
Sementara itu Feli yang kesal dengan orang yang dia temui di toilet tadi semakin kesal saja karena dia sadar sudah dibohongi dengan mengambil nomor ponselnya.
"Modus," geram Feli dengan wajah kesalnya yang baru saja kembali mendudukan diri dimeja tempatnya dan Gabriel.
"Hey, kau kenapa?" tanya Gabriel heran.
"Habis bertemu dengan orang yang menyebalkan,"
"Hhmmm terlihat jelas dari raut wajahmu,"
"Benar-benar tidak punya sopan santun," Feli masih menggerutu sembari mengelap lengannya dengan tisu.
"Siapa? Pria atau wanita?"
"Pria yang sok akrab,"
"Lalu masalah dengan tanganmu apa?" Gabriel heran.
"Masalahnya dia berani sekali memegang tanganku,"
"Whatttttt?" Gabriel kaget ada juga yang berani menyentuh teman super galaknya itu, "hahahahahaah" tetapi beberapa detik kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Kau menertawakan apa?" Feli semakin kesal.
"Aku yakin itu seorang pria tua yang mesum, mungkin dia ingin berkenalan denganmu," ujar Gabriel masih dengan tawanya.
"Sembarangan, dia seorang pria tampan!" Feli keceplosan membuat Gabriel seketika menghentikan tawanya dan menampilkan raut wajah terkejut.
"Tampan? Waw baru sekarang aku mendengarmu memuji seorang pria," dengan ekspresi berlebihan Gabriel terlihat begitu heboh.
"Ma..maksudku dia bukan pria tua," ralat Feli.
"Iya berarti dia pria muda yang tampan kan?" Gabriel masih saja ingin menggoda.
"Semua pria juga tampan Briel, kalau cantik dia bukan pria," Feli memutar matanya jengah.
"Tetapi yang tadi menarik perhatianmu kan?"
"Bicara lagi aku tidak mau membantumu untuk paham apa yang harus dilakukan ketika internship di hotel," ancam Feli pada akhirnya.
__ADS_1
"Haish baiklah, aku tidak akan menanyakan pria tampan versi Felisha itu lagi," Gabriel tersenyum mengejek.
"Briel!" Feli geram.
"Iya iya aku bercanda," ucap Briel terkekeh.
"Lebih baik kita kembali, aku sudah begitu gerah," lanjut Gabriel yang memang berencana untuk menginap di apartemen Feli.
"Yasudah ayoo, semoga saja kau nanti tertidur jadi aku tidak perlu repot-repot menjawab pertanyaan darimu," ucap Feli sembari membereskan laptop dan bersiap untuk pulang.
"Itu tidak mungkin senior, aku bahkan sudah membuat list untuk apa yang ingin aku ketahui, aku akan mengganggumu setelah kau selesai membersihkan diri,"
"Cih, waktu itu menolak diajak paruh waktu di hotel dan sekarang merepotkan,"
"Merepotkanmu masuk kedalam wishlist yang sudah aku buat Fel," ujar Gabriel berjalan duluan sembari terkekeh.
**
Alther menatap ponselnya, sudah tersimpan nomor Feli disana dan saat ini dia seperti orang yang sedang kasmaran sekaligus kebingungan di dalam kamar yang dia tempati.
"Simpan nomorku,"
"Ahhh tidak tidak," sudah berapa kali dia mengetik pesan dan kemudian dihapus, hal itu terus berulang.
"Good night, have a nice dream," dan akhirnya kalimat itu menjadi potongan kalimat yang dipilih Alther untuk menjadi pesan pertamanya kepada Feli.
Tak berselang lama akhirnya pesan yang sudah terkirim itu dibaca oleh sang penerima pesan membuat gelisah hati sang pengirim, sembari kembali menunggu balasan Alther dengan tidak tenang membuka aplikasi dan menutupnya kembali. Satu menit, dua menit, lima menit bahkan sudah tiga puluh menit pesan yang sudah dibaca itu tidak memiliki tanda-tanda akan dibalas.
"Wah wanita ini benar-benar," gumam Alther sembari melempar ponselnya tetapi masih disekitar tempat tidur.
"Hanya dibaca saja," katanya lagi sembari mengambil ponsel yang dia lemparkan tadi.
"Dia bahkan mengabaikan pesanku," lanjut Alther kemudian kembali melemparkan ponselnya.
