Friendship

Friendship
28


__ADS_3

Cowok itu duduk di kursi tunggu, tepat berada di depan pintu ruangan dengan tulisan ‘UGD’. Penampilannya sangat kacau, dia yang biasanya selalu rapi dengan baju yang di masukan, rambut yang di tata rapih kini sudah berganti menjadi cowok dengan rambut yang entah harus di sebut apa, bajunya yang keluar dengan beberapa berjak darah di sekitar perutnya. Tidak, cowok itu tidak mengalami luka pada perut ataupun bagian tubuh lainnya, darah yang ada di bajunya, bukan darahnya melainkan darah dari orang yang sangat dia sayang. Orang yang selalu menjadi alasan atas senyumnya, cewek yang selalu menjadi hal yang bisa mengubah setiap sifatnya pada orang lain, cewek yang dia anggap sebagai segala-galanya.


Misya Ratna Farradibha.


Cewek yang menyelamatkan Shendy dari insiden tertabrak yang di lakukan oleh Reikka, orang yang sempat cowok itu balas karena telah mempermalukan Arra. Reikka cewek yang beberapa menit lalu telah di tangkap polisi karena tuduhan tabrak lari yang direncanakan. Shendy benci, sangat benci pada cewek itu, bahkan tanpa segan cowok itu menjambak rambut Reikka dengan sadis di kantor polisi tadi. Perilaku yang seharusnya tidak pernah dia lakukan, menyakiti wanita lewat fisik. Perduli Setan, Shendy bahkan tidak perduli lagi akan hal itu, bagi Shendy siapa pun yang berani melukai Arra akan dia perlakukan sama, cowok ataupun cewek sekalipun!


Untuk kali ini Shendy bersyukur bisa dilahirkan dari keluarga kaya yang kedua orang tunya selalu sibuk. Dia bersyukur untuk orang tuanya yang dengan cepat memproses penahanan Reikka. Tak membiarkan cewek itu berkeliaran di luar sana setelah berhasil melukai Arra yang membuat cewek yang paling Shendy sayangi sekarang berada di ruangan sialan yang tertutup rapat di depannya itu.


“Akkhahhh!!!” Shendy kembali berteriak, menarik rambutnya yang semakin tak tertata itu dengan kesal. Semua temannya, kedua orang tuanya, kedua orang tua Arra dan beberapa guru yang berada di sana, memandang Shendy iba.


“Tenang sayang, Arra pasti baik-baik aja.” Santi menyentuh bahu Putra satu-satunya itu menenangkan.


“Endy takut mah. Endy takut, ini salah Endy mah. Kalo aja Endy gak balik badan mungkin Rara gak bakal kaya gini.” Shendy menyalahkan diri sendiri.


“Enggak Sayang, Endy gak salah. Ini udah terjadi, Endy gak boleh nyalahin diri sendiri. Rara pasti baik-baik aja, kalo Endy baik-baik aja tenang sayang.”


Santi berusaha menenangkan. Ratna menghampiri sahabat Putri Sematawayangnya itu. Ratna mendudukan dirinya di samping kanan Shendy, menyentuh pundak Shendy yang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri itu. Kemudian menarik Shendy kedalam pelukannya.


“Maafin Shendy Tante... Shendy gagal jaga Arra. Shendy bodoh udah buat Arra celaka. Shendy gak baik buat Arra. Tante... Tante boleh nampar Shendy, Tante boleh mukul Shendy atau kalo Tante mau Tante boleh menjarain Shendy... Shendy udah gak bisa jaga Arra Tante... Hiks..” Shendy menyesal. Ratna memeluk Shendy semakin erat.


“Arra gak papa Shendy, dia anak Tante satu-satunya. Dia kuat, Shendy harus baik-baik aja buat, Arra bisa baik-baik aja. Jadi jangan salahin diri sendiri... Shendy baik-baik aja, Arra pasti bakal baik-baik aja.” Ratna berujar bijak.


