Gadis Buruk Rupa

Gadis Buruk Rupa
Bab.8 Malam yang mengharukan.


__ADS_3

"Aliando,,,,Amar,,,,,Daniel,,,,Reno,,, bangun".Sale mengetuk beberapa kali kamar yang di tempati keempat teman barunya itu.


"Masuk Sale tidak di kunci kok",Jawab Aliando dari dalam kamar,setelah beberapa saat menyadari Sale mengetuk pintu dengan memanggil nama mereka berempat.


"Aliando,,,",kata Sale setelah membuka pintu kamar dan melihat hanya Aliando yang terbangun,"Ibu itu sudah meninggal",katanya lagi dengan suara berat seolah menyimpan kesedihan.


Aliando yang baru terbangun,dengan kesadaran nya yang masih belum sepenuhnya kembali,mendengar kata-kata Sale,menjadi sangat bingung,"Siapa Sale?,,,,ada apa dengan Mamah?",kejar Aliando gusar."Cepat katakan!?".


"Tenang Do,,,,",bukan Mamah yang saya maksud",kata Sale demi melihat Aliando bagai orang kebakaran jenggot,"Ibu yang kita tolong semalam",jawab Sale cepat.


"Apa,,,?!"mata Aliando melotot seolah tidak percaya dengan berita duka itu."Kamu tahu dari mana Sale?",tanya Aliando yang mulai bisa menguasai dirinya.Akhirnya ketiga temannya itupun ikut terbangun,karena mendengar percakapan antara dirinya dan Sale.


"Amang menghubungi saya baru saja."jawab Sale."Dan Amang di kabari pihak Rumah Sakit."terang Sale kepada Aliando yang masih menatap dirinya dengan rasa tak percayanya karena berita itu.


"Baiklah,,,,kita akan segera ke sana untuk menyelesaikan administrasinya".kata Aliando setelah beberapa saat terdiam.


"Ada apa Do,,,,?"tanya ketiga temannya itu sambil mengucek mata mereka yang masih mengantuk.


"Kita akan ke Rumah Sakit,Ibu itu sudah meninggal".


Bibir mereka hanya bisa melongo tanpa ada kata-kata.


"Jam berapa ini?",tanya Aliando,yang berbicara tanpa di tujukan kepada seseorang yang berada di kamar itu.


"Jam Satu siang Aliando".jawab Sale.


"Apa,,,?! "kata mereka berempat hampir bersamaan."Sangat lama kita tidurnya."jawab Reno dengan kocaknya.


"Tidak masalah,karena kalian kelelahan".kata Sale dengan penuh pengertian.


"Sale,tolong kamu hubungi Amang Zul,katakan kita akan segera bertemu di Rumah Sakit",kata Aliando sebelum melangkah ke kamar mandi.


"Baiklah,,,,",kemudian Sale melangkah keluar dari dalam kamar itu.


Setelah mereka berlima sudah rapi,merekapun bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit yang semalam mereka datangi untuk mengantarkan seorang ibu korban kecelakaan,yang mereka tolong.


"Tapi kalian belum sarapan",teriak Mamah dari dalam dapur rumah Sale.


"Nanti kita sarapan di luar Mah",jawab Aliando seolah berbicara kepada Mamanya sendiri.


"Baiklah,hati-hati di jalan",kata Abah yang sudah berada dekat dengan kelima pemuda itu.


"Hati-hatilah kalian di jalan",kata Mamah dengan berjalan tergesa dari dalam dapur,menuju ruang depan tempat kelima pemuda itu dan suaminya berada.


Mereka berlima berangkat ke Rumah Sakit dengan mengendarai angkutan umum,karena keluarga Sale tidak mempunyai kendaraan pribadi,tidak seperti mereka berempat yang memang memiliki fasilitas lengkap di rumahnya,setelah beberapa jam melakukan perjalanan akhir nya merekapun sampai di Rumah Sakit,karena memang jarak dari desa ke Rumah Sakit cukup jauh.


Di Rumah Sakit itu sudah ada Amang Zul yang menunggu mereka.Setelah mereka berlima bertemu Amang.


