
"Makan siang disini juga?" tanya Leon.
"Iyaa tadi sedang ke daerah sini sekalian makan siang, kau sendiri?"
"Aku tadi ada pertemuan dengan client, dan beruntung sekali tempatnya disini,"
"Beruntung?" tanya Feli.
"Ya! Beruntung aku bisa bertemu denganmu disini, sudah lama rasanya kita tidak bertemu sejak di cafe terakhir kali," ucap Leon.
"Ceh," Feli terkekeh, "itu karena kau begitu sibuk, aku beberapa kali ke kampus tetapi tidak sempat bertemu denganmu," lanjutnya.
"Apa kau berharap bertemu denganku?" goda Leon.
"Ish kau itu!"
"Padahal aku begitu berharap," Leon masih menggoda membuat Feli melototkan matanya.
"Hahahaha sebenarnya aku sudah tidak ada keperluan dikampus, tinggal menunggu hari wisuda yang sama denganmu," terang Leon, "dan juga akhir-akhir ini begitu banyak pekerjaan dikantor, jika tidak aku pasti akan ke kampus agar bisa bertemu denganmu," lanjutnya.
"Yaampun Leon, kau begitu pintar menggoda,"
"Sebenarnya aku tidak sedang menggoda,"
"Ehmmmm," Alther mengeluarkan suara sembari berdiri dari tempat duduknya. Sedari tadi dia sudah begitu kesal dengan seorang pemuda yang berbincang begitu akrab dengan Feli, tetapi dia juga sadar tidak mungkin menginterupsi percakapan mereka meskipun pada akhirnya dia tetap menginterupsinya.
"Mau kemana?" tanya Mark melihat Alther mulai meninggalkan meja makan mereka.
"Toilet,"
"Untuk apa?"
"Ke toilet untuk apa? Yang benar saja pertanyaannya," gumam Nata yang masih terdengar oleh Mark.
"Hey aku tidak memintamu menjawab,"
"Aku tidak sedang menjawab," balas Nata tajam.
"Hahhh susah berbicara dengan bocah," ucap Mark dan segera menyusul Alther yang sudah beranjak ke toilet tanpa menjawab pertanyaannya tadi.
"Membuat selera makanku hilang saja," kesal Nata.
"Dia yang menyahuti dan dia juga yang kesal sendiri," bisik Dea pada Daniel.
"De, aku bisa mendengarmu!" Nata melotot.
"Hehehe baguslah berarti pendengaranmu masih berfungsi dengan baik," ucap Dea menunjukan deretan giginya yang rapih.
"Kalian seperti bukan sahabatku,"
"Kami hanya penikmat perdebatan," kata Daniel.
"Terserah," Nata memutar matanya kesal dan segera melanjutkan makannya yang masih tersisa sedikit.
"Aku pikir kau sudah tidak selera," cibir Dea.
"Tidak selera tapi masih lapar, puas?"
__ADS_1
"Kenapa jadi nyolot sih hahahaha," Dea tertawa dengan kerasnya.
"Ceh,"
**
Sementara itu Feli tidak melepaskan pandangannya dari Alther semenjak pria itu mengeluarkan suaranya tadi. Pandangan matanya mengikuti arah gerak Alther hingga punggungnya menghilang dibalik tembok pemisah.
"Fel, mereka?" Leon mengeluarkan suara, dia mengarahkan pandangannya ke arah depan Feli. Sebelumnya dia sempat melihat ke arah Alther juga Mark, tetapi karena posisi mereka yang memunggungi Leon membuat dia kesulitan untuk mengenali wajah mereka.
"Ah kenalkan mereka teman-temanku," jawab Feli kemudian.
"Oh hallo kenalkan, aku Leon," ucap Leon menyapa yang disambut baik oleh Nata, Dea dan Daniel untuk saling berkenalan dan sedikit berbincang.
"Aku pikir temanmu hanya Gabriel," Leon tersenyum.
"Kau hanya tidak tahu, mereka yang begitu ingin menjadi temanku," Feli terkekeh dengan jawabannya sendiri.
"Rasanya aku sudah lelah jika harus kembali berdebat," ucap Nata.
"Hahahaha mereka sahabat lamaku Leon,"
"Hmm begitu," ucap Leon mangut-mangut.
"Kau tidak lelah berdiri terus? Tidak berniat duduk disitu?" tanya Feli mengarahkan pandangan ke arah kursi kosong di sebelah kanannya.
"Ah kau terlambat menawarkannya Feli hahaha, aku harus segera pergi,"
"Ini bahkan akhir pekan tetapi kau terlihat begitu sibuk,"
"Baiklah,"
"Sampai bertemu lagi," ucap Leon sebelum akhirnya meninggalkan mereka.
**
"Cemburu ya?" cibir Mark ketika dia sudah berhasil menyusul keberadaan Alther. Saat ini mereka sedang berdiri memperhatikan penampilan masing-masing di depan cermin.
