
Maya kemudian mengajak Dila alias Winnie ini pun untuk berbicara dari ke hati sehingga Winnie mulai merasa nyaman dan dia tidak lagi ketakutan juga cemas.
Winnie berhasil diyakinkan oleh Maya jika dia akan baik-baik saja dan akan mendapatkan perlakuan yang baik dari mereka semua sampai keluarganya ditemukan.
Sementara itu, Arya Pria itu segera kembali ke kantornya.
Di sepanjang jalan Arya tak pernah berhenti memikirkan mengenai insiden yang terjadi pada lampu merah di mana ibunya menabrak seseorang tersebut.
Kebetulan sekali, Arya melintasi jalanan yang sama saat ini sehingga dia menepi dan mencoba untuk mencari tahu di sekitar tempat tersebut.
“Maaf Pak, apa di sekitar sini pernah ada badut kostum atau mungkin orang yang mengamen di sini dengan menggunakan badut kostum begitu?”
“Tidak ada, tidak tahu.”
Arya kemudian meneruskan langkahnya.
“Pak,apa Anda pernah melihat seorang badut di sini?” tanya Arya kepada salah seorang tukang becak yang memang sepertinya mangkal di sana.
“Badut ya? Sepertinya nggak ada pak, di sekitar sini nggak pernah diijinkan ada orang yang mengamen karena ini kan jalur utama kota,” ucap salah satu tukang becak tersebut menjawab.
Satu demi satu orang yang berada di sana ditanyai oleh Arya dan dia tak berhasil mendapatkan jawabannya sehingga Arya pun langsung kembali ke perusahaan.
“Ya ampun Bos, kenapa wajahnya ditekuk seperti itu?” tanya Damar sang asisten sambil menenteng dua gelas kopi yang masih mengepul panas itu di tangannya.
“Ah, ini kopi ku ya.Makasih,aku masih mikirin masalah si gadis badut itu sampai sekarang dia benar-benar nggak ingat apa-apa,” ucap Arya sambil menghirup aroma kafein dari kopi panas yang berada di tangannya itu.
"Cewek badut??Cewek yang ditabrak ibu mu itu ya?" tanya Damar menebak karena Arya sebelumnya sudah sempat bercerita padanya.
Arya hanya mengangguk tanpa menjawab.
__ADS_1
“Wah, awas kau Bos, jangan-jangan itu cuman cewek modus yang sudah tahu siapa korbannya alias sengaja menabrakkan diri demi menjebak nyokap mu supaya dia berurusan sama keluarga mu,” ucap Damar dengan tetap tenang menyeruput kopi panasnya.
“Uhuk..Uhuk.” lirih Arya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Damar, Arya justru langsung tersedak kopi panasnya sendiri. Tidak pernah terlintas sedikitpun akan hal negatif seperti yang diucapkan oleh Damar barusan tapi kemungkinan tersebut memang bisa saja terjadi.
“Ntar dulu, gimana ceritanya kau bisa mikir kalau itu cewek modus?” tanya Arya kali ini dengan syarat tajam yang sangat serius kepada Damar membuat asisten pribadinya itu juga sedikit terkejut karena jelas tidak menyangka jika kalimatnya akan berbuntut panjang seperti ini.
“Yaelah Bos, ini nggak usah terlalu serius juga kali. Aku kan cuman bilang apa yang ada di otak tumpul ku ini. Lagian memang benar kan soalnya gimanapun juga masalahnya nih ya siapa sih yang nggak kenal keluarga mu? Nyokap mu? Iya kan?” ucap Damar menjelaskan.
Arya mulai menerka-nerka dan dia pun masih kebingungan.
”Maksud aku … Bagaimana caranya wanita itu akan mengambil keuntungan dan bagaimana dia tahu kalau yang akan menabraknya itu adalah nyokap ku?” ucap Arya.
Damar menggelengkan kepalanya dia pun tidak berpikir sampai sejauh itu karena memang dia hanya bicara soal spontanitas saja.
“Aku punya pekerjaan buat mu, gimanapun caranya ambil semua rekaman CCTV yang ada di perempatan jalan itu dan jangan sampai ada yang tahu jika aku yang memerintahkannya.Kau paham?” ucap Arya kepada Damar.
“Ah iya, bisa-bisanya aku lupa. Ini adalah rapat penting. Oh ya gimana aku sudah beneran cool belum nih? Sumpah siang ini aku bahkan tidak sempat cuci muka gara-gara nyokap sibuk ngurusin cewek badut itu.Sejak tadi menyebalkan banget,” ucap Arya sambil mengingat bagaimana sang Ibu justru bukan rese melainkan sangat memperhatikan gadis badutnya itu.
“Ntar dulu, Arya aku kenal sejak lama dan kau nggak pernah berwajah seperti ini saat kau membenci sesuatu. Jadi, dari apa yang aku lihat justru aku ngerasa aneh dan makin penasaran kayak gimana sih cewek badut yang amnesia itu,” ucap Damar sambil mengedipkan matanya kepada Arya.
