Friendship

Friendship
40


__ADS_3

Arra dan Shendy sampai di sekolah mengunakan mobil milik Arra yang dikendarai oleh Shendy. Sesuai dugaan semua teman-teman Arra menunggu tepat diparkiran, dengan mobil Shendy yang di bawa pulang oleh Naga menjadi alas mereka duduk dan bersandar.


Arra turun dan langsung mendapatkan sambutan wajah kekhawatiran dari para teman-temannya. Shendy yang menyaksikan hal itu, membiarkan Arra untuk menghabiskan waktu dengan teman-temannya sedangkan Shendy menghampiri Naga dan bertos ala cowok-cowok keren seberti kebanyakan, hal yang selalu mereka berdua lakukan saat bertemu.


“Gwe juga mau dong!” Cipto bersiap mengangkat tanganya. Shendy menatap kearahnya dengan kening berkerut seolah berkata ‘Siapa lo?’


Membuat Cipto tertunduk lesu dengann raut sedih sambil menurunkan tangannya yang sudah sedikit terangkat kembali keposisi semula, tepat disamping jahitan celana abu-abu yang cowok itu kenakan. Regal yang melihat hal itu tertawa dengan kencang.


“Syukurinn!!!”


Regal mengangkat tanganya hendak bertos dengan Shendy seperti yang cowok itu dan Naga lakukan. Namun lagi Shendy menatap Regal dengan tatapan yang sama seperti saat menatap Cipto, membuat Cipto yang melihat hal itu membalas dengan hal yang sama tertawa kencang.


“Anjirr syukurin!!!” Cipto tertawa kencang, dengan satu tangan yang memegang perutnya.


Naga ikut tertawa, melihat wajah nelangsa kedua temannya. Shendy ikut tersenyum dan merangkul ketiganya dengan kedua tangan yang cowok itu rentangkan. Mereka serempak terawa. Dengan tubuh yang bersandar pada bagaian depan mobil merah milik Shendy.


“Ouh iyh!” Naga berkata. Shendy melepaskan rangkulannya.


“Apa?” Naga merogoh saku celananya.


“Nih.” Serahnya menyodorkan kunci mobil milik Shendy yang kemarin dia bawa pulang kepada Sang Pemilik.


“Bawa sama lo aja. Jangan lupa pulang ini semuanya harus main ke rumah Arra. Ada hal yang perlu kalian tau nanti.” Shendy berkata dengan smrik andalannya.


“Hal Apa?” Regal bertanya.


“Dateng aja!” Shendy enggan menjawab.


“Asiappppppp!!!” Jawab ketiganya serempak.


-*-


Keadaaan ruang keluarga rumah Arra sangat ramai, dengan teman-teman Arra dan Shendy tak lupa dengan kedua orang tua Shendy dan Arra yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan mereka. Mereka penasaran hal apa yang akan di sampaikan oleh kedua orang yang mereka kenal sebagai sahabat dekat itu.


“Shendy sebenarnya apa yang mau kamu kasih tau ke Mamah Sayang?” Santi bertanya dengan senyum lembutnya.


“Uhh lembut banget suara nyokap Shendy, bikin ngantuk dengernya.” Regal berbisik pada Cipto yang berdiri tepat di sampingnya.


“Yoii beda banget sama suara nyokap gwe yang suka teriak-teriak kaya pedagang sayur keliling.”Cipto kesal, saat mengingat suara Sang Ibu yang membangunkanya di pagi hari.


Shendy tersenyum pada kedua orang tua Arra, dan juga kedua orang tuanya. Cowok itu melirik teman-temannya yang berada di samping kanannya dan melirik teman-teman Arra yang berada di samping kirinya tepat di belakang Arra.


Shendy menarik nafas sebelum mengutarakan apa yang ingin dia dan Arra sampaikan.


“Mungkin Arra sama Shendy udah bilang tentang pertaruhan antara Shendy sama Arra ke Om sama Tante. Dan mungkin Om sama Tante udah ngasih tau Papah sama Mamah.” Shendy menatap kedua orang tau Arra kemudian kedua orang tuanya.


“Disini Shendy bakal jelasin lagi tentang pertaruhan Arra sama Shendy buat ngasih tau temen-temen Shendy.” Shendy menatap semua teman-temanya.


“Jadi gwe sama Arra taruhan. Umm bukan. Lebih tepatnya Arra yang ngajak gwe taruhan.“ Semua teman-temannya mengangguk sambil menunggu apa yang akan Shendy katakan selanjutnya.


“Taruhannya adalah, kalo Arra masuk lima besar. Gwe bakal traktir es krim seumur hidup, itu kalo gwe kalah.” Shendy bernafas sejenak.


“Kalo Arra yang kalah?” Nathalia bertanya.


“Kalao Arra kalah, Arra bakal ngajak Shendy kawin.”

__ADS_1


“Whaattt?!” Semua teman-teman Arra berteriak heboh, Naga, Regal dan Cipto menatap Shendy seolah bertanya. ‘Beneran?’ yang di balas anggukan oleh Shendy.


