
Sejatinya wanita itu mampu menyembunyikan cinta selama mungkin tetapi tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu walau hanya sesaat. Terkadang rasa cemburu memang diperlukan agar rasa cinta tidak terus tersembunyi tetapi bisa terungkapkan.
Mungkin Feli terlihat seperti itu saat ini, tetapi apakah dia benar cemburu we'll see.
"Kanapa dengan wajahmu itu Felii?" tanya Dea, saat ini mereka sudah tiba di depan lift apartemen Feli.
"Tidak, memangnya wajahku kenapa?"
"Datar bangert, kayak orang lagi kesel gitu,"
"Sembarang, muka gue dari dulu emang gini, yakali De gue senyam senyum sendiri,"
Ya, Feli memang gadis yang cuek, dia memang memberikan raut wajah datar kepada orang-orang yang tidak dia kenal, tapi itu berlaku ketika dia di Swiss, sebenarnya tidak seperti itu ketika bersama teman-temannya. Mungkin dia hanya terbiasa karena sudah berapa tahun terakhir dia jarang menampilkan wajah ceria, bisa jadi juga saat ini hatinya sedikit tidak baik-baik saja karena perdebatan atau lebih tepatnya obrolan dia dan Alther di pinggir danau.
"Iya Feliiiii iyaaa, udah Deaaaaa mending gausah nanya percumaa," ucap Nata tersenyum mengejek, "Gaakan ngaku," lanjutnya dalam hati.
"Jangan lupa tadi udah janji bakal cerita tentang kehidupan lo, eh kamu hahaha kehidupan selama disini," Nata kembali bersuara menagih janji.
"Hhhmmm,"
"Yaampun Feli, itu muka dan ekspresi kayak gitu banget," kali ini Daniel mengangkat suara.
"Yupssss dia kayak ga seneng ada kita disini,"
"Apa kita cari hotel ajah?" ucap Nata melirik, saat ini mereka sudah tiba di depan kamar Feli.
"Sombong mau nyari hotel, mentang-mentang gue ajak tinggal di apartemen sederhana kayak gini," akhirnya Feli mengangkat suara sembari membuka pintu apartemennya.
"Iyaaaa gue, dibilang aku kamu juga," protes Nata, dia memang lebih aktiv disana.
"Fel, apartemen ini nyaman juga," ucap Dea sembari melihat sekeliling.
"Wahh iyaa ini apartemen meski ga gede-gede amat tapi kelihatan nyaman, pemandangan diluar juga bagus," ucap Nata sembari menyingkap tirai yang membuat mata mereka segera dimanjakan dengan pemandangan pegunungan yang indah.
"Gajadi nginep hotel bukk?" tanya Feli.
"Engga lah, meski biaya hotel ga seberapa di kantong seorang Natalie, yaa gue tetep milih tinggal disini yang gratisan ini," ucap Nata dengan gaya sombong yang dibuat-buat.
"Cih gaya banget," cibir yang lain.
"Itu sombong berkualitas, hahahahaha," Nata tertawa sendiri dengan ucapannya, dia hanya akan begitu didepan sahabatnya karena terkadang didepan sahabat kita berkesempatan menjadi gila bersama.
"Eh, trus gue tidur dimana?" tanya Daniel yang hanya melihat satu kamar tidur disana.
"Lo gue mulu ish, perasaan tadi kalian deh yang sok-sokan mulai ngomong sopan," Nata kembali protes,
"Iyaaaa sorry, lupaa!"
"Yaudah mending kita taruhan ajah, yang masih ngomong lo gue kena hukuman ya! Harus nurutin salah satu keinginan dari kita!" usul Nata.
"Yaudah sembilan," ucap Daniel.
__ADS_1
"Setujuhhhh," ralat Dea.
"Ceh, kurang kerjaan banget," ujar Feli.
"Ga berani Fel?"
"Ngapain ga berani, cool gue setujuh,"
"Okeee, satu hukuman buat Feli cantik hahahahaha," Nata terbahak diikuti Daniel dan Dea.
"Apaan belom mulai," Feli tidak terima.
"Eitsss ga boleh gitu, kita udah mulai dari tadi," ucap Daniel dengan tegas membuat Feli berdecih.
"Terserahhhh deh iyaaa asal kalian seneng," Feli pasrah.
"Nanti ajah, jangan sekarang," ucap Nata.
"Pertanyaan g.. aku belum dijawab, aku yang paling tampan ini tidur dimana Feli? Kamarnya cuma satu," ucap Daniel lelirik pintu kamar Feli.