"Amang,,apa Anda sudah lama menunggu kami?".tanya Aliando kepada Amang Zul.


"Tidak masalah Aliando,Amang juga sudah mengurus semua surat-surat administrasinya dan surat jalan ambulans ke desa dia tinggal."


"Baik Amang,Terimakasih,,,,mari kita selesaikan administrasinya",mereka berdua berjalan ke bagian loket pembayaran.Seperti janjinya Aliando menyelesaikan semua biaya pengobatan berikut uang jalan untuk ambulans ke desa wanita yang mereka tolong itu.Dengan memberikan ATM auto debitnya ke petugas loket pembayaran,semua sudah di selesaikan oleh Aliando.

__ADS_1


"Aliando kenapa kamu menolong wanita itu?",tanya Amang Zul setelah mereka berjalan kembali ke tempat empat anak muda itu menunggu mereka."Bukankah kamu tidak mengenal mereka?".


"Amang,,,bukankah kita menolong seseorang,tidak harus mengenal orang itu terlebih dahulu?".


"Kamu anak muda yang baik Aliando,"begitu kata Amang Zul,yang merasa mendapatkan pelajaran yang berharga dari seorang anak muda seperti dirinya.


"Amang berlebihan",kata Aliando merendah.


"Amang wanita itu hanya sebatang kara,kalau kita tinggal mereka,siapa yang akan mengurus jenazah ibu itu".kata Sale kepada Amangnya setelah Aliando dan Amang berada di depan mereka berempat.


"Iya Sale,,,,Amang sudah tahu,Amang sudah bertemu gadis itu tadi,sebelum kalian datang".jawab Amang kepada kopanakannya itu."Kita akan mengantarkan mereka dan mengebumikan jenazah ibu itu,setelah itu selesai kewajiban kita",kata Amang lagi.


Setelah semua siap,merekapun berangkat dari Rumah Sakit ke desa Ibu dan gadis itu tinggal,dengan mobil Amang,serta ambulans melaju di belakang mengikuti mobil mereka.


Setelah hampir dua jam akhirnya mereka beserta ambulans sudah sampai ke alamat yang telah di katakan anak gadis wanita itu kepada Amang Zul.Dan merekapun melakukan pemakaman,dengan di bantu hanya beberapa tetangga dari gadis itu,karena memang Desa itu hanya di tinggali beberapa Kepala Keluarga.Desa itu sangat terpencil di banding dengan Desa yang di tinggali Sale,padahal Desa gadis itu jaraknya hanya terpaut beberapa Desa dari Desa yang di tinggali Sale dan keluarganya.


Waktu sudah hampir petang saat mereka tiba di Rumah Sale dengan di antar Amang Zul.


"Jadi kita tidak perlu melapor ke pihak berwajib Amang?",tanya Sale kepada Amang.Kini semuanya berkumpul di teras depan di rumah Sale.Mamah menyiapkan makanan pisang goreng yang masih panas di piring,berikut teh hangat manis dengan beberapa gelasnya,yang di taruh di depan mereka mengobrol.


"Tidak usah Sale,,,waktu di Rumah Sakit,gadis itu Amang tanya,katanya sudah ikhlas dan tidak perlu melapor".kata Amang seraya mulutnya meniup pisang goreng yang tadi di ambilnya.


"Kenapa yang menabrak tidak punya hati samasekali",Kata Sale lagi seolah tidak puas dengan jawaban yang di berikan Amang Zul kepadanya.


"Kita harus bisa mengambil pelajaran dari semua yang terjadi,ambil sisi baiknya dan buang lah yang tidak baik".kata Abah dengan bijaksana.


Begitulah mereka mengobrol membicarakan tentang banyak hal,dan terasa waktu semakin larut,Amang Zul berpamitan pulang.


"Terimakasih untuk apa?",tanya Amang dengan suara pelan.


"Untuk semuanya Amang",kata Reno.


"Untuk semua pengalaman yang Amang berikan untuk kami",kata Daniel dengan semangat.


