Friendship

Friendship
29


__ADS_3

Arra sedang menikmati buah apel yang sedari tadi tak berhenti Shendy suapkan kemulutnya. Walaupun cowok itu tau, mulut Arra sudah penuh dengan potongan buah Appel yang dia suapkan.


Menjengkelkan!


Hal itu yang selalu Arra ucapkan dalam hatinya untuk sifat Shendy hari ini. Cowok itu bahkan sangat menikmati dengan tertawa kencang ketika Arra kesusahan untuk menelan buah Appel dalam mulutnya yang penuh.


“Tunggu pembalasan Arra Shendy!” Arra bergumama dalam hati. Menatap horor pada cowok yang masih saja tertawa mungkin karena bahagia melihat Arra tersiksa.


Dasar!


Arra menelan appelnya dengan susah payah, dan meluruskan pandangan menatap pintu ynag terbuka. Shendy ikut menghentikan tawanya walaupun sulit, menatap Arra yang pandangannya terpusat pada pintu yang Shendy yakini terbuka. Shendy menoleh, kini tawanya berhenti dengan sempurna, saat melihat siapa yang datang.


Reikka.


Shendy memasang wajah datar dengan kesan dinginnya, menatap Reikka dari atas sampai bawah.


“Kayaknya dia gak pulang dulu. Kita liat apa yang bakal dia lakuin?” Shendy membatin.


Kembali menatap Arra yang juga menatapnya. Saat melihat penampilan Reikka yang berantakan, lusuh, dan memperihatinkan.


Reikka mendekat, menatap Arra dengan rasa bersalah dan kepala yang tertunduk. Arra mengerti.


“Shend, biarin aku berdua sama Reikka.”


Shendy menatap Arra dalam, melirik Reikka sebentar kemudian balik menatap Arra lagi.


“Enggak. Aku bakal disini.”


“ Tapi karen aku baik, aku bakal kasih kalian ruang buat ngomong” Shendy berkata dengan nada tak terbantahkan.


Arra hanya mendesah pelan. Shendy beranjak dari duduknya, berjalan dan berhenti tepat di samping Reikka.


“Gwe ngawasin lo!” Shendy berbisik.


Setelahnya melanjutakan langkah menuju sofa yang ada di sudut ruangan setelah melihat reaksi dari Reikka yang menelan seliv dengan gugup.


Arra menatap Shendy yang sudah mendudukan diri di Sofa yang berada di ruangan itu, masih dengan tatapan siaga jika sesuatu terjadi.


Dasar Shendy!


“Duduk Ka.” Arra menawarkan, Reikka menggeleng.


“Gwe berdiri aja.” Arra mengangguk, Reikka menatap sekilas kemudian menundukan kepalanya lagi.

__ADS_1


“Lo kayanya berantakan banget, lo gak pulang dulu?”


Reikka sedikit mendongak. Menatap Arra yang masih memperdulikan penampilannya yang terbilang berantakan, dengan baju lusuh, rambut berantakan, dan beberapa lebam dan darah yang sudah mengering diarea sekitar wajahnya.


“Enggak. Gwe langsung kesini.” Arra tersenyum.


“Umm Ra, gwe minta maaf. Gwe ... Gwe salah... Gwe terlalu dibutakan ambisi dan obsesi sampe buat rencana untuk bikin lo malu. Gwe bodoh udah berpikir buat nyelakain Shendy yang justru malah Lo yang kena.” Reikka memberi jeda. Arra mendengarkan dengan seksama.


“Gwe tau, gwe salah dan berhak di hukum. Tapi kenapa lo bebasin gwe Ra? Gwe berhak di penjara, mungkin itu hukuman yang pantas gwe sebut sebagai pelajaran. Tapi kenapa Ra? Kenapa lo bebasin gwe?” Reikka mulai menitikan air matanya. Arra tersenyum bersahabat.


“Hmm gwe tau lo salah. Bahkan cara lo salah.” Reikka menunduk. Arra memasang wajah datar.


“Tapi gwe tau Cinta dan obsesi beda tipis, bahkan saking tipisnya kita sampe gak bisa bedain yang mana cinta fitrah, dan mana yang obsesi semata. Gwe tau lo suka sama Shendy, dia ganteng. Dan yahh, mendekati kata sempurna.” Shendy tersenyum di ujung sana.


“Tapi gwe juga tau, kalo rasa suka lo di butakan dengan obsesi yang buat lo ngelakuin semua ini. Gwe tau semua ini salah, yang lo lakuin ke gwe juga salah, bahkan jahat. Tapi kita manusia. Dan masnusia punya salah. Sebagai manusia yang gak sempurna dan penuh kekurangan kaya gwe, gwe gak berhak buat hukum lo atau ngasih lo pelajaran, gwe cuma bisa maafin lo. Itu yang gwe tau.” Arra mengumbar senyum manisnya. Reikka mendongak, menatap Arra dengan air mata yang turun dengan deras menuju pipi, sebelum jatuh ketanah.


