
Mereka menggunakan perahu kayu agak besar karena mereka bertujuh duduk dalam satu perahu, perahu kayu itu di jalankan dengan mesin jenset sehingga kita tidak perlu lagi untuk mendayungnya.
Amangnya Sale juga mengingatkan kepada semua yang berada di perahu itu,untuk berhati-hati kalau berjalan di dalam hutan nanti,karena tanah di dalam hutan adalah tanah gambut.
"Jadi harus benar-benar konsetrasi ya Amang?",tanya Reno masih serius.
"Iya betul itu",kata Amang dengan mengacungkan ibu jarinya ke arah Reno.
"Jadi Sebelum masuk ke dalam hutan harus berdoa dulu menurut keyakinan masing-masing,permisi kepada yang menunggu hutan,lalu harus hati-hati ketika berjalan".Amang menjelaskan panjang lebar kepada semuanya yang berada di perahu itu,khususnya kepada Aliando,Amar,Daniel dan Reno yang memang bukan orang kalimantan.
"Apa tanah gambut nya dalam ya Amang?",tanya Aliando lagi.
"Iya benar,gambutnya bisa mencapai enam meter".terang Amang lagi.
"Wah...lumayan dalam,ya Amang?",tanya Sale yang dari tadi hanya diam,memberi kesempatan kepada keempat teman barunya untuk bertanya-tanya kepada Amangnya.
"Iya Sale,gambutnya dalam",jawab Amang.
"Apa ada orang yang pernah terperosok ke dalamnya Amang?",tanya Sale lagi.
"Pernah Sale,itu teman Amang sendiri".
"Lalu?"kejar Sale lagi.
"Untunglah kita sudah tahu apa yang harus di lakukan saat-saat seperti itu".
"Ah syukurlah Amang,,,".jawab kelima pemuda itu serempak.
"Ayo semua turun,kita sudah sampai"kata Amang setelah menepikan perahu kayunya di pinggiran Sungai kecil Luah Tanjung.
Amangnya Sale biasa di panggil Amang Zul oleh Saleh.Amang Zul berjalan di depan memimpin perjalanan expedisi mereka,berjalan menyusuri hutan hingga mereka berjalan hampir separuh memasuki hutan.
""Wah,,,,!bagus sekali burung itu",seru Sale dengan jarinya menunjuk ke pohon yang tidak terlalu tinggi,yang diikuti dengan semua memandang ke arah jari telunjuk Sale.
"Wow,,,,".mata Aliando membulat dan buru-buru dia mengambil posisi yang tepat untuk mengabadikannya dengan cameranya.
"Amang burung apa itu namanya?,parunya besar berwarna terang",tanya Sale lagi.
"Kalau tidak salah itu burung Kangkareng Hitam",jawab Amang sambil kepalanya tetep mendongak melihat burung itu.
"Wah,,,,kalau yang itu Mang,burung apa?".Reno memekik kegirangan karena matanya menangkap seekor burung yang warnanya sangat bagus Hijau terang ada warna merah yang bersemu di sekitar perutnya."Itu".jari telunjukknya mengarah pada batang pohon yang tidak jauh dari tempatnya berdiri,Semua orang yang ada di tempat itu melihat ke arah telunjuk Reno.
"Itu seperti burung Betet ya Mang?",tanya Daniel menebak nama satwa itu.
"Iya itu sepertinya Burung Betet Mang".kata Amar dengan matanya tak lepas dari Burung yang indah itu.
"Iya,,,betul,itu sepertinya Burung Betet",kata Abah meyakinkan penglihatannya.
Amang akhirnya bersuara."Iya benar sekali,itu Burung Betet".
Aliando yang posisinya sudah agak jauh dengan mereka,karena melihat keseruan orang-orang yang ada di expedisinya itu,membuatnya tertarik untuk ikut bergabung,dan melangkah mendekati orang-orang itu,kemudian bereaksi dengan cameranya."Wahhhh,,,,, very Beautiful",celutuknya pelan.
"Amang,bolehkah saya mengambil burung itu?",tanya Reno seketika yang matanya masih belum move on dari burung itu.
"Maksudnya mau di bawa pulang?",tanya Amang kepada Reno.