“Lo masih waras-kan Ra?” Arra mengangguk yakin.


“Lo naruhin hidup lo cuma buat es krim? Yah ampun Ra! Lo kaya, Bokap lo Pembisnis sukses. Buat beliin es krim lo sampe mati juga gak bakal bikin Bokap sama Nyokap lo bangkruttt!” Laddy tak habis pikir. Arra menatap nyalang.


“Lo diem. Es Krim itu sama berharganya kaya hidup gwe. Gwe bisa sakit kalo gak makan es krim 3 kali sehari. Gwe rela-rela aja.” Arra berkata cuek.


“Shendy. Lo beneran mau jalani pertaruhan kaya gini? Pikirin, Arra sahabat lo!” Nathalia membentak Shendy, Shendy hanya mengedikan bahunya acuh.


“Justru karena Arra sahabat gwe. Makannya gwe setuju!” Shendy berkata dengan tenang.


“Om-Om, Tante-Tante. Coba dong ngomong sama Shendy dan Arra kalo mereka gak boleh ngelakuin pertaruhan kaya gini.” Nathalia masih mencoba menghentikan.


“Iya, Om Tante. Kalian mau mereka terjebak dalam rumah tangga yang gak ada rasa cinta didalamnya?” Laddy juga ikut mencoba.


“Natha, Laddy. Tante Santi, Tante Ratna, Om Sunjaya sama Om Hermawan gak bisa nolak kalo mereka udah minta. Kalian-kan tau sendiri Shendy tanpa Arra gimana dan Arra tanpa Shendy juga gimana.” Santi menjawab, dengan penuh kebijakaan.


“Lagian apapun hasilnya nanti kita bakal terima itu, dan pasti mereka juga udah mempertimbangkan resikonya.” Ratna menjelaskan, Arra dan Shendy kompak mengangguk.


Laddy, Rosse, Dynar, Nathalia hanya mencabik kesal. Mereka tak habis pikir akan kedua orang yang mereka anggap teman dekat itu.


“Sahabat eudannn!” gumam mereka bersamaan.


Arra dan Shendy kembali memfokuskan pandangan meraka pada Para Orangtua, yang menatap meraka intens. Shendy tersenyum, kemudian merogoh tasnya, mengeluarkan surat kelulusan miliknya juga milik Arra.


“Buat pembuktian kalo di antara Arra sama Shendy gak ada kecurangan, kita bakal tuker. Surat kelulusan Arra yang buka Mamah sama Papah, dan yang buka surat kelulusan Shendy Om dan Tante. Setuju?” Para Orangtua hanya mengangguk. Shendy menyerahkan surat kelulusannya dan kelulusan Arra secara menyilang sesuai apa yang tadi dia beritahukan.


“Kalian boleh buka!” Arra berkata dengan antusias.


“Taruh di meja!” Perintah Shendy yang dengan patuh di laksanakan oleh Para Orangtua.


Semua teman-teman Arra dan Shendy mencondongkan sedikit badan mereka untuk melihat Surat Kelulusan dua sahabat yang menurut mereka gila itu. Semua orang memasang ekspresi terkejut, tidak menyangka akan hasilnya. Shendy dan Arra yang sudah melihat dengan jelas hasil kelulusan mereka saling menukar tatapa.


“Ra, waktunya kamu akuin kekalahan kamu.” Shendy menatap dengan smrik khas cowok itu.


Arra menatap semua orang dengan rasa bersalah. Kemudian mengambil nafas dan menghembuskan nafas perlahan menenangkan.


“Arra sama Shendy bakal nikahhh!” teriak Arra dengan sangat antusias.


Semua orang terdiam tak menyangka bercampur terkejut, dengan mulut yang sedikit terbuka. Regal yang pertama kali sadar dari keterkejutannya.


“Maksud kalian apa?!” Semua orang ikut menatap tak mengerti.


Shendy dan Arra saling menukar pandang. Kemudian tersenyum lebar.


“Endy mau nikah sama Rara Mah, Pah.” Shendy menatap kedua Orangtuanya.


“Bentar- bentar Om sama Tante masih gak ngerti.” Ucap Sunjaya yang di angguki oleh semua orang.


“Aduhh Papah. Masa masih kurang jelas sih? Gini. Biar Arra yang jelasin.” Arra menatap Shendy meminta persetujuan. Shendy mangangguk tanda mengijinkan.


“Papah-kan pernah minta sama Shendy buat jagain Arra dalam konteks Suami Istri?” Arra mentap Sunjaya.


Ingatan Sujaya berputar pada saat dirinya mengobrol dengan Shendy waktu itu. Sunjaya mengangguk saat ingat bahwa dirinya pernah meminta demikian, pada sahabat Sang Putri, orang yang sangat dia percaya melebihi dirinya sendiri dalam menjaga Sang Putri tercinta.

__ADS_1


“Nahh, Tante Santi sama Om Hermawan juga minta hal yang sama, sama Arra. Tapi bedanya Om sama Tante minta Arra buat selalu ada di sisi Shendy selamanya. Nahh karena hal itu Arra dan Shendy mutusin buat nikah.” Jelas Arra.


