
Nayla menghela napas lega saat melihat Arya akhirnya keluar dari kantor. Hatinya berdebar-debar, karena hari ini adalah hari di mana dia akan mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada pria yang telah mengisi pikirannya sejak lama.
"Nayla!" panggil Arya, seraya melambaikan tangannya ke arahnya.
Nayla menahan kegugupannya dan dengan langkah mantap mendekati Arya. "Arya, bolehkah aku bicara denganmu sebentar?"
Arya mengerutkan kening, kebingungan terpancar dari wajahnya. "Tentu, ada apa, Nayla?"
Mereka berdua berjalan menuju taman terdekat, tempat yang selalu menjadi saksi pertemuan mereka. Nayla merasa jantungnya semakin berdebar ketika dia menyadari bahwa inilah saatnya untuk mengungkapkan perasaannya.
"Arya, selama ini aku merasakan sesuatu yang begitu kuat terhadapmu. Aku ingin tahu, apakah kau mau menikah denganku?" ucap Nayla dengan penuh keberanian.
Arya terkejut mendengar kata-kata itu. Wajahnya memucat seketika, mencerminkan kebingungannya yang mendalam. "Nayla, aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak pernah mengira bahwa kau akan mengajakku menikah."
Nayla berusaha menjaga ketenangannya. Dia tahu bahwa Arya membutuhkan waktu untuk memproses informasi ini. "Aku mengerti jika ini mengejutkan bagimu, Arya. Tapi aku benar-benar yakin dengan perasaanku. Aku ingin melanjutkan hubungan kita ke tahap yang lebih serius."
Arya menatap Nayla dengan tatapan campuran antara keheranan dan keragu-raguan. "Nayla, kau tahu bahwa kita hanya teman, bukan?"
Nayla mengangguk lembut. "Ya, Arya. Aku sadar itu, tetapi cinta bisa tumbuh dan berkembang seiring waktu. Aku merasa kau dan aku memiliki ikatan yang kuat, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
Arya menggelengkan kepalanya, mencoba mencerna kata-kata Nayla. "Ini sungguh mengejutkan bagiku, Nayla. Aku tidak bisa memberikan jawaban sekarang. Aku perlu waktu untuk memikirkannya dengan matang."
Nayla tersenyum lemah. "Tentu, Arya. Aku mengerti bahwa ini adalah keputusan besar. Aku akan memberimu waktu yang kau butuhkan. Tapi tolong, pertimbangkan dengan serius."
Damar, asisten Arya yang setia, memperhatikan perubahan suasana hati bosnya. Ia tahu ada sesuatu yang mengganggu Arya, dan kehadiran Nayla tampaknya menjadi penyebabnya. Damar dengan hati-hati mendekati Arya dan duduk di sebelahnya.
"Apa yang terjadi, Pak Arya? Anda terlihat begitu murung," tanya Damar dengan penuh kekhawatiran.
Arya menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Damar, Nayla... dia tadi mengajakku menikah."
Damar terkejut mendengarnya. "Benarkah, Pak? Itu memang kabar yang mengejutkan. Apa yang kau pikirkan tentang itu?"
__ADS_1
Arya menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu, Damar. Aku benar-benar tidak tahu. Nayla adalah teman baikku, tapi aku tidak pernah melihatnya lebih dari itu. Sekarang, dia ingin melangkah lebih jauh, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."
Damar merenung sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Pak Arya, ini adalah keputusan yang sulit. Menikah adalah komitmen besar, dan kau harus memikirkannya dengan matang. Bagaimana perasaan mu terhadap Nayla?"
Arya menggigit bibirnya, mencoba merumuskan perasaannya dengan jujur. "Aku tahu Nayla adalah wanita yang baik. Kami memiliki banyak kesamaan dan selalu nyaman bersama. Tapi, aku tidak yakin apakah itu cukup untuk membangun hubungan pernikahan yang langgeng."
Damar mengangguk mengerti. "Memang, pernikahan membutuhkan lebih dari sekadar kesamaan dan kenyamanan. Ada kompatibilitas yang harus dipertimbangkan, serta cinta yang mendalam. Apakah kau merasa bahwa ada cinta di antara kalian berdua?"
Arya terdiam sejenak, merenungkan pertanyaan Damar. "Aku tidak yakin, Damar ... itu sulit untuk dikatakan."
Damar meletakkan tangannya di atas bahu Arya dengan lembut. "Pak Arya, percayalah pada insting mu. Jika hati kau tidak yakin, mungkin perlu lebih banyak waktu untuk mempertimbangkan tawaran Nayla. Jangan terburu-buru membuat keputusan yang akan mempengaruhi seluruh hidup mu. Lalu bagaimana dengan gadis badutnya?"
Setelah Arya pulang ke rumah, dia disambut oleh Maya, ibunya, yang ternyata sudah menunggunya dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
"Arya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Maya dengan suara serius.
Arya meletakkan tasnya dan duduk di sofa, merasa semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakannya. "Tentu, Ibu. Ada apa?"
