
10 hari berlangsung dengan cepat, hari yang di tunggu- tunggu Arra dan Shendy akhirnya tiba. Setelah melewati semua persiapan yang melelahkan dan menguras waktu. Kini hari itu tiba. Hari dimana pernikahan keduanya berlangsung, dengan dekorasi yang mewah, Para tamu yang datang dengan penuh suka cita menyambut hubungan yang sebentar lagi akan berubah.
Setelah melewati berbagai acara yang di adakan sebelum menikah dengan adat daerah khas, sampai foto Pra-Wedding yang di lakasanan di lima tempat berbeda dan jarak yang jauh hanya dalam waktu satu hari. Kini Arra dan Shendy hanya perlu menyelesaikan satu lagi acara sembelum keduanya dinyatakan resmi sebagai Suami Istri yang sah di mata hukum dan agama.
Ijab kabul....
Shendy duduk di depan meja yang memisahkannya dengan Sunjaya sebagai orang tua Arra dengan Arra yang duduk dengan baju khas pengantin wanita yang sangat indah dan super mewah, menambah kesan cantik sekaligus manis seorang Misya Ratna Farradibha. Shendy tersenyum saat melihat Arra yang menundukkan wajahnya karen tersipu malu saat Shendy menatapnya intens.
Dengan perasaan yang berdebar tak menentu, Shendy menjabat tangan Sunjaya yang terulur, di saksikan Para Saksi, Pak Kyai, dan juga Petugas KUA. Tak lupa Para tamu undangan yang menyaksikan.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Shendy Sambara dengan Putri Saya Anandi Misya Ratna Farradibha binti Sunjaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat beserta uang tunai senilai 10 milyar rupiah.” Sunjaya berkata tengan tegas dan lantang.
“Saya terima nikah dan kawinnya Misya Ratna Farradibha binti Sunjaya dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.” Ucap Shendy dengan satu tarikan nafas.
“Bagaimana para saksi... sah?” Pak Kyai bertanya pada Para Saksi yang ada.
“Sah!” Semua saksi dan semua orang yang menyaksikan berkata serempak.
Arra menitikan air matanya, tak menyangka saat cowok yang dulu bersetatus sebagai sahabatnya kini telah menjadi suaminya. Begitu juga dengan Shendy yang tak menyangka semua ini akan terjadi dengan sangat cepat.
Di belakang Arra dan Shendy ada Santi dan Ratna yang tak hentinya mengucap syukur dengan air mata yang terus menetes haru.
Mereka tak menyangka anak mereka yang kemarin masih merangkak dengan tangan dan kaki kini telah mampu menopang tubuh hanya dengan dua kaki. Mereka tak menyangka anak mereka yang semua saling menangis karena berebut es krim, kini saling menangis dalam lingkup bahagia pernikahan mereka. Shendy dan Arra Putra, Putri mereka yang tumbuh besar dengan sangat cepat.
“Ahh gwe baperr....”
Bisik Laddy yang mampu di dengar oleh Regal yang duduk tepat sampingnya. Saat melihat Shendy mencium kening Arra mesra penuh hikmat. Regal tersenyum, menarik bahu Laddy untuk dia peluk, yang tak mendapat penolakan sedikitpun dari Sang empunya bahu.
“Gak usah baper, 6 bulan lagi kita nyusul mereka.” Bisik Regal tepat di telinga laddy.
Laddy sontak menatap Regal cepat, dengan tatapan yang seolah berkata. ‘Serius?’ Regal mengangguk mantap dengan senyum lebar. Laddy balas tersenyum tak lupa balas memeluk Regal dari arah samping.
Cipto melirik Regal dengan jengkel. Kemudian cowok itu tersenyum kala terpikirkan ide yang menurutnya woww super duper woww.
“Ahh baper gwe!” Cipto memancing Rosse yang duduk tepat disampingnya.
“Nyusul mereka yuk Se?” ajak Cipto kontan.