“Rara sayang.” Santi memanggil dengan nada yang super lembut.


“ Pernikahan itu bukan karena permintaan doang. Pernikahan itu harus juga di dasari dengan cinta, dan rasa sayang.” Santi menjelaskan.


“Lagin Shendy juga pernah bilang sama Om, kalo Shendy sama Arra masih terlalu muda untuk mikirin hal ini. Kenapa sekarang mutusin buat nikah? Kalian harus mikirin mateng- mateng Nak.” Sunjaya berkata dengan bijak.


Arra dan Shendy saling menukar tatap. Mereka menghembusakan nafas lelah secara bersamaan. Kompak. Mereka tersenyum lebar penuh arti sekaligus menyiapkan diri untuk di goda oleh teman-teman mereka yang menyaksikan hal ini. Huhftt saharusnya tadi Shendy dan Arra tidak mengajak teman-teman mereka untuk menyaksikan hal ini.


Shendy dan Arra kembali bertukar tatap.


“Sebenarnya Shendy sama Arra udah nyadar kalo perasaan yang kita berdua rasain itu lebih dari rasa sayang ke sahabat.” Shendy menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal, dengan menampilkan senyum manisnya.


Arra tertunduk malu, dia mengulas senyum lebar dalam hati.


“Jadi kalian udah sadar kalo perasaan dan tingkah laku kalian itu lebih dari sahabat?!” Regal bertanya setengah membentak.


Arra dan Shendy menatap teman-temannya dan mengangguk dengan senyum yang tak pernah surut dari wajah keduaanya.


“Anjirr... Akhirnya Tuhan.... “ Regal menjitak kepala Shendy saking gemasnya.


Shendy mendelikan sewot. Regal tersenyum kikuk, beruntung Shendy hari ini sedang bahagia jika tidak, mungkin dia akan merusak moment bahagia kali ini.


“Yang bener Ra?” Dynar bertanya memastikan.


“Iyah” Cicit Arra menahan malu.


“Lo jadi udah sadar, ke-galau-an lo pas di tinggal Shendy satu minggu itu perasaan galau karena sepi gak ada orang yang lo cinta, bukan karena kesel sama Shendy sebagai sahabat?” Nathalia meragukan. Arra mengangguk.


“Alhamdulillah Ya Allah. Akhirnya teman hamba sadar juga!!!”Laddy bersyukur.


Semua orang memekik senang. Para Orangtua yang bahagia, akhirnya permintaan mereka terwujud. Teman-teman Arra dan Shendy bersyukur karena mereka tidak akan lagi kesal dengan pengakuan dua teman mereka yang mengatakan semua tingkah romantis mereka sebagai hal wajar sebuah persahabatan yang bikin mereka kesal setengah mati. Dan Shendy juga Arra yang bersyukur keinginann keduanya bisa di terima dengan baik oleh semua orang.


“Ahh syukur lah. Mamah sama Papah kira kalian mau nikah karena nurutuin permintaan Mamah sama Sunjaya.” Arra dan Shendy kompak menggeleng.


“Enggak kok Mah.” Jawab Shendy yakin seyakin-yakinnya.


“Oke jadi kalian mau gimana, berapa hari, dan kapan, pernikahan kalian di laksanakan?” Hermawan bertanya to the point. Ia bersyukur dalam hati dengan rasa bahagia ini.


“Kalian setuju?” tanya Arra dan Shendy bersamaan. Semua orang menganggukkan kepala dengan senyum yang merekah.


“Tentu Sayang.” Para Orangtua, ikut berkata kompak.


“10 hari kedepan semuanya harus beras!” Perintah Shendy dan Arra mutlak.


“Siappp Yang Mulia!!!” teriak Para Orangtua dengan semangattt 45.


Arra dan Shendy tersenyum, mereka bahagai sangat amat bahagia. Mereka sudah yakin dari awal membuat rencana, bahwa Kedua Orangtua mereka akan setuju, dilihat dari para orang tua yang meminta mereka bersama walau tidak di ucap secara gamblang oleh Orangtua keduanya. Tapi Arra dan Shendy paham, akan maksud Para Orangtua. Dan yakin mereka akan setuju. Dan benar! Para Orangtua setuju bahkan mereka sangat bahagia terbukti dari mereka yang tidak menentang keinginan Arra dan Shendy yang ingin menikah 10 hari ke depan itu.


Regal, Naga, Cipto, Nathalia, Rosse, Dynar, dan Laddy juga tak kalah bahagia, mereka turut senang saat teman mereka yang selalu mengumbar ke-romantis-an tapi menganggap hubungan mereka tidak lebih dari sahabat itu akhirnya menyadari bahwa semua yang mereka lakukan dan semua rasa yang mereka alami bukan sekedar rasa pada sahabat. Tapi pada orang yang mereka cintai.


Alhamdulillah!


-*-

__ADS_1


__ADS_2