Friendship

Friendship
27


__ADS_3

Shendy tersenyum, setelah Naga membisikkan sesuatu yang menurutnya lucu, membuat Naga, Regal dan Cipto yang melihatnya mengerutkan dahi tak paham. Apa yang lucu dari kata-kata Naga yang tadi cowok itu bisikan ke mereka yang kali ini berdiri hanya ber-empat tanpa Arra and the gang.


“Lo udah gak waras ya Shend?” Regal menatap Shendy curiga.


“Ini mungkin bakal jauh lebih seru.” Shendy masih cekikikan persis seperti hantu dengan gelak tawa yang terkenal itu.


“Apanya yang seru Bahlull?!” Cipto nyeletuk gemas.


“Gwe udah bisa baca apa yang bakal mereka lakuin selanjutnya.” Naga bersuara.


“Gwe tau.” Shendy menatap Naga, seolah sedang bertukar pikiran.


“Tau apa oncom. Ngomong coba! Jangan pandang- pandangan kek gitu gwe gak ngerti!” Regal dongkol saat Shendy menatapnya dengan senyum Smirk andalan cowok itu, dengan Naga yang melakukan hal yang sama.


Regal dan Cipto menatap bengis keduanya.


Mengkel anjirrr!!!


“Ra?” Laddy memanggil, Arra menoleh pada temannya itu dengan tatapan tanya.


“Lo yakin sahabatan sama Shendy?” Laddy bertanya serius.


Mereka masih berdiri di tempat yang sama, namun bedanya tidak ada Shendy and the gang yang sedang mengambil minuman dan beberapa cemilan di tempat yang sejajar lurus dengan ujung kolam.


“Jujur aja Ra, kalo emang lo ada hubungan yang lebih dari Sahabat sama Shendy.” Nathali ikut bertanya. Arra masih bungkam.


“Iya Ra, jujur aja kita kan udah temenan lama” Rosse kali ini ikut bertanya.


Arra masih diam, memandang kearah Shendy yang juga sedang memandangnya dan tersenyum sambil melambaikan tangan. Yang di balas dengan kekehan oleh Arra. Dia kembali menatap ke-4 temannya yang seakan meminta jawaban. Arra sedikit bingung, sebenarnya dia juga tidak tau. Apa benar semua ini hanya sekedar rasa antara Sahabat? Atau lebih? Tapi...


“Gwe...” Semua menatap Arra dengan serius.


“ Gwe... Gak...” Arra sedikit gugup, dia tak tau harus berkata apa.


“Gwe gak tau” Arra menunduk. Ke-4 temannya menatap heran.


Laddy, Nathalia, Dynar, dan Rosse menatap Arra tak mengerti. Jadi selama ini Arra tidak tau kalau persahabatan mereka itu sebenarnya bisa di katakan dan bisa di lihat lebih dari Sahabat?


Shendy menatap bengis saat tiga orang di belakang Arra and the gang perlahan mendekati sahabatnya itu. Sedikit terkekeh Shendy berujar pada ke-3 temannya.


“Keseruan dimulai!” Shendy melangkah menuju Arra di ikuti Naga, Regal, dan Cipto yang sekarang mengerti apa yang di maksud ‘Seru’ oleh Shendy itu.


Dengan langkah cepat Shendy melemparkan jas yang ada di bahu kirinya ke arah Naga dan memeluk pinggang Arra yang hampir terjebur ke kolam. Dan...


Byurrr ...


Semua orang tercenggang saat Arra dan Shendy yang terjatuh ke kolam dengan posisi Shendy yang memeluk Arra dari depan. Semua orang sontak mendekat ke arah kolam, dimana mantan Ketua Osis dan anggotanya itu jatuh ke dalam kolam. Tak banyak yang tau memang kenapa keduanya bisa jatuh kekolam, dengan posisi seperti itu pula.


Kepala Arra dan Shendy muncul, membuat semua orang bernafas lega. Shendy terkekeh menatap Reikka yang pucat dengan kedua temannya yang berekspresi serupa.