Rosse mendelik dengan tangan yang mengepal tepat didepan wajah Cipto. Cipto hanya tersenyum kikuk dengan menampilkan deretan gigi putihnya. Cipto tertunduk lesu, saat Rosse memfokuskan pandanganya kembali ke arah Shendy dan Arra yang sedang menandatangani buku nikah.
Mendongak dengan cepat, Cipto tak perduli jika mungkin kepalanya akan putus dari lehernya, karena sekarang yang penting bagi Cipto adalah kata-kata yang di lontarkan Rosse barusan.
“Gwe tunggu 3 bulan dari sekarang!” ucap Rosse dengan wajah datarnya yang masih mengarah ke depan.
Cipto mencubit pipinya sendiri, memastikan bahwa semua yang di ucapkan Rosse adalah kenyataan bukan hanya sekedar kehaluaannya.
Sakit... Itu berarti....
Bukan Mimpi....
Cipto menatap Rosse yang masih memfokuskan pandangannya ke depan.
“Beneran?” Rosse balas menatap Cipto.
“Kalo lo telat, gwe gak mau nikah sama lo!” ucap Rosse mutlak tak ada penolak.
Cipto mangangguk cepat. Dia bahkan berjanji akan datang kerumah Rosse 3 bulan dari sekarang dengan iring-irngan pengantin. Ya, itu janji Cipto, yang merangkul Rosse dengan mesra.
Sementara Dynar, yang menyaksikan interaksi teman-temanya hanya geleng-geleng kepala kemudian menyandarkan kepalanya kebahu kiri Nino, yang sudah berjanji akan melamarnya besok tepat di depan kedua orang tua Dynar walaupun hubungan keduanya baru berjalan 3 bulan, tapi keduanya sudah yakin untuk melangkah kepelaminan menyusul Arra dan Shendy.
Di samping Dynar dan Nino, ada Nathalia dan Naga dengan tangan yang saling bertaut di hiasi dengan cincin yang melingkar mesra di jari manis keduanya. Yah mereka bahkan sudah bertunangan. Tepat pada hari kelima di mana Arra dan Shendy yang melaksanakan Foto Pra-Wedding.
-*-
Acara pernikahan berlangsung dengan meriah tanpa mengurangi arti kesakralan pernikahan itu sendiri. Acara yang berlangsung selama 8 jam itu kini telah berlalu. Meninggalkan Sepasang anak manusia yang kini sudah resmi menjadi Sepasang Suami Istri yang memasuki kediaman mereka dengan rasa bahagia.
Mereka Shendy dan Arra yang dulunya adalah sahabat kini berubah setatus menjadi sepasang suami istri setelah di resmikan beberapa jam yang lalu. Memasuki kediaman baru yang akan mereka huni berdua. Rumah hasil tabungan Shendy yang dia kumpulkan selama 3 tahun, rumah yang bisa di bilang cukup mewah, untuk hasil tabungan anak SMA.
Shendy tersenyum, saat menatap Arra yang tengah melihat-lihat bangunan rumah yang sudah penuh dengan berbagai alat elektronik dengan wajah yang berseri-seri.
__ADS_1
“Suka?” tanya Shendy sambil meletakan peci hitam keatas meja sofa ruang tamu.
Arra mengangguk antusias.
“Suka bangetttt, Arra gak nyangka Shendy bisa beli rumah semewah ini dengan hasil tabungan Shendy selama 3 tahun bahkan prabotan di sini udah hampir lengkap. Arra gak ragu ternyata Papah Hermawan kaya banget yah. Hahahha....” Arra bertanya dengan sedikit terkikik.
“Iya dong, Papah Shendy!” Arra memicingkan matanya.
“Hehhh, inget Papah Arra juga kaya!” Shendy mengangguk dengan senyum manisnya.
“Hehe iyh deh.” Arra tiba-tiba menunduk, entah atas alasan apa.
Dalam hitungan detik Arra sudah menabrakan tubuhnya pada Shendy.