"Kapan kalian akan kembali ke Jakarta?",tanya Amang kepada ketiganya.


"Besuk sore Amang",jawab Keempat pemuda itu bersamaan.


"Kenapa cepat sekali?",tanya Amang lagi,"Bukankah kalian masih liburan?".


"Kami pamit kepada orang tua kami hanya empat hari,Amang".jawab Aliando mewakili ketiga temannya.


"Sering-sering datang lah kemari,kita akan senang sekali",kata Amang mengakhiri pembicaraannya dengan keempat pemuda itu,sambil melangkah ke dalam mobilnya kemudian melajukannya di jalan yang penerangannya tidak terlalu terang itu.


"Kalian besuk sore kembali ke Jakarta",tanya Mamah setelah mendengar perkataan keempat pemuda itu kepada Adik dari suaminya.


"Iya Mah",kata mereka berempat dengan suara pelan.


"Kenapa terburu sekali?",tanya Mamah dengan wajahnya yang terlihat sedih."Masih kurang rasanya waktu bersama kalian."kata Mama mulai terlihat matanya berkaca-kaca "kalian seperti Anak Mamah sendiri".


"Mamah,,,, teman-teman Sale ini,pasti akan datang lagi",kata Sale kepada Mamahnya,lalu memeluknya penuh kasih sayang."Mamah jangan sedih ya?"


"Mamah,,, betul apa yang di katakan Sale,kami pasti datang lagi".kata Aliando menghibur Mamahnya Sale."Kami merasa menemukan keluarga di sini,jadi kami tidak mungkin melupakan kalian".Kemudian Aliando memeluk Mamahnya Sale yang sudah menangis sesenggukan.

__ADS_1


"Iya Mah,kami semua sudah Sayang sama Mamah dan Abah",kata Daniel.


"Betul Mah,,, kami sayang Mamah",kata Amar dan Reno memeluk Mamah juga.


Malam itu suasana di Rumah Sale sangat mengharu biru.Mereka bercerita hingga malam sangat larut,karena mereka tidak ingin melewatkan malam terakhir keempatnya di rumah itu,rumah yang penuh kasih sayang,rumah yang penuh persaudaraan,meski awalnya mereka dan Sale,juga kedua orang tua Sale,bukanlah orang yang saling kenal,tapi kini mereka telah menjadi saudara,hingga sangat berat untuk berpisah.


"Kalau Mamah kangen kalian,Mamah harus bagaimana?",tanya Mamah si Sale lagi setelah cukup lama terdiam.


"Ini handphonenya Ado,buat Mamah ya?",kata Aliando sambil tangannya menunjukkan ponselnya ke Mamah si Sale,"Mamah bisa video call kami,kalau Mamah rindu kami".


"Jangan Nak,bukan itu yang Mamah inginkan".


"Kalau Mamah ada handphone kan kita bisa vidio call,lagi pula Ado ingin sekali kasih Mamah tanda mata".


"Tapi itu terlalu bagus buat Mamah Ado".


"Tidak Mah,siapa bilang terlalu bagus,Ado malah kepingin kasih yang baru untuk Mamah,tapi dari sini tokonya terlalu jauh".jawab Aliando meyakinkan Mamahnya si Sale,agar bersedia menerima pemberiannya.


"Mamah tidak bisa menggunakan handphone yang terlalu bagus Nak".


"Nanti Sale yang akan mengajari Mamah,ya kan Sale?",Kata Aliando menatap Sale.


Sale hanya mengangguk dan tersenyum,dia juga merasa sangat berat berpisah dengan keempat teman barunya itu.


"Baiklah,,,,Kalian istirahat dulu,ini sudah sangat larut,nanti kalian sakit karena terlalu lelah".kata Mamah dengan penuh kasih sayang.


"Iya,,, kalian harus istirahat,ayo tidurlah".kata Abah yang dari tadi hanya diam.


"Abah,sebenarnya Saya mau bertanya sama Abah",Kata Amar sambil menahan kantuknya.


