
Arra beranjak dari duduknya, membuat semua mata menatap kearahnya, termasuk Shendy yang sudah mencengkal tangan kanan Arra, menahan cewek itu.
“Mau kemana Ra?” Dynar bertanya.
“Mau ketoilet bentar.” Jawab Arra.
“Yuk.” Shendy ikut berdiri.
“Mau kemana?”
“Nemenin Arra.”
“Gak usah, Arra sendiri aja. Shendy di sini aja oke?” Arra menolak.
“Tap-“
“Udah di sini aja.” Arra mengecup pipi Shendy sekilas.
Dengan berat hati, Shendy melepaskan tangannya, dan membiarkan Arra pergi. Shendy terus menatap punggung Arra yang semakin mengecil, entah kenapa perasaannya mengatakan ada yang tidak beres.
“Ahh mungkin cuma perasaan gwe.” Ucap Shendy membatin.
“Udah kali Shend, takut banget Arra ilang kayaknya.” Cipto membuyarkan lamunan.
“Gwe sekarang tau!” Regal berseru
“Tau apaan?”
“Sekarang gwe tau. Kalo Shendy ngambek, atau ngamuk. Kita tinggal cium aja pipinya!” Regal berseru antusias. Shendy melotot tajam.
“Tuhh mulai. Cini cini kecup pipi dulu...” Regal perlahan mendekat.
“Lo kalo berani nyentuh gwe. Sumpah gwe bunuh lo!!!” Ancam Shendy bukan main.
“Uhh ceyemm. Oke gak bakal cium catu pipi, dua pipi dehh. Cini- cini...”Regal semakin gencar. Semua orang tertawa melihat adagan saling kejar antara Shendy dan Regal.
“Regal Dwipa lo berani nyium gwe! Sumpah gwe abisisn lo!!” Shendy masih mengancam.
“Uhhh ceyemmm, atut dehh... Bhahahah cini cini... Cini Cayanggg!” Regal masih belum menyerah.
-*-
Arra keluar dari toilet dengan bersenandung kecil, dia sudah tidak trauma lagi untuk ke toilet sendirin. Lagian untuk apa takut, toh Reikka yang sempat menjadi saingannya dalam memperoleh perhatian Shendy sudah pergi dari sekolah ini, jadi apa yang harus di takuti. Hantu? Heleh hantu mana doyan sama Arra yang manja dan sukanya nyuruh.
Impossible.
“La... La... La....” Arra melangkah melewati lorong yang sudah sepi karena acara yang sudah selesai.
“Ehh kaya ada yang ngikutin” Gumam Arra pelan.
__ADS_1
Firasatnya mengatakan kalau ada seseorang yang mengikutinya sedari keluar dari toilet tadi, tapi siapa? Pelan-pelan Arra menoleh kebelakang. Kosong dan sepi. Tidak ada siapa-siapa. Arra kembali melihat ke depan
tapi....
“Hmpfttt...”
Dua orang berbadan besar dengan pakaian serba hitam dan wajah yang di tutupi dengan kupluk yang berwarna senada membekap mulut Arra dengan sapu tangan yang pasti sudah di taburi obat bius, terbukti dengan Arra yang kemudian kehilangan kesadaran setelah berusaha teriak. Kedua orang yang menculik Arra itu dengan ringan membopong tubuh Arra dan membawa Arra yang dalam keadaan pingsan menuju mobil yang mereka tumpangi lewat pintu belakang aula.
Tanpa dua orang penculik itu sadari, seseorang melihat aksi mereka dan berusaha mengikuti kedua penculik itu.
“Ahhh sial gwe kehilangan jejak!” teriak seseorang itu saat melihat mobil yang di kendari penculik telah menghilang dari pintu belakang aula.
-*-
Drett... drett... drett...
Suara telfon yang Shendy yakini adalah bunyi dering telfonnya membuat cowok itu menghentikan aksi kejar-kejarannya dengan Regal. Regal yang melihat Shendy tengah menerima telfon pun mengerti dan menghentikan kegiatannnya yang hendak menangkap cowok itu.
“Siapa Shen?” tanya Regal yang sudah berdiri di dekat cowok itu.
Shendy hanya menggeleng sebagai jawaban bahwa dia sendiri tidak tau siapa orang yang menelfonya. Dengan perasaan yang mulai tidak enak, Shendy mengangkat telfon dari nomor tidak dikenal itu.
“Hallo?” Shendy bertanya dengan tatapan heran, Regal yang berdiri di sisinya memasang telinga semakin tajam, mencuri dengar.