“Makasih Shendy, makasih banyak. Makasih buat semuanya, makasih buat segala hal. Makasih karena udah mau nerima Arra, makasih karen udah selalu ada di sisi Arra, bahkan sampe sekarang.” Arra menumpahkan seluruh rasa bahagianya pada dada Shendy, yang masih berbalut jas putih itu.
Shendy mengulas senyum, dia melepaskan pelukannya dari Arra, menatap wajah Arra yang masih penuh dengan make-up pengantinya. Dengan kedua ibu jarinya Shendy mengusap jejak air mata Arra yang membekas di kedua pipi sahabat sekaligus istrinnya itu.
“Jangan nangis, jelek. Shendy udah pernah bilang, kalo Arra segalanya buat Shendy. Dan Shendy gak masalah kalo harus sakit, terluka, berdarah atau apapun kalo itu demi Arra. Karena Cinta dan sayang Shendy lebih besar dari Cinta dan Sayang Arra ke Shendy oke?” Arra mengangguk. Shendy mengulas smriknya, dan tanpa aba-aba Shendy mangangkat tubuh Arra ala Bridal style.
-*-
Shendy menidurkan tubuh Arra dengan hati-hati di atas kasung king size kamar mereka. Shendy terdiam, menatap intens netra coklat gelap milik Arra, begitupun sebaliknya. Tatapan mereka saling mengunci seakan tak ada yang lebih indah bagi Shendy selain mata Arra. Shendy mendekatkan wajahnya, perlahan....
Dekat....
Semakin dekat....
Sangat dekat sampai hidung mancung kedunaya saling menempel. Shendy kembali menatap mata Arra dalam. Begitu juga dengan Arra...
Dan....
Dengan cepat Shendy mengalihkan pandangan, dan meloncat turun dari atas kasur. Membuat Arra mengernyit heran saat Shendy menjauh dan berjalan menuju kearah balkon, membuka tirai dan membuka pintu kaca yang jadi pembatas antara kamar dan balkon.
“Shendy” Panggil Arra pada cowok yang hampir keluar dari kamar menuju balkon itu.
Shendy terdiam sejenak, dia menarik kembali kakinya yang bahkan belum sempat menyentuh lantai balkon. Menghembuskan nafas sebelum berbalik manatap Arra.
Arra mengernyit saat Shendy menatapnya dengan senyum manis cowok itu namun berbeda dengan sorot matanya yang menampikana sorot gugup.
“Emm kenapa Shendy pergi gitu?” Arra menyuarakan tanyanya.
Tak bisa Arra pungkiri dia juga gugup dengan posisi mereka tadi, tapi mereka sudah sah kan? Bahkan mereka wajib melakukan hal itu. Apa lagi ini malam pertama mereka, walaupun tidak bisa di sebut malam pertama jika hanya tidur di atas ranjang yang sama, karena mereka bahkan sudah sering tidur bersamakan? Tapi ini beda, mereka bahkan di wajibkan untuk melakukan hal itu, lantas kenapa Shendy justru pergi. Dan terkesan...
Mengurungkan?
Shendy diam, dia bingung harus menjelaskan apa, dia juga tak tau kenapa dirinya bisa segugup ini. Padahal mereka sudah sering bersama, bahkan tidur bersama. Lantas kenapa hal semacam itu dia harus gugup? Bahkan hanya untuk menatap mata Arra yang tidur di bawahnya tadi dia panas dingin, kenapa dengan dirinya?
“Enggak papa. Arra mendingan mandi dulu biar seger.” Arra terdiam, sebelum akhirnya mengangguk dan bangkit untuk membersihkan diri.
Shendy menatap punggung Arra yang perlahan menghilang di balik pintu kamar mandi. Menutup matanya mencoba meredam rasa gugup yang melandanya malam ini. Shendy mengusap wajahnya gusar, kemudian berbalik untuk melanjutkan langkah menuju balkon.
