
Alther tersenyum tipis melirik kepergian Feli dari cafe itu. Dia kemudian akan melanjutkan menyesap kopinya tetapi sedetik kemudian dia tersadar kalau kopi yang dia pesan adalah espresso, rasa pahit menyelimuti indra perasanya.
"Rasanya tadi kopi ini begitu manis," gumam Alther.
Ya mungkin sepahit apapun espresso tetapi ketika diminum sembari menatap orang yang kita sukai maka itu akan terasa manis, itulah kenapa kepergian Feli membuat rasa espresso kembali seperti semula. Alther pun ikut bergegas meninggalkan cafe dan berniat kembali ke hotel tempatnya menginap.
Sembari berjalan santai menikmati keindahan dan kesejukan kota Jenewa Alther terus berpikir. Caranya sedikit mengabaikan Feli bukan bertujuan untuk menjauh, dia mengabaikan dengan harapan bisa semakin dekat.
**
Sementar Feli tidak bisa menghilangkan bayangan Alther dari pikirannya, beberapa pertemuan yang hanya bisa dihitung dengan jari itu setidaknya sudah mengganggu sedikit pikirannya. Mungkin kali ini ingatan Feli tentang Alther tidak akan hilang dengan muda seperti beberapa bulan yang lalu, pertemuan pertama mereka yang bahkan sudah tidak terekam dipikirannya.
Berjalan santai hingga tiba di apartemen Feli kemudian mengaktifkan sosial media yang sangat sering di nonaktifkan olehnya. Bukan sedikit pengikutnya karena Feli sudah menjadi idola pada masanya, banyak juga pengajuan pertemanan yang diabaikannya. Orang-orang mungkin berpikir Feli sudah tidak menggunakan media sosial itu lagi, pesan masuk yang tidak pernah di gubris, ya terkecuali dari teman dekatnya, mungkin hanya mereka yang tau dan menaru harapan balasan kabar dari Feli yang jarang terjadi.
Tidak pernah ada feed disana selama beberapa tahun, hanya ada postingan terakhir yang juga sengajah disisakan Feli, sebuah potret senja berisikan caption yang Feli upload beberapa tahun yang lalu ketika dirinya menemukan jawaban atas kenyataan pahit yang dia terima.
'Pada akhirnya kita harus menyadari, ada banyak bayangan dan khayalan yang sering bertolak belakang dengan kenyataan yang kita temuiπ₯'
Melihat kembali postingan itu Feli menghela nafas, dia kemudian melanjutkan niatnya untuk menhubungi sahabatnya, mengirim pesan singkat meminta mereka untuk kembali merencanakan liburannya ke Swiss.
Mungkin terkesan menyebalkan dengan Feli yang sesukanya memberikan waktu, tetapi dia yakin sahabat-sahabatbta itu pasti tidak akan melewatkan kesempatan, meskipun mereka kesal mereka tetap akan mengunjunginya kesini, itulah kenapa mereka masih bersahabat.
'Feliiiiiii kau mempermainkan kita?'
'Jangan bilang besok kau akan kembali mengirimkan pesan untuk membatalkannya!'
'Kemudian besoknya lagi jadi,'
'Begitu saja terus sampai deterjen +62 ga lagi menghujat!'
'Woyyy balesssss, gue liat lu masih onlen Fel!'
'Jangan ngeselin deh!!!!!!'
'Ish mau marah tapi ntar lu malah ngilang lagi huh,'
Nata yang bisa dikatakan aktif setiap waktu di media sosial geram tidak mendapatkan balasan dari Feli. Beberapa detik kemudian panggilan vidio call masuk, siapa lagi kalau bukan Nata.
"Yaampun anak ini tidak sabaran," Feli terkekeh padahal dia baru sedang memikirkan apa yang harus dibalas tetapi pesan Nata tidak ada habisnya.
"Yaaaa ga sabaran ih jadi orang," ucap Feli ketika panggilan vidio itu sudah tersambung. Sangat jarang bahkan tidak pernah Feli bisa menerima panggilan, bahkan Nata disana terdiam saking tidak menyangkah panggilan itu akan terhubung. Bahkan Feli sendiri perlu menarik nafas dalam sebelum memutuskan berkomunikasi lebih dengan Nata.
"Uyyy Nat, ganiat nelpon ya? Jangan bilang kepencet!" ucap Feli lagi ketika tidak mendapat sahutan dari sana, dia hanya bisa melihat jidat Nata yang tertera di layar.
"Gue matiin nih!" ucap Feli lagi seraya menjauhkan wajahnya dari kamera.
"Ehhhhh jangan jangan," sahut Nata dengan cepat kemudian menampilkan wajahnya disana.
"Fel, lu serius jawab panggilan gue?"
__ADS_1
"Bukan ini bukan Feli,"
"Ohh myyy gudddddd, mimpi apa gue semalem!" Nata masih terheran-heran.
"Lebayyyy! Gue tau lu udah rindu banget kasian jadinya kalo ga diangkat," ucap Feli berusaha santai meskipun tidak bisa dipungkiri rasanya ada sedikit yang aneh ketika mereka sudah lama tidak bertegur sapa.
"Idihhhh siapa yang rindu," sangkal Nata.
"Cih," decak Feli, "pesan lo banyak banget bilang rindu gue, perlu gue screeshoot?"
"Hahahaha iyaa emang gue rindu ish!" jawab Nata terkekeh pelan.
"Jadi gimana? Kalian mau kesini kan?"