“...” Shendy mengangkat sebelah alisnya heran. Membuat Naga yang masih berdiri di kursinya melirik Regal dengan tatapan
‘Siapa?’ yang di balas dengan gelengan oleh Regal.
“...”
“Gwe gak kenal sama lo, dan gwe gak percaya sama omong kosong lo. Jangan berani ngancem gwe!!” Shendy berkata marah, membuat Regal yang melihatnya semakin heran akan siapa Si Penelpon.
Tutt... tutt... tutt...
Sambungan telfon diputuskan secara sepihak oleh Si Penelpon membuat Shendy sedikit kalut. Cowok itu mengatur nafasnya, mencoba untuk tenang dan berfikir jernih. Regal yang melihat itu tak bisa menahan kekepoannya untuk bertanya.
“Siapa Shen?” Shendy menatap Regal sekilas.
“Gak tau, dia bilang kalo dia udah berhasil nyulik Arra.” Regal sedikit terkejut.
“Hah! Gak mungkin kan?” Regal juga tak percaya.
“Gwe juga gak percaya, tapi dari tadi perasaan gwe gak enak.” Shendy mulai kalut.
“Lo tenang. Mending lo hubungin Nomer Arra dulu, pastiin semuanya.” Regal menenangkan, Shendy berusaha mengontrol emosinya, dan mengikuti saran dari Regal.
Dengan segera Shendy menghubungi nomer Arra. Berdering. Tapi kenapa nada dering ponsel Arra terdengar sangat dekat?
Shendy menatap pintu di mana Arra tadi keluar, bukan. Suara dering itu bukan dari arah pintu. Shendy mencoba menajamkan pendengaran. Dengan tergesa Shendy melangkah mengikuti suara nada dering ponsel Arra, di ikuti Regal di belakang cowok itu.
__ADS_1
Shendy berhenti tepat di meja tempat mereka semua duduk. Dengan cemas Shendy mengambil slimbag warna merah yang tergletak di atas meja. Slimbag milik Arra.
“Siall siall! Arra gak bawa hpnya!” Shendy menaruh kembali Slimbag Arra ke tempat semula dengan kasar.
“Lo kenapa Shend?” tanya Naga yang melihat ekspresi tak biasa dari Shendy.
“Arra di culik.” Shendy berkata gusar.
“Whattt!” Semua cewek yang ada di meja itu sontak berdiri karena terkejut.
“Lo gak bercandakan Shend?”
“Lo liat muka gwe kaya lagi bercanda gak!?” Shendy nge-gas.
“Tenang Shend, lo jangaan kalut. Kalo lo gak bisa ngontrol emosi yang ada lo sendiri bakal rugi. Lo tenangin diri lo.” Naga mencoba menenangkan.
Shendy mencoba mengontrol emosinya. Cowok itu berpikir.
“Gwe harus cek.” Shendy hendak melangkah, sebelum kedatangan seseorang membuatnya menghentikan langkahnya.
“Bang Shendy... Ngheh... Heftt....” Seseorang itu memanggil dengan nafas yang ngos-ngosan akibat berlari.
“Bang. Gawat bang! “ Cowok itu masih mencoba mengatur nafasnya.
“Gawat napa Nad?” Naga bertanya.
“Gawat Bang... Ka Arra di culik, tadi gwe sempet ngejar, tapi mereka udah keburu kabur!” Seseorang itu memberitahu.
Brak..
Tanpa aba-aba Shendy membanting kursi yang berada tidak jauh dari cowok itu. Semua orang menatap Shendy.
“Shendy, tenang. Lo harus bisa tenang!” Naga Berteriak mengingatkan.
Shendy berjalan mendekati seseorang yang melihat Arra di culik itu, mencengkam kerah seseoang itu dengan kuat.
“Kemana mereka bawa Arra pergi!” Shendy bertanya galak. Seseorang itu gugup.
“Jawab Rainad!”
“Gwe liat mereka bawa Ka Arra pergi dari pintu belakang Aula Bang!” Shendy melepaskan cengkaraman-nya pada Rainad.
“Sial, gwe gak bakal biarin dia nyulik Arra!” Shendy menekankan.
“Naga, Rainad, ke ruang CCTV sekarang, liat kemana penculik sialan itu bawa Arra!” Perintah Shendy tegas. Rainad dan Naga dengan segera pergi menuju ruang CCTV tanpa menunda waktu.
“Kalian semua yang ada di sini!” semua orang yang masih berada di sana terdiam seketika.
“Gwe gak mau tau, jangan sampe ada orang lain yang tau tentang kejadian ini selain yang masih ada di ruangan ini. Paham?!” semua yang berada di sana mengangguk patuh.
__ADS_1
-*-