Langit cerah bertabur bintang adalah hal yang indah untuk di lihat kala malam. Namun semua itu tidak berbekas di hati Shendy saat cowok yang tengah berdiri dengan tumpuan tralis yang menjadi pembatas balkon dengan segala ke-gugupan-nya malam ini. Ya dia sangat gugup, entah kenapa dia gugup, setaunya saat malam pertama wanita lah yang biasanya akan mengalami kegugupan kenapa dalam ceritanya justru Sang Pria yang gugup?
Menarik nafas, menghembuskannya, tarik nafas lagi, menghembuskan nafas lagi, Shendy coba lakukan untuk menetralirsir kegugupannya, dia amat sangat gugup. Kenapa setiap pernikahan harus ada malam pertama? Dan kenapa setiap manusia harus melakukan hal itu untuk berkembang biak? Dia jadi ingat pada Sang Papah. Apa Papah-nya juga merasakan hal yang sama saat malam pertama dulu?
Pikiran konyol mendatangi Shendy, apa dia harus menelfon Sang Papah untuk menanyakan hal yang seharusnya menjadi rahasia setiap pasangan?
“Hufttt....” Shendy kembali menghembuskan nafas untuk menetralisir gugupnya yang semakin menjadi.
Dia harus apa saat Arra selesai mandi nanti? Apa dia pura-pura tidur saja, supaya saat Arra keluar dari kamar mandi nanti Arra tidak tau kalau dia sedang gugup hanya karena memikirkan hal itu. Ahh sepertinya itu pikiran yang bodoh, kalaupun malam ini dia selamat bagaimana dengan malam-malam berikutnya?
“Ya Tuhan beri Shendy petunjuk....” Shendy menengadah, menatap langit yang cerah dan tenang tidak seperti hatinya.
Tubuh Shendy menegang seketika saat seseorang memeluk tubuhnya dari arah belakang, siapa lagi memangnya kalau bukan Arra yang sekarang sudah menjadi istrinya.
“Shendy kaget?” Arra terkikik geli.
“Arra ngagetin Shendy!” ucapnya yang melihat sekilas ke arah belakang.
__ADS_1
“Kok belum pake baju? Nanti masuk angin Ra!” Shendy mengingatkan dengan menahan agar nadanya tidak terdengar gugup ditelinga Arra.
“Males ah, nanti di lepas lagi juga kan?” Shendy mengernyit. Arra semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Shendy semakin tak nyaman dalam posisi.
“Astagfirullahhaladzim Gusti....” Gumam Shendy.
“Apa Shend?” Arra bertanya saat tidak mendengar ucapan Shendy barusan.
“Ehh enggak... Enggak papa....” Shendy berusaha tenang, saat Arra bergerak dengan pelukannya yang erat.
“Shendy, kayaknya udah malem yah? Kita gak mau ngelakuin itu?” Arra memberi kode.
“Nge... Nge...Ngelakuin ap... Apa Ra?” Arra mengeryit saat mendengar nada bicara Shendy yang gagap.
“Shendy gugup?” Shendy menggeleng cepat.
Arra melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Shendy agar menghadap kearahnya.
“Shendy gak usah boong, Arra sama Shendy tuh udah bareng sejak bayi, jadi Arra tau Shendy. Shendy lagi gugup kan? Ngaku!”Arra menajamkan matanya. Shendy mengalihkan pandangan.
“Engg... Engg... Enggak kok.” Gagapnya lagi.
Sial!
“Bohong! Arra tau Shendy, Shendy bakal gagap kalo ngomong pas Shendy ngerasa gugup. Nah sekarang yang jadi pertanyaan. Shendy gugup karena apa?” Shendy terdiam.
Arra kembali memicingkan matanya dan bergerak memutari tubuh Shendy sambil memasang wajah yang berpikir serius.
“Hmm, masa sih?” Shendy mengangguk sambil mengikuti gerakan Arra yang mengitari tubuhnya.
