Friendship

Friendship
39


__ADS_3

Arra dan Shendy turun dari tangga dengan tangan yang saling bertautan menuju meja makan dimana kedua orang tua Arra telah menunggu. Dengan seragam khas sekolah pada hari senin dan senyum yang merekah indah di keduanya jangan lupakan gitar yang berada dalam genggaman tangan kiri Shendy. Mereka duduk di meja makan dimana biasa mereka duduk.


Arra kembali beranjak, berjalan menghampiri Sang Mamah yang masih berada di dapur untuk ikut serta membantu menyiapkan sarapan, membuat Ratna yang dihampiri mengernyit heran namun kembali bersikap biasa dan diam-diam mengucap syukur dalam hati. Tak jauh berbeda dengan Sunjaya yang menatap tak mengerti akan perubahan sikap Sang Putri, mencoba mencari tahu dari Shendy yang tengah anteng memainkan senar-senar gitar, yang membalas tatapan tanya dari Sunjaya dengan gelengan kepala.


Sunjaya kembali menyeruput kopi hitamnya, dengan tangan kiri yang masih setia memegang koran pagi, sedikit terkejut dengan nada yang Shendy mainkan.


Marry Your Daughter?


Jreng...


Shendy mulai mengambil nafas, sebelum kembali melanjutkan acara mencipta getar nada membuat sebuah lagu.


“Sir, I'm a bit nervous


'Bout being here today


Still not real sure what I'm going to say...” Sunjaya menatap serius Shendy yang duduk anteng sambil bernyanyi itu.


“So bare with me please


If I take up too much of your time....” Shendy balas menatap Sunjaya dengan smrik andalannya. Sebelum kembali menatap senar-senar yang dia petik.


“See in this box is a ring for your oldest


She's my everything and all that I know is


It would be such a relief if I knew that we were on the same side


Very soon I'm hoping that I....” Shendy mengambil nafas sejenak, sebelum melanjutkan kebait selanjutnya.


“Can marry your daughter


And make her my wife

__ADS_1


I want her to be the only girl that I love for the rest of my life


And give her the best of me 'till the day that I die, yeah...” Arra datang, kemudian duduk ditempatnya setelah menyumpal mulut Shendy dengan sopotong tempe goreng.


“Brisik! Ini meja makan!” Arra memberi peringatan.


“Ishh Arra mah, orang Om Sunjaya aja gak larang kan yah Om?” Shendy melirik Sunjaya yang masih cengo.


“Gimana Om, suara Shendy bagus kan?”


“Jelek! Udah makan!” Arra menyerobot, sebelum Sunjaya berkata.


“Apaan sih Ra, orang Shendy nanya Om Sunjaya juga. Iri bae, heran aing.” Shendy memberenggut kesal. Arra menatap horor.


“Iyah, iyah makan.” Shendy mulai menyendokan nasi beserta lauk pauk yang sudah Ratna siapkan dalam piringnya kedalam mulut.


“Nah gitu dong.” Arra juga ikut melakukan hal yang serupa.


“Gak papa Om, gak ada apa-apa juga kok. Cuma hari ini-kan Pembagian Surat Kelulusan. Masa Arra dengan pd-nya bilang kalo dia bakal masuk 5 besar. Kan Shendy gak percaya, terus Arra ngajakin taruhan kalo emang apa yang Arra bilang itu terjadi, Shendy harus beliin Arra es krim selama satu tahun penuh.” Shendy berucap setelah suapan pertamanya berhasil cowok itu telan.


“Wahh, kalo Arra kalah?” Ratna yang kali ini bertanya.


“Arra bakal ngajak Shendy kawin.”


Sunjaya terdiam, Ratna yang sedang mengoles slai coklat juga menghentikan gerakan tanganya sepontan.


“Bwahahhahahha....” Shendy tertawa dengan sangat kencang, membuat Sunjaya dan Ratna geleng-geleng kepala.


“Ngaco kan Om? Tante? Hahaha” Sunjaya hanya memasang senyum kecilnya, Ratna juga melakukan hal yang sama.


“Udah itu urusan nanti. Sekarang kalian sarapan dulu terus berangkat ke sekolah.” Ratna menaruh roti yang sudah dia olesi selai keatas piringnya, mengambil gelas yang berisi susu hangat dan meminumnya beberapa tenggak, sebelum kembali mengambil roti yang semula ia letakan untuk dimakan.


“Oke Tante.” Shendy mengacungkan jempolnya, kemudian lanjut memakan sarapan paginya.

__ADS_1


“Papah sama Mamah kok pake baju santai? Emang kalian gak ke kantor?” Arra bertanya di tengah kunyahanya.


“Sayang....” Ratna mengingatkan.


Arra mengulas senyum menyesal. Sunjaya geleng-geleng kepala.


“Enggak Sayang, Mamah sama Papah masih cape. Jadi kita mutusin buat istirahat di rumah.” Arra mengangguk-angguk tanda mengerti.


“ Nahh bagusss!” Shendy berseru di tengah kunyahanya.


“Shendy....” Ratna kembali menegur.


Ibu dari Arra itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sifat dan tingkah laku Putri dan sahabatnya yang tidak jauh beda itu. Bukan hanya sifat. Mulai dari kesukaaan, hobi, cara makan, gerakan tangan, bahkan wajah saja hampir mirip. Seakan mereka adalah dua anak kembar namun tidak identik. Kadang Ratna sendiri heran kenapa mereka bisa begitu. Mungkin karena sedari bayi mereka bersama bahkan tidak pernah bisa saling berjauhan walau satu meter.


“Maaf Tante. “ Shendy menatap Ratna dengan senyum manis. Kemudian menatap ke arah Sunjaya.


“Kalo Om sama Tante gak pergi kekantor. Berarti kalian berempat bisa nyaksiin hasil surat kelulusan nanti.” Shendy berkata dengan semangat.


“Ber-empat?” Cicit Sunjaya.


“Iyah, Om Tante, Mamah sama Papah Shendy.”


“Ouhh....” Ratna mengangguk.


“Boleh. Dimana? Emang Papah sama Mamah Shendy udah dikasih tau?” tanya Sunjaya.


“Udah dong Om. Udah dari subuh malah! Dan Papah sama Mamah setuju. Nanti kita saksi-in siapa yang kalah. Oke Om Tante?”


“Oke donggg!” Jawab Sunjaya dan Ratna penuh semangat dan antusias membuat Arra memberenggut kesal dan melahap suapan terakhirnya dalam jumlah yang banyak.


Membuat pipi cewek itu mengembung yang mengundang tawa semua orang yang ada di meja makan.


-*-

__ADS_1


__ADS_2