
Dilain tempat, Arra yang tersadar dari pingsan mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya lambu sebagai satu-satunya penerangan ditempat itu. Dia heran ketika mendapati suasana yang berbeda dari ruang aula. Arra mengingat bagaimana terakhir kali dia keluar dari toilet, berjalan di lorong, lalu kemudian dua orang dengan pakaian serba hitam membekap mulutnya, Arra yang coba memberontak akhirnya tak sadarkan diri, karena obat bius yang mungkin ditaruh pada sapu tangan yang dua penculik itu gunakan, untuk membekap mulutnya.
Arra sadar dia sedang di culik. Tangan yang di ikat ke belakang, kaki yang di ikat, juga mulut yang di lakban, dengan seseorang yang membelakanginya di depan sana, dan dua orang berbadan besar berdiri di samping kanan-kirinya. Arra mencoba mengamati temat dimana dia diculik. Rumah yang lumayan besar, bercat putih, dengan Arsitektur yang elegan. Arra ingat dia pernah kesini 2 tahun yang lalu. Ini....
Villa keluarga Reno...
Tapi kenapa Villa ini jadi berantakan, banyak kursi yang rusak dan minuman keras. Apa semua ini ulah Reno?
Arra menatap kearah cowok yang duduk membelakanginya itu. Dia coba mengamati punggung cowok itu. Seketika Arra mendelikkan matanya saat cowok yang semula duduk membelakanginya itu, kini menoleh dan beranjak untuk berjalan mendekat ke arahnya dengan sesuatu yang Arra tidak pernah percaya cowok itu meminumnya.
Vodka???
Arra yakin itu, bagaimana mungkin seorang Reno Mandiar yang terkenal diam dan selalu tunduk akan perintah. Kini menjadi sosok yang Arra tak kenal dengan botol Vodka di tangan cowok itu. Arra memang tau jenis minuman itu, hanya sekedar tau itu pun karena Shendy yang memberi tahunya, untuk berjaga-jaga.
Arra sungguh tidak mempercayai ini, seorang Reno? Arra baru saja ingin memaafkan semua kesalahan dan rasa benci yang timbul karena kesalahan 2 tahun lalu yang Reno lakukan kepadanya. Tapi sekarang, Arra semakin membencinya. Arra benci Reno. Sangat benci.
“Hai sayang...” Arra membuang pandangannya saat cowok yang kini berada tepat di depannya itu mencoba untuk menyentuh wajahnya.
“Uhh kenapa? Masih jual mahal!” Arra masih memandang ke arah samping. Enggan untuk menatap cowok dengan aroma khas minuman keras di mulutnya itu.
Reno yang berdiri di depan Arra tanpa segan mencengkram dagu Arra dengan kuat. Membuat Arra menatap kearahnya.
“Lo jangan sok suci! Di sini cuma ada gwe! Dan gak bakal ada yang nolongin lo!” Reno berkata sedikit parau efek meminum minuman keras yang masih setia cowok itu pegang pada tangan kirinya.
“Empth... Emm!” Racau Arra, tidak jelas karena terhalang oleh lakban yang menutupi mulutnya.
“Lo mau ngomong apa Arra, umm? Mau gwe buka?” Arra hanya menatap tidak suka saat cowok di depannya memanggil dirinya dengan panggilan sayang yang bertujuan untuk orang-orang terdekatnya saja.
Reno tersenyum menyebalkan, dengan kasar dan cepat cowok itu menarik lakban yang berada di mulut Arra, kasar.
“Histt... Lepasin gwe Reno!!”
“Apa lepasin?” Reno pura-pura tidak mendengarkan.
“Jangan pura-pura gak denger! Gwe bilang lepasin gwe! Biarin gwe pergi. Gwe gak mau ada di sini!” Satu air mata lolos begitu saja dari mata Arra.
Dalam hati dia terus memanggil nama seseorang yang Arra yakini akan selalu ada di sisinya, dan dia yakin sekarang cowok itu pasti tengah gusar mencari keberaadanya.
“Shendy... Arra takut.” Batin Arra menjerit.
“Lo mau gwe lepasin? Uhh gampangg! Lo cuma perlu muas-in gwe sampe gwe bener-bener puas. Gimana?” Arra menggeleng cepat.
“Enggak!! Arra gak mau! Lepasin gwe Reno. Gwe mohon. Gwe janji kalo lo lepasin gwe. Gwe gak bakal bilang sama Shendy dan lo gak bakal terluka. Gwe juga bakal maafin lo. Gwe mohon Reno” Arra terus memohon dengan air mata yang terus turun membasahi pipinya.