“Arra gak percaya....” Arra memberi jeda.
“Ahhh Arra tau!” Arra berhenti tepat di depan Shendy.
“Shendy gugup karen kita mau ngelakuin itu kan?! Kan?” tujuknya tepat di depan mata Shendy. Shendy kembali membuang muka.
Entah kenapa tebakan Arra bisa sangat tepat. Dan entah kenapa pula jantungnya kembali berdegup kencang, bahkan lebih kencang dari sebelumnya.
“Kann diem. Berarti bener! Shendy gugup karena kita mau ngelakuin itu?” Shendy menatap Arra dan menggeleng kuat.
“Halah gak usah boong. Hahahha Shendy gugup. Ahhaha!!!” pandangan Shendy berubah, dia menatap Arra kesal.
“Ra, berhenti ketawa!” peringat Shendy.
“Enggak, hahha Shendy gugup... Hahha!!!” tawa Arra semakin menggelegar.
“Ra berhenti gak!” Arra menghindar saat Shendy hendak memegang tangannya.
“Hahaah Shendy gugup hahahha! Papah Hermawan Shendy-nya gugup hahha....” Arra meledek, membuat Shendy geram.
“Ra, Shendy gak gugup yah!” peringat Shendy hendak menangkap Arra, namun dengan cepat Arra berlari. Masuk ke dalam kamar mereka.
“Wee dasar cemen!! Masa mau gitu aja gugup. Hahahah... Ahahhah wee... Shendy gugup... Wee Shendy cemen!! Huh!!” Arra semakin gencar meledek.
“Sini kalo berani dasar cemen! Huhhhh... Ahhahahah!!” Arra menunjukan dua jempolnya yang dia arahkan ke bawah.
“Huhh Shendy cemen! Muka aja yang galak, masa mau kaya gituan aja gugup... Hahahah dasar cemen!!!”
Shendy sudah lelah, semua rasa gugupnya meluap seketika saat mendengar ledekan dari Arra. Dengan langkah cepat Shendy hendak menghampiri Arra, namun secepat itu juga Arra menghindar. Shendy mencoba menangkap Arra, namun kembali Arra menghindar dan bisa lolos dengan sempurna.
Shendy mendengus sebal saat cewek yang sudah sah menjadi istrinya itu tak berhenti meledeknya. Dengan gerakan super duper cepat Shendy menangkap Arra dan....
Bughh....
Keduanya terjatuh di ranjang, dengan posisi Arra yang berada di bahwa dan Shendy yang tepat diatasnya. Arra dan Shendy sama-sama mengerjap saat bibir mereka menempel satu sama lain. Shendy hendak bangkit, saat menyadari posisi mereka namun secepat mungkin Arra menarik tengkuk Shendy dan menempelkan bibir mereka semakin dalam.
Shendy mendelik, namun tak di hiraukan oleh Arra yang malah membuka bibirnya dan memulai ciuman mereka. Shendy terdiam, namun semakin lama semakin menikmati, membuat Arra tersenyum saat Shendy mulai memimpin ciuman mereka yang semula lembut menjadi liar. Arra tak bisa menolak saat Shendy mulai membuka tali bathrobe-nya, dan mulai menyentuh setiap inci tubuhnya yang sudah tidak terhalang apa-apa.
Malam yang bertabur bintang dengan kecerahan sinar bulan, menjadi saksi bisu menyatunya dua hati yang semula saling terdiam dalam ikatan persahabatan yang membuat rasa mereka terbatas garis yang menyiksa kala rindu yang harus terucap justru tertahan akan gengsi, sayang yang harusnya tertuang justru terpenjara dalam kebisuan. Dan cinta yang harusnya di ungkap hanya bisa terpendam dalam dada.
__ADS_1
Semuanya sudah berakhir, dengan penyatuan mereka saat ini yang menjadi saksi betapa cinta mereka begitu besar selama ini.
...-END-...