Friendship

Friendship
37


__ADS_3

Jam menujukkan pukul 3 dini hari. Sunjaya dan Ratna baru saja menginjakkan kaki mereka dirumah 30 menit yang lalu. Kini keduanya tengah duduk di sofa ruang tamu sambil menikmati waktu berdua.


“Gimana Pah Proyek yang ada di Bandung? Lancarkan?” Ratna memulai obrolan.


“Lancar Mah, cuma tadi sempet ada kendala sama pekerja aja. Tapi aman kok.” Sunjaya menjawab sambil mencecap sedikit demi sedikit kopi hitamnya.


Keduanya berbincang, dengan sesekali tertawa dan menyemangati satu sama lain. Suara pintu yang di ketuk mengalihkan attensi keduanya yang tengah asik dengan obrolan seputar masa depan Sang Putri Sematawayang. Siapa kira-kira penamu yang datang di jam 3 dini hari seperti ini? Ratna beranjak, untuk membukakan pintu bagi orang yang dianggapnya kurang kerjaan karena bertamu pada pagi buta seperti sekarang.


“Ad-“ Suara Ratna tercekat saat melihat dua orang yang sangat dia kenal berdiri di depannya dengan keadaan yang sangat kacau. Dengan salah satu diantaranya memegang bahu yang lain.


“Shendy, Arra?” Ratna berkata parau.


Sunjaya yang mendengar nama dua orang yang sangat dia sayangi dengan segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Sang Istri yang masih berdiri di depan pintu itu.


“Yah ampun Arra, Shendy. Ini kenapa? Kenapa kalian kacau banget kaya gini?” Sunjaya bertanya panik.


“Nanti Shendy jelasin Om, Tante. Tapi biarin Shendy sama Arra masuk dulu yah. Arra udah mulai kedinginan.” Ucap Shendy dengan cemas. Kedua orangtua Arra dengan cepat mengangguk dan memberi celah untuk Shendy dan Arra yang berada dalam rangkuhan cowok itu, agar masuk kedalam rumah.


-*-


Shendy membuka pintu kamar Arra, membawa Arra yang sudah sedikit terbebas dari pengaruh alkohol untuk membersihkan diri. Arra hanya menurut dan masuk ke kamar mandi untuk membersikan diri. Shendy mendudukan diri di kasur Arra. Di susul dengan kedatangan kedua orang tua Arra yang terlihat sangat khawatir.


“Shendy?” Shendy menoleh, saat Ratna memanggilnya.


Dengan sayang, Ratna mendekati sahabat putrinya itu dengan Sang Suami di sampingnya. Mengusap wajah Shendy yang nampak kusam, menyentuh rambut Shendy yang berantakan. Ratna meringis saat melihat tangan Shendy yang dibabat perban. Shendy memang bukan anaknya. Namun bagi Ratna, Shendy bukan hanya anak dari sahabatnya atau sahabat dari putrinya. Tapi shendy juga sudah dia anggap sebagai putranya sendiri, putra yang sangat amat dia kasihi dan sangat amat dia sayangi selayaknya putra kandung. Ratna yakin saat Shendy berada di sisi putrinya, Arra-nya tidak akan kenapa-napa.


Arra akan baik-baik saja. Maka dari itu dia begitu mencemaskan Shendy saat melihat luka di tangan sahabat dari Sang Putri itu.


“Tangan Shendy kenapa?” tanya Ratna lembut sambil mendudukan diri di samping Shendy.


“Shendy gak papa kok Tante.” Shendy mengulas senyum.


“Yakin gak papa? Biar Tante obatin yah?” lagi Ratna bertanya dengan nada lembut.


Selayaknya seorang Ibu yang mengkhawatirkan putranya.


“Gak usah Tante. Tadi udah di obatin kok. Lagian ini cuma luka kecil.” Shendy kembali menulas senyum bahkan lebih lebar.


Berusaha untuk agar wanita paruhbaya yang berada di sampingnya itu tidak mencemaskannya.


Ratna mengangguk, dan mengelus kepala Shendy lembut penuh kasih. Shendy balas tersenyum lebar.

__ADS_1


“Ini sebenarnya kenapa Shend? Kenapa kalian pulang dengan keadaan kacau kaya gini? Dan kenapa sama tangan kamu?” Sunjaya kali ini bertanya. Menatap Shendy cemas, namun tak mengurangi nada tegasnya dalam bertutur kata.


Shendy menghembusakn nafas sejenak. Dia menatap kedua orang dengan usia yang sama seperti orang tuanya itu secara bergantiaan.


“Sebenarnya tadi... Arra sempat di culik. “ Sunyaja dan Ratna memekik kaget.


“Di culik! Bagaimana bisa?” Ratna bertanya dengan tangan yang mengelus dada untuk menetralkan debar keterkejutannya.


“Tadi pas Shendy, Arra sama temen-temen lagi ngumpul sebelum pulang, Arra pergi ke toilet terus....”


Shendy menceritakan semua yang mereka alami kepada kedua orang tua Arra dengan jujur tak ada yang di tambah-tambahi ataupun di kurang-kurangi. Semua sesuai fakta.


Ratna dan Sunjaya sempat tak percaya saat mengetahui bahwa penculik yang menculik Arra adalah salah satu teman Arra yang mereka tau adalah anak dari keluarga Mandiar, keluarga yang bergelut dalam Bidang Olahraga itu. Keduanya kembali di kejutkan dengan fakta bahwa Arra hampir di lecehkan oleh anak itu saat dua tahun yang lalu saat dimana Arra dan teman-temannya pergi untuk berlibur.


