
Winnie terus menyusuri trotoar jalan dengan langkah lesu, air mata berlinang di pipinya. Hatinya terasa berat, terisi dengan kesedihan dan kekecewaan yang sulit diungkapkan. Dia merasa seperti dunia ini tiba-tiba berhenti berputar, meninggalkannya dalam kegelapan yang menyedihkan.
Sepanjang perjalanan, Winnie terjebak dalam benaknya sendiri, terhanyut dalam pusaran pikiran negatif yang menghantamnya. Dia tak menyadari bahwa langkahnya semakin lama semakin menjauh dari tengah trotoar. Pikirannya yang hancur memenuhi fokusnya, membuatnya terlepas dari realitas sekitarnya.
Tiba-tiba, suara gemuruh yang mengerikan terdengar di sebelahnya. Winnie langsung tersadar dari lamunannya, tetapi sudah terlambat. Sebuah mobil yang melaju cepat menabraknya dengan keras. Tubuhnya terpental dan jatuh ke aspal dengan kekerasan yang membuatnya kehilangan kesadaran sesaat.
Suara teriakan panik mulai terdengar di kejauhan. Orang-orang berhamburan ke arah tempat kecelakaan tersebut. Beberapa orang berusaha untuk memanggil bantuan darurat, sementara yang lain berusaha membantu Winnie yang tergeletak tak berdaya di jalanan.
Seorang wanita mendekati Winnie yang masih terbaring di tanah dengan tubuh yang lebam. Dia memegang tangan Winnie dengan lembut dan mencoba menenangkannya.
"Hei, apa kamu baik-baik saja? Buka matamu, tolong!"
Winnie membuka matanya perlahan-lahan, rasa sakit melanda seluruh tubuhnya. Dia melihat wanita itu dengan pandangan yang masih samar.
Winnie dengan suara lirih. "Aku... aku merasa sangat sakit."
"Jangan khawatir, bantuan akan segera datang. Tetaplah bertahan, ya?"
"Tolong..-" lirih dengan nada lemah.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan panggil ambulans."ujar wanita dengan keadaan yang panik.
Winnie hanya memandang wanita itu dengan samar. Meskipun dalam kondisi yang buruk, kehadirannya memberikan sedikit kehangatan di tengah kekacauan ini.
Beberapa menit kemudian, ambulans tiba di tempat kejadian. Para petugas medis dengan sigap menangani Winnie dan memasangnya di brankar. Wanita yang sebelumnya membantu Winnie mengikuti ambulans, memegang tangannya dengan penuh perhatian.
"Semuanya akan baik-baik saja, kamu akan pulih. Aku akan menemanimu sepanjang proses ini."
Winnie tersenyum kecil di tengah rasa sakit yang tak tertahankan. Dia merasa beruntung telah bertemu dengan seseorang yang peduli seperti wanita ini di saat-saat tergelapnya. Dalam keadaan terluka dan hancur, dia menemukan sedikit kekuatan dalam kebaikan orang lain.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi Winnie untuk selalu berhati-hati dan fokus saat berjalan di jalan. Dia menyadari bahwa kesalahan kecil atau ketidaktahuan bisa berakibat fatal. Lebih dari itu, kejadian ini juga mengajarkan pentingnya bantuan dan dukungan dari orang lain dalam situasi yang sulit.
Winnie memutuskan untuk mengubah cara pandangnya, menggunakan kejadian ini sebagai titik tolak untuk membangun kembali hidupnya. Dia bertekad untuk lebih menghargai dirinya sendiri, menjaga kesehatan dan keselamatannya dengan lebih baik, dan selalu mengingat bahwa di dunia ini masih banyak orang yang peduli dan siap membantu dalam masa-masa sulit.
Dan tak berapa lama beberapa orang datang menghampiri wanita itu sembari melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Nyonya,apa yang terjadi??Kenapa dengan gadis itu?" tanya seorang pria paruh baya itu.
Wanita itu pun menoleh panik.
"Ini pak,saya telah menabrak gadis ini.Bisa minta tolong pak.Bantu saya untuk mengangkat gadis ini ke tepi sambil menunggu ambulans datang." ujar wanita itu meminta tolong.
"Oh iya nyonya ,,Ayo kita bantu nyonya ini."ujar pria paruh baya itu meminta bantuan untuk mengangkat tubuh Winnie ke tepi jalan.
Sesaat teman pria itu pun memperhatikan kondisi Winnie.
"Sepertinya gadis ini yang sering jadi badut kostum di taman kota." ujar temannya.
Wanita itu pun sesaat menyimak ucapan teman pria itu.
Seorang badut kostum??' batin wanita itu sesaat
Akhirnya ambulans pun datang dan Winnie pun langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
Di ruang tunggu rumah sakit, suasana tegang terasa semakin kental. Winnie masih terbaring di ruang gawat darurat, sedangkan wanita yang membantunya duduk di bangku dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran. Tiba-tiba, seorang pria dengan wajah yang pucat dan dengan terburu-buru ke dalam ruangan itu.
Wanita bernama Maya dengan suara bergetar kemudian menjelaskan. "Anakku, ada kecelakaan. Aku menabrak seorang gadis di jalan."