“Brisik!!! Gwe gak takut sama Shendy! Dia juga gak bakal bisa nolongin lo dari gwe! Semua harapan lo itu sia-sia! Shendy gak bakal kesini. Udah terima aja, lo tinggal nurut sama gwe, gampang!” Reno membentak. Arra menggeleng keras.
“Gak mau! Lepasin gwe Reno! Lepasin!!” Reno kesal.
__ADS_1
Dengan kasar dia mencoba mencium Arra, namun dengan cepat Arra memalingkan wajahnya. Cowok itu tidak menyerah dia kembali mencoba mencium Arra, namun hasilnya sama, Arra lagi-lagi dengan cepat memalingkan wajahnya. Membuat Reno murka dan mencengkram dagu Arra dengan kencang. Membuat mulut Arra sedikit terbuka, Reno tidak membuang kesempatan. Dengan cepat dia menyodorkan botol minuman keras ke mulut Arra. Memaksa Arra untuk meminum minuman yang dia sodorkan itu. Arra hendak menolak, namun cengkraman di dagu-nya membuat Arra tak bisa berbuat apa-apa. Arra hanya bisa menangis, pikiranya melayang mengingat kejadian 2 tahun yang lalu, kejadian yang buat arra benci dengan Reno, kejadian yang tidak akan Arra lupakan kejadian...
-*-
Arra, Shendy, Reno, Naga, Nathalia, dan Laddy. Mereka ber-6 sedang menikmati waktu libur di Villa yang Reno bilang adalah punya keluarga cowok itu. Semuanya berjalan dengan seru, berjalan dengan baik-baik saja, bahkan sangat menyenangkan. Sampai...
Arra berjalan masuk, membuka pintu tanpa merasa ada yang aneh. Arra berhenti saat merasa ada yang menahan tangannya. Dengan cepat Arra menoleh.
“Reno? Kamu ikut pulang? Kirain masih di air terjun sama yang lain.” Arra bertanya dengan senyum manisnya ala cewek itu.
“Enggak ah males. Mending di sini main sama Arra.” Reno menampikan senyum yang aneh menurut Arra.
“Main?” Arra menatap heran, tak mengerti apa yang temannya itu maksud dengan kata ‘Main’
Arra memundurkan langkahnya saat cowok yang berada di depannya itu melangkah mendekat. Arra mulai berpikir yang tidak-tidak, dia mulai ketakutan. Dengan cepat Arra membalikan badanya hendak melarikan diri sebelum Reno mencengkal tangannya dan menarik Arra dengan kencang. Membuat Arra menabrak dada cowok itu. Arra memberontak saat cowok yang memeluknya itu dengan lancang meremas bagian belakangnya. Arra berteriak namun tidak ada yang datang. Sepi, bahkan tak ada tanda-tanda seseorang yang akan mendengar teriakannya.
“Tolonggg!!”
“Diem bego! Ini bakalan seru.” Reno membentak. Membuat Arra menitikan air matanya tanpa sadar.
Dengan kencang Arra mendorong tubuh Reno menjauh.
Berhasil.
Dengan cepat Arra berlari menuju tangga, namun belum sampai langkahnya menuju tangga, tanganya sudah dicekal dan diseret ke sofa oleh Reno.
“Tolonggg!!” Arra masih terus berusaha memberontak.
Plakkk
Tanpa kasihan Reno menampar Arra dengan sangat kencang, membuat Arra seketika terdiam dan menitikan air matanya lagi. Namun Arra tidak tinggal diam saat Reno hendak menciumnya. Hingga suara dari arah pintu membuat Reno sedikit terkejut.
Brakkkk...
Pintu Villa terbuka dengan lebar. Menampikkan figur Shendy dengan keadaan yang berantakan. Membuat Reno yang sedang meminumkan Arra minuman keras seketika menoleh kebelakang. Dan...
Bughhh...
Dengan sekali pukulan Shendy membuat Reno tersungkur, memang bukan hal yang sulit untuk menjatuhkann lawan yang sudah di kuasai oleh minuman keras. Bukan hanya Shendy yang memukul lawannya dengan mudah, Regal yang memukul pria berbadan besar yang ada disisi kiri Arra juga tak kalah bringas-nya dengan Naga yang juga memukul pria yang tepat berada disisi kanan Arra. Arra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mempertahankan kesadaranya, yang sudah hampir hilang karena pengaruh minuman keras, yang Reno cekokan padanya.
Cipto juga tidak mau tinggal diam, dengan gerakan cepat cowok yang semula ketakutan akibat gedung yang sempat mereka datangi itu, kini dengan semangat dan kejam, memukul para penjaga yang mulai berdatangan dari arah pintu masuk Villa.