Dia memang syok saat mendengar bahwa Putrinya masuk Rumah Sakit untuk melindungi Putra Sahabatnya, dia juga benar-benar sedih, saat melihat tubuh Arra yang bersimbah darah. Tapi Ratna begitu tau, di balik semua yang dia rasakan ada yang lebih parah, ada yang lebih terluka, dan ada yang lebih sedih darinya. Yaitu Shendy yang merasa bersalah dan berfikir kalau dia tidak bisa menjaga Arra.


Pintu Ruangan UGD terbuka lebar, menampikkan seorang pria berjas putih dengan stetoskop dilehernya. Mengundang perhatian semua orang yang menunggu di depan ruangan itu sejak tadi. Shendy dengan cepat menghampiri Sang Dokter yang berdiri tepat di pintu ruangan.


“Gimana keadaan Arra dok?” Shendy bertanya tergesa.


“Kami sudah menangani Pasien, hanya saja karena pendarahan yang banyak, pesien sedang mengalami masa kritis. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Untuk selanjutnya Pasien akan di pindahakan ke Ruang Perawatan.” Jelas Sang Dokter. Semua bersyukur walau masih sedikit dilanda gelisah.


“Apa saya bisa melihatnya Dok?”


“Untuk sementara belum. Pasien akan bisa di jenguk bila sudah berada di Ruang Perawatan. Saya permisi.” Dokter berlalu.


“Dengarkan sayang. Rara baik-baik aja, kamu harus tenang.” Shendy mengangguk.


“Tapi Endy mau liat Rara mah.” Shendy membujuk.


“Sabar sayang.” Ratna ikut berkata. Membuat Shendy hanya bisa menunduk dan menurut.


Regal, Cipto dan Naga yang menyaksikan saat Shendy yang menurut pada Ratna dan Ibu dari cowok itu terkikik geli.


“Muka serem, alis tebel, galak, cuek, dingin. Tapi pas di bilangin Tante Ratna cuma bisa ngangguk. Lucu ya?” Cipto meledek, setengah berbisik.


“Yoi, gak nyangka gwe Shendy bisa kaya gitu.” Regal ikut terkikik.


“Apa lagi gwe bawahannya di Osis dulu.” Naga juga memasang wajah meledek.


“Aww” Cipto meringis saat kakinya di injak secara sadis oleh Nathalia.


“Namanya juga orang khawatir. Wajar bego!” Nathalia mendelik tajam.


“Mampuss” Regal menyeringai puas.


“Ihh Naga, ituuuu!” Naga mendeliik tajam, tak sungkan untuk menggeplak kepala Cipto sadis.


“Jijik Anjirr.” Naga bergidik geli. Nathalia memutar bola matanya kesal.


“Ehh tapi Shendy kaya gitu seksi tau.” Laddy mulai.


“Seksi apaan?!” Regal memberenggut kesal.


“Ihh Seksi tau, rambut Shendy yang acak-acakan, baju yang keluar lusuh. Uhhh seksi bangettttt” Laddy melanjutkan.


“Bukan seksi tapi unyuuu tau. Apa lagi pas dia frustasi gitu sambil narik-narik rambut bikin gemesss ahhhh” Nathalia ikutan.


“Shendy tuhh bukannya unyu, tapi macho! Apa lagi pas dia ngangkat tubuh Arra menuju Ambulance tadi. Ahh idaman.” Rosse juga ikut-ikutan.


“Bener, 100 % bener.” Dynar membenarkan.


“Uhh Shendy...” ke 4 cewek itu serempak memuji.


“Dasar bucinnya Shendy.” Regal, Cipto, Naga serempak berucap pelan. Yang tak segan mendapat delikan tajam dari Laddy, Nathalia, Rosse, dan Dynar.


-*-


Shendy masih setia duduk di samping ranjang dimana Arra berbaring. Tanpa mau beranjak sedikitpun dari tempat duduk itu. Bahkan saat Ratna meminta Shendy untuk mengganti pakaiannya yang terdapat noda darah pun cowok itu juga enggan untuk beranjak. Masih setia untuk tetap di sisi Arra, sambil terus menggenggam tangan kanan Sang Sahabat erat.

__ADS_1


“Shend, lo gak mau makan?” Naga mendekat, berusaha membujuk. Walau tau hasilnya akan sia-sia.