“Gimana Ra? Seru gak?” Shendy bertanya dengan nada jenaka. Semua orang masih menatap mereka


“Aku kaget.” Jawab Arra sepontan.


“Tapi seru kan?” Arra mengangguk


“Woyy kalian semua ikutan juga gak papa. Sumpah ini seru parah!” Shendy berteriak setengah menginteruksi.


“Emang boleh Shend?” Regal pura-pura bertanya.


“Jelas boleh dong... Orang temen deket yang punya acara yang ngusulin, jelas boleh lah. Yah kan Ka?” Shendy menatap Reikka dan Siylla bersamaan. Reikka diam, Siylla hanya mengangguk takut –takut.


Byurr...


Regal menarik tangan Laddy spontan untuk ikut melakukan hal yang sama, di susul semua orang kecuali beberapa di antara mereka yang tidak mau pulang dengan keadaan basah kuyup, dan beberapa orang yang enggan melakukan hal itu karena hal tertentu, seperti Naga, Nathalia, Siylla, Bianca dan yang pasti Reikka. Tiga cewek yang lebih memilih pergi dari pada harus melihat kegagalan rencana mereka yang berubah jadi keseruan akibat penyelamatan Shendy pada


Arra.


***


“Ahh sial... Sial sial!! Kenapa sih Shendy bisa sejeli itu dan bisa tau apa yang bakal gwe lakuin sama Arra? Kenapa cowok itu selalu ngelindungin Arra?!”


Reikka berteriak murka, membanting semua gelas yang masih berisi berbagai minuman dengan warna-warna yang berbeda. Tak membiarkan siapapun mendekatinya. Reikka kembali melempar gelas yang hampir mengenai Siylla jika saja cewek itu tidak cepat menghindar.


“Ka lo jangan gila! Kita bisa susun rencana baru buat misahin Shendy sama Arra. Gak perlu lo emosi kaya gini!” Bianca mencoba menenangkan dari jarak aman.


Keadaan kolam renang rumah Siylla memang sudah sepi, karena waktu pesta sudah berakhir sejak 15 menit yang lalu, jadi wajar jika Reikka menghancurkan semuanya tanpa ada orang yang memekik heboh. Bahkan kedua orangtua Siylla juga tidak berada di rumah, membiarkan Putri mereka menghabiskan waktu dengan teman-temannya sesuai keinginaan Siylla.


Siylla dan Bianca kembali memekik saat Reikka membalik meja berisi hidangan makanan kering, membuat suara gaduh akibat piring pecah yang memekakkan telinga. Reikka menatap kedua temannya.

__ADS_1


“Gwe harus bisa misahin mereka gimana pun caranya!” Reikka tersenyum dengan senyuman yang buat siapa saja akan bergidik ngeri.


Siapa yang percaya? Seorang Ketua Eskul Paskibra yang terkenal lembut bisa berubah menjadi seorang yang ambisius demi mendapatkan seorang yang belum pasti dia cinta atau hanya sekedar obsesi?


-*-


Semua orang berkumpul di rumah Arra. Regal, Rosse, Nathalia, Naga, Laddy, Cipto, dan pasti Shendy. Bahkan cowok itu yang mengusulkan agar semua temannya menginap di rumah Arra. Arra tak keberatan dia justru senang, Orang tua Arra juga tak menolak, mereka suka jika teman Arra dan Shendy menginap di rumah mereka yang luas dan besar namun hanya di huni beberapa orang.


Tanpa memperdulikan pakaian semuanya setuju. Siapa yang tidak setuju? Rumah keluarga Arra besar, luas dan indah. Jangan lupakan kenyamanan yang timbul setiap kali menghirup atmosfir dalam rumah itu, membuat kesan damai dan tenang secara bersamaan. Semua sudah berganti pakaian dengan pakaian Shendy dan Arra. Yahh itu pasti kan?


