Gadis Badut Kesayangan CEO

Gadis Badut Kesayangan CEO
Bab 5


__ADS_3

“Jadi bagaimana Bu?”tanya Susan kepada Marlina.


“Hahh! Sudah diam kau! Bikin pusing saja, seharusnya kita sudah bisa mendapatkan si Winnie. Tapi karena kita terlambat, akhirnya sekarang buntu lagi kan,” ujar Marlina sambil menyeret langkahnya dengan sangat kesal di halaman parkir rumah sakit.


Maya dan Arya ternyata akan membawa Winnie pulang kekediaman nya.


Saat Winnie sudah berada didalam mobil,sesaat Maya menahan Arya dan mengajaknya untuk bicara sebentar.


"Ada apa bu?" tanya Arya.


"Gadis itu sebelumnya adalah seorang badut kostum." ungkap Maya.


Arya pun langsung kaget."Haha?Badut kostum?Dari mana ibu tahu?" tanya Arya penasaran.


"Ada orang disekitar itu mengenali wajahnya,tapi dia tidak kenal siapa nama gadus itu." jawab Maya menjelaskan.


"Ya Tuhan kasihan sekali gadis itu." ujar Arya yang merasa kasihan pada gadis itu.


Winnie sendiri saat ini sudah berada di sebuah mobil yang berada tidak jauh dari tempat Marlina dan Susan berada.


"Kamu yakin tidak akan mengebut?” ucap Maya kepada sang putra dengan sorot yang sangat tajam.


“Iya Ibu, aku tidak akan mengebut. Tenang saja ya pasien kesayangan ibu itu tidak akan merasakan benturan apapun, oke!” ucap Arya dengan raut wajah yang merasa cemburu karena sang Ibu tampaknya terlampau memperhatikan gadis di yang ditabraknya itu.


Arya kemudian melajukan mobil mewahnya itu perlahan merayap keluar di antara kendaraan-kendaraan lain yang cukup padat di parkiran tersebut.


Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Arya ini pun melaju masuk ke halaman rumah yang sangat luas.


“Langsung masuk ke arah garasi saja, supaya dia.Dila ya namanya Dila. Supaya Dila tidak tersesat dan dia juga tidak terlalu jauh berjalan, kamu setuju Dila?” ucap Maya dengan sedikit canggung mengatakannya.


Wanita di sebelahnya itu tersenyum, gadis berambut panjang kecokelatan dengan wajah putih dan paras jelita itu tersenyum mengiyakannya.


“Terlihat sangat manis juga.” Puji Arya sambil mengikuti arahan dari sang Ibu dan memarkirkan mobilnya di garasi.


Baru saja Arya melepaskan seatbelt-nya.

__ADS_1


“Sekarang bantu Dila untuk naik ke dalam kamar dan … Oh ya Arya, Ibu rasa sebaiknya kamu pindah ke kamar tamu saja dulu ya, Ibu tidak sempat memberitahu Mbok Inah untuk merapikan kamar bekas adikmu itu. Jadi akan lebih baik jika Dila mengisi kamarmu yang sudah bersih oke,” ucap Maya sambil langsung menggenggam tangan Dila melangkah masuk menuju rumahnya.


Arya masih berdiri dengan bingung. “Ibu, apa maksudmu dengan kamarku diisi olehnya?” batin Arya memprotes dalam hati.


Winnie dan Maya baru saja sampai di ruangan tengah, “Tunggu dulu, ini rumah siapa? Aku juga tidak ingat sebenarnya siapa kalian? Kenapa namaku Dila?” ujar gadis itu membuat Maya dan Arya sama-sama melebarkan bola matanya sambil menarik nafas panjang.


“Sudah Ibu bilang, kamu jangan banyak bicara!” bisik Maya kepada sang putra.


Arya pun akhirnya bungkam, dia membiarkan sang Ibu menangani Winnie.


“Dila sayang … jadi begini. Karena sebenarnya kamu ini sedang sakit jadi sementara kamu akan tinggal di kamar kakakmu dulu ya. Arya adalah kakakmu, oke?” ucap Maya kepada Winnie.


Winnie merenung sejenak sambil melemparkan pandangannya ke arah Arya.


“Ibu benar,” sahut Arya ketika Maya menatapnya dengan penuh rasa tanya.


“Oh … Jadi anda Ibuku? Apa benar namaku Dila?” ucap Winnie sambil terus memperhatikan ke arah sekeliling.


Maya dan Arya seolah sepakat untuk membuat identitas baru bagi Dila. Ya … sesuai dengan petunjuk dokter dimana mereka diminta untuk menjaga kondisi mental dari Winnie mengingat amnesia yang diderita oleh gadis itu dokter sendiri belum bisa menentukan jenisnya karena masih terlalu dini.


Tiba di lantai dua, mereka melangkah beriringan ke ruangan kamar yang berdesain minimalis dengan gradasi warna putih hitam dan abu-abu serta dipenuhi interior khas seorang pria.


Hal ini membuat Winnie segera memundurkan lagi langkahnya.


“Aku tidak mau tinggal disini, ini bukan kamarku.” Winnie mengatakannya.