Arya terkejut mendengar perkataan itu. Dia merasakan kebingungan yang semakin memuncak. "Ibu, aku tidak tahu dari mana kau mendengar kabar itu. Aku bahkan belum memutuskan apa-apa."
Maya menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Arya, sebagai ibumu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Dilla adalah gadis yang baik, keluarganya terhormat, dan kalian berdua juga cocok secara sosial. Aku hanya berharap kau mempertimbangkan pernikahan ini dengan serius."
Arya merasa semakin tertekan. Ia merasakan tekanan dari segala arah, baik dari Nayla yang mengajaknya menikah maupun dari ibunya yang merencanakan pernikahan dengan Dilla. Semua itu membuat pikirannya semakin kacau.
"Ibu, aku mengerti bahwa Dilla adalah pilihan yang tepat secara sosial dan sesuai dengan harapan keluarga. Tapi aku harus jujur, aku tidak yakin perasaanku terhadap Dilla. Aku merasa ada yang kurang, dan aku tidak ingin menikah hanya karena tekanan dari luar."
Maya menatap Arya dengan sedih. "Arya, pernikahan bukan hanya tentang perasaan cinta semata. Kadang-kadang, perlu ada kompromi dan kesetiaan terhadap keluarga. Aku tidak ingin kau mengecewakan kami."
Arya merasa hatinya berat. Ia mencintai ibunya dan tidak ingin mengecewakannya, namun ia juga harus memikirkan kebahagiaannya sendiri. "Ibu, aku tahu bahwa kau ingin yang terbaik untukku. Tapi pernikahan adalah keputusan yang akan mempengaruhi seluruh hidupku. Aku perlu memikirkannya dengan matang."
Maya mengangguk pelan, mencoba memahami posisi Arya. "Baiklah, Arya. Ibu akan memberimu waktu untuk memikirkannya. Tetapi, harap ingat bahwa Ibu selalu ada untukmu, dan Ibu hanya menginginkan yang terbaik untukmu."
__ADS_1
Arya menggenggam tangan ibunya dengan lembut. "Terima kasih, Ibu. Aku akan mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh. Harap berikan aku waktu."
Maya menggenggam tangan Arya erat-erat, mencoba memberinya dukungan. "Tentu, sayang.
Tepat saat ketegangan antara Maya dan Arya mencapai puncaknya, Dilla, calon pengantin potensial Arya, muncul dengan semangkuk irisan semangka segar yang dingin di tangan. Wajahnya penuh dengan senyum cerah dan polos.
"Ibu, aku membawa semangka segar untuk kita semua!" serunya dengan riang.
Arya dan Maya saling pandang, terkejut dengan kedatangan Dilla yang tiba-tiba dan tindakan polosnya. Suasana yang tegang sejenak terpecahkan oleh kehadiran Dilla yang penuh semangat.
"Dilla, apa itu?" tanya Arya, mencoba menyingkirkan ketegangan dari wajahnya.
Dilla menghampiri mereka dengan ceria, menawarkan semangkuk semangka kepada Arya dan Maya. "Ayo, coba semangkanya. Ini sangat segar dan manis!"
Maya masih terlihat kaget, tapi dia memutuskan untuk menerima semangka yang ditawarkan. "Terima kasih, Dilla. Kamu selalu membawa keceriaan ke dalam rumah ini."
Dilla tersenyum lebar. "Oh, tentu saja, Ibu. Aku senang bisa membantu mencerahkan suasana. Jadi, ada apa di sini? Kenapa wajah kalian tampak tegang?"
Arya memandang Dilla dengan pandangan campuran antara cemas dan terkejut. "Dilla, sebenarnya ibu dan aku sedang membahas sesuatu yang serius. Ada keputusan besar yang harus kami ambil."
Dilla duduk di sebelah Arya, masih dengan senyumnya yang tak berkurang. "Oh, begitu? Apa yang terjadi? Bolehkah aku tau?"
Maya dan Arya saling bertatap, belum yakin apakah mereka ingin melibatkan Dilla dalam perbincangan yang rumit ini. Namun, Dilla terlihat sangat antusias dan tulus, sehingga mereka merasa perlu memberitahunya.
"Nayla, seorang teman Arya, tadi mengajaknya menikah," ungkap Maya dengan ragu.
Dilla terkejut, matanya membesar saat mendengar kabar tersebut. "Serius? Kak Arya, apakah benar?"
Arya mengangguk, mencoba menjelaskan situasinya kepada Dilla. "Iya, Dilla. Nayla mengungkapkan perasaannya dan mengajakku menikah. Aku masih bingung dan belum bisa memberikan jawaban pasti."
Dilla merasa heran, tetapi tetap tersenyum. "Aku mengerti. Cinta itu rumit, kan? Kamu harus memikirkannya dengan hati-hati dan mengikuti apa yang dirasakan di dalam hatimu."
__ADS_1
Maya menatap Dilla dengan penuh harap. "Dilla, apa pendapatmu tentang ini? Apakah kamu berpikir Nayla adalah pilihan yang baik untuk Arya?"