
"De, bangunnn dulu!" ucap Nata sembari menggoyang lengan Dea yang sudah tertidur kurang dari satu jam setelah mereka lepas landas. Mereka berdua memang mendapat tempat bersebelahan setelah sebelumnya Nata berdebat dengan Daniel terlebih dahulu. Daniel dengan malas mengalah membiarkan dua wanita itu duduk bersama, sebenarnya dia juga memang tidak tegah jika Nata sahabatnya itu harus menghabiskan begitu lama perjalanan dengan orang asing disampingnya.
"Ganggu orang tidur ajah, kenapa sih Nat?" tanya Dea dengan malasnya.
"Look at this!" ucap Nata sembari menyodorkan majalah fashion yang beberapa menit lalu sukses menguras pikirannya.
"Kamu mau beli baju ini? Kamu ajah aku kurang suka model itu, ish begini gausah bangunin orang sih Nat," keluh Dea setelah memperhatikan majalah fashion tersebut.
"Astagahh, bukan itu De! Look at her!" seruh Nata yang maksud perkataannya belum tersampaikan.
"Maksud kamu modelnya?" tanya Dea heran.
"Iya modelnya, kamu tau kan siapa dia?"
Dea memperhatikan majalah itu lebih lekat dan berusaha mengenali sosok model internasional yang menjadi brand ambassador produk fashion ternama itu.
"Selena Quin?" tanya Dea.
"Yaaa dia, yaampun kenapa aku baru mengingatnya," ucap Nata frustasi.
"Ada apa denganmu, hanya menanyakan itu saja?" Dea dibuat bingung dan memilih melanjutkan tidurnya.
"De, kau tidak tau siapa dia? Jangan tidur dulu!" tanya Nata menarik selimut yang Dea kenakan.
"Tau, kan tadi aku bilang kalau dia itu Selena Quin," Dea mulai kesal.
"Kau tau siapa kekasih Selena Quin?"
"Mana aku tau Nat! Sudahlah jangan menggangguku untuk hal tidak penting itu," kesal Dea.
"Astagah benar-benar tidak asik membahas sesuatu denganmu De," Nata juga ikut kesal dengan temannya yang tidak mengerti maksud perkataannya, entah Dea yang sulit mengerti atau Nata yang kelewat mengerti, "makanya jangan hanya membaca berita lokal dari lambe tur*h saja, sibuk dengan berita-berita dari orang yang ingin pansos kamu jadi tidak tau berita-berita lebih penting lainnya!" lanjut Nata.
"Kenapa jadi kesal kepadaku dan apa hubungannya dengan aku yang suka memperhatikan akun gosip lokal, aku ini pecinta produk lokal!" balas Dea tidak terima.
"Cih iya pecinta produk lokal! Iya aku tauuuuuu kamu dapat pacar lokal tetapi setidaknya lihatlah sedikit berita-berita internasional Claudea Wijaya!"
"Ah sudahlah mentang-mentang sudah tinggal diluar negeri, sekarang aku tanya apa untungnya aku mengetahui kekasih Selena Quin itu?" tanya Nata, "Eh tunggu, sepertinya aku pernah tau kekasihnya," lanjut Nata membulatkan matanya setelah menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Aku pikir kamu benar-benar tidak tahu," cibir Nata.
"Aku ingat pernah membaca beritanya, astagah dia pacar Alther?" tanya Dea.
"Seperti yang ada di berita."
"Bagaimana dengan Feli? Kenapa Alther mendekati Feli?" tanya Dea.
"Itu juga yang sedang aku pikirkan!" seruh Nata.
"Kau itu kenapa dari awal malah mendekatkan Feli dengan Alther, sudah jelas dia punya kekasih,"
"Kenapa menyalahkan aku? Aku bahkan baru ingat ketika melihat wajah Selena Quin di majalah." Nata membela diri.
"Ish kamu itu mencibirku, bahkan kamu sendiri yang sudah tinggal di Los Angeles kota yang sama dengan mereka tidak menyadarinya lebih cepat!"
"Namanya juga lupa De, sekarang bagaimana dengan Feli," Nata menari nafas panjang.
"Dia belum pernah pacaran dan sekali dekat dengan pria tapi sudah punya kekasih," ucap Dea.
"Tetapi Alther terlihat begitu serius dengan Feli,"
"Kita lihat saja kedepannya, mungkin Alther punya alasannya sendiri, bisa saja dia sudah tidak berhubungan dengan Selena Quin itu," lanjut Dea.
"Kalau mereka sudah tidak memiliki hubungan tidak mungkin beritanya tidak pernah di publish De," jawab Nata.
"Kau aku bilang bisa saja, ish!"