"Aaahhhh yaaa, dengan senang hati kamu bisa tidur di sofa Niel,"
"Yaampun, bisa remuk ini badan, bebb temenin disini yaaa," pinta Daniel memelas ke arah Dea dengan suara kecil di akhir kalimat.
"Ogahhh,"
"Idih dosa loh ngelawan kehendak aku,"
Dea mendekat dan berbisik, "belom jadi suami."
**
Feli memilih menyiapkan sarapan sebelum akhirnya dia membangunkan mereka untuk bersiap dan menikmati sarapannya. Tidak mungkin mereka hanya akan menghabiskan harinya di apartemen Feli.
"Niel, sana mandi kita udah selesai," ucap Nata setelah keluar dari kamar kepada Daniel yang masih terbaring di sofa. Kamar mandi apartemen Feli memang ada dua, tetapi mereka memilih bergantian menggunakan yang ada di kamar karena peralatan mandi tersedia disana.
"Iyaaa," jawab Daniel sembari bergerak ke arah kamar.
"Masak apa Fel?" Nata beralih kepada Feli.
"Omelette doang,"
"Lagi Fel kok segitu doang?"
"Ini udah pas buat kita," Feli memicingkan mata.
"Ya keliatannya enak, kayaknya aku makan lebih deh," kilah Nata.
"Nat, jangan macam-macam deh," Feli sudah memiliki firasat aneh dengan sahabatnya itu yang terlihat sibuk mengetik di ponselnya.
"Siapa yang macam-macam," jawab Nata tanpa bersalah
__ADS_1
Ting Tong Ting Tong
Belum juga Feli kembali ingin menjawab Nata mengutarakan kecurigaannya, bel apartemen sudah berbunyi.
Feli menatap tajam ke arah Nata.
"Udah sana buka dulu ada tamu," Nata mendorong Feli ke arah depan.
"Huhhhh," Feli menarik nafas, "Jangan sampe yang aku pikirkan benar kejadian," gumam Feli.
Ceklek
Pintu apartemen dibuka dan segera menampilkan dua pria tampan dengan setelan casual disana. Siapa lagi kalau bukan Alther dan Mark yang sebelumnya sudah berkomunikasi dengan Nata untuk datang, lebih tepatnya mereka diundang oleh sahabat Feli itu.
"Selamat pagi," sapa Alther dengan senyum manis di bibirnya.
Feli hanya mendeseh dan kemudian berbalik, berjalan ke arah Nata tanpa mempersilahkan tamunya untuk masuk terlebih dahulu. Tatapan tajam segera Feli berikan kepada Nata yang hanya bisa tercengir.
"Udah dibilang jangan macam-macam Nat," kesal Feli namun dengan suara tertahan.
"Ini kan cuma satu macam Fel,"
"Ishhhh Nat, aku serius,"
"Yah maapppp, tapi kan orangnya udah nyampe," Nata kembali menunjukan deretan giginya tanpa rasa bersalah.
"Huffffff," Feli kembali menarik nafas kesal.
"Permisi, ini kita boleh masuk tidak?" suara Mark dari depan pintu menyadarkan mereka kalau sang tamu belum dipersilahkan masuk.
"Baiklah kalau tidak bisa," Alther akan melangkah sebelum suara Feli menggagalkan rencananya, rencana untuk pura-pura berbalik arah.
"Udah dibukain pintu yaudah sih masuk," ucap Feli jutek.
Alther dan Nata tersenyum.
"Baiklah," mareka melangkah kedalam.
"Ehhh, jangan disitu," interupsi Nata ketika Alther akan mendudukan dirinya di sofa minimalis yang ada di ruang tamu.
"Sini ajah, Feli udah buat sarapan untuk kita,"
"Nat, itu buat Niel dan Dea,"
"Bikin lagi ajah, tadi kan aku bilang kurang Fel," ucap Nata tanpa rasa bersalah membuat Feli melotot kemudian menyentakan kakinya dengan kesal.
**
"Yang benar saja," Feli terus menggerutu namun tetap berkutat dengan spatula menyiapkan omelette untuk Dea dan Daniel.
"Mau dibantu?" suara dari belakang Feli yang datang tiba-tiba membuat dia begitu terkejut.
__ADS_1
Feli refleks memutar tubuhnya dan lebih mengejutkan lagi jarak Feli dan Alther ternyata sudah sangat dekat. Seakan tidak bisa menjaga keseimbangan badan Feli langsung terhuyung ke belakang dan tangan Alther dengan sigap menangkap pinggang rampingnya.
...🍓🍓🍓🍓🍓...