Felisha (Find The Destiny)

Felisha (Find The Destiny)
Hangat


__ADS_3

Bandar Udara Internasional Cointrin Jenewa menjadi tempat terakhir perjalanan bersama mereka hari ini. Setelah selesai melengkapi belanjaan masing-masing sekarang Daniel, Dea dan Nata sudah siap untuk terbang ke Indonesia. Liburan singkat yang sangat berkesan harus berakhir disini. Alther bahkan meluangkan waktu untuk ikut mengantar keberangkatan sahabat Feli yang menjadi teman dekat mereka juga beberapa hari terakhir, tidak lupa juga Mark meskipun dia ikut karena terpaksa.


"Ingat, kau tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak berguna lagi," ucap Nata yang lebih kepada ultimatum kepada Feli. Sudah begitu banyak kalimat yang ultimatum yang keluar dari mulut Nata sebelumnya.


"Apa yang tidak berguna?" Feli mengerutkan dahi bingung.


"Aku tidak mungkin menjelaskannya lagi Fel," kesal Nata membuat Feli akhirnya mengerti dan menyunggingkan senyuman.


"Iya, tenang saja." Feli paham maksud Nata bahwa dia tidak boleh lagi melakukan pekerjaan seperti palayan restoran dan mengantar susu, dia lebih baik mengiyakan agar tidak ada protes lagi dari Nata, bisa dipastikan mereka akan ketinggalan pesawat jika harus berdebat disaat seperti ini. Lagipula Feli tidak akan lagi bekerja sebagai pelayan restoran karena dalam beberapa hari kedepan dia akan memulai karirnya di Willard Hotel, tetapi tidak dengan mengantar susu itu sudah menjadi kesenangannya.


"Fel, jaga dirimu baik-baik disini," ucap Daniel memberikan pelukan.


"Iya, kalian juga berhati-hatilah kabari aku jika sudah sampai,"


"Tentu kami akan mengabarimu, tapi itu jika kau tidak memblokir akses komunikasi setelah pesawat kita lepas landas," jawab Daniel sedikit menyindir kejadian di masa lalu.


"Itu tidak akan terjadi Niel,"


Feli menatap ke arah Dea yang diam saja sesaat setelah dia melepaskan pelukannya dengan Daniel.


"De, kenapa diam saja, apa kau tidak akan memberikan pelukan perpisahan kepadaku?" tanya Feli dan Dea masih diam saja.


"Wah aku jadi merasa bersalah memberikan pelukan untuk Daniel, apa kamu kesal karena itu De?" lanjut Feli bercanda.


"Ish itu tidak mungkin. Aku hanya tidak ingin kita berpisah," sahut Dea.


"Ayolahh, ini bukan perpisahan yang pertama untuk kita."


"Ya dan perpisahan itu masih sama, aku masih begitu susah menghadapinya," ucap Dea senduh namun akhirnya dia memberikan pelukan hangat ke tubuh Feli.


"Kita akan segera bertemu lagi,"


"Kapan? Aku bahkan tidak yakin jika bisa kembali kesini," ucap Dea.


"Ketika kau memberikan undangan pernikahanmu dengan Daniel aku pastikan kita akan segera bertemu," jawab Feli sedikit terkekeh untuk menyembunyikan kesedihan dalam hatinya.


"Jangan bercanda itu masih lama,"

__ADS_1


"Aku lupa belum memberikan pelukan untukmu," ucap Nata yang ikut bergabung dengan Dea dan Feli.


"Iya, kau sibuk memberikan ultimatum sejak tadi," jawab Feli.


"Dan aku tidak bercanda untuk itu Feli!"


"Iya, iyaaa... sudah sana kalian bisa ketinggalan pesawat," ucap Feli setelah pelukan diantara mereka berakhir.


"Kau ingin kita cepa-cepat pergi?" tanya Nata.


"Astagah," Feli menggelengkan kepalanya.


"Cih dasar anak-anak," kalimat itu lolos dari mulut Mark yang sedari tadi hanya diam menatap drama yang terjadi di depannya.


"Dasar orang tua!" siapa lagi jika bukan Nata yang segera menanggapi ucapan Mark.


"Sudah, sudah!" Alther menengahi, "hati-hati dijalan, aku harap kita bisa bertemu lagi," ucap Alther menyalami Dea, Daniel dan Nata bergantian.


"Tentu saja kita harus bertemu lagi," sambung Dea dan Nata bersamaan.


