika sedang jatuh cinta.
"Aku juga! Aku juga mencintaimu, Aira." balas Riel.
"Tapi..." ucap Aira, murung. "Bagaimana dengan gadis itu? Bukannya ia juga menyukaimu?"
Riel terdiam sejenak, tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Aira padanya.
"Tidak, lupakan." kata Aira, kembali memeluk Riel.
Riel terlihat sangat gagah dengan jas hitam yang membalut tubuhnya, begitu pun Aira, gaun putih yang ia kenakan saat ini membuatnya terlihat lebih cantik dibanding hari-hari biasanya, rambut panjangnya dibiarkan terurai, mata birunya menatap Riel penuh kebahagiaan, hari yang mereka nantikan telah tiba.
Barisan kursi yang disediakan di alun-alun kota tempat Riel dan Aira melaksanakan pernikahannya sudah terisi penuh oleh tamu undangan dari kedua belah pihak, terlihat sebuah kebahagiaan yang tergambar jelas dalam senyuman mereka, menatap sepasang calon pengantin yang sedang bersiap mengucapkan janji suci mereka di depan Penghulu.
Di atas sebuah panggung kecil yang dihiasi beraneka ragam bunga, Riel dan Aira berdiri berhadapan satu sama lain, kedua tangan Riel menggenggam tangan Calon Istrinya yang sedikit gemetar.
"Apa kau gugup?" bisik Riel.
"Ehehe." Aira menunjukkan sebuah senyuman canggung dari bibirnya.
"Baiklah, akan kumulai upacara nya." kata Si Penghulu, membuat suasana mejadi hening seketika. "Saya persilahkan kepada Mempelai Laki-laki untuk mengucapkan janji sucinya."
Riel menarik nafas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan janji sucinya di hadapan Aira.
“Airayle Swan, aku memilih engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Dewa yang kuasa, dan inilah janji setiaku yang tulus.” ucap Riel, tersenyum lembut.
“Riel Eraxoth, aku memilih engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Dewi yang kuasa, dan inilah janji setiaku yang tulus.” balas Aira.
Penghulu berjalan menghampiri mereka dan berdiri diantara keduanya sambil membawa kotak hitam kecil berisi sepasang cincin nikah berwarna perak.
"Pengantin Pria dipersilahkan untuk memasangkan cincin nikahnya di jari manis Pengantin Wanita." ucap Penghulu.
Riel mengambil cincin dengan ukuran yang lebih kecil di kotak hitam tersebut, kemudian ia mengangkat tangan kiri Aira yang dari tadi ia genggam selama mereka berada di panggung, Riel pun memasangkan cincinnya dengan lembut ke jari manis Aira, membuat gadis itu tersipu malu sekaligus bahagia.
__ADS_1
"Pengantin Wanita dipersilahkan memasangkan cincin nikahnya di jari manis Pengantin Pria." kata Penghulu, melanjutkan acara.
Terukir jelas senyuman Riel saat cincin peraknya sudah selesai dipasangkan oleh Aira, ia benar-benar tidak menyangka bahwa saat-saat yang sangat ia nantikan ini akhirnya bisa ia rasakan dengan jelas.
"Upacara pertukaran cincin sudah selesai. Demi kemakmuran dan kesejahteraan kedua Pengantin Muda ini, marilah kita memberikan sebuah persembahan untuk Sang Dewi Cinta Agàpi. Buka tirainya!" kata Penghulu.
Tirai merah yang ada di belakang mereka dibuka, terlihat seorang gadis dengan rambut pendek hitamnya sudah terikat pada sebuah kayu berbentuk salib, gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Seira, partner Riel yang selama ini selalu menemani Riel kemana pun ia pergi. Kebahagiaan yang terukir di hati Riel sirna begitu saja saat kedua mata mereka saling bertatapan satu sama lain, Riel sangat bingung, marah, tidak terima dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya saat ini.
Aira melihat ekspresi wajah Riel yang berubah seketika, lalu berkata, "Apa kau benar-benar mencintaiku, Riel?"
Tidak ada jawaban dari Riel, matanya terpaku pada sosok Elf yang terlihat tidak berdaya dan hanya bisa pasrah itu. Menurutnya, Seira tidak ada hubungannya dengan semua ini, dia tidak pantas mati sebagai persembahan untuk Sang Dewi Cinta.
"Seorang Elf, musuh alami umat manusia ini yang akan menjadi persembahan untuk Agàpi." kata Penghulu diiringi dengan sorakan para Tamu Undangan yang begitu antusias. "Saya persilahkan anda untuk mengucapkan kata-kata terakhir sebelum kami membakarmu hidup-hidup."
Seira menghela nafasnya, menunjukkan sebuah senyuman yang sangat familiar di mata Riel, senyuman yang seolah mengatakan tidak akan terjadi apa-apa setelah ini.
"Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku saat kita pertama kali bertemu, Riel. Terima kasih karena kau selalu ada saat aku kesusahan, terima kasih atas segala bantuanmu dan juga petualangan yang kita lalu bersama. Semuanya begitu indah, aku sebenarnya tidak ingin semua itu berakhir begitu kau berhasil menemui Aira, aku ingin selalu bertualang bersamamu, aku menyukaimu, Riel. Tapi, aku sadar kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, maaf jika aku selalu merepotkanmu. Tapi, aku ingin meminta satu hal darimu untuk yang terakhir kalinya."
Para Tamu Undangan semakin tidak sabar untuk mengeksekusi Seira, sorakannya semakin keras dan mulai membuat kericuhan. Seira pun menyelesaikan kalimat terakhirnya.
"Bangunlah! Perjuanganmu tidak pantas mendapatkan kebahagiaan semu seperti ini, mimpi ini bukanlah bayaran yang harus kau terima setelah semua luka yang kau alami seperti ini, bangunlah, Riel! Aku akan mengantarmu menuju Datraoch, tempat Aira saat ini berada, bukan di dalam mimpi yang penuh kepalsuan ini!" ucap Seira yang kemudian meneteskan air matanya.
"Kau pilih aku atau dia, Riel?" Aira memeluk Riel, air matanya membasahi jas hitam yang Riel kenakan.
Riel dilanda sebuah dilema yang begitu menyakitkan. Di satu sisi, ia sangat bahagia dengan apa yang ia dapatkan sekarang, di sisi lain ia pun tidak mengerti apa yang dikatakan Seira tentang mimpi dan sebagainya.
"Siren!" seru Seira, mencoba membuat Riel sadar bahwa semua yang ia alami ini hanya sebuah mimpi.
Usahanya berhasil, Riel ingat apa yang terjadi sebelumnya, tentang ia yang tergoda dengan rayuan Jane Si Siren. Tepat setelah ia sadar bahwa semuanya hanya mimpi, tubuhnya seperti tertarik ke atas, melewati berbagai macam mimpi yang teracak, kemudian Riel membuka matanya perlahan dan melihat Seira yang sedang memangku kepalanya sambil menangis tersedu-sedu.
"Membangunkan seseorang dari mimpi indahnya itu tidak sopan, tau." keluh Riel.
"Riel?!" tanya Seira, tidak percaya ia berhasil membangunkan Riel.
"Seharusnya aku sudah mati dimakan para putri duyung itu, kan?" Riel menggaruk kepalanya, kebingungan.
"Ya, kalau saja Sang Penyihir Neraka tidak meminta mereka membebaskanmu. Kenapa kau begitu bodoh?! Aku mengkhawatirkanmu tau! Aku terbangun di perpustakaan itu, lalu kau tidak ada disana, kemudian kau malah asyik bermesraan dengan seorang Siren sampai-sampai kau hampir mati karenanya. Memangnya secantik apa sih Siren itu?! Bukannya kau hanya mencintai Aira? Apa kehadiranku selama ini tidak pernah kau pandang sama sekali karena aku seorang Elf?" tangisan Seira pecah begitu saja, ia memukul-mukul dada Riel, jengkel.
"Padahal aku sudah berjanji tidak akan merepotkanmu lagi." ucap Riel murung. "Maaf ya, Seira."
Seira memeluk Riel dalam pangkuanya, hatinya benar-benar lega saat ini, meskipun ia tidak berharap perasaan sukanya tersampaikan kepada Riel, ia sangat bersyukur masih bisa bertualang lagi bersama Riel.
"Aku tadi mimpi aneh" kata Riel. "Aku mimpi kau menyukaiku, Seira. Dan bodohnya kau mengatakan itu saat aku sedang melangsungkan pernikahaan dengan Aira."
"Mana mungkin aku suka padamu, Bodoh!" protes Seira. "Pantas saja kau sangat susah dibangunkan, ternyata mimpimu benar-benar indah ya kalau tidak ada aku disana, hmph!" lanjut Seira, menggembungkan pipinya.
"Hehehe" Riel menggaruk kepalanya, canggung. "Oh iya, kau bilang tadi kau bertemu dengan Sang Penyihir Neraka? Dimana dia sekarang? Aku benar-benar mengidolakannya sejak kecil." kata Riel sambil melirik ke kanan dan kiri.
"Dia sudah pergi, tepat setelah ia melihatmu dibawa ke daratan oleh para Siren. Sepertinya ia jijik melihat tampangmu, makanya ia langsung pergi pergi begitu saja." jawab Seira, memalingkan wajah.
"Apa maksudmu, hah?!" protes Riel.
"Kau mengajakku berkelahi? Padahal aku sudah menolongmu, Bodoh!" balas Seira, jengkel.
__ADS_1
Dan mereka pun saling beradu argumen seperti biasanya.
***