
Shendy turun dengan tergesa-gesa dari motornya yang sudah terparkir rapih di teras rumah Arra, hendak berjalan namun langkahnya terhenti saat melihat Arra yang berdiri terdiam sambil menatap kearah langit yang mulai menggelap siap meluncurkan berjuta pasukan air dari atas sana.
“Ayo masuk Ra, sebelum ujannya turun.” Arra tak bergeming barang sedikit pun. Seakan sedang menantang langit untuk segera menurunkan pasukan airnya.
Shendy berfikir rasional, dengan segera dia mengambil tasnya dan tas Arra kemudian berlari menuju pintu rumah Arra. Tepat saat Shendy menginjakan kaki kelantai pintu rumah Arra, hujan turun dengan derasnya. Membuat Shendy dengan asal meletakan kedua tas yang dia bawa dan segera berbalik untuk melihat Arra.
Sedangkan Arra dengan tanpa bebannya berputar sambil merentangkan kedua tanganya lebar, menikmati setiap timpaan air yang menerpa tubuh rampingnya. Tersenyum dengan sangat lebar saat melihat Shendy yang masih berdiri di teras rumahnya memandang kearahnya, cemas.
Tanpa babibu Arra berlari dan menarik Shendy agar menemaninya untuk merasakan hujan yang menyegarkan badan dan pikiran. Terasa dingin dan segar secara bersamaan selayaknya mandi di pagi hari. Yah mungkin itulah yang di rasakan Arra dan Shendy saat hujan menerpa tubuh mereka, menghilangkan beberapa beban yang tertumpuk diatas bahu.
Keduanya tertawa, saling bahagia tanpa alasan yang jelas. Seakan hujan yang turun membuat mereka merasakan bahagia tanpa hal yang mereka tau. Saling berlari dan saling mengejar sambil tertawa melupakan permasalahan yang sempat melibatkan mereka. Mempersiapkan diri untuk masalah yang mungkin akan menemui mereka esok, lusa atau nanti.
Keadaan yang basah kuyup justru membuat tawa mereka semakin terdengar keras, seakan berusaha untuk mengalahkan suara hujan yang turun dengan petir yang sesekali menggelegar. Shendy menatap Arra yang mulai menggigil, dengan sekali gerakan Shendy membopong Arra ala bridal stayl dan membawa Arra untuk masuk kedalam rumah cewek itu. Menyudahi acara mandi hujan walau hujan masih turun dan menggoda untuk menari di bawahnya.
“Shendy, masih mau main hujan.” Rengek Arra dalam gendongan Shendy .
“Nanti lagi yah Ra, kamu udah menggigil. Nanti kalo hujan lagi kita mandi hujan.” Shendy menurunkan Arra tepat di dalam kamar cewek itu.
“Tapi hujannya belum berhenti Shendy.” Arra masih menawar.
“Nanti lagi, oke? Sekarang Arra mandi pake air hangat terus makan, biar gak kedinginan. Shendy juga mau mandi di kamar sebelah.” Shendy mengintruksi.
Dengan perasaan sedih, Arra menurut dan masuk ke kamar mandi untuk berendam dalam air hangat, sesuai yang sahabatnya tadi intruksikan. Shendy keluar dari kamar Arra setelah memastikan Arra masuk kedalam kamar mandi dan terdengar suara gemercik air. Ikut menghangatkan tubuhnya yang juga menggigil dengan mandi air hangat di kamar sebelah yang di peruntukan untuknya menginap namun tak pernah dia gunakan karena... Yah kalian tau alasanya.
-
Arra dan Shendy yang memasuki sekolah seperti biasa, dengan berbagai tatapan dari teman-teman mereka yang lain seperti biasa, balik menyapa teman- teman yang menyapa mereka seperti biasa. Yah semua berjalan seperti biasa.
Tanpa mereka sadari di ujung koridor, di balik tembok yang menjulang tinggi terdapat tiga siswi yang menyusun rencana untuk memisahkan Arra dan Shendy yang tabiatnya mereka tau tak akan pernah terpisahkan.
