Friendship

Friendship
35


__ADS_3

5 memit kemudian Naga dan Rainad datang. Shendy dengan segera berdiri, di ikuti semua teman-teman yang ada dalam satu meja yang sama dengannya.


“Gimana?” tanya Shendy to the point.


“Gwe dapet nomer plat mobilnya Shend, dan mobil yang nyulik Arra menuju ke arah timur.”


Shendy menatap intes nomor plat mobil yang tertulis dalam selembar kertas. Dengan segera Shendy menelfon seseorang yang dia yakini dapat membantu pencariannya kali ini.


“Hallo Om?” ucap Shendy ketika sambungan telfon sudah terhubung.


“...”


“Om Shendy mau minta tolong, dan Shendy gak butuh penolakan. Om harus bantuin Shendy.” Ucap Shendy yang lebih tepat seperti perintah.


“...”


“Tolong cari mobil dengan plat nomor xxxx, yang melaju dari arah barat Om. Shendy tunggu secepatnya.” Ucap Shendy mutlak.


Sebelum mematikan sambungan telfon setelah mendengar jawaban dari seseorang yang di telfon Shendy tadi.


“Itu tadi Om Adi Kepala Kepolisian itu Shend?” Regal bertanya Shendy mengangguk lesu.


“Gila emang si Shendy. Tadi Pak Adi yang kalo nangkep orang gak kenal, suap terus galak itu kan?” Cipto bertanya berbisik.


“Iyah.” Regal balas berbisik.


“Wowww, sama Kepala Polisi aja berani ngancem dia? Sadiss emangg!” Cipto kembali berbisik.


Brakk....


Prangggg....


“Ahkhhkhh!!!” Shendy berteriak kacau.


Rainad hanya menunduk sedih. Dia dilanda bingung yang teramat sangat. Bagaimana tidak? Semua benda yang Shendy lempar dan pecahkan itu hasil dari menyewa dan jika semua barang itu pecah, lantas siapa yang akan mengganti? Bisa kacau kalau dia tidak mendapat ganti rugi. Naga yang melihat Rainad dalam keadaan gusar, menepuk bahu cowok itu pelan.


“Tenang, semua bakal Shendy ganti. Jangan khawatir!” Rainad tersenyum lega.


“Syukur deh.” Ujar Rainad tenang. Naga tersenyum.


-*-


“Apa kata Om Adi Shend?” Naga bertanya setelah Om Adi menelfon untuk memberi tahukan hasil dari pencarian nomor plat penculik Arra.


“Orang yang nyulik Arra pergi ke Appartemen Hersady” Jawab Shendy.


“Itu bukannya Apprtemen milik keluarga lo?” Shendy mengangguk, sebagai jawaban atas pertanyan Regal.


“Dan bukannnya yang tinggal di sana cuma...”Regal menatap Shendy serius.


“Kalo dugaan gwe bener, kita harus cepet-cepet ke Appartemen Hersady!” Naga memberi inisiatif. Shendy mengangguk, dengan cepat cowok itu mengambil slimbag milik Arra yang ada di meja.


“Bang gwe ikut!” Rainad mengajukan.


“Enggak lo harus beresin semua kekacauan ini!” Rainad tertunduk.

__ADS_1


Shendy menatap Naga, kemudian dengan segera melangkah pergi di ikuti Regal dan Cipto. Naga yang mengerti akan tatapan Shendy dengan segera mengambil dompet dan mengeluarkan satu kartu ATM-nya untuk diserahkan pada Rainad.


“Buat ganti.” Naga tersenyum. Kemudian hendak pergi sebelum suara Nathalia mencegahnya.


“Kita gimana?”


“Kalian pulang aja, nanti kalo ada sesuatu yang terjadi gwe kabarin.” Naga memberi perintah cowok itu memberikan kunci mobilnya pada Nathalia.


Para cewek-cewek mengangguk lesu. Walau sebenarnya mereka sangat ingin ikut untuk menolong Arra teman terbaik mereka.