"Tidak Amang,maksud saya,,,,saya hanya ingin memegangnya".kata Reno yang mengutarakan keinginannya.
"Tapi No,,,,itu satwa liar",timpal Amar.
__ADS_1
"Memangnya Lu bisa mengambilnya?",Daniel balik bertanya kepada Reno.
"Betul,,, itu satwa liar dan pasti akan sulit mengambilnya".kata Sale berargumen.
"Baiklah,,,di coba dulu saja,kalau kamu bisa memanjat pohon".kata Amang dengan bijaksana.
"Bisa kok,,, saya bisa memanjat pohon",kata Reno menyakinkan Amang Zul demi untuk mengambil Burung Betet itu untuk dia pegang.
"Di coba saja".kata Amang Zul lagi.
"Bismillahirrohmannirrohim",kata Reno pelan sekali,"Permisi penunggu hutan yang baik,saya tidak bermaksud tidak baik,tapi hanya ingin memegang sebentar Burung Betet itu".Katanya pelan tapi masih bisa di dengar oleh semua orang yang di ada di dekatnya,membuat mereka semua itu tersenyum.
"Boleh Nak,kamu panjat saja",celetuk Daniel demi menggoda Reno.Sontak membuat semuanya tersenyum meski tidak berani tertawa keras.Hehehehehe....takut penunggunya ikut tertawa.
"Bisa kagak?",tanya Amar yang melihat Reno memasang kuda-kuda seperti orang yang mau berkelahi.
"Lu mau manjat pohon apa mau lomba silat sih?",tanya Daniel yang membuat semua yang ada di tempat itu sontak tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Sudah,,,,,,,, sudah,,,, ",kata Abah dengan tersenyum".Biar Abah yang manjat,nanti Burung itu keburu terbang kalau Reno terus memasang kuda-kuda seperti itu".Abah pun memanjat pohon itu dengan sangat lihainya,dan berhasil juga mengambil Burung itu dengan mudah.Abah pun turun dari atas pohon itu dengan cepat pula.
Aneh memang,Burung dengan jenis Burung Betet dengan warna buluh yang sangat indah itu,jadi sangat jinak kepada mereka.Padahal Burung itu masih liar tidak ada yang merawat sebelumnya.Saat secara bergantian mereka memegang Burung itu satu persatu,Burung itu tidak berontak sama sekali,apalagi ada keinginan terbang.Bahkan saat Aliando mengabadikan moment itu, Burung itu seakan akan tahu kalau dirinya jadi artis dadakan,berpose dengan satu persatu orang yang ada di tempat itu,dan sama sekali tidak membuat Burung itu marah,karena sikap orang yang memegang dirinya yang terkadang menggodanya,.Semuanya jadi merasa puas dan sangat senang karena sikap Burung itu sangat manis dan tenang.
"Mau ikut kakak Reno ke Jakarta tidak?"tanya Reno pada Burung itu yang kini sedang berada di tangannya.Mata ketiga sahabatnya itu membulat ke arah Reno.Sale,Abah dan Amang Zul tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Reno yang konyol.
"Jangan katakan kalau lu sudah jatuh cinta sama Burung itu No",kata Daniel.
"Lu kan tadi cuma mau pegang Burung itu aja kan?",tanya Amar mengingatkan tujuan Reno semula dengan Burung itu.
"Iye gaess,gue inget kok".kata Reno kepada dua orang sahabatnya itu.
"Reno,mau bawa Burung itu?",Tanya Sale yang dari tadi melihat Reno membelai terus burung itu.
"No,,,Kita naik pesawat",kata Daniel mengingatkan sahabatnya itu,"Memangnya lu mau berurusan sama yang berwajib karena bawa satwa".
"Kan ada surat ijinnya Niel",kata Reno dengan serius".
"No,,, peraturanyya,Amang juga kan harus ijin ke Departemen Perlindungan hutan Dan Satwa Liar,kagak seenaknya asal comot terus bawa doang".jelasnya pada Reno.
"Iya gue tahu Niel,"Kata Reno dengan suara yang pelan".Pasalnya sekarang,boleh kagak,nih Burung gue bawa pulang".
