Felisha (Find The Destiny)

Felisha (Find The Destiny)
Pacar


__ADS_3

"Tidak mempersilahkan aku masuk?" tanya Alther kepada Feli. Saat ini mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Feli.


"Ah yaa masuklah," ucap Feli canggung.


Alther malangkah santai masuk ke dalam dengan senyum dibibirnya dan tanpa permisi lagi dia segera mendudukan dirinya di bar stool yang ada di dalam apartemen Feli.


"Mau minum apa?"


"Apa saja,"


Feli kemudian memberikan sebotol minuman kaleng kepada Alther yang baru saja dia keluarkan dari lemari pendingin dan ikut mendudukan dirinya disana.


"Ehmm," Feli ragu ingin bertanya sesuatu.


"Kenapa?"


"Apa tidak ada pekerjaan hari ini?" Feli sebenarnya ingin sekali bertanya tentang pekerjaan Alther karena yang dia lihat kalau Alther begitu santai dan memiliki banyak waktu luang, tetapi dia takut mengeluarkan kalimat yang bisa menyinggung perasaan Alther.


"Tenang saja, aku bukan pengangguran," Alther terkekeh, "hanya memili waktu luang saja beberapa hari terakhir, tetapi sepertinya besok aku akan mulai sibuk," lanjut Alther menjelaskan.


"Besok aku juga akan mulai bekerja," ucap Feli.


"Ahh iya hampir lupa, masih bekerja di hotel yang sama?"


"Hotel yang sama?"


"Four Season, yaampun kamu ini begitu pelupa aku bahkan sengajah menginap disana hanya untuk bertemu denganmu," ucap Alther tersenyum


"Benarkah?" Feli memberanikan dirinya untuk menatap Alther, ingin meyakinkan dirinya dengan perkataan yang baru saja dia dengar keluar dari mulut Alther.


"Ya itu benar, mungkin kalau kamu belum menjadi kekasihku aku tidak akan mengungkapkan hal itu," Alther terkekeh.


"Kenapa?"


"Takut kamu ilfeel," jawab Alther yang membuat dia menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jadi kamu menginap disana?" tanya Feli, "Ehmm aku sudah tidak bekerja disana, besok adalah hari pertamaku bekerja di hotel, tetapi hotel yang berbeda." Jelas Feli pada Alther.


"Ohh, aku juga sudah tidak menginap disana, aku.." Alther kemudian terdiam tidak lagi melanjutkan perkataannya, tiba-tiba saja dia ingat dengan kejadian satu bulan yang lalu ketika dia melihat Feli sedang berada di hotel miliknya dan sekarang dia yakin kalau Feli memang melamar pekerjaan disana, karena besoka adalah hari pertama karyawan baru untuk mulai bekerja dan itu juga yang akan membuat Alther begitu sibuk besok, begitu banyak agenda pertemuan yang sudah dijadwalkan untuk dia hadiri.


"Kenapa?" tanya Feli penasaran dengan kalimat menggantung yang keluar dari mulut sang kekasih, yaa kekasih.


"Ah tidak, aku sudah pindah ke hotel yang lain," jawab Alther.


"Pindah?" Feli ingin bertanya dengan lebih jelas karena setahu Feli hotel itu adalah hotel yang paling bagus disana, kalau Alther yang sebelumnya menginap disana kemudian memutuskan untuk pindah, Feli benar-benar tidak bisa menemukan alasan untuk itu. Hotel yang setara dengan itu adalah Willard Hotel akan tetapi itu belum dibuka untuk umum.


"Mencari suasana baru," jawab Alther.


"Oh iya kamu bekerja dibagian apa?" lanjut Alther bertanya mengalihkan pertanyaan Feli.


"Aku juga belum tau, aku melamar untuk bagian mutu sebelumnya,"


Alther hanya mangut-mangut mengerti.


"Jadi dimana kamu tinggal sebenarnya? Dan apa yang kamu kerjakan di Jenewa?"


"Penasaran?" Alther terkekeh sembari menarik kursi bar stool yang di duduki Feli untuk semakin mendekat ke arahnya.


"Jangan seperti itu," ucap Feli sembari memalingkan pandangannya.


"Maaf, itu karena kamu terlalu menggemaskan," ucap Alther dengan senyuman yang seakan tidak pudar melihat ekspresi dan wajah Feli yang sudah memerah.


Entah bagaimana perasaan Feli saat ini, perasaan yang sulit dijabarkan. Dia merasa perlu mengucap syukur lebih lagi untuk kebahagiaan yang datang dalam hidupnya akhir-akhir ini. Dia bahkan tidak perlu mencoba untuk terlihat bahagia karena disaat bersamaan hal itu sudah terjadi begitu saja. Bahagia itu ternyata sederhana, sesederhana ketika Feli mulai mensyukuri apa yang dia miliki dan menerima semua rencana Sang Pencipta untuk kehidupannya.


