
Beberapa hari dengan kehadiran sahabatnya disini membuat Feli kembali menjadi dirinya sendiri, dirinya yang sedikit terbuka, dirinya yang lebih banyak bicara, dirinya yang tidak begitu cuek. Kehadiran sahabatnya juga membuat Feli semakin dekat dengan orang yang sebelumnya membuat dia kesal, hubungan Feli dan Alther semakin dekat meski dengan tujuan yang belum diketahui oleh Feli. Mereka hanya menikmati setiap proses yang terjadi. Perhatian lebih yang dia terima dari Alther dengan selalu menghabiskan waktu bersama mereka bisa sedikit membuka hatinya. Feli yang minim pengetahuan tentang sebuah hubungan selain persahabatan sudah mendapat wejangan dari sahabat-sahabatnya yang hanya dibalas dengan deheman cuek meskipun sebenarnya hatinya begitu bertanya-tanya hubungan seperti apa yang akan terjadi antara dirinya dan Alther.
Akan tetapi pertemuan yang terjadi diantara Feli dan sahabat-sahabatnya tidak bisa berlangsung lebih lama, perdebatan mereka tidak bisa selalu mewarnai cerahnya kota Jenewa. Ada pertemuan dan ada perpisahan, apalagi untuk mereka yang hanya menikmati waktu liburan atau sekedar mengunjungi Feli.
Hari ini adalah hari terakhir Nata, Dea dan Daniel untuk menikmati apa yang ada di kota Jenewa. Sebelumnya mereka juga sudah berkunjung ke gedung CERN, melihat-lihat ke berbagai Markas Organisasi Internasional dan juga sudah mengunjungi tempat pembuatan jam tangan terbaik dunia untuk mendapatkan cendera mata. Saat ini mereka sedang menikmati sarapan pagi dan berencana akan menghabiskan waktu untuk belanja sebelum penerbangan mereka yang dijadwalkan malam hari.
"Fel, yakin gamau ikut kita balik ke Indo?" tanya Nata.
"Engga Nat," jawab Feli seadanya.
"Hufff,"
"Tapi janji yaa, nanti balik setelah urusan disini selesai," pinta Dea.
"Gak janji,"
"Ish Feli, gak asikkk,"
"Udah masih pagi! Kan Feli udah jelasin alasannya, dia mau wisuda dan juga udah dapat pekerjaan disini,"
"Hmmmmmm," balas Dea dan Nata bersamaan.
"Barang-barang kalian udah beres?" tanya Feli mengalihkan pembicaraan.
"Udah kok,"
"Yaudah cepet sarapannya abisin," ucap Feli lagi.
"Hmm kalian kalo belanja pasti lama, awas jangan sampe kita ketinggalan pesawat nanti!" ujar Daniel memperingatkan.
"Yaelah Niel, malam masih lama," jawab Nata.
"Cihh lama, liat ajah nanti seberapa cepet kalian kalo belanja,"
"Gak lama kok, cuma cari oleh-oleh buat mami," jawab Dea.
"Yaa semoga,"
**
Jenewa adalah kota fashionnya Swiss. Bila dibandingkan dengan kota lain di Eropa seperti Milan, London atau Paris, cara berpakaian orang Jenewa rata-rata formal dan elegan. Hal ini terjadi karena rata-rata profesi di sana berkerja di PBB dan organisasi internasional tetapi tidak sedikit juga yang menjalani pekerjaan lainnya seperti usaha yang baru dibuka oleh Alther disana.
Hampir semua toko bermerek terletak di kawasan kota tua dekat danau Jenewa atau dikenal dengan Kawasan Bel-Air. Mall yang besar adalah Globus dan menyediakan produk highend trademark, tetapi ada juga yang paling mewah yaitu Bon Genie. Butik-butik kecilnya juga menarik untuk dikunjungi. Rumah Mode Bottena, Tods, Gucci, sampai luxury brands seperti Steffano Ricci, Loro Piana, Brioni, VersaceΒ dan lainnya. Di dekat danau Jenewa juga ada tiga factory outlets Le Mouton, toko ini menyediakan berbagai brand terkenal dunia utamanya dari Italia dan Prancis membuat Daniel sangat yakin kalau mereka akan menghabiskan banyak waktu ditempat itu.
