Felisha (Find The Destiny)

Felisha (Find The Destiny)
Hobby


__ADS_3

Feli sudah selesai bersiap-siap, terlihat begitu mempesona dengan setelan musim panasnya. Hari ini mereka berencana akan berkunjung ke museum bawah tanah diΒ St. Pierre Cathedral, katedral yang dibangun diatas kota tua yang cukup luas.


Alther jangan ditanya lagi dia sudah memutuskan untuk ikut dengan mereka, kebetulan ini adalah akhir pekan dan dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan itu meskipun sebenarnya dia tidak begitu tertarik untuk berkeliling kota Jenewa, yang membuat dia tertarik hanya satu menghabiskan waktu dengan calon pacar menurutnya.


Feli juga semakin bisa membaca gerak-gerik Alther, dia paham dia sudah salah mengira Nata yang tertarik dengan Alther atau sebaliknya. Mungkin instingnya yang kuat sempat tersembunyi beberapa hari dan sekarang kembali lagi, dia tau Alther sedang berusaha mendekatinya.


Kota Jenewa sendiri tidak terlalu bagus untuk dijadikan destinasi liburan berulang-ulang karena kotanya yang kecil dan juga tidak memiliki banyak destinasi. Kota yang menjadi pusat keuangan dan diplomasi dunia ini akan menyita banyak biaya untuk sekedar liburan, lebih cocok untuk dijadikan tempat pertemuan bisnis saja. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan bagi pecinta sejarah untuk menghabiskan waktu disana.


**


"Masih ada tempat lain lagi gak? Belom puas nih," ucap Nata setelah mereka selesai mengunjungi St. Pierre Cathedral.


"Ceh, padahal sejak tadi tidak paham dengan apa yang dilihat didalam katedral itu,"


"Paham ato engga emang masalah?" Nata sewot.


"Masalah, belajar tentang sejarah itu penting nona! Bukan hanya sibuk berfoto dan memamerkannya kepada orang-orang ckckck,"


"Ceh sok pintar!" Nata berjalan lebih dulu disusul Feli dan Dea.


"Ada apa denganmu Mark, kau terlihat semakin banyak berbicara?" tanya Alther geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu, selama mengunjungi katedral Mark dan Nata tidak henti-hentinya berdebat hanya karena Nata yang sibuk mengambil potret diri sendiri, padahal itu bukan urusan Mark pikir Alther.


"Tidak ada, kau tau sendiri aku terpaksa ikut dengan kalian, ini sangat membosankan!" jawab Mark malas.


"Tapi kau kelihatan seperti tidak bosen untuk protes dengan tingkah Nata?" Alther tersenyum mencibir.


"Justru tingkahnya yang paling membuatku bosan,"


"Kelihatannya tidak seperti itu," Alther terus saja mencibir.


"Memangnya apa yang kelihatan sedangkan kau sibuk memandangi Feli sejak tadi?" balas Mark tidak mau kalah.


"Aku tidak terus menerus memandangnya, aku tetap memperhatikan tingkah kalian,"


"Cehhh padahal mata dan perhatianmu terus terarah pada Feli, jelas kau tidak akan tau seberapa annoying temannya itu,"


"Ya ya yaaa terserah kau saja, jangan ganggu dia lagi kalau begitu agar kau tidak semakin bosan."


"Tapi tingkahnya.."


"Sudah sudah kenapa jadi gantian kalian yang berdebat yaampun tampang dewasa masih saja seperti ini," ucap Daniel, "sana mereka sudah semakin jauh," lanjutnya.


"Hey anak kecil, apa hubungannya dengan dewasa?" Alther tidak terima.


"Aku bukan anak kecil, kalian yang kelewat dewasa tapi tingkahnya seperti anak kecil," ucap Daniel meninggalkan Alther dan Mark menyusul para wanita.


"Dia mengatai kita tua atau anak kecil?" tanya Alther dan Mark hanya mengangkat bahunya. Mereka seperti anak kecil yang ditinggal saling memandang kemudian segera menyusul setelah tersadar yang meninggalkan semakin jauh.


**


Akhirnya mereka tiba di sebuah restoran dengan keakraban yang semakin terjalin tanpa disadari.


"Oiya Nat, gak balik Jakarta? Liburan kan masih panjang," tanya Daniel memulai obrolan sembari menunggu makanan mereka.

__ADS_1


"Balik sih, apa dari sini aku langsung ajah bareng kalian ya?"


"Ide bagusss," timpal Dea.


"Yakin?" tanya Feli.


"Memangnya kenapa?"


"Mau ngabisin lebih dari satu hari perjalanan jadi obat nyamuk mereka? Silahkan," ucap Feli terkekeh.


Perjalanan dari Geneva ke Jakarta memang memakan waktu yang tidak cepat apalagi dengan menggunakan pesawat komersial. Lebih dari satu hari bisa dilewati terhitung transit di satu atau dua negara.