Kalau kata orang, ada satu kata yang bisa membebaskan kita dari beban dan penderitaan hidup, kata itu adalah cinta. Berbicara tentang cinta sangat luas jangkauannya, tidak hanya cinta yang bisa dia dapatkan dari kekasih, tetapi cinta dari orang tua dan sahabatnya yang bahkan masih tulus Feli dapatkan sampai hari ini. Cinta Feli dari sang kekasih bahkan masih harus dia pertanyakan karena status kekasih yang bahkan baru dia gelar satu hari ini, tetapi untuk cinta dari sahabat dia tidak perlu meragukannya. Apalagi cinta dari orang tua, kasih sayang yang Febian dan Lisiana berikan untuk Feli bahkan tidak berkesudahan.


Setelah berbincang dan menghabiskan makan malam yang mereka pesan akhirnya Alther pamit pulang, karena dia juga paham Feli harus beristirahat apalagi besok adalah hari pertama Feli bekerja. Alther belum memberitahu Feli tentang dirinya yang adalah pemilik hotel tempat Feli bekerja, biarlah itu menjadi kejutan ketika mereka bertemu besok.


Sebenarnya memang sedikit membingungkan ketika seorang Alther Giovanni Willard yang seharusnya sudah dikenal di kanca internasional tidak dikenali oleh seorang Felisha yang sudah bebera waktu terakhir sering menghabiskan waktu bersama. Tetapi begitulah kenyataannya mungkin akan berbeda ketika pertemuan mereka di mulai ketika Alther sedang wawancara, pertemuan bisnis atau sejenisnya bukan seperti saat itu ketika dia seperti bukan orang penting yang mencuri kesempatan untuk bertemu dengan Felisha wanita yang sudah mencuri perhatiannya terlebih dahulu.


Drrttt drrttt

__ADS_1


Feli yang baru selesai membersihkan diri dan akan segera beristirahat mengalihkan perhatian kepada ponselnya yang bergetar, menampilkan panggilan telpon dari nomor yang bahkan belum dia simpan sebagai kontak dalam ponselnya tetapi sudah begitu sering mengiriminya pesan beberapa hari kebelakang.


"Yaa halloo," sapanya ketika icon hijau selesai dia geser untuk menjawab panggilan itu.


"Sedang apa?" tanya dari seberang siapa lagi jika bukan Alther.


"Aku baru selesai mandi dan akan beristirahat, ada apa?"


"Apa aku mengganggu?"


"Sebenarnya tidak mengganggu, aku hanya heran belum berselang lama setelah kamu pulang dan kenapa sudah menghubungiku? Apa sudah sampai?" tanya Feli.


"Aku baru saja sampai di hotel, bahkan belum masuk ke kamarku tetapi aku sudah merindukanmu,"


"Yaampun, yang benar saja," Feli tertawa pelan mendengar jawaban Alther.


"Memang benar, ini aku baru sampai di depan pintu kamarku," jawab Alther diiringi suara acces card dari seberang telpon pertanda Alther sedang membuka pintu kamarnya.


"Kalau begitu segera bersihkan dirimu dan beristirahat,"


"Sebentar lagi, aku masih ingi mendengar suaramu,"


Feli terdiam tidak berniat menjawab ucapan Alther, dia sendiri bingung kenapa Alther harus seperti itu tetapi dia juga tidak bisa memungkiri kalau dia merasa nyaman dengan perlakuan Alther kepadanya.


"Sayang, kamu tidur?"


"Hmm?" ucap Feli sedikit terkejut dengan pertanyaan Alther barusan, lebih tepatnya dengan kata yang dia lontarkan.


"Sepertinya kamu ngantuk, yasudah kalau begitu istirahatlah, aku juga akan mandi dan segera beristirahat," ucap Alther.


"Yaaa, baiklah,"


"Bye, sampai ketemu besok," ucap Alther dan segera mengakhiri panggilannya.


"Apa dia akan datang setelah aku pulang bekerja besok?" tanya Feli pada dirinya sendiri sembari menatap ponselnya, dia tidak sempat bertanya kepada Alther karena panggilan yang sudah terputus.

__ADS_1


Sebenarnya tadi juga masih ada yang mengganjal dalam pikiran Feli, mengenai Alther yang sengajah menginap di Four Season untuk bertemu dengan dirinya padahal setahu dia mereka baru bertemu ketika dia sudah menginap disana tetapi tadi dia tidak pernah sempat untuk menanyakannya. Akhirnya Feli memilih untuk segera beristirahat setelah sebelumnya dia menyimpan nomor Alther dengan nama kontak pacar di ponselnya.


...🍓🍓🍓🍓🍓...


__ADS_2