Nathalia, Laddy, Rosse, dan Dynar sudah masuk kedalam kamar yang diisi dangan dua orang. Nathalia dengan Dynar, dan Laddy dengan Rosse. Arra? Jangan di tanya dimana cewek itu, karena sekarang dia berada di antara ke-4 cowok yang duduk santai di ruang keluarga Arra yang berasa seperti rumah Shendy, karena sejak tadi cowok itu yang terus mempersilahkan segala sesuatu kepada semua teman-temannya. Dasar!!!


“Gila yah rumah Arra besar, luas, nyaman lagi. Betah gwe disini!” Cipto berkata takjup.


“Buat apa semua itu kalo sepi?” Arra menjawab. Dia duduk dengan kepala yang di sandarkan ke bahu kiri Shendy. Dengan mata yang mulai mengantuk hanya dengan bersandar pada bahu sahabatnya.


“Arra ngantuk?” Arra mengangguk samar.


“Naik aja Ra. Nanti Shendy nyusul.” Shendy memberi perintah. Arra mengangguk.


“Jangan lama-lama yah.” Shendy tersenyum kecil, mengusap kepala Arra pelan dan mengecup kening cewek itu sedikit lama.


“Awas jalannya Ra.” Shendy memperingatkan, saat melihat Arra berjalan dengan sedikit sempoyongan karena mengantuk.


Bukan Shendy tidak mau mengantar ke kamar atau bagaimana, hanya saja jika Shendy mengantar Arra maka dia harus ikut tertidur, karena yah, kalian tau Arra tidak akan bisa ditinggal Shendy seperti waktu itu.


Cipto, Regal, dan Naga saling bertukar tatap. Tak percaya akan apa yang baru saja mereka lihat. Adegan percis seperti Suami Istri yang baru menikah dengan status sahabat yang mereka gaungkan? Regal mengerjapkan matanya beberapa kali. Masih tidak percaya atas apa yang dia lihat. Fiks dia harus menanyakan semuanya sampai jelas!


“Shend?” Shendy menoleh saat Arra sudah memasuki kamarnya dengan aman dan selamat.


“Shendy woy.” Regal memanggil sekali lagi, membuat Shendy memfokuskan pandangnya pada teman yang menurutnya sangatt kepooo itu.


“Lo tidur sekamar sama Arra?” Regal menatap serius, begitu juga dengan Naga dan Cipto.


Shendy mengangguk dengan senyum kecil di wajahnya, membuat ketiga temannya sontak membulatkan mata. Kaget. Sebenarnya gaya Persahabatan apa yang mereka anut?!


“Iyah, sejak kecil.” Shendy tak ingin mengelak lagi.


“Satu ranjang?” Regal masih memastikan. Lagi Shendy mengangguk membenarkan.


“Anjirrrr!” Ketiganya sontak berteriak.


“Brisik kamprettt, nanti Om Sunjaya sama Tante Ratna bangun.” Shendy mendesis kejam.


“Lo gila yah? Jangan-jangan? Gwe curiga kalian sering nganu yah?” Cipto menebak, membuat satu bantal kembali mendarat di wajahnya bahkan kali ini lebih keras dari sebelumnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Shendy Sambara?


“Jangan ngaco. Gwe emang tidur sekamer sama Arra, tapi gak mungkin gwe ngelakuin hal itu. Gwe masih tau batasan!” Shendy menjawab jujur.


“Ahh gwe gak percaya! Bisa aja kan, kedua orang tua Arra gak tau lo sama Arra tidur bareng.” Naga kali ini ikut menuduh, bahkan dengan mata yang memicing tajam.


“Jangan pikir kalian mau ngomong sama Om Sunjaya dan Tante Ratna, yang bakal berakhir dengan kalian yang diketawain mereka. Mereka juga tau gwe sama Arra tidur sekamer bahkan dari kecil, kita udah tidur bareng. Dan gak ada yang protes. Arra emang gak bisa tidur kalo gak ada gwe, gwe juga gitu. Gwe sama Arra sering insom kalo gak tidur bareng, dan paginya kita bakal kaya orang gila pas bangun kalo gak ngeliat satu sama lain ada di sisi kita. Setidaknya itu yang orang tua gwe sama Arra bilang.”