“Enggak, gwe mau di sisi Arra, sampe dia bangun.” Shendy menolak, berkata tanpa menoleh pada Naga yang berdiri di samping kirinya.


“Kalo gitu gwe sama temen-temen yang lain keluar bentar.” Naga berujar, Shendy mengangguk mengerti.


Naga, Regal, Cipto, Nathalia, Laddy, Rosse, dan Dynar, beranjak keluar ruangan setelah pamit pada orang tua Shendy dan Arra, yang masih berada di tempat.


“Gwe salut deh sama Shendy dan Arra.”


Nathalia berucap, saat ini mereka sedang berada di kantin Rumah Sakit. Sebelumnya mereka sudah mendapat izin dari Guru Bk untuk menemani Shendy, sebelum Guru mereka itu pamit untuk kembali ke sekolah beberapa jam yang lalu.


“Gwe juga, mereka saling ngelindungin, saling jaga, saling berkorban. Manis bangett.” Dynar menyambung, sambil mengunyah beberapa snack yang ada dalam gengamannya.


“Mereka emang sahabat sejati. Atau bisa jadi pasangan sejati?” Cipto berkata, membuat teman-temanya sepontan menatap kearahnya serentak.


“Tapi bisa jadi. Mereka juga-kan udah kenal dari kecil, udah sama-sama dari kecil. Bahkan tidur bareng.” Perkataan Regal membuat para cewek menatap kearahya. Terkejut.


“Serius lo?” Laddy meragukan.


“Shendy sendiri yang bilang, kalo dia sama Arra gak pernah bisa tidur terpisah sejak kecil, bahkan gwe, Naga sama Cipto liat sendiri pas Shendy masuk ke kamar Arra kemarin setelah rumusin rencana.” Jelas Regal, membuat para cewek sontak membuka mata mereka lebar yang semakin lebar.


“Gila parah. Pantesan aja mereka gak bisa di pisahin kaya prangko. Udah mah Shendy posesif banget sama Arra pas di ultahnya Siylla, heh gwe benci kalo inget hal itu.” Dynar berucap, memasang wajah kesal yang kentara.


“Bener bangett, gwe juga gak nyangka kalo tuhh anak sejahat itu. Padahal dia baik banget loh di Eskul. Gak pernah marah, kalo ada anak yang telat dateng latihan atau semacamnya. Hehh. Taunya cuma kedok doang ternyata!” Nathalia mencabik saat mengingat semua sifat Reikka.


“ Tapi sumpah yah, kalo gwe jadi Arra, gwe gak bakal tinggel diem pas tuh anak ngeludah dan bilang ‘Gak sudi’ udah gwe tarik tuh mulutnya terus gwe jedotin ke mobilnya yang merah kaya darah ituu... Hehh kesel gwe, kok Arra bisa yah, diem aja padahal dia yang mau jadi korban rencananya tuh curut.” Rosse mencak-mencak, sambil menusuk-nusuk baso yang ada di mangkoknya.


“Yah, itu lo. Gwe tau kok Arra itu baik, imut, cantik, penyabar lagi.” Cipto berucap sambil tanganya mengusap dada. Memperagakan.


“Ahh sayang, dia punya Shendy. Kalo bukan udah gwe jadiin pacar kali.” Cipto berhayal, membuat kepalanya harus terima di tepak oleh Naga.


“Cari mati lo sama Shendy?!” Naga menatap horor.


“Mampusss” Semua sontak meledek Cipto. Membuat Cipto yang merasa sakit di kepala bertambah sakit di hatinya.


“Mama, anakmu dibully.”Cipto berujar dramatis. Memasang wajah nelangsa yang di buat-buat. Semua tertawa melihat Cipto yang ternistakan. Bahagia rasanya!!


“Ra... Kapan kamu bangun?” Shendy berujar sedih. Menatap wajah Arra yang pucat pasi.


“Ra, bangun dong. Nanti Shendy janji, kalo Arra bangun. Shendy bakal beli-in Arra es krim selama satu minggu, bahkan satu bulan kalo perlu selamanya. Please bangun Ra. “ Mohon Shendy dengan air mata yang jatuh tepat di tangan Arra yang Shendy kecup.