“Gimana pun caranya gwe harus bisa misahin Arra dari Shendy.” Ucap seseorang dengan rambut panjang warna hitam yang bergelombang di bagian bawah.
“Emang lo punya rencana apa?” tanya teman si rambut hitam panjang yang lebih pendek dari dua temannya yang lain.
“Gwe punya rencana yang bagus. Dan kalian harus bantu gwe!” ucap si rambut panjang lagi, kepada dua temannya yang dengan cepat mengangguk.
Si rambut hitam panjang itu menampilkan senyum menyeramkannya, membuat kedua temannya saling tatap dan bertanya-tanya.
Arra duduk dengan anteng di salah satu meja kantin bersama semua teman-temannya. Dynar, Nathalia, Laddy, Rosse, Regal, Cipto, Naga juga Shendy. Memang ada yang kurang mungkin, dari personil mereka seperti biasanya, yang akan ada Reno. Kali ini tidak ada. Cowok itu duduk sendirian di pojok kantin. Semuanya sudah mengetahui bahwa Arra juga sudah memaafkan Reno, begitu juga dengan Dynar yang merelakan rasa cintanya hancur. Tapi entah karena alasan apa Reno masih enggan ikut ngumpul dalam lingkaran pertemanan mereka. Tidak seperti biasanya. Padahal Naga yang sebelumnya sudah mengajaknya untuk ikut nibrung pun di tolak mentah-mentah. Entahlah.
“Reno kasian yah.” Arra berujar dengan sedih,teman-temannya menatap aneh Arra.
“Ngapain di kasihani sih Ra? Dia juga kan, yang maunya gitu?” Shendy berujar tanpa minat, lebih memilih menikmati basonya yang masih sibuk dia kunyah.
“Yah kasian-kan? Dia kaya gak punya temen.” Arra kembali prihatin. Membuat teman-temannya yang lain menggelang-gelengakan kepala tak mengerti dengan jalan pikir seorang Arra.
__ADS_1
“Udahlah Ra, biarin aja.” Naga kali ini berujar, sebelum cowok itu menyeruput kuah sotonya dengan hikmat.
Semuanya kembali diam. Memilih menikmati makanan dalam diam, dan tenang. Termasuk juga Arra.
-*-
Arra beranjak, membuat semua teman-temannya menatap kearah Arra yang tiba-tiba berdiri dari duduknya.
“Mau kemana Ra?” Shendy yang berada di samping cewek itu mencengkal tangan Arra menyampaikan pertanyaan yang sama seperti yang teman-temanya ingin sampaikan.
“Mau ke toilet bentar.” Semua temannya kembali mengobrol.
“Nih, bawa hp-nya Ra.” Shendy menyodorkan hp Arra yang semula cowok itu pegang kepada Sang Pemilik.
“Enggak ah, males. Shendy aja yang pegang.” Arra menolak.
“Bawa Ra, siapa tau perlu.” Arra akhirnya pasrah, dan membawa serta benda persegi pipih yang jarang dia gunakan itu.
Arra berlalu. Shendy kembali melanjutkan obrolannya bersama Naga yang sempat terhenti.
Arra selesai menyelesaikan hajatnya, mencuci tangan di wastafel, sebelum mengambil beberapa tissue untuk mengeringkan tangannya.
“Kok tumben toilet sepi gini?” Arra berjalan meninggalkan wastafel menuju pintu untuk keluar.
Cek... cek rek....
“Aduhh siapa sih yang kurang kerjaan ngunci pintu begini?” Arra mulai khawatir.
“Woyy bukain woyy! Ehh siapa pun yang ada di luar! Tolong bukain pintunya woyy!!” Arra menggedor-gedor pintu kesal.
“Dihh ngeselinn! Siapa sih yang ngunciin pintu? Emang gak ada orang yang lewat apa ya?” Arra kesal sendiri, dia bergidik ngeri, saat mengingat adegan horor dalam filem yang berlokasi di toilet, bagaimana kalau itu terjadi padanya?
Arra mulai ketakutan, tubuhnya terus meremang saat angin berhembus dari pentilasi udara. Arra ingat, dia membawa Hp-nya kali ini, dengan segera cewek itu merogoh saku roknya.