“Yang lebih parah sih gwe.” Naga menatap Shendy penuh.


“Gwe bakal ngamuk, ngehancurin barang yang ada di sekitar gwe, kalo gak liat Arra ada di samping gwe pas bangun tidur.” Shendy menjelaskan, ke- 3 temannya hanya manggut-manggut.


“Tapi tunggu. Adegan tadi juga udah sering kalian lakuin?” Shendy mangangguk. Membenarkan apa yang Regal tanyakan barusan.


“Yahh Allah Gustii Pangeran Nuagung! Shendy parah lo!! Setelah semua itu lo masih bilang kalo kalian cuma sahabat? Jenis persahabatan macam apa yang kalian anutt!?” Cipto memekik keras membuatnya kembali bertemu dengan bantal di wajahnya.


“Kenapa sekarang malah bahas gwe sama Arra sih? Udah kita balik ke topik awal buat bikin rencana buat besok pagi.” Shendy mengintruksi sedikit kesal jika ditanya dengan pertanyanya yang seharusnya memang tidak berhak merek tau. Ah Shendy jadi nyesel karena memberitahu mereka tadi!


“Oke, jadi gimana? Lo punya rencana apa?” Naga mulai serius.


Shendy mengulas smrik andalanya, menatap satu persatu teman-temannya dengan tatapan yakin akan keberhasilan rencana yang telah dia pikirkan selama berjam-jam kemarin.


Shendy membuka pintu kamar Arra perlahan takut membangunkan sang pemilki kamar yang mungkin sudah tertidur. Perancangan yang membutuhkan waktu lama tadi benar-benar sedikit menguras otaknya. Membuatnya harus menahan kantuk yang terus mengikutinya sejak tadi.


Jam sudah menujukan pukul 12 malam, semua teman-temannya sudah memasuki kamar, begitu juga dengan penghuni rumah lainnya. Shendy sedikit terkejut saat melihat Arra yang masih terduduk di atas kasur sambil menyandarkan punggungnya ke headboard dengan kepala yang sesekali terkantuk-kantuk. Seulas senyum terbit di bibir Shendy. Dengan perlahan dia mendekati ranjang dan mulai menaikinya. Menarik pelan tubuh Arra agar ikut tidur dengan posisi yang benar.


Arra membuka sedikit matanya.


“Shendy lama.” Arra berkata parau.


“Maaf. Sekarang kita tidur.” Arra mengangguk dalam dekapan Shendy.


“Arra gak bisa tidur kalo gak ada Shendy.” Shendy tersenyum, mengecup kening Arra sekilas.


“Shendy juga.” Ucap Shendy sebelum akhirnya tertidur bersama Arra yang sudah mendahuluinya.

__ADS_1


Arra dan Shendy memasuki gerbang sekolah dengan motor kesayangan Shendy seperti biasanya, namun ada yang beda kali ini. 4 motor yang sama persis seperti milik Shendy namun berbeda warna ikut memasuki gerbang sekolah, menyita perhatiaan semua mata yang ada. Dari yang baru datang, yang datang sedari pagi atau yang baru saja keluar kelas. Dari mulai guru, satpam, siswa kelas 10, 11, 12 bahkan para pedagang kantin ikut melihat kearah mereka, tak terkecuali dengan yang kemarin malam baru saja mengadakan pesta ulang tahun. Siylla, Bianca, dan Reikka yang baru datang dengan mobil warna merah yang di kemudikan Reikka.