“ Ma-“


“Shendy...”Panggilan Arra yang terdengar parau memotong ucapan Shendy yang ingin memanggil mamahnya.


“Iyh Ra, Shendy di sini.” Shendy mengecup tangan Arra berulang.


Sunjaya, Ratna, Santi, dan Hermawan serempak berdiri dan menghampiri ranjang di mana Arra berbaring saat mendengar Shendy berkata pada Arra. Mereka bersyukur saat melihat Arra yang telah sadarkan diri dari masa kritisnya. Hermawan mengajukan diri untuk memanggil dokter, namun ucapan Arra menghentikan langkahnya.


“Shendy...bebasin Reikka dari perjara.” Arra berucap dengan tenang.


“Tap-“


“Arra mohon Shendy. Arra udah gak papa kok. Yah Pah, Mah, Om, Tante?” Arra memohon, menatap semua orang yang berada di sekelilingnya satu-persatu.


Dengan berat hati Shendy mengangguk, membuat semua orang juga mengangguk.


“Shendy bakal urus, besok.”


“Kok besok? Sekarang Shendy. Kasian Reikka.” Arra kembali meminta.


“Besok Ra, biar dia jera dan gak ngelakuin hal jahat lagi. Biar jadi pelajaran buat dia.” Shendy memberi pengertian.


“Iyah sayang, apa yang di bilang Shendy itu benar.” Sunjaya mendukung. Arra akhirnya mau mengerti.


“Kalo gitu kami tinggal dulu.” Sunjaya, Hermawan, Santi dan Ratna keluar. Sengaja memberi waktu untuk Shendy dan Arra berdua.


“Makasih Ra.” Shendy menggenggam tangan kanan Arra semakin erat.


“Buat Apa?” Tanya Arra polos


“Makasih karena nyelamatin Shendy.” Shendy tertunduk.


“Seharusnya Arra enggak ngelakuin itu. Seharusnya Arra biarin aja Shendy di tabrak sama Reikka.”


“Hmm sebenarnya Arra juga pengennya gitu. Tapi saat Arra ngeliat semua ini di mimpi Arra. Ngeliat Arra frustasi dan teriak- teriak kaya orang gila. Arra jadi mikir buat nyelamatin Shendy dan ganti posisi Shendy.” Shendy cengo mendengar jawaban Arra.

__ADS_1


“Jadi Arra udah tau semuanya?” Shendy ragu bertanya.


“Heem, semuanya. Dari awal sampe akhir.” Aku Arra jujur. Shendy lagi-lagi cengo.


“Maaf karena gak bilang sama Shendy. Arra janji lain kali kalo Arra mimpi, Arra bakal kasih tau Shendy.”


“Shendy ngerti. Sekarang Shendy mau tanya, gimana akhir dari mimpi Arra?”


“Shendy bakal liat besok.”


“Besok?”


Arra mengangguk. Shendy mengulas senyum. Kemudian beranjak untuk mengecup kening Arra. Kecupan Shendy turun, beralih ke kedua mata Arra, perlahan turun lagi ke hidung mancung Arra, dan berakhir di bibir ranum Arra yang sekarang memucat.


“Arra!” Nathalia membuka pintu secara mendadak, membuat Shendy yang masih mencium Arra terbelalak kaget, dengan segera menjauhkan diri.


Nathalia cengo di depan pintu. Kemudian dengan segera menutup kedua matanya menggunakan tangan.


“Maaf Shend, maaf gwe gak liat kok. Lo boleh lanjut.” Nathalia menyesali kelakuannya dengan segera berbalik dan melangkah keluar tanpa membuka matanya.


Shendy mendengus sebal. Sementara Nathalia yang keluar mengelus dadanya yang berdegup kencang, dia bukan tidak pernah melihat orang yang berciuman, bahkan dia sering melihatnya apalagi dia salah satu penyuka K-Drama, tapi yang kali ini dia pergoki adalah Shendy yang kalau ngamuk percis seperti setan, dan itu semua dia lihat sendiri dengan kedua matanya? Ah bagaimana kalau Shendy ngamuk dan mengancam hidupnya?