-*-


Kini Shendy, Naga, Regal, dan Cipto tengah berada di perjalannan menuju tempat yang mereka yakini sebagai tempat keberadaan penculik Arra. Bagaimana mereka tau? Karena tadi Shendy, Naga, Regal, dan Cipto telah datang ke Appartemen Hersady untuk mengecek kecurigaan mereka.


Dan ternyata perkiraan dan kecurigaan mereka benar, bahwa penculik Arra adalah orang yang mereka kenal. Orang yang sempat bertengkar hebat dengan Arra karena Dynar.


“Lo yakin dia bawa Arra ke tempat itu Shend?” tanya Naga di kursi samping pengemudi.


“Gwe yakin, walaupun gwe belum pernah kesana.” Jawab Shendy dengan nada ragu-ragu.


“Kalo perkiraan lo salah gimana?” Cipto yang berada di kursi belakang bertanya.


“Setidaknya kita udah kesana siapa tau disana ada petunjuk kalau emang tuh orang gak bawa Arra kesana.” Regal menyeletuk.


Shendy berusaha berpikir jernih. Berusaha untuk tidak terpengaruh emosi yang mungkin bisa membuatnya kehilangan jejak penculik Arra. Karena jika sampai Arra dalam bahaya apa lagi sampai kenapa-napa. Shendy tidak akan memaafkan dirinya. Cukup, cukup waktu itu saja Arra masuk Rumah Sakit karena menolongnya dari mobil yang di kendarai Reikka. Tidak akan lagi, Arra-nya harus baik-baik saja, tidak ada yang boleh melukai Arra, bahkan dia sendiri. Karena bagi Shendy, Arra adalah segalanya.


Shendy memberhentikan mobilnya tepat di depan bangunan yang dulunya adalah gudang penyimpanan hasil pertanian jagung.


Sepi...


Cipto yang turun belakangan, bergidik ngeri saat melihat gedung di depannya yang nampak menyeramkan akibat tidak ada penerangan.


“Regal gwe takut.” Cicitnya dengan merangkul tangan Regal. Mesra?


“Apaan sih lo! Kaya gini aja takut. Cemen tau gak!” ledek Regal, menghempaskan tangan Cipto yang memegang tengan kirinya, sambil mengedikan bahu geli.


“Enak aja! Gwe gak cemen yah! Gwe berani!” Cipto tidak terima. Dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, berusaha bersikap berani walau dalam hati menjerit berteriak sebaliknya.


“Shend, kok gwe ngerasa ada yang janggal yah?” Naga berujar. Shendy menatap tidak mengerti.


“Lo liat deh, di sini sepi banget. Bahkan gak ada penjaga sama sekali buat nyegah kita masuk.” Jelas Naga.


“Iyah bener kata Naga, Shend. Gak kaya di film-film.” Shendy berfikir sejenak. Dia juga merasa ada yang janggal. Apa dia sudah di jebak?


Shendy mengenyahkan pikiran konyolnya, dia berusaha yakin kalau Arra dan penculik itu ada di dalam, mungkin ini semua hanya jebakan agar mereka tertipu. Dan memilih untuk kembali dan mencari Arra ke tempat yang lain, yang tidak tau dimana tempatnya.


Shendy meyakinkan hati, dia menghembuskan nafas pelan.


“Kita cek!” Perintahnya sebelum melangkah mendahului yang lain.


-*-


Shendy memasuki bekas gudang dengan Naga , Regal, dan Cipto yang setia mengikuti di belakang. Cipto menelan seliv-nya takut, semakin ngeri saat memasuki gudang yang jauh lebih gelap dari pada di luarnya itu.


Mungkin karena cahaya bulan yang tidak masuk ke dalam gudang tersebut.

__ADS_1


Cipto berjalan dengan memegang ujung jas Regal, terserah dia mau di katai cemen atau apa oleh Regal nanti, dia tidak perduli! Cipto takut gelap dan jantungnya berdegup kencang lebih dari biasanya, ini karena suara jangkirik yang lebih nyaring dan bunyi suara tikus yang membuatnya semakin panas dingin.