Sunjaya juga sempat marah, saat Shendy tak memberitahunya tentang kejadian ini. Namun Ratna dengan bijak menangkan dan berkata bahwa yang penting anak mereka dan Shendy kembali dengan selamat, dan tanpa kehilangan satu apapun.


“Maafin Shendy yang gak bilang sama Om, Tante tentang masalah ini. Shendy cuma gak mau kalian khawatir.” Shendy tertunduk menyesal.


“Udah gak papa Shend, yang penting bagi Tante sama Om kalian pulang dalam keadaan selamat dan tidak kurang satu apapun.” Ratna menenangkan.


“Makasih Tante.”


“Maaf Om” Sunjaya mengangguk setelah menghela nafas untuk menenangkan diri.


Shendy yang mengerti akan isyarat itu pun langsung beranjak dari duduknya dan memeluk Sunjaya erat.


Tepat saat itu Arra keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar dari sebelumnya, dia menatap heran kedua pria yang sedang berpelukan dengan sangat erat di depannya. Sunyaja dan Shendy yang mengetahui Arra menatap mereka dengan tatapan aneh, dengan segera melepaskan pelukan.


“Papah sama Shendy kenapa pelukan?” Sunjaya, dan Shendy saling tatap.


“Emm enggak papa. Gimana kamu udah gak pusing lagi?” Sunjaya mengalihkan pembicaraan, dia mengelus surai putrinya yang basah dengan penuh cinta.


Arra mengangguk, dia menatap Sang Papah dengan senyum manisnya.


“Udah enggak Pah, tapi kok Papah tau kalo Arra pusing? Shendy udah cerita?” Sunjaya mengangguk.


“Semuanya?” Sunjaya kembali mengangguk.


“Ihh padahal harusnya aku aja yang cerita.” Sunjaya menatap bingung.


“Loh emang kenapa?”

__ADS_1


“Yah-kan biar liat-nya tuh dari sudut pandang Arra, jangan dari sudut pandang Shendy. “ Arra memberenggut kesal.


“Emang apa bedanya Sayang?” Ratna mendekati putrinya.


“Yah jelas beda dong Mah. Mamah, Papah, sama Shendy gak taukan gimana rasanya Arra yang panik, takut, sedih, kesel, plus benci. Terus sakit, pas tuh orang narik dagu Arra kaya gini.” Arra memperagakan dengan berbagai ekspresi.


“Terus Arra di minumin minuman yang rasanya gak enak, terus panas lagi di tenggorokan, iekk” Arra menampilkan ekspresi mau muntah.


“Terus gimana?” Sunjaya bertanya kepo.


“Yahh gimana yah terus?” Arra berfikir sejenak. Lebih tepatnya mengingat.


“Ahh Arra lupa, terus Arra gak tau lagi. Arra ingetnya pas Arra udah di rumah sakit, terus di kasih obat. Terus Arra muntah, terus Arra pulang sama Shendy, di anter Naga, Regal, sama Cipto naik mobilnya Shendy.” Arra menatap Shendy.


“Yah udah. Yang penting Arra udah baik-baik aja, Shendy juga. Kalian pulang dalam keadaan selamat. Itu yang paling penting. Arra udah gak mual sama pusing lagi kan?”Arra menggeleng.


“Yah udah, biarin Shendy mandi. Nanti Mamah bawain makanan kekamar Arra. Terus Arra sama Shendy boleh istirahat, oke cantik?” Ratna memberi perintah. Arra mengangguk.


Shendy melangkah beranjak keluar, namun suara Arra yang terdengar ditelinganya, membuatnya mengurungkan niat untuk melanjutkan langkah yang hanya tinggal 5 langkah lagi menuju pintu.


“Shendy mau kemana?” Arra bertanya mimiknya berubah sendu.


“Shendy mau mandi dulu Ra.” Shendy mengulas senyum.


“Kok kesana? Kan kamar mandinya di sana” Arra menujuk pintu kamar kemudian menujuk pintu kamar mandi dalam kamarnya.


“Shendy mau mandi di kamar Shendy. Di sebelah.” Arra menyorot sedih.


“Gak! Gak boleh! Shendy harus mandi di kamar Arra.” Perintah Arra mutlak.


“Tapi baju Shendy-kan di sana Ra?”


“Shendy mandi aja nanti Arra yang ngambil baju Shendy.” Kekeh Arra, tak mau dibantah.


Shendy mengulas senyum, kemudian beranjak menuju kamar mandi yang ada di kamar Arra. Membiarkan Arra yang mengambil bajunya. Sunjaya dan Ratna hanya bisa mengeleng, tidak mengerti dengan cara berfikir anak sematawayang mereka, bahkan mereka tidak mengerti akan arti sahabat bagi keduanya yang tidak bisa tidur jika tidak bersama, bahkan semua selalu dilakukan bersama, hingga menggunakan kamar mandi bersama? Kadang Sunjaya dan Ratna melihat mereka lebih mirip dengan pengantin baru dari pada sahabat kecil yang tumbuh besar bersama.


“Papah sama Mamah kenapa masih di sini?” Sunjaya dan Ratna saling bertukar tatapan dengan tatapan yang seolah berkata ‘Ehh?’


“Iyah Papah sama Mamah kenapa masih di kamar Arra? Ini udah malem. Katanya Mamah mau bawain makanan buat Arra, terus kenapa masih disini?” Ratna dan Sunjaya hanya bisa terkekeh melihat tingkah putri mereka yang tak pernah berubah. Bahkan Putri mereka lebih terkesan membutuhkan Shendy dari pada kedua orangtuanya.


“Oke Mamah, sama Papah keluar. Malam Sayang.” Ratna dan Sunjaya berlalu setelah mengecup kening Putri mereka dengan sayang.

__ADS_1


-*-


__ADS_2