Jauh di dalam bayangannya justru dia melihat sebuah bangunan yang terlampau luas untuknya ini dan membuatnya bergidik ngeri dan cukup ketakutan.


Bayangan seseorang yang akan memintanya membersihkan dan merapikan ruangan ini seketika mencuat di dalam benak Winnie dan membuat gadis itu kesakitan.


“Sakit!” ucap Winnie sambil memegangi kepalanya.


"Ibu tidak tahu apa yang terjadi, tapi ibu rasa.Dia tidak menyukai kamarmu,” ucap Maya kepada putranya sambil membopong dengan memegangi pundak Winnie dan membawanya ke kamar di sebelah.


“Hei apa masalahmu Bu? Kau terus menerus menyalahkan ku,” ucap Arya sambil menutupkan pintu kamarnya kembali dengan perasaan lega karena akhirnya gadis asing itu tidak akan menjajah area pribadinya di rumah ini.

__ADS_1


“Nah, bagaimana dengan kamar yang ini Dila?” ucap Maya sambil membuka sebuah pintu bernuansa dominan pastel khas gadis muda seusianya.


“Aku suka tempat ini Bu, tapi entah kenapa … aku merasa jika ini bukan milikku. Tidak, ini bukan rumahku?Apa kalian sedang berbohong kepadaku?” ucap Winnie dengan bola mata yang berkaca-kaca.


Gadis ini benar-benar merasa dalam posisi buntu, kepalanya dipenuhi bayangan aneh yang membuatnya kesakitan, sementara dia tidak bisa mengingat apapun tapi bayangan sebuah kamar sempit dan pengap yang dipenuhi dengan kardus dan juga barang-barang lainnya terus terbayang di dalam benaknya. Dan hal itu sangat berbeda jauh dengan apa yang saat ini dilihatnya.


Melihat Winnie kesakitan, Maya pun akhirnya tak bisa lagi menutupi masalah ini dari gadis tersebut.


“Baiklah Ibu rasa, kita tidak bisa meneruskannya. Arya. Ayo kita akan bicara bersama-sama. Tolong bantu ibu,” ucap Maya dengan kegelisahan yang nyaris sama.


Ya,bayang-bayang tabrakan yang menyebabkan Winnie hingga hampir sekarat itu kini kembali lagi dibenaknya dan membuat wanita paruh baya itu menjadi diliputi kegusaran dan rasa bersalah.


"Apa kamu benar-benar tidak ingat siapa diri mu?" tanya Maya memastikan lagi.


Winnie hanya menggelengkan kepala dengan pelan.


“Baiklah, kamu amnesia.Aku menabrak mu, Kita bertemu di lampu merah itu, aku tidak tahu kamu sedang apa. Aku sedang berusaha untuk menghindari seseorang yang menyalip di sebelah kanan dan aku menghantam-mu, kamu terjatuh.Kita ke rumah sakit dan dokter mengatakan kalau kamu amnesia. Kami tidak bisa menemukan keluargamu, kami tidak bisa mendapatkan identitas apapun bersamamu. Karena itu,Karena itulah aku membawamu ke sini.Ini memang bukan rumahmu, dan aku tidak tahu harus memanggilmu dengan nama apa.”


Maya terisak sementara tangannya sibuk mengambil tissue di meja.


“Dila adalah nama putriku, 15 tahun yang lalu dia meninggal karena kanker otak, mungkin saja jika dia masih hidup dia sudah sebesar dirimu. Dan kamar tadi adalah kamarnya. Aku selalu merenovasi setiap usianya berganti. Maafkan aku … aku tidak bermaksud untuk memisahkan mu dengan keluargamu. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu,” ucap Maya dengan buliran bening yang terus mengalir di wajahnya.


Wanita paruh baya ini memandangi kebingungan dan kebuntuan Winnie yang semakin dalam saat ini.


“Aku akan menemukan keluargamu,” ucap Arya diantara isak tangis sang ibu.


“Terima kasih,..aku,aku baik-baik saja. Anda tidak perlu merasa bersedih seperti itu Nyonya, aku juga tidak ingat dengan keluargaku,” ucap Winnie sambil terus berusaha mengingat sesuatu di dalam dirinya yang tidak pernah sanggup dia dapatkan.


Maya kemudian memeluk Winnie dengan pelukan dan dekapan yang sangat hangat.


Sesuatu yang puluhan tahun ini hilang dan lenyap dari Winnie,kini dia dapatkan dari wanita yang baru saja mengaku telah menabraknya itu.


Keduanya tengah berpelukan, Arya yang memperhatikan dan duduk di sebelah Maya menatapnya dengan perasaan yang mengharu biru. Untuk kesekian kalinya, dia melihat kasih sayang sang Ibu tercurah ruah kan kepada gadis yang ditabraknya itu.Dan hal ini membuat Arya justru bersyukur karena Maya menjadi jauh lebih hangat dan juga ceria sejak menabrak ini.


“Kau ini berasal dari planet mana sebenarnya?” gumam Arya.

__ADS_1


__ADS_2