"Iya emang aneh ya?",tanya Amar keheranan".Kenapa nich Burung kagak lepas-lepas dari si Reno ya?".
"iya juga sih",jawab Daniel.
"Iya,,,,ya,,,, memang aneh sih",kate Sale yang juga keheranan dengan sikap Burung itu yang seolah sudah sangat mengenal Reno.
"Amang,,,Abah,,,,lihat Burung Betet itu,tidak mau terbang dari Reno",kata Sale dengan menggandeng lengan Abah dan pamannya itu untuk melihat ke arah Reno dengan Burung yang sudah bertengger di satu pundaknya.
"Iya,,,, ".kata Abah dan Amang hampir bersamaan.
"Aneh,,,!,ada apa dengan Burung itu seolah Reno adalah pemiliknya",kata Amang Zul keheranan.
"Apakah sebelumnya Burung itu ada pemiliknya,dan kebetulan pemiliknya mirip Reno?",tanya Sale kepada Abah dan Amangnya.
"Bisa jadi seperti itu",kata Amang dengan bijaksana,"Lihatlah Burung itu tidak terbang meski Reno tidak memeganginya",kata Amang lagi matanya masih menatap heran dengan Burung Betet itu.
"Burungnya manja sama Reno",kata Abah dengan tertawa pelan.
"Abah... Burungnya jatuh cinta sama Reno",kata Reno menghiba.
__ADS_1
"Mana Burungnya Reno",kata Abah sambil mengambil Burung itu dari pundak Reno dan menaruh di pundaknya sendiri",Coba Abah kembalikan lagi ke pohonnya".sambil memanjat pohon yang semula tempat Burung itu di temukan,dan setelah itu Abah menuruni pohon itu lagi."Kalau memang Burung itu mau di ajak kakaknya ke Jakarta dia pasti akan terbang dan bertengger di pundak kamu lagi".Kata Abah demi melihat wajah Reno yang bersedih,sambil menepuk nepuk halus pundak Reno.
Amang,Amar,Daniel dan Sale yang melihat itu tersenyum dan ikut ikutan menepuk lembut pundak si Reno.
"Di mana Aliando?",tanya Sale kemudian yang menyadari Aliando tidak ada di antara mereka.
"Si Ado kebiasaan mah",kata Daniel dengan logat sundanya sambil melangkah mencari sahabatnya itu dan di ikuti dengan yang lainnya.
"Dia selalu seperti itu?",tanya Amang pada Amar,Reno dan Daniel.
"Aliando itu sangat suka memotret sampai dia lupa karena terlalu asyik dengan obyeknya",jawab Amar.
"Do...",panggil Reno, Amar dan Daniel sambil terus berjalan semakin masuk ke dalam hutan itu.
"Nah,,, itu teman kalian",kata Amang dengan menunjuk ke arah Aliando dengan telunjuknya,yang berada di bawah pohon besar seoalah sedang memotret.
"Do,,,,".Sale,Amar,Daniel dan Reno mengahampiri temannya itu dan menepuk pundak Aliando.
"Jangan jauh-jauh dari kita Do",kata Amar dengan menatap wajah Aliando yang berubah seperti orang ketakutan."Lu kenapa Do,,,,?"tanya Amar lagi dengan menepuk nepuk pipi sahabat gantengnya itu."Do,,,,",panggil Amar lagi karena yang di tanya hanya diam.
"Aliando kenapa Mar? "kejar Daniel yang juga merasa khawatir karena Aliando hanya diam dengan tatapan kosong.
"Ado,,,sadar Do,,,,",Kata Reno dengan menggoyangkan lengan Aliando.
"Abah,,,,Amang,,,, kenapa dengan Aliando?",kata Sale dengan sedikit menarik lengan mereka agar mendekati Aliando."Kenapa dari tadi Aliando hanya diam?",Sale semakin panik.
"Tenanglah Sale".Kata Amang dan Abahnya hampir bersamaan.
Namun Aliando masih terdiam seribu bahasa dengan tatapannya yang kosong,meski Reno sudah memberinya air minum.Dan Amar sudah mengambil alih camera Aliando yang di kalungkan dengan sabuk cameranya di lehernya.