"Beb, belinya gausah banyak-banyak kamu bisa beli di Indo," ucap Daniel pada Dea yang sudah memegang beberapa paper bag ditangannya tetapi masih meneruskan langkahnya ke toko yang lain.
"Ini beda, gaada disana, keluarnya terbatas," ucap Dea santai.
"Yaampun, nanti bawanya gimana?" tanya Daniel.
"Aman kok, nanti aku pegang,"
"Tapi itu udah banyak, aku gamau yaa disuru megangin," ucap Daniel.
__ADS_1
"Ah elah pacar gitu amat, aku udah bayar sendiri masa iya pegangin juga gak mau sih," ucap Dea manja.
"Siapa yang mau bayar sendiri?" tanya Daniel.
"Ih kamu itu gak peka, aku bayar sendiri biar yang bawain itu kamu,"
"Nooooo.. aku mending bayarin deh timbang bawain itu semua," Daniel menggeleng.
"Ini aku juga beli buat mami kamu loh," Dea masih mencoba negosiasi.
"Gausah, mending tinggalin ajah buat Feli,"
"Cih jadi sahabat atau pacar sama ajah, gak mau bawain belanjaan!" gerutu Dea meninggalkan Daniel ke dalam toko yang menjadi tujuannya, dia tidak merubah niatnya untuk tetap belanja. Daniel yang ditinggal hanya menarik nafas kesal dengan kebiasaan para wanita yang sudah menjadi sahabat bahkan kekasihnya itu.
Sama halnya dengan Dea dan Daniel, Nata dan Feli juga sedang berada di dalam toko yang berbeda dengan Nata yang sibuk berbelanja ini itu sedangkan Feli hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya, sama sekali tidak tergoda untuk melakukan hal yang sama.
"Fel, ini bagus deh ambil buat kamu!" ucap Nata sembari memberikan dress dengan leher membentuk huruf V, model yang kencang membalut tubuh, dan punya belahan belakang yang panjang dengan pilihan warna cerah yang dikeluarkan sebuah merek ternama.
"Engga ah, kamu ajah," tolak Feli karena memang dia tidak begitu tertarik.
"Gak ada penolakan Fel! Aku yang bayar, ini biar baju kita mirip, aku ambil yang ini buat Dea juga," ucap Nata menjelaskan dan ikut menunjukan dress lain yang ada dalam
"Yaampun maksa banget, yasudah kalo gitu aku ajah yang bayar," ucap Feli mengiyakan tidak ada salahnya karena memang mereka sudah lama tidak belanja bersama.
"Duitnya ada?"
"Ceh, banyak!" jawab Feli sombong.
"Ngelunjak!"
"Itung itung jatah jajan dari om Febian yang gak pernah kamu pake, sayang mubazir mending buat bayarin shopping kita ajah, yakan De?" tanya Nata ketika melihat Dea yang baru saja masuk kedalam toko dengan Daniel yang sudah terlihat malas dibelakangnya.
"Apa?"
"Belanjaan mau dibayarin Feli,"
"Gak perlu, duit gue juga banyak!" ucap Dea.
"Ceh gak seruh, gak bisa diajak kerja sama," gerutu Nata yang memang hanya berniat untuk bercanda.
"Yaudah sini aku yang bayar, tapi abis ini udah kan? Pegel nih," Feli mengeluh.
"Belommmmmmmmm," jawab Dea dan Nata bersamaan.
"Masih nyari belt," lanjut Nata.
"Yaampun Nat ini udah banyak loh,"
"Gak masalah masih bisa kok dibawa sampe Indo, belt doang Fel mau langsung pake juga bisa kok,"
"Huffff," Feli dan Daniel sama-sama menarik nafas kesal.
