Friendship

Friendship
38


__ADS_3

Arra duduk di atas kasurnya dengan Shendy yang duduk dibelakangnya, dan tangan cowok itu yang melingkar indah dipingang Arra dengan punggung yang bersandar penuh pada headboard. Baju mereka pun sudah berganti dengan baju tidur yang cukup nyaman dan hangat, keduanya duduk dengan tenang, setelah makan malam yang mungkin bisa disebut makan pagi buta.


“Shendy.” Arra memanggil.


Shendy berdehem, sebagai jawaban dengan meletakan dagunya ke bahu kiri Arra.


“Arra tau.”


“Tau apa Ra?”


“Sebelum kita berangkat ke acara promnight, kemarin malamnya Arra mimpi sesuatu Arra pengen cerita sama Shendy. Tapi pas Arra bangun tidur, Arra gak inget isi mimpi Arra. Satu hari penuh Arra berusaha buat inget mimpi Arra itu, tapi hasilnya nol. Arra gak inget apa-apa.” Arra menjeda.


“Kok aneh?” Shendy menyahut.


“Itu dia, Arra juga ngerasain hal yang sama. Setelah semua kejadian ini terjadi, terus Arra pulang sama Shendy. Terus Arra mandi...


nahh pas itu Arra inget semua mimpi pas malam itu. Ternyata mimpi Arra isi-nya tentang hari ini.” Shendy mengernyit tak mengerti.


“Jadi mungkin, mimpi yang bisa Arra inget itu bakal ada yang bisa Arra ubah. Sedangkan mimpi yang gak Arra inget itu gak bisa di ubah sama sekali.”


“Terus kalo gak bisa di ubah kenapa di kasih lihat Ra?” Shendy bertanya.


Arra hanya geleng-geleng kepala.


Mereka memang memutuskan untuk tidak tidur, mengingat waktu yang sudah menujukan pukul 3 dini hari, dan mereka memutuskan untuk mengobrol, dan Arra yang memulai. Dia menceritakan tentang mimpinya yang aneh kemarin malam.


“Udah gak usah terlalu dipikirin nanti juga bakal di kasih tau, kalo emang Arra berhak tau.” Arra mengangguk.


“Ouh ya Shendy. Yang waktu itu Shendy ngobrol malem-malem sama Papah.”


“He’em, yang Arra lari-lari nyari Shendy?” Shendy bertanya dengan nada guyon.


“Umm iyah, ceritain apa yang kalian obrolin, Arra mau denger.”


“Yakin mau denger?” Shendy memastikan.


Arra menolehkan wajahnya, menatap Shendy yang meletakkan dagu di bahunya.


“Mau... Ayo cerita-in!”


Arra menyandarkan punggungnya pada tubuh Shendy. Meluruskan kakinya yang semula ditekuk karena duduk bersila. Shendy hanya diam, membiarkan Arra mencari posisi ternyaman-nya. Arra berhenti bergerak, saat sudah mendapatkan posisi ternyamannya dengan kaki yang diluruskan dan kepala yang disandarkan kebahu kiri Shendy.

__ADS_1


“Oke Shendy bakal cerita-in semuanya dari awal sampe akhir pas Arra dateng mewek- mewek terus meluk Shendy.” Shendy meledek.


“Itu jangan di cerita-in. Ceritain obrolan kalian aja.” Arra memberi peringatan.


“ Heheh... Iya dehh.” Shendy menyetujui.


Dengan lembut Shendy mengelus kepala Arra pelan, dan memulai ceritanya. Cerita tentang obrolan yang berlangsung antara Sunjaya dan Shendy saat itu. Obrolan yang mungkin lebih tepatnya di sebut dengan permintaan Sunjaya pada Shendy untuk menjaga Arra selamanya dalam konteks Sepasang Suami Istri.


Arra mendengarkan dengan seksama dan seketika terduduk sepontan saat Shendy bilang kalau Sang Papah memintanya dengan Shendy untuk menikah.


“Beneran?” Arra memastikan. Shendy mengangguk yakin.


Seketika ekspresi terkejut di wajah Arra berubah menjadi senyum manis dengan hiasan rona merah di kedua pipi cewek itu. Shendy tak menyia-niyakan dia dengan segera menggoda Sang Sahabat.


“Ihh Ra, kok wajah Arra kaya gitu?” Arra menatap Shendy bingung.


“Gitu gimana?” Arra panik. Dia menyentuh wajahnya dengan gerakan cepat.


“Itu. Kok ada yang merah-merah di pipi?” Shendy tersenyum saat Arra memalingkan wajahnya.


“Kenapa Ra?”


