
Semua siswa dalam kelas 12 Ipa 3 serius dalam mengisi lembar ujian yang berisi sederet angka di depan mereka, tapi mungkin tidak semua siswa di kelas itu serius, contohnya saja Regal. Cowok yang duduk tepat di belakang Laddy itu sibuk menjahili cewek yang duduk di depannya dengan mencolek pinggang Laddy menggunakan ujung pensil miliknya.
“Diem Regal. Gal!” Laddy mulai dongkol.
Bagaimana tidak? Dia sedang berkonsentrasi untuk mengerjakan sederet angka yang tercetak di dalam lembar soal ujiannya, tapi cowok yang duduk di belakangnya itu tak hentinya melakukan sesuatu yang membuat Laddy gagal untuk berkonsentrasi. Sungguh menjengkelkan.
Mengikat rambut Laddy yang tergerai, menusuk-nusuk tengkuk Laddy dengan ujung pansil, menggoyangkan mejanya yang menempel dengan kursi cowok itu, dan belum puas sekarang cowok itu menusuk punggungnya dengan ujung pensil. Maunya apa sih cowok yang duduk di belakangnya itu? Kalau tidak mengingat cowok itu adalah temannya, sudah sejak tadi Laddy melaporkan cowok itu yang terus mengganggunya.
Biar cowok itu tau rasa dan di keluarkan dari kelas serta tidak mengikuti ujian matematika, biarkan saja nilai matematika cowok itu jeblog atau kosong sekalipun. Tapi Laddy tidak tega, bagaimanpun cowok yang duduk dibelakangnya itu salah satu temannya. Walaupun sering terlihat seperti rival-nya.
“Laddy...Woyy Laddy Sabritaaa” Regal terus memanggil dengan suara berbisik yang hanya di dengar antara keduanya.
“Hmm.” Laddy masih mencoba fokus.
“Woyy... Laddy ... Nengok bentar napa?” Bisik Regal lagi, kali ini lebih memajukan duduknya agar lebih terdengar oleh Laddy.
“Apa?” laddy masih enggan menoleh.
Regal masih belum menyerah, dia mencondongkan wajahnya kedepan, kembali berusaha untuk menjahili salah satu teman dekatnya itu.
“Laddy... Suitt... Suitt... Laddy nengok bentar elahh.” Regal kembali berbisik.
Laddy menyerah, dia lelah mendengar Regal yang terus memanggilnya. Mungkin setelah Laddy menoleh cowok itu akan diam dan tak menganggunya lagi. Ya, mungkin seperti itu. Dengan gerakan cepat Laddy menoleh dan...
Cupp..
Laddy maupun Regal sama-sama membulatkan mata mereka saking terkejutnya, apa tadi itu? Regal yang sangat dekat dengan dirinya. Laddy yang menoleh karena lelah cowok itu panggil, dan tadi tanpa sengaja.
Regal....
Mengecup pipinya?
Suara Pak Bambang yang menjadi pengawas ujian kali ini, mengembalikan attansi Laddy dan Regal yang masih tidak mengerti akan apa yang terjadi tadi. Keduanya mengerjap, saat mendengar perintah Pak Bambang yang menyuruh mereka untuk kembali fokus pada soal matematika yang ada di atas meja masing-masing.
Regal dan Laddy kembali keposisi semula, mengabaikan pikiran mereka yang masih mengarah ke kejadian tadi yang masih mereka tak mengerti. Dan mencoba fokus pada lembar soal didepan mata.
Regal menyentuh bibirnya, Laddy meraba pipinya sekilas, masih tak percaya akan apa yang terjadi tadi.
__ADS_1
Tadi itu benerkan?
Regal maupun Laddy sama-sama mengulas senyum di tempat duduk masing-masing.
-*-
Langit sore yang cerah dipadukan dengan suasana nyaman ala taman dengan warna-warni Bunga Lily. Menjadikan jalan-jalan Arra dan Shendy saat ini menjadi menyenangkan, tapi bagi Arra jalan-jalan tanpa adanya acara makan es krim, adalah kesenangan yang tak lengkap, oleh karena itu Arra meminta Shendy untuk membelikan mereka es krim, namun entah kemana perginya cowok itu sehingga Arra harus menunggu lebih dari 30 menit hanya untuk sebuah es krim, padahal setahu Arra penjual es krim, berada tidak jauh dari tempat mereka memilih duduk, yahh kalo di pikir mungkin hanya perlu 15 menit. Tapi kenapa Shendy belum juga kembali?
Arra beranjak dari posisi duduknya, setalah ditimang-timang, dari pada Arra harus menunggu Shendy lebih lama lagi, dan mengambil banyak pasang mata yang memandangnya aneh karena duduk sendirian di taman yang hampir dipenuhi dengan orang yang berpasang-pasangan maka Arra memutuskan untuk menghampiri Shendy yang mungkin masih berada di tempat penjual es krim yang letaknya tak jauh dari tempat Arra duduk itu.