Mata Shendy menelisik, melirik ke segala arah untuk menemukan keberadaan Arra. Kosong. Tidak ada apa-apa di ruangan ini. Bahkan meja ataupun kursi. Gudang ini bahkan seperti tidak pernah di datangi oleh siapapun. Shendy mulai gusar, cowok yang masih mengenakan jas mewah dengan harga jutaan itu menendang angin yang tak berasa di kakinya.


“Ahh siall gwe salah nebakkk!!!” Shendy berteriak, cowok itu bahkan menjambak rambutnya dengan kasar saking Frustasinya.


Naga, Regal dan Cipto juga tak kalah frustasi, mereka bingung kemana lagi harus mencari Arra. Apa lagi hari sudah hampir tengah malam.


“Tenang Shend. Lo harus tenang. Jangan bertingkah bodoh dan nyalahin diri lo sendiri. Kita pulang dulu, besok kita cari Arra lagi.” Naga memberi ususl. Shendy menatap kearahnya denga tajam.


“Enggak! Gwe harus cari Arra sampe ketemu. Gak ada besok atau lusa! Arra harus ketemu sekarag juga! Kalo lo mau pulang? Pulang! Gwe bisa cari Arra sendiri!” Shendy membentak.


“Oke kita bakal cari Arra sama- sama, tapi tenangin diri lo dulu.” Naga masih bersabar. Dan mungkin akan selalu bersabar.


Drett... Drett... Drett...


Shendy dengan segera mengambil hp-nya yang berada di saku celana. Naga, Regal, dan Cipto menatap penasaran.


“Siapa Shend? “ Regal bertanya. Shendy menggeleng.


“Speaker Shend” Shendy mengangguk.


“Wowwoo gimana ketemu Arra-nya?” ucap seseorang di seberang sana.


“Sial, dimana Arra!” Shendy berteriak.


“ Seloww bro, kita main kalem oke? Arra ada di tangan gwe. Dia aman dan damai dalam pingsan-nya hahah!!” Seseorang itu tertawa.


“Kalo lo berani ngelukain Arra sedikit aja gwe gak bakal tinggel diem, gwe tau siapa lo No!”


Terdengar tepukan tangan dari seberang sana.


“Uh woww! Cepet juga yah lo tau siapa gwe. Kita liat lo bisa selamatin Arra secepet lo tau siapa gwe atau lebih lama?”


“Sialan jangan ma-“


Tutt... tutt... tut...


“Anjinggg!!” Shendy berteriak murka.


“Gila emang tuh anak ye! Gak bisa dapetin Arra dengan baik-baik dia nekat ngelakuin hal kaya gini? Parah emang!” Regal menggeleng tidak mengerti.


“Sial kemana tuh orang bawa Arra pergi sih?!” Shendy kembali mengacak rambutnya kesal.


“ Villa!” Naga bergumam, yang di dengar oleh ketiga temannya karena tempat ynag sunyi dan sepi itu.


“Villa mana Naga? Disini banyak Villa!”


“Iyah lagian kenapa ke Villa coba? Mau ninanina?!” Cipto ikut meragukan, ketakutannya perlahan menghilang, mungkin efek bentakan Shendy tadi yang menyadarkan Cipto bahwa Shendy lebih menyeramkan dari pada Setan. Jadi buat dia takut.


“Lo bener. Villa salah satu tempat yang paling sering di datengin tuh anak kalo lagi kalut. Mungkin dia bawa Arra ke sana. Bagus Ga. Kita otw sekarang!”


Shendy setuju, dengan segera dia berlari keluar menuju mobilnya diikuti dengan Naga yang tersenyum bahagia, Regal yang mengangguk-anggukan kepala dan Cipto yang masih bergidik ngeri saat melihat tikus bergerak cepat dari tembok bagian kanannya.


-*-

__ADS_1


__ADS_2