"Do,,,, lu kenapa sih?",tanya Daniel dengan sedih.
"Sadar Do,,,",kata Amar lirih mulutnya membaca ayat-ayat suci Al Qur'an di bantu kedua temannya,Daniel dan Reno.Mereka membacakan itu di telinga Aliando.Dengan suatu keyakinan mereka terus saja membaca ayat-ayat suci itu di telinga Aliando.
Di bantu dengan Amang dan Abah dengan cara mereka sendiri yang lebih tahu keadaan hutan di kawasan mereka.
Amang dan Abah seperti orang yang berbicara dengan seseorang,namun bukan dari salah satu mereka yang berada di tempat itu.
Mereka berbicara lirih namun masih bisa di dengar oleh telinga Amar, Daniel,Reno dan Sale yang masih berada di dekat Aliando duduk.
"Keluarlah,,,kamu tidak boleh ikut dia".kata Abah yang entah sedang berbicara dengan siapa.Sedang Amang memegang pundak Abah dengan mulutnya komat kamit seperti merapalkan suatu mantra.
"Kembalilah...jangan ganggu dia,,,",Abah masih memejamkan mata,"Dia orang baik".kata Abah lagi,sedang Amar,Daniel,Reno dan Sale hanya melihat kejadian itu.
"Tapi kenapa?"tanya Abah,kali ini suaranya agak di tekan,"Kamu dan Dia berbeda!".
Sementara Amang Zul kini beralih berjalan ke arah Aliando yang masih terduduk dengan tatapan kosongnya di dekat keempat temannya itu, "Kalian agak menjauhlah dari Aliando".kata Amang,setela itu telapak tangannya di letakkan di punggung Aliando dengan mulut komat kamit merapalkan mantranya.Sementara Abah dengan mata terpejam berjalan kearah pohon besar di samping Aliando dan Amang bersila.Telapak tangan Abah di tempelkan di batang pohon besar itu,"Ini rumah mu kan?",Suara Abah kembali terdengar,"Kami tidak mengganggumu,jadi tolonglah,,,lepaskan Aliando".Suara Abah terdengar sedikit emosi,"Keluarlah dari tubuh itu".
"Cukup....!,jangan membuat kita kehilangan kesabaran".kata-kata Abah mulai terdengar emosi."Lihatlah siapa dirimu,berkacalah sebelum kamu meletakkan rasa cintamu,Dia tidak seperti dirimu,,,,"Abah semakin emosi,"Keluarlah dari tubuh itu!!!".suara Abah mulai terdengar agak keras."Atau aku akan memaksamu keluar dari tubuh itu".
Abah berjalan mendekati Amang dan Aliando yang masih tetap dengan posisinya,Amang bersilah di belakang Aliando dengan telapak tangan di tempelkan ke punggung Aliando sedang Abah duduk di depan Aliando dengan meletakkan telapak tangannya di kepala Aliando."Zul ayo kita keluarkan dia dengan paksa",kata Abah kepada Amang,mereka berdua adalah kakak beradik kandung.
"Baik kak."kata Amang dengan mengangguk.
Entahlah apa yang sedang di lakukan Abah dan Amang,yang pasti mereka berusaha membantu Aliando,meski dengan cara yang tidak di mengerti oleh keempat pemuda itu.Mereka seolah menyaksikan adegan di film film horor dengan Aliando yang jadi peran utamanya.Namun ini bukan sedang syuting film tapi nyata terjadi pada sahabatnya yang menjadi korban.Sungguh tak mereka bayangkan semua kejadian ini akan menimpa mereka.
Amar, Daniel,Reno dan Sale,mereka semua hanya bisa terdiam,dengan segala kata yang berkecamuk dalam benak mereka masing-masing,namun jauh di dalam lubuk hati yang terdalam,mereka sangat mengharap kejadian ini akan segera berakhir,dan secepatnya keluar dari hutan ini.
"Hoooeeeeekkkk,,,,,!!!",terdengar suara Aliando yang mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya.
__ADS_1
Keempat pemuda itu langsung berlari kearah Aliando,Amang,dan Abah.Mereka ada yang membantu Aliando,ada yang membantu Amang dan juga Abah.