"Menurutmu?"
"Ya iya kau cemburu hahaha,"
"Siapa pria tadi?" tanya Alther.
"Mana aku tauuuuuu, aku bahkan tidak berkenalan dengannya,"
"Ya kau cari infonya," kesal Alther.
"Hmmmmmm," balas Mark, "Tetapi dia tidak terlihat seperti orang biasa," lanjut Mark.
"Hanya karena dia menggunakan setelan jas lengkap?" sewot Alther.
"Tidak juga, dan yang lebih penting dia terlihat lebih muda darimu,"
"Lebih muda dariku? Kau mengataiku tua?" tanya Alther balik.
"Iya, sedikit!"
__ADS_1
"Tidak sadar diri! Bahkan usia kita ini sama," ucap Alther kesal.
"Ah iya ya hahahaha," ucap Mark lebih pada dirinya sendiri, "mau aku beri saran?" lanjutnya bertanya.
"Saran untuk apa? Cih kau bahkan tidak sadar dengan jodoh didepan matamu,"
"Kau seperti bocah teman Feli itu saja," gerutu Mark.
"Sudahlah, apa yang ingin kau katakan?" tanya Alther pada akhirnya sembari mencuci tangan.
"Jangan buang-buang waktu, pria tadi terlihat lebih muda dan yang paling penting mereka terlihat akrab, kau bahkan tidak ada perkembangan, hhmmm bisa jadi pria tadi adalah calon kekasihnya," ucap Mark sekilas untuk mengetahui respon Alther.
"Jika sampai iya, kau yang harus bertanggung jawab," ucap Alther kemudian mencipratkan sisa-sisa air ditangannya ke arah Mark.
"Heyyyyyyy bocah!"
"Apa?"
"Astagah aku sedang serius! Berapa lama kalian kenalan itu tidak penting. Berapa banyak juga pertemuan yang kalian lakukan itu tidak akan membuat dia tetap di sampingmu. Juga tidak membuat dia tidak akan dekat dengan pria lain, apalagi jika kamu belum memiliki komitmen yang jelas dengannya," ucap Mark membuat Alther sedikit terdiam dan berpikir sembari mengeringkan tangannya.
"Ya, kau benar, aku akan lebih serius,"
"Nah begitu lebih baik,"
"Tapi by the way kau mengutip kalimat itu darimana? Terdengar begitu berpengalaman," cibir Alther.
"Hey kau meraguhkan pemikiranku?"
"Tentu saja tidak," ucap Alther, "tidak salah lagi," sambungnya.
"Maaf tuan jangan lupa aku ikut andil menbangun goAG kemampuanku tidak diragukan," ucap Mark sombong, "kutipan-kutipan seperti itu sangat banyak disana dan aku sering mengeceknya untuk dijadikan kutipan media sosial," lanjut Mark yang beberapa detik kemudian ikut tertawa juga.
"Ceh baiklah, tugasmu cari lebih banyak tentang bagaimana aku bisa mengutarakan niatku untuk berkomitmen dengannya,"
"Kenapa aku? Ponselmu kenapa tidak dimanfaatkan?"
"Karena kau yang menyarankannya," ucap Alther cuek dan segera meninggalkan toilet untuk kembali ke meja mereka tadi.
"Astagah Alther Giovanni Willard, kau yang jatuh cinta dan aku yang kena imbasnya," ucap Mark kesal setengah berteriak.
**
"Sudah selesai makan? Masih ada tempat yang akan dikunjungi setelah ini?" tanya Alther pada Feli dengan lembut setelah dia kembali bergabung disusul oleh Mark.
"Hem? Kenapa bertanya padaku?" Feli bingung dengan Alther yang terlihat perhatian dengan arah pertanyaan yang salah alamat. Seharusnya dia bertanya kepada sahabatnya karena mereka yang sedang menikmati liburan ditempat ini.
"Ah ya, kalian masih ingin kemana?"
"Kami sudah selesai, rasanya tidak ada tempat lagi yang ingin kita kunjungi, bagaimana kalau kita kembali ke danau menikmati sore disana," saran Dea.
"Ide bagus," ucap Nata.
"Yasudah ayooo," kata Alther sembari menarik tangan Feli untuk keluar dari restoran.
Kalau seseorang yang cemburu akan bersikap dingin berbeda dengan Alther yang memilih menjadi lebih perhatian kedepannya, kalau seseorang yang cemburu akan berbicara seadannya Alther memilih untuk lebih antusias. Ya, Alther adalah pria dengan tingkat kepintaran yang tinggi, dia berusaha berpikir dengan logika tidak seperti sebelumnya, dia tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk hal yang akan membuat mereka menjauh meskipun sebenarnya dia sangat cemburu dan penasaran dengan sosok yang begitu akrab dengan Feli tadi.
...🍓🍓🍓🍓🍓...
__ADS_1