"Tentang apa Amar?",kata Abah dengan tetap berdiri meski melihat ke arah Amar yang masih duduk di lantai.


"Tentang kejadian yang ada di hutan",kata Amar matanya semakin sayu karena kantuknya yang tak bisa dia tahan.


"Yang mana Amar?",Abah masih berusaha meladeni pertanyaan dari Amar.


"Yang Aliando itu,,, ",kata Amar berhenti karena dia menguap dengan tertahan."Pingsan Abah".


"Sudah besuk saja Abah jawab,sekarang ayo tidurlah kalian".


"Baik Abah, selamat malam".kata Amar.


"Selamat Malam,,, Sale,,, Abah,,,Mamah."kata Aliando,Daniel,dan Reno bersamaan.


Mereka kemudian masuk ke kamar masing-nasing,begitu juga Aliando,Amar,Daniel dan Reno dengan langkah gontai masuk ke dalam kamar yang telah di sediakan Sale untuk mereka,karena Mereka sudah tidak bisa menahan kantuk yang menyerang akhirnya Amar,Daniel dan Reno telah menutup mata mereka dan tertidur hingga saling menindih tubuh mereka untuk di jadikan guling.


Tidak halnya untuk Aliando,dia tidak tahu kenapa matanya terlalu sulit untuk di pejamkan,meski matanya ingin sekali terpejam karena kantuknya.Aliando begitu resah,seoala-olah ada sesuatu dalam hatinya yang dia pikirkan,tapi apa???.....Aliandopun tidak tahu apa itu.Dia bangun dari tidurnya dan berjalan ke arah meja pendek,kemudian duduk di kursi yang telah tersedia di kamar itu yang letaknya berada di samping meja pendek,tempat dia menaruh kameranya,di ambilnya kamera itu di lihatnya kembali momen-momen yang telah dia abadikan di dalam kameranya itu,saat matanya menangkap gambar seorang gadis sangat sederhana,wajah dan pakaiannya pun terlihat kumal dan sangat kusut,di kepalanya ada semacam kain yang di bentuk menggulung,fungsinya sebagai pelindung kepala untuk menaruh beban di atas kepalanya,agar tidak langsung terkena rambut ataupun kulit kepalanya.


Tidak ada yang istimewa pada gadis yang menjadi obyeknya itu,namun hasil gambar itulah yang sangat istimewa dengan latar belakang pedesaan pagi hari.


Namun kenapa matanya terus memandang lekat pada wajah gadis itu,entah siapa dia??kenapa Aliando suka memandangnya???,yang jelas-jelas gadis yang ada di dalam kameranya bukanlah gadis yang cantik,bahkan jauh dari kata cantik,tidak seperti Karolin,Angelia,Sarah dan yang lainnya,gadis-gadis cantik di kampusnya yang tergila-gila padanya yang selalu mengejarnya,yang kadang membuat Aliando Ilfeel dengan kelakuan gadis-gadis di kampusnya yang menurutnya terkadang extrim demi mendapat perhatian darinya.Tiba-tiba Aliando menggelengkan kepalanya pelan dengan mata terpejam,"Tidak!,,,, apa yang gue lakukan."katanya dengan suara yang sangat pelan,"Kenapa gue harus memikirkannya?",Aliando berkata pada dirinya sendiri,"Siapa dia?,jangankan mengenal dia,tahu namanya pun tidak".Aliando merutuk dirinya yang menurutnya sangat aneh.


Buru-buru Aliando menutup Cameranya dan menaruhnya kembali di tempatnya semula,dia menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam,sesaat pikirannya pun kembali melayang kepada gadis yang ada di dalam kameranya itu."Siapa kamu???? kenapa kamu menguasai seluruh pikiran gue???".katanya dalam diamnya.Aliando bisa gila kalau yang dia lakukan hanya memikirkan gadis yang tidak sama sekali dia kenal.Akhirnya buru-buru dia berdiri sambil matanya melirik jam di pergelang tangannya,"Gue mandi aja,sebentar lagi shubuh".katanya dengan suara yang sangat pelan,sambil melihat ketiga temannya yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2