Beruntung Shendy tadi menyuruhnya untuk membawa hp. Kalo enggak, ah bersiaplah Arra untuk menunggu bersama rasa takut akan hantu yang muncul seperti di film- film sampai Shendy khawatir dan mencarinya kemari.
“Hallo Shend?” Arra mengatakan dengan nada sedih.
“Hallo Ra? Kenapa?” Shendy bertanya khawatir.
“Shendy, Arra kekunci di kamar mandi.” Arra berujar, dia mulai berpikir yang tidak-tidak.
“Kok bisa? Siapa yang ngunciin Ra?” Shendy mulai beranjak dari tempatnya. Tanpa perduli teman-temanya yang meneriaki nama cowok itu yang sedikit terdengar ditelinga Arra.
“Arra gak tau Shend. Tau-tau pas Arra mau keluar pintunya gak bisa kebuka. Arra udah teriak –teriak tapi gak ada yang nolongin.” Arra menatap ke segala arah, takut sesuatu yang tidak diinginkan muncul dari belakang, atau sampingnya.
__ADS_1
“Yah udah Shendy kesana. Arra tungguin Shendy.” Shendy bergerak cepat.
“Cepetan Shendy, Arra takut. Toiletnya sepi, hiks....” Arra mulai menangis. Sebelum mematikan sambungan telepon sepihak.
Shendy sampai di toilet dimana Arra terkunci.
“Pantes aja gak ada yang bukain orang di palang kaya gini. Kurang kerjaan emang orang yang ngelakuin. “ Shendy bergumam, di depan pintu toilet yang di palang dengan tulisan ‘Toilet rusak!’
“Ra? Arra di dalem?” Shendy memanggil, memastikan.
“Shendy. Shendy tolongin Arra.” Arra menyahut dengan nada yang bergetar takut.
“Iyah Ra, Arra tenang yah. Sekarang Arra ngejauh dulu dari pintu .” Arra di dalam memundurkan langkahnya kebelakang menjauhi pintu.
“Udah.” Arra memberitahu.
Shendy mengambil ancang-ancang.
1... 2... 3... debrakkk
Pintu terjatuh mengenaskan menampikkan figur Shendy dengan wajah khawatirnya. Dan sedikit keringat yang ada di dahi cowok itu.
“Arra gak papa?” Shendy bertanya panik. Arra menggeleng. Shendy mengucap syukur.
Memeluk tubuh Arra yang sedikit bergetar, dan air mata yang membekas di pipi cewek itu.
Regal, Cipto dan Naga yang datang untuk menyusul. Terkejut setelah melihat pintu kamar mandi wanita yang sudah terlepas dari tempatnya, dan sepasang anak adam yang saling memeluk di dalam sana.
“Ada apa Shend?” Naga bertanya.
“Arra di kunciin di kamar mandi. Dan pas gwe liat, pintunya di palang jadi gak ada yang nolongin.” Regal, Cipto dan Naga mengangguk.
Shendy membawa Arra keluar. Dan berhenti tepat di depan pintu kamar mandi.
“Ga.” Naga menatap Shendy dengan tatapan ‘Iya?’
“Gwe minta tolong sama lo. Tolong lo keruang cctv, liat rekaman cctv di sini. Terus kasih tau gwe siapa yang ngelakuin ini sama Arra.” Naga mengangguk patuh. Kemudian berlalu menuju ruang cctv.
“Gwe mau ke UKS dulu. Nanti kalo guru masuk, bilangin gwe di UKS jaga Arra yang sakit.” Cipto dan Regal mengangguk patuh. Shendy berlalu dengan merangkuh pundang Arra menuju Ruang UKS seperti katanya tadi.
“Gwe jadi curiga mereka lebih dari sahabat.” Regal geleng-geleng.
“Gwe juga jangan-jangan mereka udah nikah diem-diem lagi.” Cipto menyeletuk.
“Bisa jadi.” Regal menatap curiga kearah Cipto yang dibalas dengan tatapan serupa oleh Cipto
__ADS_1
-*-