Semua mata masih belum beranjak dari kelima motor yang terparkir berjajar rapi itu, bahkan saat semua pengendara dan pemboncengnya membuka helm pun semua pandangan masih terarah ke mereka, seakan takjub dengan wajah, dan keserempakan mereka. Bahkan sampai mereka turun dan angin yang seakan ikut menyaksikan mereka dengan cara menerbangkan rambut para wanita yang ada di baris mereka, membuat semua mata berdecak kagum atas kemolekan wajah mereka.


Mereka berjalan hendak meninggalkan parkiran yang mulai padat akan semua penghuni sekolah itu. Langkah mereka kompak sangat kompak, bahkan saat yang satu berhentipun mereka semua juga ikut berhenti. Sungguh kompak.


Shendy yang berdiri tepat paling depan di antara mereka menatap Reikka and the gang dengan tatapan mengintimidasi, membuat Reikka, Siylla, dan Bianca yang di tatap dengan tatapan seperti itu menunduk, kikuk.


“Hai!” Shendy menyapa dengan senyum manisnya, membuat Reikka and the gang yang semula tertunduk, mendongakkan kepala mereka dan balas tersenyum.


“Umm Siylla” Siylla memasang senyum imutnya.


“Makasih karena udah bikin Party Brithday yang yah... lumayan.” Shendy beralih menatap Reikka


“Dan untuk lo, makasih karena udah bikin rencana dengan perancanaan yang mudah gwe tebak.” Shendy menyeringai. Membuat semua orang yang menyaksikan bertanya-tanya.


Perancanaan apa?


Emang semalem ada rencana yang di bikin Reikka?


Perasaan gak ada yang bedaa selain rencana acara deh...


“Kalian semua pasti penasaran rencana apa yang gwe maksud? Tenang gwe bakal kasih tau kalian semua!”


Shendy mengembalikan semua perhatian kepadanya yang mengulurkan tangan ke samping. Naga yang berdiri di belakang Shendy dengan cepat memberikan Handphone-nya.


“ Pas malem saat Arra udah dateng, gwe pengen lo berdua, datengin dia dan ajak ngobrol, yahh kalo enggak dia, kalian bisa ajak ngobrol temen-temenya, nanti gwe dari arah belakang kalian datang buru-buru dan pura-pura gak sengaja numpahin minuman ke baju Arra...” Semua orang terdiam, saat Shendy memutar percakapan dimana Reikka yang menyusun rencana untuk mempermalukan Arra.


“Dan pas malemnya kita pura-pura jalan dan ngedorong Arra, buat dia jatuh kekolam...” Semua orang yang ada di sana menatap Reikka tak percaya. Reikka pucat pasi. Sedangkan Siylla dan Bianca tertunduk malu. Shendy menyeringai puas.


“Bohong... Bohong semua gak bener! Mana mungkin gwe ngelakuin itu!” Reikka berkilah.


“Bohong lo bilang? Apa perlu gwe perjelas apa alasan lo ngelakuin semua ini. Biar semua orang tau siapa seorang Reikka Pinsara yang terkenal bijak, dan berhati baik itu?” Shendy menatap Reikka benci.


“Apa? Apa emanganya alasan gwe buat ngelakuin semua itu. Jangan ngada-ngada!”Reikka menantang. Dengan cepat Shendy kembali memutar sebuah rekaman suara.


“Gimana pun caranya kita harus buat Arra jauh dari Shendy. Dengan cara baik atau jahat. Gwe mau Shendy berpaling dari Arra dan jatuh ke pelukan gwe.”


Shendy memasang wajah jijik, Reikka pucat pasi. Semuanya diam, termasuk Arra dan Para Guru yang tidak menyangka bahwa salah satu siswi mereka yang berprestasi melakukan hal yang memalukan seperti ini.


“Gimana masih kurang jelas. Atau lo mau gwe puter semua rekaman suara lo, yang bakal lebih buat lo malu? Atau lo minta maaf ke Arra sekarang juga?” Shendy menawarkan. Reikka terdiam, melirik Arra sekilas kemudian kembali menatap Shendy yang berdiri tepat di depannya.