Dan tanpa aba-aba Reikka memeluk Arra yang sejak tadi berada dalam posisi duduk di atas brangkar rumah sakit. Senyum Arra semakin lebar, saat menatap Shendy yang berdiri karena terkejut dengan apa yang cowok itu lihat. Terlihat jelas di mata Arra, Shendy mengkhawatikan saat Reikka memeluknya, mungkin cowok itu berpikir kalo Reikka akan melakukan sesuatu. Namun senyum yang mengembang di wajah Arra membuat Shendy juga ikut tersenyum dari posisi cowok itu.


“Jadi ini akhir dari mimpi Arra.” Shendy tersenyum lebar, masih menatap dua orang di brangkar sana yang tengah saling memeluk.


-


Arra duduk dengan ditemani semua teman-teman yang mengelilinginya dan juga Shendy. Setelah seminggu Arra baru bisa kembali dan menikmati suasana sekolah bersama Shendy. Ya Shendy juga mengambil izin, dengan setia cowok itu menemani Arra di rumah sakit, bahkan tak pernah sedetik pun cowok itu beranjak jika Arra tak memintanya.


Ruang kelas sedikit sepi mungkin karena jam pelajaran yang kosong karena para guru sedang rapat dadakan entah merapatkan apa, membuat Arra, Shendy, Nathalia, Rosse, Regal, Laddy, Dynar, Naga dan Cipto lebih memilih untuk duduk melingkar di lantai dekat meja guru. Membicarakan semua hal yang tidak penting, dan terkesan ngelantur.


Ngalor-ngidul.


“Eh gwe denger Reikka udah pindah keluar kota ya?” Regal memulai, menatap Arra yang setia menyandarkan kepalanya kebahu ternyaman milik Shendy.


“Hmm, dia juga udah bilang sama gwe pas di rumah sakit. So gitu deh.” Arra menjawab sekenanya, sambil menikmati rasa ngantuk yang perlahan menyerang.


“Jadi pas di rumah sakit dia dateng? Kapan? Kok kita gak tau?” Nathalia ikut bertanya.


“Hmm”


“Bahkan sempet minta maaf sama Arra, karena Arra baik, dia dengan gampangnya maafin Reikka.” Shendy menjawab sepenuhnya. Mewakili Arra yang sudah ngantuk berat.


“Bener gitu Ra?” Laddy ikut bertanya.


“Hmm, udah jangan bahas dia. Takut hidupnya gak tenang kalo di omongin.” Arra berucap dengan mata yang tertutup.


“Ehh tapi gwe masih kepikiran yang waktu itu deh.” Cipto mengingat.

__ADS_1


“Apa?” Regal bertanya.


“Yang waktu pas kita mau masuk liat keadaannya Arra tapi dihalangin sama Nathalia di depan pintu tuhh.”


“Ouhh yang waktu itu. Iya gwe juga penasaran. Lo liat apa sih Nath waktu itu?”


Nathalia menelan seliv-nya gugup, dia melirik Shendy yang yang sedang menatapnya tajam, seakan memperingatkan untuk tidak mengatakan apa yang dia liat waktu itu.


“Umm gwe... Gwe gak... Gak liat apa-apa kok.” Nathalia gugup setengah mati, dia melirik takut-takut.


“Ah udah jangan bahas itu. Yang lain aja napa sihh?” Nathalia berujar sewott setengah gugup.


“Yehh. Eh btw besok kita ujian kan?” Dynar kali ini yang bicara, semuanya mengangguk.


Mengiyakan.


“Gwe gak nyangka kita udah ada di akhir cerita. Bentar lagi ujian, terus Promnite, lulus deh. Gak kerasa udah tiga tahun kita bareng-bareng.” Regal berujar sendu. Seketika suasana berubah melankoli.


“Anjirr lo, main timpuk aja.”


Teriak Regal tidak terima saat kepalanya di timpuk dengan bola kertas oleh Laddy yang duduk terpisah Naga dan Cipto.


“Lagian lo. Melankoli tau gak?!” Laddy membalas ketus.


“Tapi bener loh, kata Regal. Gak kerasa udah 3 tahun kita bareng-bareng. Ahh gwe mau nyanyi jadinya.Tiga tahun telah kita bersa-“


“Fals goublok!”


Naga dengan tega menyumpalkan kertas yang Laddy lempar ke dalam mulut Cipto. Dynar bergidik jijik saat melihat Cipto mengeluarkan kertas dengan air liur yang menempel pada permukaan kertas yang di remas bulat itu.


“Gila, jijik Cipto Adibima!” Semua orang tertawa saat Regal menjadi korban Cipto, yang menempelkan bola kertas tadi ke-pipi cowok itu.


Semua orang terbahak, saat Regal membalas dengan memukul-mukul Cipto manjahhh, yang di balas dengan adegan pukul-pukulan ala-ala duo koplak, somplak, tidak punya Ahlak.


“Dasar Duo Koplakkk, Somplakk, gak ada ahlakk emang!” Naga terbahak.


Sedangkan Arra cewek yang masih bersandar di bahu ternyaman milik Shendy itu hanya mengulas senyum dengan mata yang terpejam.


“Kita bakal kangen suasana kaya gini” Arra bergumam, yang mungkin hanya terdengar oleh Shendy.


“Hmm, itu pasti Ra.” Shendy mengusap pelan rambut sampai punggung Arra, membuat Arra yang ngantuk semakin ngantuk saja.


-*-

__ADS_1


__ADS_2