"Sok kesel!"
__ADS_1
Feli hanya memutar bola matanya jengah dan segera meninggalkan mereka untuk ke kasir, dia membayar belanjaan dengan kartu yang diberikan Febian karena tabungan dia sendiri tidak akan sanggup untuk membeli beberapa potong barang branded yang bisa mencapai angka lima puluh juta per item jika dirupiahkan.
"Serius dibayarin? Aku belum ngambil apa-apa," ucap Dea.
"Jangan kayak orang susah,"
"Kamu Nat yang kayak orang susah sampe dibayarin Feli,"
"Hehehehe, yaudah kita ganti lah," Nata terkekeh.
**
Setelah selesai mereka memilih untuk menikmati coklat yang akan menjadi pelengkap liburan mereka di Jenewa sebelum mencari ikat pinggang incaran Nata dan Dea. Boulangerie Pattisserie Chocolaterie Eric Emery menjadi tempat pilihan mereka atas rekomendasi Feli tentunya. Restoran coklat ini menarik karena kualitas makanannya yang sangat baik dan mereka memiliki tempat cukup luas untuk makan di luar, mereka menikmati coklat hand made sembari menunggu kedatangan Alther dan Mark yang sebelumnya tidak bisa cepat bergabung karena urusan pekerjaan yang mendesak.
"Sudah lama?" tanya Alther mendudukan dirinya di kursi kosong sebelah Feli.
"Lumayan," Feli hanya mengangguk dengan wajah yang sudah meronah, entah kenapa beberapa hari kebelakang Feli yang galak dan cuek sudah berubah menjadi Feli yang pemalu, tetapi itu hanya berlaku didepan Alther dan tidak didepan sahabatnya. Rasanya begitu tenang menikmati aroma khas parfum Alther yang belum dia nikmati seharian ini.
"Belanjanya sudah?"
"Belummm," Nata yang menjawab.
"Masih mau cari belt,"
"Yasudah sekarang saja, takutnya kelamaan dan kita ketinggalan pesawat," usul Daniel.
"Mereka baru saja datang Niel, bahkan belum pesan," sambung Dea.
"Ah iya, maafkan aku kalian pesan saja dulu, aku saja mengantisipasi karena aku sudah kewalahan dengan mereka yang terus berkeliling tanpa ingat waktu," ucap Daniel.
"Tidak masalah, kita bisa kesini lagi nanti," ucap Alther menatap Feli.
Feli memicingkan mata.
"Kamu punya hutang menemaniku makan disini nanti, ayo!" ajak Alther.
"Cih kesempatan," gumam Nata dan Mark bersamaan yang kemudian saling pandang dengan mata melotot kesal.
"Bawa sendiri," ucap Feli sembari menyerahkan beberapa paper bag milik Nata.
"Bantuin sih Fel," Nata memelas.
"Ogah," Feli meninggalkan Nata dan berjalan duluan dengan satu paper bag miliknya, baju dengan motif sama tadi memang hanya menjadi satu-satunya pilihan Feli, itupun karena terpaksa.
"Pakai ini," ucap Alther menyodorkan satu kartu ke arah Feli.
"Buat apa?"
"Buat belanja, aku tidak tau jika kalian akan belanja, kalau tau aku akan meninggalkan kartu ini tadi malam," jelas Alther, dia tahu betul paper bag yang menjadi tentengan Dea dan Nata bukanlah dari merek sembarangan sedangkan Feli hanya membawa satu ditangannya. Mungkin Alther mengira Feli tidak berbelanja karena tidak mampu untuk membelinya, seperti yang dia tau wanita incarannya itu sebelumnya hanya bekerja sebagai pelayan di restoran dan hotel.
"Aku tidak butuh," entah kenapa hal itu tiba-tiba membuat mood Feli berubah menjadi buruk
...πππππ...
__ADS_1