“Ihh Shendy nyebelin!!” Dengan membabi-buta Arra memukul Shendy.


“Aduh aduh... Ampun Ra. Ya Allah, belum nikah udah dapet kekerasan haha... Aduh, gimana kalo nikah? Bisa mati sebelum malam pertama kali haha... Aduh Ra ampun... Hahah.” Shendy terkikik dengan pemikirannya sendiri, membuat cewek yang masih setia memukulnya itu kembali merona malu.


“Nihh nihh rasain hahah... Sukurin...” Arra semalin gencar memukuli Shendy. Namun dengan sekali hentakan Arra sudah kembali ke posisi semula. Dengan tawa yang masih menggelitiki keduanya.


“Umm Shendy....” Panggil Arra ketika tawa sudah reda diantara keduanya.


“Iya?” Shendy masih mengatur nafasnya yang sedikit tersenggal.


“Kalo Arra minta Shendy wujudin apa yang Papah minta Shendy mau gak?” Arra sedikit mendongak untuk melihat ekspresi Shendy.


Shendy menunduk, menatap mata Arra dengan serius.


“Kalo Arra siap, Shendy bakal wujudin apa yang Om Sunjaya dan Arra minta.” Arra tersenyum dan mengangguk.


Shendy balas tersenyum, dia menyentuh kedua bahu Arra meminta agar cewek itu duduk dengan menghadap kearahnya. Arra menurut. Dia mengubah posisinya yang semula setengah tertidur kini duduk bersila di depan Shendy. Shendy menatap Arra serius, dia mengambil kedua tangan Arra untuk dia genggam erat.


“Ra?”

__ADS_1


Shendy memasang mimik serius, membuat jantung Arra berdegup dengan ritme cepat yang tidak semestinya.


“Mungkin ini terlalu konyol untuk di ungkapin sekarang.” Shendy mengambil nafas sejenak.


“Mungkin ini kedengeran aneh, untuk kita yang semula nganggep semua ini sebagai arti persahabatan. Shendy tau mungkin Shenyd bodoh, udah nganggep semua ini rasa konyol yang semu, dan gak tau sejak kapan semua rasa itu berubah.” Shendy kembali memberi jeda.


“Setiap rasa kosong saat tidak bersama, setiap nyenyak yang hilang saat kita tidak berdua, setiap sakit yang Shendy rasa-in saat denger atau lihat Arra sama cowok lain, setiap sepi saat hujan di tengah sendiri. Setiap candu yang hanya bisa di hilangkan dengan temu...” Sekali lagi Shendy memberi jeda.


“ Aku tak tau ini apa?


Aku tak mengerti dia siapa?


Aku tak tau kenapa dia ada?


Tapi ku pastikan ini cinta....


Aku tau semua ini tidak mungkin....


Aku tau mungkin kamu enggan....


Tapi aku tak bisa bersembunyi....


Terhadap rindu yang memenuhi relung hati....


Misya Ratna Farradibha....


Aku tau mungkin kamu tak akan percaya....


Bahwa yang ku rasa bukan sekedar kata....


Tapi kuyakinkan ini Cinta....”


Satu air mata lolos dari netra coklat gelap milik Arra, dia menatap Shendy dengan berjuta air yang menggenang di kedua netra coklatnya yang siap luruh kapanpun. Dan dengan gerak cepat Arra menubrukan tubuhnya pada tubuh Shendy memeluk cowok itu dengan sangat erat.


“Shendy, Arra sayang Shendy. Arra kangen Shendy. Arra gak mau jauh dari Shendy walau satu detik. Arra sayang Shendy. Arra juga cinta sama Shendy. Hiks....”


Shendy menarik Arra untuk menatap mata cewek itu. Arra tertunduk, Shendy mengangkat dagu Arra dengan satu jari telunjuknya.


“ Shendy juga cinta sama Arra. Bahkan lebih dari rasa cinta Arra sama Shendy.” Shendy tersenyum meyakinkan.


Dengan perlahan Shendy menarik dagu Arra mendekat. Jarak mereka sangat dekat bahkan keduanya bisa saling merasakan nafas mereka masing-masing. Arra memejamkan kedua matanya, saat bibir Shendy menyentuh lembut bibirnya. Mengecup bibirnya lembut sebelum beralih ke ******* yang hanya berlangsung sebentar.

__ADS_1


Shendy menatap Arra dalam, begitupun dengan Arra yang balas menatap Shendy. Keduanya saling menatap dengan seulas senyum lebar yang menghiasi bibir keduanya. Shendy menarik Arra pelan ke dalam pelukannya. Memeluk erat cewek yang beberapa jam lalu masih dia anggap sebagai sahabatnya itu.


__ADS_2