
Benar yang Alther katakan, dia sangat pintar jika hanya untuk merangkai kata yang berhubungan dengan pekerjaan, dia ahlinya untuk masalah inovasi teknologi terbaru, orang-orang banyak menaruh harapan pada dirinya bahkan untuk mendapatkan ratusan juta dollar itu tidak sulit untuk dia lakukan. Tetapi untuk menyusun sepenggal kalimat meminta seorang wanita menjadi pasangannya rasanya begitu sulit, entah kenapa otak jeniusnya seolah menutup rapat untuk menunjukan keahliannya.
Karakter wanita berbeda-beda, Feli adalah wanita yang cuek, dia bukan wanita yang bisa diperlakukan romantis oleh Alther. Kalau dulu dia menyatakan cintanya kepada Selena di sebuah yard dengan makan malam romantis dan dekorasi penuh bunga, menurutnya dia tidak bisa melakukan itu kepada Feli sang gadis sederhana yang dia temui, entah kenapa Feli seakan membuat dia tidak bisa banyak bicara.
Lebih tepatnya Alther hanya belum mengetahui lebih banyak tentang Feli yang dia kenal, dia seharusnya bisa mengenalnya lebih dekat sebelum mengikatnya dengan hubungan yang lebih serius. Bukan tidak mungkin Feli juga menginginkan hal yang sama seperti banyak wanita di dunia ini, diperlakukan begitu spesial layaknya seorang putri. Tetapi rasanya wejangan Mark masih tengiang dipikiran Alther, dia takut menunda waktu dan akhirnya tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Feli.
Alther yakin pilihannya tidak pernah salah. Dia hanya perlu mengenal Feli lebih jauh seiring berjalannya waktu kebersamaan mereka, tetapi untuk saat ini dia harus memastikan hanya dia yang bisa mendapatkan hati Feli.
**
"Yaampun ada apa denganku," ucap Feli pada dirinya sendiri ketika tiba di apartemen miliknya.
"Apa aku benar jika membuka hatiku untuknya?"
"Aku takut akan menghabiskan banyak waktu percuma untuk hubungan seperti itu,"
"Ahhh tapi kenapa aku merasa nyaman saat dekat dengannya,"
"Apa aku harus mencoba memiliki hubungan?"
"Usiaku sekarang rasanya sudah pantas menjalin hubungan serius, tetapi bahkan pacaran saja aku belum pernah mengetahui bagaimana rasanya,"
"Apakah perasaanku akan sama ketika aku bertemu dengan Alther?"
"Rasanya begitu nyaman ketika bersama dengannya,"
"Sudah lama aku tidak merasakan rasa nyaman yang sama seperti beberapa hari terakhir,"
"Ahh tidak itu hanya perasaanku saja,"
"Sebenarnya yang membuat nyaman itu kehadiran Nata, Dea dan Niel."
__ADS_1
"Yaa itu pasti karena mereka,"
Feli terus berargumen untuk dirinya sendiri. Tidak mungkin kalau dia tidak paham dengan apa yang akan Alther sampaikan. Felisha Claire Richard memang belum pernah memiliki kekasih, tetapi dia bukan gadis yang begitu polos, sudah cukup pengalaman dalam pergaulan yang dia terima sebelum memutuskan untuk menyendiri. Bukan sedikit juga drama-drama romastis yang dia tonton, dia paham betul tentang hubungannya dengan Alther yang sedang mengarah ke hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan, konteks keterikatan emosional antara pria dan wanita.
Ingin menepis segala kemungkinan tetapi bayangan Alther sendiri terus datang dalam pikirannya, beberapa hari terakhir mereka sudah melalui banyak hal. Ya, hanya dalam beberapa hari Alther sudah sangat mencuri perhatiannya, bahkan tidak jarang mencuri kesempatan darinya. Dengan santai Alther sering menggenggam tangannya, mengirimi Feli pesan selamat pagi yang bisa membuat dia tersenyum senang dan merasa nyaman kemudian mengirimi pesan selamat tidur yang rasanya bisa membawa Feli kedalam mimpi indah.
"Good night, selamat istirahat dan sampai ketemu besok,"
Belum hilang dari pikiran tetapi ponsel Feli sudah bergetar menandakan satu pesan masuk, dari siapa lagi jika bukan Alther.