"Gak bakal gue biarin mereka pacaran disana bahkan saat transit sekalipun,"


"Eistttttt, satu kali gue!" potong Feli.


"Sukurrrrrrr Nat, niat jelek sih hahaha," tawa Dea dan Daniel.


"Cehhh, seneng ya? Kamu juga punya jatah Fel."


"Iyaa inget kok," balas Feli malas.


Dua orang lainnya hanya menyimak obrolan mereka, dengan Alther yang hanya sedikit paham dan Mark yang tidak paham sama sekali.


"Ehhmmm," Mark berdehem dengan niat menyadarkan yang lain akan kehadiran mereka.


"Penasaran ya lagi ngomongin apa?" ejek Nata saat ini mereka kembali dalam mode bahasa internasional.


"Tidak penting,"


"Udah udah jangan mulai," Feli menengahi.


"Hmm," desin Nata sedangkan Mark hanya diam memilih memperhatikan hidangan yang sudah mulai disajikan.


"Alther, boleh minta sesuatu gak?" tanya Nata.


Alther hanya menaikan alis matanya pertanda Nata bisa segera menyampaikan keinginannya.


"Besok kalo mau ketemu kita lagi kamu ajah sendiri, gausah bawa orang itu,"


"Ehkk.." Alther menahan keinginannya untuk tertawa mendengar permintaan Nata sedangkan Mark sudah geleng-geleng kepala.


"Saya akan dengan senang hati tidak ikut, tetapi masalahnya yang disamping saya tidak percaya diri untuk datang sendiri,"


"Bahkan saya lebih senang jika tidak bertemu anda nona,"


"Kan mulai lagi," gumam Dea.


"Yaampun," Nata menarik nafas panjang.


"Heh.."


"Sudah sudah cukup dan maaf aku mungkin bisa saja menuruti keinginanmu yang itu, tetapi aku tidak yakin karena sepertinya Mark juga mulai terbiasa bertemu denganmu," jawab Alther yang justru malah menggoda dengan tawa yang menyusul.

__ADS_1


Feli sedikit menajamkan matanya membuat Alther terdiam.


"Besok jangan ajak aku lagi," ucap Mark.


"Tenang saja.."


"Sudah! Yaampun benar-benar seperti anak kecil, ayooo makan!" Daniel yang sudah lapar kembali memotong perdebatan yang ada.


"Gak rekomen deh," ucap Dea sembari mencicipi makanannya.


"Dasar lidah indo," ucap Feli dan Nata bersamaan.


"Sok bule! Iya tau yang bakal jodohnya bule!"


Uhukk


Feli dan Nata tersedak bersamaan. Alther sigap memberikan air minum ke arah Feli.


"Cihhh," Dea tersenyum geli.


"Aminnnnn deh De, pengen sih nyari yang bule juga emang kamu selera lokal," ucap Nata setelah meneguk air minumnya sendiri.


"Kayaknya bakal mulai lagi," gumam Daniel.


"Gaperluuu nyari Nat, noh udah ada," Dea melirik Mark.


"Sembarangan! Kamu ajah!" Nata sewot.


"Eitssss," mau tidak mau Daniel yang sudah menahan diri tidak ikut berdebat akhirnya terlibat juga.


"Jangan gitu Nat, yang kayak gitu biasanya jodoh." Ucap Daniel akhirnya.


"Dasar anak kecil," gumam Mark dengan maksud mengatai Daniel.


"Astagah kenapa aku jadi ikut-ikutan hehehe," Daniel terkekeh tidak ingin membalas ucapan Mark dan memilih melanjutkan makannya.


"Sepertinya kita semua memiliki hobby yang sama," ucap Feli pelan yang masih bisa ditangkap oleh Alther disampingnya.


"Apa?"


"Berdebat,"


**


Setelah makan mereka masih duduk santai disana, liburan yang ada sebenarnya bukan untuk menikmati keindahan kota Jenewa tetapi lebih kepada sekedar mengunjungi sahabatnya. Hanya sedikit waktu yang digunakan untuk menikmati destinasi yang ada, sisanya dihabiskan untuk bercerita atau sekedar berdebat yang entah kenapa juga membuat hati mereka begitu senang.


"Feliiii.." sapa seseorang yang baru saja menangkap keberadaan wanita yang dia kenal di salah satu restoran yang sama dengannya.


"Leon.." sapa balik Feli dengan senyuman membuat Alther terheran karena Feli bahkan belum pernah mengeluarkan senyuman untuknya.


...πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“...


Selamat Hari Raya Idul Adha buat kalian yang merayakan. Semoga pengorbanan dan keikhlasan selalu mengiringi langkah kehidupan kita semuaπŸ™πŸ–€

__ADS_1



__ADS_2