
Jakarta, Indonesia
Sementara itu di kediaman keluarga Richard, malam hari setelah masing-masing selesai dengan aktivitas padat kini Febian dan Lisiana tengah sibuk berkemas di kamar mereka. Rasa lelah setelah seharian berkutat dengan kegiatan yang banyak tetap membuat mereka bersemangat karena besok mereka akan segera terbang ke Jenewa untuk bertemu dengan Feli yang sudah sangat mereka rindukan.
"Sayang, aku sudah menyiapkan makanan kesukaan Feli," ucap Lisiana sembari tersenyum, raut kebahagiaan terus terpancar di wajahnya, wajah yang masih nampak cantik diusia yang sudah tidak muda lagi,
"Apa itu akan baik-baik saja? Kita akan memakan banyak waktu di perjalanan,"
"Tidak masalah, aku sudah memasaknya dengan tingkat kematangan yang sempurna, bibi sudah membungkusnya dengan baik dan kita bisa menyimpan itu didalam lemari pendingin ketika berada di dalam jet pribadi kita,"
"Yasudah, kamu tentu yang paling mengerti tentang itu,"
"Ah yaa, bawa saja pakaian seadanya agar tidak kerepotan saat kita kembali kesini," lanjut Febian memperingatkan istrinya karena dia yakin wanita tidak akan lepas dari yang namanya berbelanja apalagi mereka akan menemukan banyak brand fashion eropa disana.
"Tentu saja sayang, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk berbelanja apalagi aku bisa melakukannya bersama Feli, rasanya aku begitu tidak sabar untuk segera tiba disana," jawab Lisiana masih dengan ekspresi senang.
"Selama ini kamu dan Farrel tidak pernah ikhlas menemaniku belanja," lanjut Lisiana mengeluhkan kelakukan para pria kesayangannya itu yang tidak pernah betah jika diajak berkunjung ke pusat perbelanjaan apalagi untuk menemaninya shopping ke negara tetangga. Akhirnya Lisiana lebih sering memesan barang-barang hanya lewat website resmi yang disediakan setiap brand. Dia sungguh rindu dengan Feli, tetapi dia juga tidak yakin apakah Feli akan mengikuti rencana yang sudah dia susun, melihat terakhir kali Feli sudah berubah.
"Ahh aku tidak boleh terlalu berharap," ucap Lisiana pelan sembari menghelah nafas dan tersenyum.
"Sayang, yakinlah putri kita sudah semakin dewasa dan pikirannya juga sudah semakin terbuka." Ucap Febian yang sempat menangkap senyuman kurang manis tersungging dibibir istri tercintanya.
"Iyaa, tapi sebenarnya bisa bertemu dengannya saja aku sudah sangat bersyukur," ucap Lisiana.
"Mih, eh ada papi juga, aku pikir papi belum pulang," ucap Farrel yang baru saja masuk ke kamar orang tuanya.
"Iya, ada apa? Kamu sudah berkemas?" tanya Febian.
"Sudah, tidak banyak yang harus aku kemasi, hanya memasukan beberapa pakaian saja di koper." Jawab Farrel sembari mendudukan dirinya di sofa yang ada dikamar itu, "aku pikir mami butuh bantuan, makanya aku kesini buat bantu-bantu karena tadi kata bibi mami sedang beberes dikamar," lanjutnya.
"Mami sudah selesai kok," ucap Lisiana yang hanya dijawab dengan anggukan kepala Farrel.
"Kamu sudah makan malam?" lanjut Lisiana bertanya karena tadi saat dirinya pulang dia tidak mendapati Farrel di rumah.
"Sudah, aku baru selesai makan makanya aku tau dari bibi kalau mami lagi berkemas dikamar, tadi juga bibi sibuk bungkusin makanan, kenapa banyak banget sih mih?" jelas Farrel sembari bertanya.
"Itu buat kakak kamu, dia pasti sudah lama tidak menikmati makanan itu,"
"Yaampun mamiiiii, disana banyak restoran yang bisa kakak kunjungi untuk mendapatkan makanan seperti itu, jangan kayak orang dulu deh mih," ucap Farrel santai.
"Farrel, gak sopan kamu." Tegur Febian.
"Emang bener kok pih,"
"Sudah sudah, iyaa mami tau tapi gatau kenapa mami tetap pengen bawain buat kakak kamu," jawab Lisiana.
"Yasudah,"
"Lebih baik kita istirahat, besok harus bangun pagi-pagi," ucap Lisiana.
"Baiklah," jawab Farrel sembari berdiri dari sofa dan beranjak ke tempat tidur yang tersedia dikamar itu.
"Kamu ngapain kesitu?" Febian menatap bingung putranya, namun sekian detik dia menampilkan raut wajah tak suka ketika menyadari bahwa putranya itu akan mencari masalah dengan dirinya.
__ADS_1
"Mau tidur lah papiiiii, udah lama aku gak tidur disini," jawab Farrel yang sudah membaringkan dirinya di tempat tidur dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Eitsssss noooo, pindah ke kamar kamu," Febian yang tidak terima segera menarik selimut yang digunakan putranya namun tidak berhasil.
"Papi jangan gitu dong aku mau tidur," Farrel mengencangkan selimut di tubuhnya.
"Iya tidur tapi jangan disini,"
"Pelit banget sih, udah jangan ganggu pih aku ngantuk banget," jawab Farrel yang sengajah memejamkan matanya.
