Felisha (Find The Destiny)

Felisha (Find The Destiny)
Bukan Lagi Kebetulan


__ADS_3

"Permisi, jangan menghalangi jalan," ucap Feli seraya melangkah tetapi Alther segera menahan tangannya dan bergumam, "kebetulan ini terjadiΒ  begitu cepat, mungkin takdir memang sudah menjodohkan kita."


Feli menatap jengah pria di hadapannya itu, kesal bukan main ada yang menghalangi jalannya dengan sengajah apalagi sampai menyentuh tangannya.


"Hey tolong jaga sopan santun anda!" Feli menepis genggaman Alther dari tangannya, tetapi Alther masih saja tidak bergeming dari tempatnya.


"Minggir!" ucap Feli lagi dengan suara dingin, terlihat jelas raut kekesalan di wajahnya.


"Ehm, maaf aku hanya ingin meminjam ponselmu," ucap Alther masih menampilkan senyum indahnya.


"Apa orang ini sudah tidak waras," batin Feli, "tidak bisa tolong jangan halangi jalanku tuan!" lanjutnya masih dengan nada dingin.


"Tolonglah, aku serius, ponselku hilang dan aku harus menghubungi asistenku," ucap Alther.


Feli masih memberikan tatapan tajamnya sembari memperhatikan penampilan pria di hadapannya. Wajah tampan dengan perawakan yang sempurna tetapi penampilannya tidak memperlihatkan kalau dia datang bersama seorang asisten.


"Hhmmm maksudku, aku harus menghubungi temanku, tadi dia meninggalkanku disini aku bingung dengan kota ini dan harus kembali ke hotel bersamanya," Alther meralat ucapannya.


"Cepat!" Feli memberikan ponselnya dan setelah itu dia bingung sendiri dengan apa yang dia lakukan, kenapa dia bisa langsung memberikan ponselnya begitu saja pada orang yang tidak dia kenal.


"Terimakasih," Alther mengambil ponsel itu dan segera menghubungi nomor yang harus dia hubungi.


"Halloo, kau dimana? Aku mencarimu dari tadi," ujar Alther dengan panggilan yang sudah terhubung dengan seseorang tanpa membiarkan lawan bicaranya untuk menjawab, siapa lagi kalau bukan Mark


"Ohh begitu, baiklah," lanjut Alther membuat Mark yang ada diseberang sana kebingungan. Dia tau itu suara atasan sekaligus sahabatnya tetapi dia bingung dengan maksud perkataannya.


Feli sedari tadi hanya mematung menatap pria tampan dihadapannya itu, seperti pernah melihatnya tetapi entah dimana.

__ADS_1


"Ini, terima kasih," ucap Alther menyodorkan ponsel.


"Hmm," Feli menyaut seadanya dan tetap tidak ada senyum dari wajahnya meskipun Alther sudah mengeluarkan senyuman terbaik, dia segera mengambil ponselnya dan hendak menjauh namun lagi-lagi Alther menghalangi langkahnya.


"Alther," menyodorkan tangan yang tidak mendapatkan respon sama sekali.


"Alther, apa yang terjadi?" suara yang sangat dia kenal tiba-tiba muncul membuat Alther segera menurunkan tangannya dan menoleh dengan tatapan kesal, "kenapa dia harus menyusul kesini," batin Alther geram.


"Kau terlihat baik-baik saja, kenapa kau tadi menghubungiku? Apa terjadi sesuatu?" Mark terus saja bertanya karena memang dia merasa khawatir ketika tadi mendapat telpon dari Alther dengan nomor yang berbeda dan ternyata ponsel Alther memang ada dimeja tempat mereka makan, maka itu dia segera menyusul ke toilet.


Feli yang masih berada disitu sudah menatap Alther dengan tatapan tajam, dia tidak ingin lagi berlama-lama dengan orang aneh ditempat itu.


"Minggir," saut Feli dingin sembari mendorong Alther dan berjalan meninggalkan area depan toilet.


"Siapa dia?" tanya Mark yang baru tersadar jika mereka tidak hanya berdua disana.


"Haish kau mengganggu saja," ucap Alther kanapa juga harus menyusul kesini.


"Haishh, sini berikan ponselmu," ucap Alther meminta ponsel Mark sembari mencari ponselnya juga, "ah ponselku ternyata memang tidak ada, setidaknya aku tidak terlalu berbohong tadi," lanjutnya bergumam sambil tersenyum.


"Kau kenapa?" Mark menatap bingung karena tidak mendengar gumaman Alther dan hanya melihat senyuman yang jarang dia tampilkan.


"Banyak bertanya, lebih baik kirimkan aku nomor ponsel yang tadi," ucap Alther.


"Nomor yang kau pakai menghubungiku?" tanya Mark yang mendapat pelototan tajam.


Entah malam ini Mark sedang dalam mode tulalit atau memang dia kurang peka dengan hal semacam itu, dia masih juga tidak paham dengan apa yang Alther lakukan.

__ADS_1


Alther memilih untuk melangkah ke area makan dan mencari ponselnya dari pada harus meladeni Mark, tetapi ponselnya tidak ada disana.


"Ponselmu disini," Mark menyodorkan ponsel Alther setelah berhasil menyusul.


"Kenapa ada padamu?"


"Mana mungkin aku meninggalkannya disini saat menyusulmu ke toilet," saut Mark.


"Kenapa tidak memberikannya tadi?"


"Yang kau minta kan ponselku," ucap Mark santai.


"Yaampun," Alther menggeleng sembari mendudukan dirinya kenapa asistennya yang cerdas itu malah tidak paham dengan hal-hal sepeleh.


"Kenapa masih duduk?" tanya Mark.


"Lalu?"


"Kita harus segera ke bandara sekarang kalau tidak ingin tertinggal pasawat,"


"Tidak perlu ke bandara, setelah ini kita kembali ke hotel." ucap Alther.


"Kembali ke hotel?" Mark bingung sendiri, tadi sudah menawarkan untuk tetap tinggal di Swiss tetapi ditolak dengan alasan masuk akal tetapi kenapa sekarang meminta untuk kembali ke hotel.


"Kau kan tadi menyarankanku untuk tinggal disini lebih lama," ucap Alther santai.


"Abaikan saranku tadi, benar yang kau katakan banyak pekerjaan yang menanti disana jadi KITA HARUS KEMBALI TUAN ALTHER." Mark menekankan perkataannya.

__ADS_1


"Kebetulan yang aku tunggu sudah terjadi begitu cepat, ah tidak aku rasa itu bukan lagi suatu kebetulan dan aku tidak akan menyia-nyiakan itu," ucap Alther, "mungkin aku memang harus tinggal sedikit lebih lama disini," lanjutnya yang bisa membuat Mark paham dengan apa yang terjadi. Dia sekarang mengerti kenapa tadi Alther menghubunginya dengan nomor lain dan siapa wanita yang dia lihat di depan toilet tadi.


...πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“...


__ADS_2