Bughh... Bughh... Bughh....
Prangkk....
Suasana yang semula sunyi kini berubah menjadi riuh dengan adanya suara pukulan dan pecahan botol minuman akibat Shendy yang tanpa henti memukul Reno dan melemparkan cowok yang sudah terpengaruh minuman keras itu ke rak dimana terdapat susunan minuman keras berbagai merk ternama.
__ADS_1
Tepat dibelakang Shendy, Naga yang tengah mengelap keringat melirik Cipto yang sedang dikepung oleh tiga pengawal yang baru datang dari pintu samping Villa. Dengan cepat Naga meninggalkan pengawal yang semula menjadi lawannya yang kini tak berdaya dan berlari untuk membantu Cipto.
Bughh... Bughh...
“Sialan Lo!! Berani-nya lo nyulik Arra hah!?”
Bugh...
Shendy kembali memberi pukulan di sudut bibir Reno yang sudah babak belur dan mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Reno hanya terkikik seolah semua yang dia rasakan adalah hal konyol yang mampu membuatnya tertawa.
“Arra cuma punya gwe. Hahah!” racau Reno, yang membuat cowok itu kembali mendapat pukulan keras dari Shendy.
Shendy beranjak dan meninggalkan Reno yang sudah lemah dengan beberapa memar dan bekas pukulan yang membuat cowok itu terkapar tak berdaya, dengan sesekali terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya.
“Ra?” Shendy memanggil lirih, melihat Arra yang sudah dalam kondisi mabuk.
Arra menatap Shendy, kemudian tertawa.
“Hahah, lucu. Kamu berantakan... Kaya orang gila!” Shendy tak memperdulikan racauan Arra yang mengatainya gila, hanya karena penampilannya yang berantakan itu.
Dengan segera Shendy membuka semua ikatan yang mengikat Arra, tak memperdulikan cewek itu yang masih meracau dengan pandangan yang melihat-lihat keadaan villa yang penuh dengan kekacauaan.
Shendy menatap Arra yang masih meracau, entah meracaukan apa. Dengan segera cowok itu memeluk Arra erat, dia bersyukur Arra tidak apa-apa walau sekarang cewek itu dalam keadaan mabuk, setidaknya Arra tidak terluka. Naga, Cipto dan Regal yang menyaksikan juga tersenyum bahagia mereka ikut bersyukur dalam hati karena telah berhasil membantu Shendy menemukan Arra.
Arra yang masih dalam keadaan setegah sadar, menusuk-nusuk punggung Shendy yang masih memeluknya. Shendy sedikit meregangkan pelukannya dan menatap Arra, Arra membalas tatapan Shendy.
“Itu” Tujuk Arra pada sesuatu dibelakang Shendy.
Dengan segera Shendy menoleh kebelakang, dan...
Brakkk...
Reno dengan langkah gontai memukul Shendy menggunakan salah satu botol minuman keras yang terbuat dari kaca, refleks Shendy menggunakan tanganya sebagai tameng. Naga yang melihat hal itu, dengan cepat melangkah kearah Shendy dan menendang Reno yang masih berdiri dengan sedikit sempoyongan.
Brakkk... Bughhh... awww....
Reno yang di tendang dengan sangat keras oleh Naga, membentur dinding dengan sangat keras membuat lukisan yang ada di atas dinding jatuh kelantai yang semula dipenuhi dengan beberapa pecahan kaca botol minuman keras. Reno terbatuk dan memuntahkan darah segar dari mulut cowok itu, setelahnya kesadaran perlahan menghilang dari diri Reno.
“Sukurin!!” Cipto berseru heboh.
“Shend tangan lo berdarah!”
Regal mengintruksi. Dibarengi dengan suara langkah yang terdengar cepat dan kompak. Bukan, dari para penjaga melainkan dari Para Polisi yang dipimpin oleh Om Adi, yang sebelumnya sudah di hubungi oleh Naga saat dala perjalanan menuju pintu masuk Villa setelah mengalahkan beberapa penjaga yang menjaga tepat didepan gerbang villa.
Dengan cepat Para Polisi bergerak, meringkus dan membawa pergi Reno beserta anak buahnya, dan mengamankan TKP.
Shendy, Arra, Naga, Regal, dan Cipto secepatnya pergi saat Om Adi menyuruh mereka meninggalkan tempat. Tak lupa Om Adi juga berpesan agar luka yang di dapatkan Shendy segera di obati atau diberi penanganan pertama, yang dimengerti dan di laksanakan oleh Shendy.
__ADS_1