“Ada satu hal yang lo gak tau Reikka Pinsara. Gwe Shendy Sambara, gak bakal diem aja kalau ada orang yang berani nyakitin Arra! Gwe gak bakal biarin siapa pun ngelukain Arra. Dan gwe sama Arra gak bakal terpisahin sampai kapan pun!!!” Shendy mengambil nafas sejenak. Arra menatap Shendy penuh haru.


“So.. Apa lo mau minta maaf? Dan kita anggep semua ini selesai. Impas? Atau lo tau apa yang bakal gwe lakuin.” Shendy memberi pilihan.


Cuihh


Reikka meludah kesamping, membuat semua orang yang menyaksikan terkejut atas perbuatannya yang terbilang tidak sopan itu.


“Gwe gak sudi!” Reikka berbalik memasuki mobilnya dan memundurkan mobilnya secara perlahan


Semua orang diam, ada yang mulai beranjak meninggalkan tempat, ada juga yang masih berdiam diri untuk membicarakan perangai buruk Sang Ketua Eskul Paskibra yang dikenal baik itu. Shendy berbalik, hendak menatap teman-temannya yang berdiri tepat di belakang cowok itu.


Semua orang memekik saat mobil yang dikendarai Reikka melaju dengan cepat kearah depan. Dan...


Brakkk ...


Aaaaaa...


Semua orang panik, pekikkan heboh terdengar menggema, mengiring mobil Reikka yang meninggalkan kawasan sekolah dengan cepat. Orang-orang mendekat ke arah cewek yang jatuh dengan darah yang mulai keluar dari hidung dan luka dikepala cewek itu. Ya cewek. Karena Arra mendorong Shendy yang hampir menjadi korban penabrakan yang dilakukan oleh Reikka.


“Arra... Ra..” Shendy mengguncang tubuh Arra yang berada dalam rangkuhannya.


Suasana berubah jadi haru dan penuh keterkejutan. Regal dengan cepat menelfon ambulance, Naga yang ingat betul nomer plat mobil Reikka dengan cepat menelfon polisi menggunakan hp Cipto yang ikut histeris bersama Nathalia, Laddy , Rosse, dan Dynar.


“Ra... Shendy mohon bangun....” Shendy terus meminta. Arra menyentuh rahang Shendy dengan tangan lemasnya.


“Shendy gak papa kan?” Shendy menggeleng. Arra mengulas senyum.


“Hehe akhirnya Arra bisa ngomong kaya apa yang Shendy bilang kalo udah nolongin Arra.” Arra berujar dengan kesulitan akibat darah yang terus turun dari hidungnya. Tersenyum penuh dengan bahagia.


“Ra... Jangan nutup mata.. Please bertahan Ra...Please jangan buat Shendy ngerasa bersalah.” Shendy menitikan air matanya.


“Shendy... Shendy gak boleh nangis... Cuma Arra yang boleh cengeng... Kar-uhuk.. Karena cuma Shendy yang bisa nenangin Arra... Kalo... Kalo Shendy nangis siapa yang nenangin Shendy....” Arra terus berbicara.


“Arra... Arra yang bakal nenangin Shendy... Bertahan Ra... Ambulance lagi kesini.” Shendy terus memohon. Sesekali dia berteriak pada Naga karena Ambulance tidak kunjung sampai. Shendy juga mengabaikan Para Guru yang ikut mendekat untuk menenangkannya.


Shendy tak perduli, masa bodo dengan sopan santun yang sekarang sudah tak berarti di matanya. Yang terpenting bagi Shendy saat ini adalah Arra-nya, sahabatnya, teman masa kecilnya, orang yang sangat dia sayang dan hidupnya. Shendy tak perduli jika di anggap gila, dia hanya mau cepat ke rumah sakit, membawa Arra-nya. Mengobati Arra agar cewek itu kembali bermanja kepadanya. Dia tidak mau kehilangan Arra. Sangat sangat tidak mau. Sungguh sangat tidak mau.

__ADS_1


-*-


__ADS_2