Ting
Nada pemberitahuan di ponsel Alther membuat dia segera menggapai ponselnya, setelah mengetahui siapa pengirim pesan dia hanya menarik nafas menambah kekesalan.
"Sialan dia meledek, semakin tidak menghargaiku!"
__ADS_1
"Tidurlah, belum tentu wanita tadi juga memikirkanmu," isi pesan dari seorang pengganggu menurut Alther, siapa lagi kalau bukan Mark asisten kesayangannya.
**
Sedangkan Feli diseberang sana sedang berbagi cerita dengan Gabriel saat sebuah pesan tiba-tiba masuk ke ponselnya yang sebenarnya jarang dia perhatikan. Dengan mengerutkan dahi Feli kemudian mengabaikan pesan itu. Siapa juga yang iseng mengirimkan pesan selamat tidur untuknya. Belum terpikirkan tentang pria yang mengganggunya tadi karena dia sedang disibukan dengan penjelasan-penjelasan untuk temannya mengenai pengalaman kerjanya di hotel.
"Fel, aku rasa cukup," ucap Gabriel sembari menguap.
"Yasudah ayo tidur," balas Feli kemudian membaringkan dirinya dikasur empuk yang ada di apartemennya itu.
"Ya aku begitu lelah." Gabriel ikut membaringkan dirinya dan menarik selimut.
Dan akhirnya kedua wanita itu tertidur dengan Feli yang tidak memperdulikan pesan dari pengirim yang bahkan tidak bisa tertidur menunggu pesannya dibalas.
**
Pagi hari yang cerah Feli sedang menjalankan aktivitas paginya dengan mengayuh sepeda seperti biasanya. Dari kejauhan Alther yang semalaman sulit memejamkan mata karena pesan yang tidak kunjung dibalas juga sedang menikmati udara pagi kota Jenewa sembari memperhatikan sosok Feli yang tidak sengajah tertangkap pandangan matanya.
Ingin sekali rasanya Alther menyapa wajah cantik itu. Wajah cantik yang tersenyum ramah kepada seorang penjual bunga, berbanding terbalik dengan apa yang ditampilkan Feli dalam beberapa kali pertemuan mereka.
"Ahhh, aku tidak boleh gegabah, dia bukan tipikal wanita yang mudah didekati." Ucap Alther yang lebih tepatnya untuk dirinya sendiri sembari matanya tetap mengikuti arah Feli mengayuh dan kebetulan dia berhenti di sebuah cafe, "mungkin dia akan menikmati sarapannya," Alther bergumam dan ikut melangkah ke arah cafe yang sama dengan Feli.
**
"Itukan pria yang semalam, huh pasti akan merusak pagiku," pikir Feli sembari menatap ke arah seorang pria yang baru saja duduk di cafe yang sama, tidak jauh dari mejanya saat ini.
Beberapa menit Feli memandanginya namun ternyata orang itu mengabaikannya. Bahkan Feli yakin kalau dia sudah mengetahui keberadaan Feli, terbukti dari mereka yang sempat bertatap mata sebelum kemudian sang pria memutus kontak mata tersebut.
"Dasar pria anehh, kemarin saja dia beberapa kali sok akrab dan sekarang seolah tidak mengenalku," gumam Feli sedikit sewot yang tidak habis pikir, dia masih ingat dengan jelas kalau pria itu sudah dua kali berusaha akrab dengannya.
Bahkan ketika Feli selesai dengan sandwich dan kopi yang dia pesan kemudian berjalan keluar melewati meja Alther, dia tidak menghiraukannya sama sekali.
"Hahh untuk apa juga aku memikirkannya," lanjut Feli sembari menggelengkan kepala terus melangkah meninggalkan cafe. Feli mungkin tidak sadar moodnya pagi ini sudah hilang bukan karena Alther yang mengganggunya tetapi karena Alther yang tidak mengganggunya.
...๐๐๐๐๐...
*pengen banget ngehalu muluu tapi ternyata banyak hal di real life yang menuntut harus dikerjain hihihi jadilah ini selingan monmaap kalo kurang berkenan๐คช
Thankyouuu kalian yang masih sering mampir di cerita yang biasa-biasa ini๐ค stay safe and stay home guys sebisa mungkin, kesehatan itu penting gausah kemana untuk hal ga penting lope lope sekebon toberry semoga kita semua sehat selalu๐
__ADS_1