Langkah Arra terhenti, saat melihat Shendy yang tengah menjongkokkan diri tepat didepan cewek yang Arra yakini berusia sama dengan dirinya. Arra mempercepat langkahnya, berjalan menuju Shendy yang terlihat tengah mengobati luka yang menghiasi lutut cewek yang bahkan Arra tak kenal itu.
“Shendy!” Shendy mendongak, bersamaan dengan cewek yang duduk didepan Shendy.
“Ouh, jadi Shendy lama bali es krim gara-gara ketemu cewek lain iya? Bagus yah!” Arra berbalik hendak pergi, sebelum tangan kokoh Shendy mencengkal pergelangan tangannya.
Shendy memutar tubuh Arra agar menghadapnya, memegang kedua bahu Arra yang menatap kearah samping.
“Ra, ini gak seperti yang Arra kira. Shendy cuma nolongin Agha doang. Tadi dia jatuh Ra, lututnya berdarah.” Shendy coba menjelaskan. Arra menatap Shendy tajam.
“Bukan gitu Ra, tolong ngerti yah. Oke Shendy minta maaf karena udah bikin Arra nunggu ditengah taman yang panas.” Shendy berkata lembut, membuat cewek yang duduk menatap mereka dari bawah, tersenyum sekilas.
“Ternyata, dia cowok baik. Terlepas dari wajahnya yang galak.” Gumam cewek yang Shendy bilang bernama Agha itu.
Tanpa Shendy, Arra dan Agha sadari seorang cowok dengan hoddie merah, dan tampilan seperti anak-anak geng motor pada umumnya datang menghampiri mereka. Cowok itu berjongkok tepat didepan Agha, membuat Agha yang semula tengah asik melihat perdebatan antara Shendy dan Arra menatap tepat cowok didepannya itu.
“Hars?” cowok yang menjongkokkan diri didepan Agha itu mengangguk, membuat Arra dan Shendy yang semula masih saling bersitegang, menoleh cepat.
“Dia siapa?” tunjuk Arra pada Hars.
Agha menatap sebentar Hars sebelum kembali menatap Arra dan Shendy dengan sedikit mendongak.
“Ouh kenalin ini Hars, pacar gwe.” Agha memperkenalkan.
“Dan Hars, kenalin itu Shendy dan ini...”
“Arra.” Arra berkata saat Agha memperkenalkan dirinya namun tak tau namannya.
__ADS_1
“Ah, iya ini Arra. Mereka yang udah nolong Agha, Hars.” Hars mengangguk sebelum berdiri dan menjabat tangan Shendy sebagai perkenalan.
“Gwe Hars, thanks udah nolongin cewek gwe.”
“Sama-sama.” Shendy balas menjabat tangan Hars, sebentar sebelum akhirnya melepaskannya.
Hars mengulurkan tangannya pada Arra, Arra mengangkat tangannya sebelum dengan cepat Shendy menggantikan posisi tangannya untuk menjabat tangan Hars dengan tangan cowok itu.
“Dia Arra.” Hars mengulas smriknya. Dia mengerti.
“Um, Gha. Berhubung udah ada cowok lo. Gwe sama Arra pergi yah? Gak masalahkan?” Agha mengangguk.
“Gak papa. Thanks udah nolongin gwe Shend. Dan Arra gwe gak bakal rebut cowok lo. Sans aja!” Agha berkata guyon. Arra memicingkan matanya menatap Agha dengan tangan yang dilipat didepan dada sebelum berbalik dan pergi dengan kaki yang dihentak kesal.
Shendy menggaruk kepala bagian belakangnya kikuk, menatap Hars dan Agha bergantian sebelum mengucap.
“Sorry buat Arra. Gwe pergi dulu have fun!” Agha mengangguk mengerti, Hars menggeleng sedikit terkikik. Shendy dengan cepat menyusul Arra yang sudah berjarak beberapa meter dari tempat mereka.
“Mereka sahabat yang romantis-kan Hars?” Hars menatap tidak percaya atas ucapaan Agha.
“Sahabat?” Agha mengangguk.
“Jangan bilang Hars gak tau mereka. Mereka bahkan lebih terkenal dari pada kita Hars.”
“Sahabat kok romantis gitu?” Hars mengalihkan perkataan Agha yang mengatakan kalau Shendy dan Arra jauh lebih terkenal dari pada hubungannya dan Agha.
“Yah gak tau. Mungkin karena mereka udah sahabatan sejak bayi kali makanya sulit bedain mana sayang sebagai sahabat mana sayang sebagai pasangan.” Agha menggeleng sekilas.
“Kaya Agha ke Bintang yah?”
Plakk.
“Apaan sih Hars!” Agha beranjak, meninggalkan Hars yang menggeleng tak habis pikir.
“Dasar Cewek!” Beranjak, untuk menyusul Agha yang berjalan sambil menahan perih dilututnya.
***
__ADS_1