"Mau lahhhh pake nanya, yang harusnya nanya itu gue Felisha Claire Richard. Besok lu ga berubah pikiran lagi kan?"
"Lihat besok," ujar Feli bercanda.
"Heyyyyyyyyy serius gue mau booking tiket!"
"Booking ajah sih kek orang susah ajah, kalo batal juga tinggal batalin huh," Feli sepertinya sedikit menjadi dirinya sendiri seperti beberapa tahun lalu ketika berbicara dengan Nata.
"Cehhhh,"
"Eh Fel, kok muka lo masih sama sih?" ucap Nata kurang jelas maksudnya.
"Trussss muka gue harus gimana? Operasi plastik?" Feli sedikit menggelengkan kepala.
"Hahahaha dasar cantik dari lahir ya gini muka gue gaperlu diapa-apain tetep awet muda," Feli ikut terbahak.
"Huhh iya deh iyaa ajah jarang-jarang nyenengin lo kayak gini," Nata disana tersenyum tulus, sudah sangat lama keakraban mereka tidak terlihat. Dia senang temannya itu baik-baik saja.
"Kabar Dea dan Daniel gimana?" tanya Feli setelahnya.
"Yaa gitu-gitu ajah, gue curiga sama mereka, ah tapi sudahlah mungkin gue salah,"
"Apasih ngomong setengah-setengah deh,"
"Engga Fel, salah hahaha,"
"Dih, gajelass!"
Mereka melanjutkan obrolan seputar pendidikan mereka. Feli yang akan segera wisuda berbeda dengan Nata yang masih menunggu kelulusan berikutnya. Saling berbagi berbagai cerita yang kedua sahabat itu lewati beberapa tahun ini. Mereka tidak menghubungi Daniel dan Dea karena waktu tempat mereka yang berbeda.
Beberapa waktu kemudian mereka mengakhiri panggilan dengan Feli yang berjanji akan kembali menghubungi ketika personil mereka lengkap untuk membahas rencana liburan. Panggilan itu sedikit banyak melegahkan hati Feli, kerinduan akan sosok sahabat sedikit terobati.
**
Sama dengan Feli yang sibuk bercerita dengan sahabatnya, Alther juga sibuk membahas sesuatu dengan asisten sekaligus sahabatnya itu. Niat awal untuk membahas program baru untuk goAG berakhir dengan Alther yang malah menceritakan tentang dia yang tadi mengacuhkan Feli.
__ADS_1
"Kau mengacuhkannya?" Mark memicingkan mata.
"Hhmmmm," Alther mengangguk, "aku rasa dia bukan tipe wanita yang bisa aku dekati sesuka hatiku, aku takut dia justru akan menjauh jika aku terus mendekat,"
"Aku jadi salut dengan wanita itu,"
Alther menatap tajam meminta penjelasan.
"Dia bahkan tidak tertarik denganmu, apa aku harus mempromosikanmu di papan iklan yang tersedia?" lanjut Mark tersenyum mengejek sembari bertanya.
"Sialan! Tanpa perlu promosi orang-orang sudah banyak mengenalku!"
"Jangan lupa, wanita itu bahkan tidak mengenalmu setelah berapa kali bertemu!" Mark semakin tertawa.
"Tidak menutup kemungkinan dia akan semakin melupakanmu jika kau terus berlagak cuek," lanjut Mark.
"Kau berharap seperti itu?" Alther kesal.
"Aku tidak berharap seperti itu tuan Alther yang terhormat, aku hanya kasian kalau usahamu menunda keberangkatan tidak membuahkan hasil!" Mark berucap dengan serius sembari menunjukan deretan giginya diakhir kalimat dengan senyum terpaksa.
"Kau tenang saja, aku yakin ini cara yang tepat, aku akan terus hadir disekitarnya agar dia tidak lupa denganku," Alther tersenyum menyeringan dengan rencananya.
"Maksudnya?"
"Kau terlihat bodoh huh! Aku akan tetap mengikutinya, berlagak cuek membuat itu seperti kebetulan. Pura-pura menjauh untuk lebih dekat." Ucap Alther tanpa keraguan.
"Bukan aku yang terlihat bodoh, bahkan kau yang sekarang terlihat seperti orang bodoh," Mark hanyak mengucapkan itu didalam hati sembari berdecak dan menggelengkan kepala.
"Kau tidak senang?"
"Senang tidaknya aku apa pengaruhnya?" tanya balik Mark.
"Semoga kau segera merasakan rasa penasaran terhadap wanita sama sepertiku!"
"Cehh, tidak tidak aku tidak berminat! Seperti kurang kerjaan saja!" ucap Mark.
"Yah kau benar kerjaanku memang berkurang," Alther tersenyum menyeringai.
"Iyaa kerjaanmu berkurang dan kerjaanku yang semakin bertambah," ucap Mark kesal.
"Apa kau keberatan? Aku bisa saja menggantimu," Alther menjawab santai.
"Kau tidak akan mendapatkan pengganti yang sepertiku tuan Alther yang terhormat!"
"Iyaa tapi banyak yang lebih sopan darimu." Ucap Alther yang membuat Mark hanya memutar bola mata jengah kemudian berdiri dan berlalu, dia tau atasannya itu hanya sedang bercanda membuatnya kesal.
"Lihat saja baru begitu sudah tidak sopan, heyyy!!!!" Alther hanya tersenyum menggeleng dan ikut beranjak, aslinya tidak pernah ada niat serius untuk mencari pengganti sahabatnya itu.
...πππππ...
__ADS_1
*Sooooo sorry guyss baru updateπ€