Naga datang dengan yang lainnya di belakang cowok itu. Ke 6-nya menatap Nathalia aneh.


“Lo kenapa?” Regal mengajukan tanya. Nathalia gemetar gugup.


“Gwe abis liat...” Nathalia menelan seliv-nya susah payah.


“Liat apa Nat?” Laddy yang kali ini bertanya.


“Gwe liat Shendy...” ke-6 nya menatap semakin aneh Nathalia.


“Lah, emang Shendy di dalem dari tadi kan, yah wajar kalo lo liat Shendy. Aneh lo. Minggir gwe mau liat Arra.” Cipto menyuruh Nathalia beranjak dari pintu, namun dengan enggan Nathalia menggelengkan kepalanya.


“Lo kenapa sih?” Cipto menatap Nathalia kesal.


“Kalian jangan. Umm maksudnya, lebih baik sekarang kita gak liat keadaannya Arra dulu. Gwe takut kalo kita masuk, Shendy bakal ngamuk.” Nathalia masih berdiri tepat di depan pintu, sambil merentangkan kedua tanganya agar tidak ada yang masuk.


Mereka menoleh saat kedua oarang tua Arra dan Shendy datang.


“Loh kalian kok ada di depan pintu gini? Kenapa gak masuk?” Ratna menatap teman-teman Arra bingung.


“Niat sih gitu Tan, tapi nihh Nathalia ngalang-ngalangin mulu. Gak tau deh kenapa nih bocah” Regal berujar dengan nada kesal.


“Bukan-bukan gitu Tan, kalian boleh masuk kok. Tapi Nathalia saranin jangan sekarang Tan.” Nathalia membela diri.


“Emang kenapa? Ada yang gak beres di dalem? Apa gimana?” kali ini Santi yang bertanya.


“Umm gimana yahh Tan. Tante-kan Mamahnya Shendy pasti lebih tau Shendy-kan dan Tante pasti tau kan kalo Shendy marah itu gimana?” Nathalia mengambil nafas sejenak, dia sebenarnya bingung harus bagaimana menjelaskan kepada teman-temannya dan 4 orang tua di sana.


“Nathalia saranin mending kita masuknya nanti aja.” Natahlia masih memberi usul.


“Loh emangnya ada apa Natahlia?” Sunjaya kali ini bersuara.


Cek cek rek....


Pintu di belakang Nathalia terbuka menampilkan Shendy yang masih dengan penampilan berantakannya.


“Loh kenapa semuanya ada di sini? Dan kenapa gak pada masuk?” Shendy bertanya dengan santai.


“Gak tau ini Nathalia katanya kita gak boleh masuk dulu.” Ratna menjawab.


“Iyah emang ada apa di dalem sih Sayang? Sampai kita gak boleh masuk?” Santi bertanya.


“Gak ada apa-apa kok mah. Semuanya baik-baik aja, bahkan Shendy keluar karena denger diluar brisik, jadi mau ngecek. Eh pas liat kalian semua ada di depan pintu.”Shendy menjelaskan.


“Tuh Nathalia gak ada apa-apa? Kok kamu takut Shendy marah? Udah yuk pada masuk.” Ratna mengintruksi.


Shendy memberi celah, mereka semua masuk, meninggalkan Shendy yang masih berdiri di depan pintu dan Nathalia yang berdiri tepat di depan Shendy yang menatapnya tajam.


“Lo belum bilang apa yang lo liat kan?” Nathlia menggelang takut-takut.


“Bagus. Jangan kasih tau siapa-siapa. Awas lo kalo kasih tau siapa-siapa lo-“ Shendy mengerakkan jari telunjuknya di leher dan membuat gerakan seakan memotong leher. Nathalia menengguk seliv-nya takut-takut.


“Ngerti?” Nathalia mengangguk, Shendy kemudian masuk, meninggalkan Nathalia yang masih berdiri di depan ruangan.


“Masih selamet... Huftt gila ternyata dia Sikopat! Gwe harus bisa jaga rahasia.” Nathalia menggeleng kemudian memasuki ruangan dimana Arra di rawat serta teman-temanya berada.

__ADS_1


-*-


__ADS_2