"Hmmm yaa, semoga saja karena aku tidak ingin Feli kembali merasakan bagaimana kecewa itu! Bisa-bisa dia memilih tidak menjalin hubungan selama hidupnya," ucap Nata pelan.
"Doakan saja yang terbaik untuk Feli, kita hubungi dia setelah sampai di Indo,"
"Baiklah,"
"Dan iya jangan ganggu aku lagi, aku sangat lelah dan ingin istirahat!" ucap Dea dan segera menarik selimut untuk menutup sebagian tubuhnya, suhu dalam pesawat membuat dia sedikit kedinginan.
**
__ADS_1
Sepasang manusia masih terdiam dengan perasaan canggung. Saat ini mobil yang di kendarai Alther sudah tiba di depan apartemen, Feli yang sebelumnya akan turun mengurungkan niatnya ketika Alther meminta waktu untuk berbicara sebentar.
"Ehmm.."
Feli memecah keheningan yang ada disana membuat Alther samakin gusar. Entah kenapa dia juga bingung akan berbicara apa dengan Feli, saat ini semua kemampuan bahkan kehebatannya dalam berbicara dan menjabarkan segala sesuatu dengan detail seakan tidak ada artinya. Alther terdiam, tidak ada yang keluar dari mulutnya tetapi dia masih ingin menghabiskan waktu berdua bersama Feli, ada rasa yang kurang dari apa yang belum dia ungkapkan.
"Apa yang mau dibicarakan?" tanya Feli akhirnya karena Alther belum juga mengeluarkan suaranya, rasanya begitu canggung bertahan dalam keheningan.
"Sebenarnya ini suatu hal yang sangat sulit untuk aku ungkapkan," ucap Alther memulai kalimatnya.
"Aku mungkin sangat pintar jika merangkai kata yang berhubungan dengan pekerjaan, bahkan untuk mendapatkan jutaan dollar itu tidak sulit untuk aku lakukan,"
"Ceh, kau sedang memyombongkan diri?" tanya Feli sembari menggelengkan kepala.
"Astagahh dengarkan dulu, aku sedang serius dan kamu membuat aku kesusahan menyusun kalimatnya lagi Felisha," ucap Alther menarik nafas namun kembali tersenyum menggeleng tidak habis pikir dengan dirinya saat ini.
"Aku juga bingung kenapa aku begitu nervous," lanjutnya kemudian kembali hening dengan Alther yang kembali diam.
"Masih dilanjutkan tidak kalimatnya? Ini sudah malam dan aku harus segera masuk ke dalam, rasanya begitu lelah seharian menemani mereka berkeliling," keluh Feli yang sebenarnya hanya untuk menyembunyikan rasa gugup yang juga dirasakan olehnya. Dia belum pernah begitu dekat dengan pria sebelumnya, dan apa ini? Berduaan dengan Alther dengan omongan serius seperti ini tentu saja Feli bisa paham apa yang akan dibahas oleh Alther. Feli memang belum berpengalaman dalam masalah hubungan tetapi bukan berarti dia tidak paham dengan perasaan seseorang yang begitu nyata di hadapannya berbeda saat dia salah paham dengan sahabatnya sebelumnya. Hidup memendam sendiri apa yang dia rasakan begitu lama nyatanya membuat Feli menjadi sedikit lebih paham dengan masalah perasaan yang sulit untuk diungkapkan.
"Ah baiklah," Alther menarik nafas berusaha menetralkan perasaannya, hanya hal seperti ini membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
"Mau kemana?" perkataan Feli menghentikan pergerakan Alther yang berniat untuk keluar dan membukakan pintu untuk Feli turun.
"Jangan membukakan pintu untukku, aku tidak suka diperlakukan seperti itu," ucap Feli seolah tau apa yang akan Alther lakukan, membuat pria tampan itu mengurungkan niatnya.
"Susah sekali memahami karakter wanita yang cuek, bahkan hal simple seperti ini saja dia tidak menginginkannya," batin Alther.
"Sampai jumpa besok," ucap Alther yang melihat Feli sudah bersiap untuk segera keluar dari mobil.
"Kau begitu yakin jika kita akan bertemu besok," Feli tersenyum melirik, namun tidak bisa berbohong dengan perasaan senang yang dia rasakan sekarang.
"Tentu saja kita harus bertemu lagi besok karena tadi ucapanku belum terangkai dengan sempurna,"
Feli tidak menjawab dan hanya meninggalkan Alther yang terus menatap punggung Feli hingga menghilang dibalik lobby apartemen.
"Kenapa tiba-tiba aku seperti orang bodoh," ucap Alther pada lebih kepada dirinya sendiri, terkekeh menertawakan diri sendiri dan segera melajukan mobil yang dia kendarai selama di Jenewa untuk kembali ke hotel tempat dia menginap.
__ADS_1
...🍓🍓🍓🍓🍓...