"Kamu pikir cuma kamu yang ngantuk? Farrel kamu itu sudah dewasa, ayo pindah masa masih tidur sama orang tua sih," Febian semakin menunjukan kekesalannya dengan menarik keras selimut yang di pakai putranya.
Lisiana yang melihat kelakuan suami dan putranya hanya tersenyum. Dia sudah paham Farrel pasti sengajah ingin membuat papinya kesal dan itu berhasil terlihat dari Febian yang terus menggerutu.
"Sayang, suruh Farrel pindah," ucap Febian meminta bantuan istrinya.
"Sudah biarin ajah dia disitu, tempat tidurnya masih cukup untuk kita bertiga kok," jawab Lisiana tersenyum.
"Bukan masalah cukupp tapi.."
"Tapi apa pih?" Tanya Farrel menahan tawa dari atas tempat tidurnya.
"Astagah ini anak," Febian semakin kesal.
"Sudah ayooo tidur," Lisiana menarik tangan Febian untuk segera berbaring.
"Geser," ketus Febian.
"Aku mau disini," kekeh Farrel yang ingin tidur di antara kedua orang tuanya.
"Engga lah pih orang gak punya," jawab Farrel.
"Sudah tidur," ucap Lisiana pelan yang sudah berbaring disisi kanan Farrel dan Febian mau tidak mau mengambil posisi di sebelah kiri putranya itu.
"Kamu ini udah dewasa kayak anak kecil," Lisiana membelai rambut putranya perlahan.
"Biar papi kesel mih," jawab Farrel pelan tetapi masih bisa didengar oleh Febian.
"Pintar kamu,"
"Iyaa dong anak papiii, udah aku mau tidur beneran," jawab Farrel memejamkan matanya.
Setelah itu terbesit ide dipikiran Febian untuk membalas kelakuan putranya, dia kemudian memeluk putranya dengan sangat erat.
"Papiiiiii apaan sih," kesal Farrel tiba-tiba membuat Lisiana yang akan memejemkan matanya terpaksa harus kembali melihat ke arah dua pria kesayangannya itu.
"Sudah tidur, salah kamu sendiri mau tidur disini, biasanya papi meluk mami sekarang gak bisa yaa papih peluk kamu," jawab Febian dengan senyum kemenangan.
**
Jenewa, Swiss
"Yang benar saja," gerutu Feli pelan.
__ADS_1
"Jadi sekarang kita sudah menjadi sepasang kekasih,"
"Itu hanya keputusanmu sendiri,"
"Apakah aku sedang di tolak?" tanya Alther tetapi dengan senyuman di wajahnya, membuat Feli tidak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Dia memang akan menerima permintaan Alther tetapi Alther sudah lebih dulu menjawab pertanyaannya sendiri.
"Hemmm?" Alther menaikan dua alis matanya meminta jawaban dari mulut Feli.
"Ti..dak," Feli masih bingung mengeluarkan jawaban dari mulutnya.
"Apanya yang tidak?"
"Ish kau itu,"
Alther beranjak berdiri dari kursinya, mendekatkan diri kearah Feli dan segera merengkuh pundak hingga kepala Feli kemudian mendekapnya erat dengan posisi Feli yang masih duduk dan Alther yang berdiri disampingnya (bayangin ajah deh, aku juga bingung tuh gimana kata-katanya wkwkwk).
"Terima kasih sudah mau menjadi kekasihku, aku pastikan tidak akan ada delapan koma dua detik yang akan aku luangkan untuk yang lain selain untuk kamu Felisha, dan pekerjaanku tentunya," Alther terkekeh.
"Terima kasih sudah menjadi seseorang yang berhasil menarik perhatianku dengan sangat cepat, mungkin kita baru melewati sedikit waktu bersama, sangat sedikit lebih tepatnya tetapi aku yakin waktu kedepan yang lebih banyak bisa kita lalui bersama untuk belajar saling mengenal, saling mengenal untuk melengkapi sampai kita tidak menemukan celah untuk berpisah," lanjut Alther.
Jangan ditanya perasaan Feli saat ini, baru kali ini dia mendapatkan dekapan dari orang lain selain keluarga dan sahabatnya. Mendapatkan sebuah pernyataan perasaan dari Alther membuat Feli begitu tenang dan dia ikut bingung dengan apa yang dirinya rasakan, tetapi yang jelas dia senang mendapatkan kenyamanan seperti ini.
"Hey, tidak ada yang ingin disampaikan untukku?" tanya Alther masih tersenyum setelah dia melerai dekapannya dari tubuh Feli.
"Aku tidak tau harus menjawab apa," ucap Feli malu membuat Alther terkekeh.
"Tidak masalah, cukup aku yang paham dengan apa yang ingin kamu ungkapkan meskipun kamu belum mengungkapkannya."
"Apa?" tanya Feli canggung.
"Ya itu, kamu sudah menerima ungkapan perasaanku, you said yes!"
"Thankyou," ucap Feli.
"Untuk?"
"Untuk memilih wanita sepertiku menjadi kekasihmu, aku harap kamu tidak menyesal kedepannya,"
"Tentu saja aku tidak akan menyesal meski mendapatkan wanita yang cukup galak," goda Alther.
"Ceh, pastikan kamu akan sabar untuk itu,"
"Sepertinya tidak perlu, aku lihat kamu sudah mulai jinak,"
"Berhenti menggodaku," ucap Feli dengan mata yang melotot.
"Ah, ya sepertinya belum," Alther terkekeh.
__ADS_1