“Hush! Ngadi-ngadi kau, sudah mendingan sekarang kau keluar. Sana ke ruangan meeting duluan tuh, siapin semuanya. Aku mau prepare dulu. Mana materi yang bakal aku sampaikan? Taruh di meja!” ucap Arya menjadi kesal.
Arya dan Damar memang berteman sejak SMA mereka sudah seperti kucing dan anjing yang selalu saja ribut sesuatu.
Meski begitu Damar adalah asisten terbaik yang dimiliki oleh Arya hingga saat ini.
Semua kerjaan perusahaan menjadi lebih ringan untuk Arya karena keberadaan Damar yang meskipun dengan terang-terangan memanfaatkan posisinya sebagai asisten pribadi Arya untuk menggaet para gadis di luar sana tapi Arya tidak memperdulikannya.
__ADS_1
Bagi Arya, kompetensi dan juga skill seorang Damar yang sangat piawai adalah harga yang jauh lebih besar yang harus dibayarnya.
Siang ini Arya yang sedang mencuci wajahnya di dalam kamar mandi menjadi tersenyum-senyum sendiri mengingat Apa yang diucapkan oleh Damar tadi.
“Kau bener, gadis badut itu seharusnya aku benci karena dia bikin hidup ku tak karuan tapi entah kenapa aku nggak bisa. Ada sisi lain yang membuat gadis badut itu justru terlihat istimewa yaitu saat ibu merasa tenang dengan badut itu,” batin Arya sambil membasuh kembali wajahnya yang baru saja dibubuhi facial scrub itu.
Arya Samudra adalah sosok yang sangat parlente dan juga tampan tidak ada seorangpun yang bisa menyangkalnya.
Bukan hanya mapan secara materi dan juga memiliki pengaruh yang luar biasa di kota ini Arya Samudra juga merupakan pria pemilih yang hingga sejauh ini belum pernah terlihat dekat juga menyentuh wanita.
Andai saja Damar tidak terkenal sebagai seorang playboy bisa jadi Arya akan dikatakan sebagai seorang lelaki yang doyan lelaki, mengingat hingga usianya yang sekarang Arya Samudra belum pernah terlihat dekat dengan perempuan manapun.
Sikap dingin dan juga acuhnya itu kerap kali membuat banyak wanita menjadi baper jika sedikit saja perhatian Arya tercurahkan kepada wanita itu. Salah satu contohnya adalah Nayla Hardiwan, putri dari salah seorang konglomerat Tejo Hardiwan ini sempat dikabarkan menjadi gadis yang beruntung karena pernah dekat dengan Arya.
Hal tersebut hanya karena sebuah kado yang dikirimkan oleh Arya kepada Nayla di hari ulang tahun gadis tersebut.
Selesai membersihkan wajahnya, Arya kemudian mempelajari materi rapat dan segera melangkah menuju ruangan rapat.
Di sana sejumlah investor memang telah menunggu kedatangannya sehingga Arya tidak bisa menunda lagi pertemuan tersebut.
Acara yang berlangsung dengan sangat serius selama hampir empat jam ini akhirnya berjalan lancar dan Arya bisa kembali pulang tepat di saat Maya meneleponnya.
"Ibu ada apa? Aku baru selesai meeting?" tanya Arya kepada Maya.
“Begini, Apa kamu sudah mendapatkan rekaman CCTV di perempatan jalan itu? Ibu rasa seharusnya ada petunjuk di sana. Gadis ini, Dila … Dia sedang terlelap tapi entah kenapa ibu merasa dia seperti dihantui mimpi buruk dan sangat gelisah. Tolong kamu mampir juga dokter ya, tanyakan bagaimana kondisi Dila jika dia tidur dengan mengigau seperti ini. Ah ya Arya, satu lagi … jangan lupa untuk membelikan kue pai. Tadi Dila makan sangat lahap sekali sepertinya pai itu sangat dia suka. Jangan lupa ya! Ibu tidak mau tahu kamu harus pulang dengan membawa semua itu, oke!” ucap Maya sambil langsung menutup ponselnya setelah itu.
Arya langsung menutup ponselnya juga sementara di sebelahnya Damar yang sedari tadi menguping menjadi tersenyum-senyum sendiri dan mendadak bersiul-siul mencoba mengalihkan diri.
Tak ingin membahasnya Arya pun kembali melangkah.
__ADS_1
“Aku rasa seorang Arya Samudra sedang sangat kesal karena sang ibu mulai menyayangi seorang gadis badut,” ucap Damar dengan kalimat yang sangat pelan dan hati-hati mengatakannya.
Kalimat Damar tersebut efektif membuat Arya terhenti, pria itu menghentikan langkahnya seketika hingga membuat Damar pun menubruk bagian belakang punggungnya.