"Iya sampai jumpa," ucap Nata, "ah yaa jika kau tidak ingin kembali ke Indonesia, aku harap kita bisa bertemu di Los Angeles," sambung Nata dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Untuk apa aku kesana?"


"Cih, untuk mengambil gambar dengan latar belakang hollywood!" sahut Nata kesal.


"Aku sudah punya," jawab Feli yang memang dirinya sudah pernah berkunjung kesana saat usianya masih remaja, saat itu bersama Febian dan Lisiana.


"Ish sudahlah bye," timpal Dea sembari melambaikan tangan.


"Kau pasti tau maksudku kan," bisik Nata ditelinga Alther sebelum dia benar-benar berjalan meninggalkan mereka.


"Semoga saja secepatnya aku bisa mengenalkannya dengan keluargaku disana," balas Alther lebih untuk dirinya sendiri karena Nata sudah tidak mungkin mendengar ucapannya, sedangkan Feli dia tidak memperhatikan hal itu.


**


Setelah beberapa saat berlalu, tanpa menunggu pesawat lepas landas Alther segera mengajak Feli untuk kembali.

__ADS_1


"Ayoo," ajak Alther menatap ke arah Feli.


"Aku akan kembali sendiri, terimakasih sudah mengantar kami kesini," jawab Feli.


Alther mengerutkan dahinya, "kenapa harus sendiri, aku akan mengantarmu ke apartemen," ucap Alther lembut.


"Tidak perlu," jawab Feli segera melangkah membuat Alther sedikit bingung.


"Felisha," panggil Alther dan seketika dia baru sadar sikap Feli memang agak sedikit dingin sejak dia menawarkan kartu yang bahkan tidak Feli terima, tadinya dia mengira kalau Feli hanya lelah seharian berkeliling pusat perbelanjaan yang ada di Jenewa.


"Mark, kau pulanglah sendiri." Ucap Alther dan segera menyusul Feli tanpa memperdulikan Mark yang sudah bersungut kesal.


"Felisha, tunggu." Ucap Alther setelah berhasil mensejajarkan langkahnya, dia menahan tangan Feli agar tidak berjalan semakin jauh.


"Maafkan aku jika aku salah, tetapi jangan pulang sendiri," ucap Alther.


"Untuk apa minta maaf," balas Feli masih sedikit kesal, namun dia tidak bisa memungkiri bahwa ada perasaan hangat ketika dia tau bahwa Alther tetap tidak membiarkan dia untuk pulang sendiri.


"Aku minta maaf, jika apa yang aku lakukan tadi sudah menyinggung perasaanmu," ucap Alther tulus.


"Aku tidak bermaksud menyinggungmu dengan memberikan kartu tadi, aku hanya berpikir sesuka hatiku dan mengira kau membutuhkannya," ucap Alther.


"Bailklah, lupakan saja," ucap Feli sembari melirik tangan Alther, menarik pelan tangannya mengisyaratkan agar Alther segera melepaskan genggaman tangannya.


"Ayo aku akan mengantarmu pulang, ini sudah malam tidak baik anak gadis pulang sendiri," Alther justru menarik tangan Feli dan semakin menggenggamnya tanpa memperdulikan raut wajah Feli yang sudah berubah, bukan raut wajah kesal lagi yang terpampang disana. Feli menurut patuh entah kenapa perasaannya begitu cepat menghangat.


"Dimana Mark?" tanya Feli setelah mereka sudah tiba disamping mobil yang akan dikendarai Alther.


"Dia ada urusan jadi kita berpisah," jawab Alther yang tentu saja tidak benar karena sudah jelas dia meninggalkan Mark hanya untuk mengejar Feli, demi memiliki waktu berbicara berdua. Dia bahkan tidak menyangkah jika penjelasannya tadi hanya dibalas dengan kalimat lupakan yang keluar dengan gampang dari mulut wanita pujaannya itu.


Akhirnya Alther mulai berkendara dengan tujuan apartemen Feli. Sesekali mereka saling mencuri pandang dan akan berakhir dengan Alther yang tersenyum sedangkan Feli yang membuang muka atau menunduk malu ketika pandangannya saling bertemu.


**


Sedangkan di dalam pesawat, Nata yang sedang asik membolak-balikan majalah fashion seketika membulatkan matanya, begitu terkejut ketika menyadari sesuatu yang rasanya begitu terlambat dia sadari.


...🍓🍓🍓🍓🍓...

__ADS_1


__ADS_2