Pria itu terdiam sejenak, mata mereka bertemu dengan mata Winnie yang terbaring di brankar. Ekspresi penuh penyesalan muncul di wajahnya.
Pria tampan yang tidak lain adalah putera Maya itu bicara dengan suara penuh penyesalan. "Oh, Tuhan!Maafkan aku. Aku tidak melihatnya dengan jelas. Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?"
Pria itu pun hanya menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu ma. Mereka masih merawatnya di sana. Aku berharap dia akan pulih."
Pria itu merasa bersalah dan tak tahu harus berbuat apa. Dia mendekati Winnie dengan hati yang terpukul dan menatap wajahnya yang penuh luka.
"Maafkan aku, gadis asing. Ibuku tidak bermaksud menyakitimu. Tolong, pulih lah." ucap Arya yang berharap dengan keadaan Winnie.
Winnie, yang masih lemah, mampu mendengar kata-kata pria itu. Wajahnya yang terluka menyiratkan rasa sakit, tetapi juga ada rasa pengertian di matanya. Dia menggerakkan bibirnya lemah untuk memberikan jawaban.
"Saya... mengerti. Ini bukan kesalahan ibu Anda. Tolong... jangan terlalu keras pada diri Anda sendiri." ucap Winnie dengan pelan.
__ADS_1
Pria itu menundukkan kepala dengan lesu. Dia merasakan beban penyesalan dan rasa bersalah yang begitu berat di pundaknya. Wanita yang duduk di sampingnya menggenggam tangannya erat.
"Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita dapat mendukung dan berharap yang terbaik bagi gadis ini. Mari kita saling mendukung dan menyelesaikan ini bersama." Maya mengatakannya dengan wajah menangis tersedu.
Pria bernama Arya itu mengangguk dengan penuh penyesalan, menyadari bahwa saat ini yang bisa dilakukan adalah memberikan dukungan bagi Winnie dan keluarganya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa jika Winnie pulih, dia akan berusaha membantu dan menghargai hidup dengan cara yang lebih baik.
Beberapa jam berlalu, dan akhirnya seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat. Pria itu dan wanita itu berdiri dengan penuh harapan.
"Gadis itu mengalami beberapa luka dan memar parah terutama di bagian kepala, tetapi tidak ada kerusakan internal yang serius. Dia akan membutuhkan waktu untuk pulih, tetapi prognosisnya baik."
Ibu dan anak itu saling berpelukan dengan lega. Mereka merasa terharu dengan berita tersebut dan bersyukur bahwa keadaan tidak lebih buruk dari yang mereka bayangkan.
Maya dengan suara penuh harapan. "Terima kasih, Tuhan. Semoga dia pulih dengan cepat."
Arya kemudian menatap ke arah Winnie dengan penuh harapan dan memohon dalam hatinya agar dia segera sembuh. Dia berjanji untuk menjaga dan melindunginya sebaik mungkin, sebagai tanda rasa bersalah dan rasa tanggung jawabnya.
Kejadian tragis ini telah mengubah hidup mereka semua. Winnie, wanita yang menabraknya yang bernama Maya, dan pria bernama yang merupakan anak dari wanita itu, mereka semua menyadari betapa berharga dan rapuhnya kehidupan. Mereka berjanji untuk menjaga satu sama lain, memberikan dukungan dalam masa-masa sulit, dan belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu.
Kehadiran pria itu di rumah sakit menjadi tanda bahwa meskipun tragedi terjadi, manusia masih mampu menemukan kebaikan dan kebersamaan di tengah kegelapan. Mereka akan memulai perjalanan pemulihan bersama, saling mendukung dan menjalani hidup dengan lebih bijaksana.
Putera si penabrak, yang sedang berdiri di dekatnya, terkejut mendengar keterangan dokter mengenai kondisi Winnie. Wajahnya pucat dan matanya mencari-cari kepastian.
"Tunggu, Dokter, apa maksud Anda dengan luka parah? Apakah dia akan baik-baik saja? Tolong, berikan saya jawaban yang jelas!"
"Saya minta maaf, tapi kondisinya memang cukup serius. Meskipun tidak ada kerusakan internal yang serius, ia mengalami beberapa luka dan memar yang signifikan. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih sepenuhnya. Namun, kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk merawatnya dengan baik."
Arya merasa dunia ini runtuh di hadapannya. Dia tidak bisa membayangkan hidup Winnie. Kehancuran dan kesalahan yang terjadi menghantamnya dengan keras.
"Tidak mungkin... Gadis itu tidak bisa seperti ini.Tolong, dokter, Anda harus melakukan segala yang Anda bisa untuk menyembuhkannya!"
Dokter mencoba menenangkan Arya yang panik itu.
"Kami akan memberikan perawatan terbaik untuknya. Tetaplah tenang dan bersabar. Winnie membutuhkan dukungan dan energi positif dari keluarga dan teman-temannya untuk membantunya pulih."
Arya merasa bingung dan takut. Dia tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini. Namun, melihat ibunya yang menangis dan memohon dengan mata yang penuh harapannya, dia memutuskan untuk berani dan kuat untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Baik, Dokter. Saya akan berada di sini untuk gadis itu. Saya akan menjaganya dan mendukungnya sepenuh hati. Tolong, lakukan apa pun yang diperlukan untuk membantu dia pulih."