"Astagah, aku bisa gila!" Feli menggelengkan kepala tersenyum tanpa berniat membalas pesan tersebut sama seperti sebelum-sebelumnya. Dia memilih untuk mandi dan membersihkan dirinya kemudian segera beristirahat.
"Malam ini sudah kembali seperti biasa dan besok aku harus menjalani hari seperti biasanya," batin Feli kemudian memejamkan matanya.
**
Keesokan harinya, setelah semalaman sulit untuk memejamkan mata dan pagi harinya harus virtual meeting dengan para direksi goAG disinilah Alther saat ini, cafe tempat dirinya dan Feli duduk dan saling mencuri pandang sebelum kedatangan sahabat-sahabat Feli yang akhirnya membuat mereka semakin dekat.
"Sudah lama disini?" tanya Alther ketika dia sudah duduk berhadapan dengan Feli disana.
"Ada apa kemari?"
"Tentu saja bertemu denganmu," jawab Alther singkat.
"Ceh,"
Hening, sebelum akhirnya Alther membuka suara membuat Feli segera menoleh dengan perasaan yang benar-benar gugup. Kalau saja Alther ada diposisi yang lebih dekat sudah pasti dia bisa merasakan debaran jantung Feli yang sedang berpacu begitu cepat, untung saja meja cafe menjadi pembatas posisi Feli dan Alther saat ini.
"Felisha,"
"Ingat jangan potong pembicaraanku,"
__ADS_1
"Membuatku semakin gugup saja," batin Feli sembari melempar pandangan ke arah lain.
"Menurut hasil penelitian yang pernah aku baca, katanya jika seorang pria menatap wanita pada kencan pertama melebihi batas delapan koma dua detik, maka itu pertanda dia jatuh cinta. Hal ini membuat aku bingung, begitu banyak wanita yang bisa aku tatap dalam waktu singkat itu tetapi wanita yang sebenarnya sangat ingin aku tatap lebih dari delapan koma dua detik bahkan belum pernah berkencan denganku," Alther menjedah ucapannya.
"Felisha, tolong lihat aku," ucap Alther sembari menarik lembut tangan Feli karena sedari tadi dia hanya menatap ke lain arah.
"Lanjutkan saja aku mendengarkan," ucap Feli pelan.
Alther menarik nafas pelan.
"Untuk itu agar aku tidak semakin bingung, aku ingin mengajak wanita itu berkencan denganku. Saat ini aku merasa kalau aku sedang jatuh cinta dan aku ingin membuktikannya langsung. Felisha Claire, maukah kamu membantuku? Bukan membantuku membuktikan kalau delapan koma dua detik itu benar adanya, tetapi membantuku membuktikan kalau delapan koma dua detik yang membuatku jatuh cinta itu cuma berlaku saat aku menatapmu."
"Modus," jawab Feli merespon kalimat panjang lebar yang keluar dari mulut Alther.
"Aku serius, aku ingin menatapmu lebih dari delapan koma dua detik saat kencan pertama, kedua, ketiga hingga tak terhitung berapa kali kita bisa berkencan. Agar kamu tau kalau aku selalu jatuh cinta padamu setiap waktu, bahkan itu sudah dimulai saat kamu belum menyadari ketika aku sudah menatapmu."
"Maksudnya?" Feli memicingkan mata menangkap kalimat Alther yang terakhir.
"Nothing," Alther tersenyum.
"Jadi bagaimana?"
Alther tidak sabar dengan jawaban dari Feli, tanpa memikirkan kalau Feli sendiri masih sedikit bingung untuk menangkap makna dari pernyataannya.
"Baiklah, mulai sekarang kita berkencan dan ini adalah kencan pertama kita!"
Kalimat itu bukan keluar dari mulut Feli, tetapi dari mulut Alther yang menjawab sendiri pertanyaannya karena tidak sabar dengan jawaban yang akan dia terima.
Feli yang sedari tadi memalingkan pandangan menyembunyikan perasaan bahagianya karena bingung untuk mengeluarkan kalimat yang sesuai, seketika itu juga segera membulatkan kedua bola matanya dan menoleh pada Alther yang saat ini sedang menatapnya dengan tersenyum.
"Yang benar saja," gerutu Feli pelan.
__ADS_1
...🍓🍓🍓🍓🍓...
*guysss buat kalian yang udah ngikutin novelku sampai sini tapi belum masuk gc, bisa ketok pintu dan tulis done delapan detik yaakk hihi